
Setelah mendengar kabar kalau nyonya Mawar kembali mendapat serangan jantung, pihak keluarga dan sahabat semuanya datang menjenguk di Rumah sakit. Ninick dan suaminya pun datang begitupun dengan Pandu dan istrinya.
Meskipun mereka tidak bebas untuk melihat nyonya Mawar karena kondisi pasien masih rentan tetapi mereka tetap datang setidaknya untuk menghibur keluarga dan anak-anaknya.
"Bagaimana keadaan mertuamu sayang?" tanya Ninick kepada Vita Maharani yang masih duduk di ruang tunggu.
"Alhamdulillah, udah lebih baik dari beberapa jam yang lalu, tante."
"Oh, syukurlah kalau begitu."
"Terus suamimu kemana sayang?" tanya Ninick lagi karena melihat Vita hanya sendiri di sana.
"Mas Gala sedang pulang ke rumah dan Rama ada di dalam sedang menemani eyang putrinya. Anak-anak yang lain katanya sebentar lagi sampai." jelas Vita sambil tersenyum senang karena ada orang yang sangat perhatian padanya. Dari dulu Tante Ninick memang selalu baik padanya.
Tak berapa lama kemudian Pandu dan Hany juga muncul di sana kemudian di susul oleh Arman Roland kakak kandung dari Nyonya Mawar, dia adalah ayahnya Deka Roland.
"Apa yang terjadi nak?" tanya Arman pada Vita.
"Mama terkena serangan jantung om hanya karena mendengar Rama menanyakan tentang Reksadana." jawab Vita menjelaskan awal mula ibu mertuanya terkena serangan. Ia berharap kakak dari ibu mertuanya itu bisa menjelaskan apa yang terjadi.
"Reksadana, ia adalah sahabat dari almarhum Raditya, papa mertuamu. Yang aku tahu mereka berdua atau mungkin mereka bertiga bersahabat."
"Bertiga dengan siapa om?" tanya Vita penasaran.
"Dengan seseorang lagi, tapi saya lupa siapa namanya. Mereka sering kumpul-kumpul di rumah jauh sebelum suamimu ada. Waktu itu yang lahir baru Tama."
"Kalau mereka bersahabat kenapa mama langsung kelihatan ketakutan om?" tanya Gala yang baru saja tiba. Rupanya ia sempat mendengar cerita omnya sekilas.
"Om juga kurang paham nak. Tapi seingat saya waktu itu mereka ada usaha bisnis batu akik atau batu mulia begitu, trus sering pergi bersama dan akhirnya kabar terakhir yang om dengar sahabat papamu yang satu lagi itu sudah tidak ada atau meninggal. Setelah itu mereka sepertinya tidak melanjutkan lagi usaha mereka itu." ujar Arman berusaha memutar kembali memori yang sudah lama terlupakan. Hampir 50 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Terimakasih om atas informasinya. Kita doakan bersama saja semoga mama kembali pulih dan sehat." ujar Gala sendu. Ia tak ingin membahas lagi tentang Reksadana kalau hanya akan mempercepat kepergian mamanya.
Tak lama kemudian Rama keluar dari ruang ICU, ia menatap semua orang yang sedang menantinya memberi kabar terbaru dari pasien di dalam sana.
"Bagaimana Ram?" tanya Gala tak sabar. Beberapa jam meninggalkan mamanya di dalam sana ia berharap ada perkembangan yang berarti.
"Eyang baik, kondisi jantungnya sudah kembali normal. Eyang cuma perlu istirahat yang cukup Pa." jawaban Rama membuat semua orang bernafas lega. Semua kembali duduk dengan pikiran masing-masing. Mereka masih penasaran dengan cerita tentang Reksadana.
Gala segera mengambil amplop coklat yang ia dapatkan dari lemari pakaian mamanya. Ia menimang apakah perlu membuka benda ini sebelum bertemu dengan mamanya.
"Ram, sini ikut papa." panggil Gala pada putranya. Mereka berdua mencari tempat yang sepi untuk membicarakan hal ini tanpa diketahui oleh siapapun. Gala tahu benda ini pasti sangatlah penting bagi mamanya untuk itu kenapa di simpan dengan sangat rapi di dalam lemari yang sudah lama tidak terpakai.
"Ada apa pa?" tanya Rama penasaran. Mereka berdua sedang berada di sebuah ruangan kosong.
"Tadi sebelum kamu masuk ketemu eyang, mama meminta papa mencari sesuatu di dalam lemari pakaiannya yang ada di kamar. Papa tidak tahu apa isinya. Tetapi kalau ini seandainya ada hubungannya dengan pertanyaan kita semua, apakah menurutmu kita buka sekarang?" ujar Gala meminta pertimbangan dari putra pertamanya itu.
"Terserah papa, kalau aku pa, biarkan eyang putri dalam kondisi yang sangat baik terlebih dahulu supaya ia sendiri yang menjelaskan apa isi benda ini." ujar Rama memberi pendapat.
Rara mungkin akan jadi kenangan indahnya saja.
kreeek
Rama mendongak karena papanya ternyata sudah merobek isi amplop itu tanpa permisi terlebih dahulu. Ia bisa melihat wajah papanya yang penasaran semakin penasaran.
"Apa itu Pa?" tanya Rama saat melihat benda kecil dari dalam amplop coklat itu keluar.
"Ini seperti memori sebuah handphone. iyyakan?" jawab Gala memastikan. Ia juga menemukan selembar kertas yang terjatuh dari dalam amplop itu.
"PENTING" baca Gala dengan dahi mengernyit.
__ADS_1
"Mana handphone mu!" seru Gala pada Rama putranya. Ia ingin memeriksa isi dari memori kecil ini memakai handphone Rama. Putra pertamanya itu langsung mengambil handphone dari saku celananya kemudian membuka memori yang lama kemudian menggantinya dengan memori yang baru dari amplop coklat itu. Lama mereka menunggu sampai handphone itu aktif kembali.
Gala dan Rama melotot tidak percaya atas apa yang mereka lihat dalam video itu. Tangan mereka berdua mengepal erat dengan rahang mengetat marah. Ingin rasanya Gala membanting handphone itu tetapi ia baru sadar kalau handphone putranya itu sangat mahal dan juga keluaran terbaru. Dan tanpa menunggu waktu lama Gala segera menghubungi seseorang lewat telepon.
"Tangkap Reksadana sekarang!" teriaknya dengan suara bergetar menahan emosi.
"Atas tuduhan apa om?" tanya orang itu yang tak lain adalah AKBP Selamet Riyadi, S.H. M.H. putra dari sahabatnya Komjen Pol Supirman yang sekarang sudah menjabat sebagai Kapolri.
"Pembunuhan!" jawab Gala tegas.
"Om ada bukti kuat kan?" tanya Slamet Riyadi memastikan. Bagaimanapun juga semua warga negara Indonesia sama di mata hukum. Harus ada bukti kuat baru bisa dilakukan penangkapan.
"Ada. Bukti kejahatannya yang lain juga ada. Pokoknya tangkap sekarang dan jangan biarkan ia lolos." titah Gala dengan suara beratnya.
"Siap Om. Kurang dari 3 jam. Om akan menerima informasinya." jawab Slamet Riyadi yang sekarang menjabat Kapolres diusia yang masih sangat muda.
Gala menutup sambungan teleponnya kemudian meraup wajahnya kasar. Ia sekarang paham kenapa mamanya sampai mendapat serangan jantung lagi hanya karena mendengar nama Reksadana disebut oleh cucunya sendiri.
Drrrt
"Ya Haloo. Iyaa kami segera kesana!" jawab Gala singkat.
"Siapa Pa?" tanya Rama penasaran.
"Mamamu. Katanya Eyang putri udah bangun dan ingin bertemu dengan kita berdua."
"Oh iya Pa. Ayok." ujar Rama kemudian mereka berdua bersama-sama menuju ruang ICU.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang super banyak agar othor semangat update lagi.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍