Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 84 Lukaku Belum Kering


__ADS_3

Vita Maharani membuka kelopak matanya perlahan. Cahaya lampu yang cukup terang membuatnya mengernyit dan menutup kembali matanya dan berusaha beradaptasi dengan pencahayaan di kamar itu.


"Aaaakh," lenguhnya sedikit nyeri ketika menggerakkan tangannya yang ternyata sedang tertusuk jarum infus. Gala yang sedang tertelungkup di sampingnya langsung terbangun.


"Vit, kamu sudah bangun, sayang..." ujar Gala sembari menegakkan badannya dan memberikan senyum bahagia di bibirnya. Ia melihat keseluruhan isi ruangan. Ternyata sinar matahari sudah mulai tampak siluetnya dari celah tirai jendela.


Vita tidak menjawab ucapan bahagia suaminya. Seketika ia menyadari keberadaannya di kamar berbau obat-obatan ini karena ulah Gala Putra Raditya yang kebetulan menjadi sosok penting dalam hidupnya. Ia menolehkan wajahnya ke arah lain saat Gala memandangnya dengan wajah berbinar.


"Vit, kamu butuh sesuatu?" tanya Gala pelan dan meraih tangannya yang bebas dari jarum infus. Vita segera menepis tangan suaminya itu. Ada rasa marah, kesal, dan benci memenuhi relung hatinya.


"Maafkan aku, Vita sayang..." ujar Gala lagi lembut ia mulai merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya walaupun masih kelihatan pucat.


Vita tetap tak bergeming. Ia berusaha menolak perlakuan suaminya itu dengan menggerakkan kepalanya.


"Jangan sentuh aku mas," ujar Vita akhirnya ketika Gala tetap merapikan rambutnya. Bayangan Sashi Aurora menghabiskan malam dengan pria itu membuatnya jijik. Suaranya yang kedengaran sangat kesal itu langsung menghentikan tangan Gala.


"Maafkan aku Vit, aku tidak tahu kalau kamu sedang..." belum selesai ucapan Gala, Vita sudah memotongnya dengan marah,


"Kamu sudah minta maaf sama Pandu, mas?" suara Vita tercekat karena sedih dan marah bersamaan.


"Aku benci kamu mas hiks. keluar dari kamar ini! aku tak mau melihatmu di sini...Aaaaa" akhirnya pecah juga tangisnya di depan suaminya yang sudah memberikan luka teramat dalam di hatinya.


"Astagfirullah...Aku mengaku salah sayang, maafkan aku ya," Gala merasa nyeri dengan ucapan istrinya itu. Ia tak menyangka Vita akan sangat membencinya hanya karena menyerang Pandu dengan brutal semalam.


Ternyata laki-laki itu punya tempat khusus di hati Vita


"Vit..."


"Keluar!"


Gala akhirnya keluar dari kamar perawatan Vita dengan langkah gontai. Ia sangat sedih dengan penolakan istrinya itu tetapi ia sangat sadar bahwa itu semua karena salahnya hingga membuat Vita dan calon bayinya hampir celaka.


Di ambang pintu ia bertemu dengan dokter yang menangani istrinya itu. Sepertinya ia akan memeriksa perkembangan kondisi pasien.


"Kenapa keluar pak?" tanya dokter itu ramah. Ia bermaksud memeriksa keadaan Vita di depan suami atau anggota keluarganya supaya ia bisa lebih nyaman menyampaikan perkembangan kondisi pasien.


"Pasiennya tidak butuh saya dokter," jawab Gala sedikit merajuk.

__ADS_1


"Hahaha, mana mungkinlah. suaminya gagah begini kok ditolak sih," ujar dokter itu masih bercanda kemudian melangkah masuk ke kamar dan Melihat Vita sedang menyusut air matanya.


"Apa ada yang sakit, calon mama?" tanya dokter ramah. Ia memberi kode pada asisten perawat yang ada di sebelahnya untuk memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh pasien.


"Izin ya, sayang..." ujar dokter itu sembari membuka pakaian seragam pasien yang dikenakan oleh Vita pas di bagian perutnya. Ia meraba dan menekan sedikit perut yang masih rata itu,


"Sakit?" tanya dokter itu lagi.


"Tidak dok," Jawab Vita sembari menggelengkan kepalanya.


"Udah tahu belum kalau di sini itu ada calon baby...," ujar Dokter itu dengan tersenyum. Ia tahu dari rekam medik pasiennya ini bahwa si calon mama bahkan belum sadar kalau ia sedang mengandung.


"Baby?" tanya Vita bingung dan menit berikutnya ia malah menangis yang membuat dokter itu menjadi heran.


"Ada apa sayang?, pasti kamu bahagia kan karena sebentar lagi jadi mama," Vita semakin menambah tangisannya. Ia bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena akan jadi orang tua dan sedihnya karena ayah dari baby-nya justru ada main dengan gadis lain di luar sana.


"Harus bahagia ya, supaya baby-nya juga tumbuh sehat dan bahagia juga di dalam sini," ujar dokter sembari mengelus perut Vita. Ia hanya mengangguk dan menyusut ingusnya dengan tisu.


"Minum obat untuk penguat kandungan ini ya, supaya baby-nya juga kuat dan tumbuh sehat," sekali lagi Vita hanya mengangguk faham.


"Ini vitamin juga dan harus banyak istirahat, okey?" ujar dokter itu dengan bibir yang tak lepas dari senyum manisnya. Sebelum dokter itu keluar ia sempat memberi pesan agar jangan suka marah sama papa si baby.


"Bagaimana dok?"


"Semuanya sehat, mama dan baby-nya. Mereka kuat pak,"


"Alhamdulillah, terima kasih dokter."


"Perubahan hormon pada ibu hamil mempengaruhi suasana hati calon mama yang kadang gampang berubah. Jadi harap maklum ya pak," Gala tersenyum faham. Ia berjanji akan mengikuti apapun maunya istrinya itu yang penting ia baik-baik saja.


"Jaga perasaannya tetap bahagia ya pak, Ia sepertinya belum bisa menerima kehadiran baby dalam kandungannya." ujar dokter lagi mengingat Vita yang masih saja menangis setelah ia tinggalkan.


"Baik dokter, terima kasih banyak." Dokter itupun pamit untuk memeriksa pasien lainnya.


Gala terduduk dengan lemas. Ia meraup wajahnya kasar. Rasa nyeri semakin menggerogoti hatinya. Ia tak menyangka Vita begitu terluka akan kejadian semalam dan lagi, ia bahkan belum mau menerima kalau ia sedang mengandung anaknya.


Tap

__ADS_1


Tap


Langkah kaki yang semakin mendekat membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia segera melihat siapa yang datang. Tampak Mama bersama Deka sedang menuju ke arahnya.


"Bagaimana keadaan istrimu, Gal?" tanya Nyonya Mawar Raditya khawatir. Ia baru mendengar kabar buruk ini dari Deka yang akhirnya pulang dini hari tadi ke rumah untuk mengambil perlengkapan Vita.


"Alhamdulillah, udah baikan ma. Mama masuk saja..." Nyonya Mawar tanpa basa-basi lagi langsung masuk ke kamar perawatan Vita, menantunya.


"Vita sayang, bagaimana kabarmu nak?" tanya Nyonya Mawar sembari mengelus lembut pucuk kepala Vita.


"Alhamdulillah, baik ma."


"Ini kenapa bisa terjadi seperti ini sih?" Vita hanya tersenyum. Lidahnya kelu tak mau bicara kalau mengingat kejadian semalam yang cukup membuatnya ngeri. Entah bagaimana kabar Pandu sekarang, pikirnya dalam hati.


"Harus banyak istirahat, ya nak."


"Kamu makan dulu ya, ini mama bawa bubur ayam campur sayuran agar kamu cepat pulih." Nyonya Mawar mengambilkan piring kemudian menyuapinya. Dalam hati Vita merasa beruntung mempunyai mertua yang baik seperti ini, walaupun pernah terbersit dalam hatinya untuk membenci mama mertuanya ini yang juga mama mertua kakaknya Gita.


"Rama gimana ma?" tanya Vita setelah menghabiskan sepiring bubur kiriman dari rumah.


"Ia cukup rewel dan terus menanyakanmu tetapi ia sudah aman kok di Daycare." jawab Nyonya Mawar berusaha menenangkan agar Vita tidak stress dan bisa lebih fokus akan kesembuhannya saja.


"Jangan mikir yang berat-berat sayang, kamu harus segera pulih. Suamimu sangat mengkhawatirkanmu."


Cih


Khawatir apanya


"Iya ma..."


"Mama pamit ya sayang," ujar Nyonya Mawar kemudian mencium kening Vita lama. Ia ingin menjadi mama mertua yang baik. Cukuplah kisah putra pertamanya bersama Gita kakaknya Vita jadi pengalaman terburuknya.


"Ingat, makan buahnya, eh mama akan minta suamimu mengurusmu dengan baik. Jangan cuma mau enaknya saja, Hah." gerutu Nyonya Mawar kemudian keluar dari kamar itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai hai readers tersayangnya othor ... jangan lupa klik like, ketik komentar, dan kirim hadiahnya ya untuk mendukung othor receh ini.

__ADS_1


Nikmati alurnya and Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2