Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 118 Duo Papa Ngidam Akut


__ADS_3

Vita Maharani dan Risma Yanti kompak memasak untuk para suami tercinta. Mereka berdua sibuk di dapur menyiapkan ini dan itu untuk menyambut kedatangan calon papa dari janin yang sedang tumbuh di dalam kandungan mereka.


Para pelayan hanya menjadi penonton dan penggembira saja. Meskipun mereka memaksa untuk membantu, nyonya muda Vita Maharani hanya meminta mereka untuk membantu mencuci bahan-bahan sebelum diolah, selebihnya mereka hanya berdiri seperti pagar betis di sekitar dapur jika sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan.


"Tara..." ujar Vita bahagia saat semua masakan buatannya dan Risma telah selesai dan sudah terhidang cantik di atas meja makan. Ia tinggal menunggu beberapa menit saja sampai suaminya, Gala Putra Raditya datang bersama Deka Roland sang asisten sekaligus suami dari Risma Yanti.


Ia telah meminta Risma menghubungi dimana posisi mereka sekarang hingga masakan itu masih dalam keadaan panas ketika mereka tiba.


"Assalamualaikum." ucap suara dari luar memberi salam.


"Mereka sudah datang." ujar Vita dengan senyum cerah.


"Waalaikumussalam warahmatullahi." jawab Vita dan Risma bersamaan kemudian mereka berdua berjalan ke arah pintu dan menyambut kedatangan orang yang sedari ditunggu-tunggu.


Vita Maharani seperti biasa akan mendapat kecupan di pipi atau di pelipisnya ketika suaminya itu baru tiba. Sedangkan Deka pasti akan mendapatkan ciuman di punggung tangannya oleh Risma. Mereka berempat langsung melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, tanpa ada yang saling bicara.


"Mas, makan dulu." Vita membuka jas yang dipakai suaminya dan menyampirkannya di sebuah tiang gantungan di dalam ruangan itu.


"Iyya," jawab Gala dengan suara pelan. Ia memang sangat lapar karena semua isi perutnya telah terkuras habis hari ini. Ia pun melipat lengan kemejanya sampai batas siku kemudian mencuci tangannya di wastafel dan duduk di kursi meja makan bersama anggota keluarga lainnya.


"Silahkan mas, selamat menikmati." ujar Vita sembari membuka tutup saji semua hidangan di atas meja. Ia begitu bahagia karena sudah memasak untuk suaminya setelah sekian lama dilarang menginjakkan kakinya di dapur untuk memasak.


"Oweeee," Gala dan Deka langsung merasa mual ketika mencium aroma masakan yang begitu menyengat di penciuman mereka. Dan tanpa aba-aba mereka kompak lari bersama mencari kamar mandi terdekat. Mereka tidak mau mengganggu selera makan orang-orang yang ada di sana dengan suara-suara khas orang mual karena sudah tidak ada lagi makanan atau minuman yang bisa mereka berdua muntahkan. Semuanya sudah habis terkuras. Keringat dingin dan wajah pucat menyertai penderitaan mereka ketika keluar dari kamar mandi.


"Mas, ada apa?" tanya Vita khawatir. Risma pun menanyakan hal yang sama pada suaminya yang tak kalah mengenaskannya dengan Pak GM. Mereka berdua sekali lagi kompak menggeleng.


"Makan ya supaya kuat lagi." bujuk Vita dan membawa tubuh suaminya ke meja makan kembali.


"Oweeeek." sekali lagi mereka berdua merasa mual saat melihat hidangan enak dan lezat di atas meja makan tetapi sangat menyeramkan bagi keduanya. Vita dan Risma saling berpandangan. Mereka berdua menatap Nyonya Mawar yang juga tampak khawatir.


"Hubungi dokter, pasti ada yang tidak beres diantara mereka." perintah Nyonya Mawar dengan suara tegas.

__ADS_1


"Baik Bu." Risma menjawab kemudian segera mencari handphonenya di dalam kamar dan menghubungi dokter keluarga.


"Aku tidak mau makan, mau baring saja." ujar Gala dengan wajah pucat. Ia kemudian dipapah oleh istrinya ke sebuah kamar tamu di lantai satu rumah itu. Ia sudah tidak sanggup naik tangga lagi karena badannya sudah gemetar karena loyo.


"Mas, kenapa bisa begini?" tanya Vita khawatir. Ia sudah mengganti pakaian kerja suaminya dengan piyama yang biasa suaminya pakai untuk tidur.


"Gak tahu sayang, aku merasa pusing sampai muntah terus sejak tadi pagi." jawab Gala yang menutup matanya karena rasa pusing itu terasa datang lagi.


"Jadi, mas belum makan nih?" Gala menjawab dengan anggukan.


"Kita tunggu dokter datang ya mas?" sekali lagi Gala mengangguk. Ia sudah tidak punya tenaga untuk menjawab dengan kata-kata.


Sementara itu, kejadian yang sama juga terjadi di kamar Deka dan Risma. Deka berbaring di ranjang dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi seluruh badannya.


"Kakak makan apa selama di Perusahaan. Apa ada janji makan siang di luar lagi?" tanya Risma khawatir. Ia merasa heran dengan kejadian yang menimpa suami dan juga bosnya.


"Gak ada. Kami bahkan belum makan seharian ini." jawab Deka dengan suara pelan.


"Kita sebaiknya ke Rumah sakit kak, sekarang juga." lanjutnya lagi dan langsung berdiri dan berniat keluar kamar untuk meminta sopir segera mempersiapkan mobil. Deka ingin melarang istrinya itu tetapi ia sudah tidak punya tenaga untuk bicara. Akhirnya ia biarkan saja istrinya itu melakukan apa yang ia mau.


Risma dan Vita bertemu di ruang keluarga karena memiliki niat yang sama yakni membawa dua orang terkasih mereka untuk segera dibawa ke rumah sakit.


"Mama, papa sama om kenapa?" tanya Rama khawatir karena sedari tadi ia memperhatikan dua orang itu keluar masuk kamar mandi karena mual.


"Gak papa sayang, itu mungkin karena kecapaian." jawab Vita sembari mengusap lembut rambut Rama.


"Kamu lanjutkan makanmu sana." ujar Vita dan meminta Rama kembali ke meja makan untuk melanjutkan makan malam yang tertunda. Anak itu kembali duduk dan melanjutkan makannya yang ia tinggalkan karena ikut khawatir sama papanya yang tidak pernah lihat seperti ini sebelumnya.


"Pasiennya ada dimana?" tanya dokter Sukmawati yang merasa heran karena baru tadi siang ia datang ke rumah ini untuk memeriksa kedua istri petinggi TGR global Company dan sekarang malah dihadapkan dengan para suami keren itu lagi.


"Di kamar dokter." jawab Vita cepat. Ia segera membawa dokter itu ke kamar dimana Gala berada.

__ADS_1


"Ini bukan penyakit biasa, nyonya." ujar dokter itu kepada Vita yang berwajah khawatir berlipat-lipat. Ia baru saja memeriksa semua alat vital Gala seperti mata, perut dan denyut nadinya.


"Jangan membuatku takut dokter." ujar Nyonya Mawar yang ternyata sudah ada di dalam kamar itu tanpa mereka sadari. Rama juga berada disana sedangkan Sovia sedang ditidurkan oleh baby sitternya di kamarnya sendiri.


"Harap tenang Nyonya besar, InsyaAllah ini akan baik untuk kesehatan jantung Anda." ujar dokter itu lagi dengan penuh teka-teki.


"Apa papa baik-baik saja dokter?" tanya Rama dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat khawatir melihat tubuh papanya yang kekar dan besar itu tiba-tiba jadi sangat loyo tak bersemangat.


"Ini hanya sindrom kehamilan simpatik."


"Apa maksudnya dokter?" tanya Vita penasaran. Dokter Sukmawati tersenyum lembut.


"Rasa mual dan pusing yang biasa dialami oleh ibu hamil kini dirasakan oleh suaminya, gejalanya seperti ini, karena Nyonya muda sedang hamil dan yang merasakan ngidamnya adalah tuan Gala atau papa dari bayi yang dikandungnya.'


"Oh, seperti itu. Eh, maksudnya kamu sedang hamil sayang?" ujar Nyonya Mawar masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Iyya ma, cucu mama akan bertambah lagi."


"Alhamdulillah, selamat sayang. Kamu sudah banyak memberi kami kebahagiaan, terima kasih banyak." ujar Nyonya Mawar dan langsung memberikan pelukan hangatnya kepada Vita Maharani menantunya.


"Tapi keadaan seperti ini ya," ujar dokter itu lagi. "Calon papa yang mengalami hal seperti ini harus banyak makan dan minum serta minim vitamin supaya kuat."


"Baik dokter, terima kasih." jawab Vita sopan. Ia pun mengantar dokter itu ke kamar Deka yang lagi sakit juga dan ternyata pria muda dan keren itu memiliki keluhan dan sakit yang sama dengan Gala Putra Raditya. Sebuah kejutan yang membahagiakan.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Mana nih dukungannya para readers tersayangnya othor.


Jangan lupa like dan komentar ya gaess.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2