
Bugh
Sebuah tinju maut menyambut kedatangan Gala Putra Raditya di sebuah restoran yang sudah di reservasi oleh Ira Zerni sebelumnya.
Pukulan yang tidak disangka-sangka itu mendarat telak di perut dan juga bibirnya hingga menimbulkan rasa sakit yang tidak terkira. Sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. ia segera mengusapnya dengan punggung tangannya.
"Breng"seek!" umpatnya marah. Ia yang tidak tahu apa-apa langsung mendapat sambutan yang cukup mengejutkan.
Dengan perasaan marah ia membalas pukulan pria muda yang tak lain adalah Pandu Gemilang. Tubuhnya yang lebih tinggi dan atletis daripada Pandu cukup menolongnya dalam hal ini.
Dengan sekali tendangan Pandu terjungkal ke belakang. Mereka berdua berduel sengit di dalam restoran yang cukup ramai itu karena bertepatan dengan waktu makan siang.
"Hei, stop!" teriak Ira Zerni yang baru saja tiba dari toilet. Ia tak menyangka kejadian ini bisa terjadi. Gala sedang mendaratkan bogem mentah ke arah wajah Pandu.
"Gala stop! kamu bisa membunuhnya" teriak Ira lagi histeris hingga menimbulkan keriuhan yang semakin seru.
Gala tersadar dan melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Pandu. Ia berdiri dan menepuk lengannya yang sedikit kotor.
"Ada yang bisa jelaskan apa maksud kalian!" Ujar Gala dengan pandangan mata tajam ke arah dua orang di hadapannya. Suara beratnya begitu mengintimidasi.
Tangannya melambai menyuruh semua orang yang sempat panik dan mengerumuninya agar mereka semua kembali ke tempat dan melanjutkan makan siang yang tertunda.
"Pandu, bisa kau jelaskan ada apa ini?" bentak Ira kepada adiknya yang juga nampak babak belur.
"Bos Kakak ini pantas mendapatkannya!" ujar Pandu dengan nafas naik turun menahan emosi. Ia belum menyerah. Rasanya ia belum puas memukul wajah tampan tapi sangat menjengkelkan itu.
"Jaga bicaramu Pandu!" Sekali lagi bentakan Ira menggelar. Ia merasa malu kepada Gala sahabat sekaligus bosnya. Ia tak menyangka Pandu sudah merencanakan semua ini dan ia jadi pihak yang ikut berperan dalam rencana jahat Pandu.
"Lihat ini!" Ujar Pandu sambil menyerahkan handphone nya yang berisi rekaman CCTV perbuatan asusila Gala pada Vita Maharani. Rupanya ia sudah menyalin rekaman itu kedalam handphonenya.
Gala dengan tenang meraih benda pipih itu. Seketika wajahnya pias. Ia tak menyangka ada yang berhasil mengabadikan momentum itu.
Pandu dengan sigap melompat kembali ke arah Gala dan mencengkeram kerah kemejanya. hingga benda pipih itu terjatuh dari tangan Gala.
"Saya akan melaporkan tindakan pelecehan anda pada Vita Maharani!" ujar Pandu dengan nada mengancam.
"Hei, siapa kau! berani mencampuri urusanku" Gala mendorong tubuh Pandu agar menjauh darinya. Ia merasa tersudut dengan ancaman Pandu tapi ia tidak merasa takut.
__ADS_1
"Saya kekasihnya Vita Maharani,.dan saya akan membela dia dari orang seperti anda!" jawab Pandu lagi dengan senyum mengejek.
Seketika Gala terdiam. Ia memindai tubuh Pandu dari atas sampai bawah. Ternyata pria yang dilihatnya malam itu adalah betul kekasih Vita.
"Saya peringatkan jangan sampai anda berani mendekati Vita lagi" Ujar Pandu masih disertai ancaman.
"Kalau saya tidak mau, kamu mau apa?" Gala menjawab dengan menantang. Dagunya terangkat dengan angkuh.
Ia merasa hatinya terbakar. Dadanya mendidih marah. Beraninya orang di depannya ini mengaku sebagai kekasih Vita Maharani. Sedangkan bertemu suaminya pun ia akan memaksa untuk memisahkan mereka. Apalagi kalau baru berstatus kekasih. cih!
Emosi Pandu tersulut kembali. Ia masih ingin menyerang Gala tetapi dengan cepat Ira Zerni menarik tangannya. Berusaha menenangkan.
Ira Zerni jadi serba salah. Tadinya ia ingin menyemprot Gala dengan kata-kata makian, tetapi sekarang keadaan yang terjadi di depan matanya ini membuatnya kehilangan kata-kata.
"Saya akan melaporkan tindakan asusila anda ke pihak berwajib, itu adalah pelecehan!" Ujar Pandu lagi dengan seringai menyeramkan.
"Silahkan, laporkan saja. Saya akan bertanggung jawab!" Jawab Gala tidak mau kalah. Lalu berlalu dari hadapan dua orang ini.
Gala Putra Raditya mencengkram kemudinya dengan marah. Ucapan Pandu yang mengakui Vita sebagai kekasihnya sungguh mengganggu perasaannya kini.
Berkali-kali ia memukul kemudi itu kemudian mengusap wajahnya kasar. Ada rasa tak nyaman menghantam dadanya.
"Awww" Ia meringis merasakan bibir dan pelipisnya nyeri. Pukulan Pandu pada wajahnya baru terasa kini.
"Sial! , ini sakit sekali" Ia menyentuh pelipisnya yang nampak kebiru-biruan. Deka memberikan Kompresan air dingin agar lukanya tidak bertambah sakit.
"Dapat hadiah darimana Pak!" tanya Deka dengan senyum samar. Ternyata Gala kembali ke Perusahaan setelah lama berputar-putar di jalan.
"Diam kamu!, awwww" Gala mengernyit kesakitan.
"Makanya kalau keluar makan siang jangan sendiri aja, aja-ajak dong Pak" Deka terus menggoda Gala yang tampak kacau.
"Kan bisa tuh saya bantuin habisi tuh orang" ujar Deka lagi. Ia tahu apa yang terjadi sama bosnya ini. Ira Zerni sudah menghubunginya berkali-kali menanyakan keadaan Gala.
"Saya panggilkan dokter ya Pak" saran Deka sambil memencet tombol panggil pada Handphone nya.
"Terserah!" Jawab Gala malas. Ia butuh dokter lain yang bisa mengobati sakit hatinya hari ini.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain.
"Kamu bikin malu kakak, Ndu!" Ira Zerni memandang tajam ke arah Pandu yang tampak lebih kacau lagi. Wajahnya lebam di mana-mana. Bibirnya juga pecah dan nampak membengkak.
"Kamu kan gak perlu main kekerasan seperti itu" Ira mendengus kesal.
"Kamu sungguh tidak sopan, ya ampun " Ira mencak-mencak tidak jelas.
"Dia pantas mendapatkannya Kak!" jawab Pandu meringis menahan sakit. Ia lupa berkat kebaikan hati Gala Putra Raditya yang memberinya beasiswa sehingga ia bisa kuliah gratis sampai selesai.
"Ia Kakak juga marah sebenarnya. Tapi kan kita bisa ngomong baik-baik, Ndu" Ira sudah tidak tahu mau ngomong apa, ia sungguh malu akan perbuatan adiknya.
"Eh, tapi kamu beneran kekasihnya Vita?"
"Bukannya kalian baru bertemu pada hari itu ya?" Ira menatap curiga pada adiknya. Pandu hanya tersenyum kecut.
"Pandu suka sama Vita kak" ujar Pandu pelan hampir tak terdengar.
"Dan Pandu tidak rela ada yang menyakiti Vita, tidak bosnya atau siapa pun itu" sorot matanya menggambarkan kemarahan yang belum tuntas.
"Pandu mau tanya sama kakak" Ia meraih tangan Ira yang sedang memegang botol Betadine. Ira hanya menatapnya bingung.
"Kakak mau kan membantu Pandu untuk mendapatkan hati Vita?"
"Eh, kenapa harus mintanya sama kakak, kamu kan dekat bahkan sahabat dari dulu, ya kamu usaha aja sendiri" Ira berdiri dan melepaskan pegangan Pandu.
Ia mau lepas tangan. Setelah kejadian ini ia bisa menyimpulkan kalau Gala juga punya rasa yang cukup besar kepada Vita Maharani.
Ia mau cari aman. Berdiri di tengah-tengah saja. Terserah Vita Maharani mau memilih siapa.
🍁🍁🍁🍁🍁
Untuk Mam Ira Zerni, tetaplah jadi kakak yang baik untuk Pandu, eyaaaak
Hai, readers tersayang...
Jangan lupa like dan komen, hadiah poin or koin bolehlah, yang penting readers senang.
__ADS_1
😍😍😍😍😍