
Miska menatap putranya yang hanya mengaduk-aduk sarapannya di piring tanpa memakannya.
"Dika, tak baik seperti itu sayang. Gak bersyukur namanya." tegurnya pada Andika yang sedari tadi seperti sedang memikirkan sesuatu. Reno kembali bingung, baru saja Andika bersemangat kini mulai tidak jelas seperti itu lagi.
"Dika! dengerin tuh mamamu kalau ngomong." seru Reno sedikit kesal dengan tingkah putranya yang seperti itu.
"Maaf Ma , maaf Pa. Aku lagi gak enak badan." ujar Andika kemudian pamit dari ruang makan itu. Miska yang merasa aneh dengan tingkah putranya langsung mengikuti langkah Andika ke kamarnya.
"Kak, Aku ke Andika dulu sapa tau ia lagi sakit." ujar Miska meminta izin. Antika dan Andira hanya mengangkat bahu.
"Dika, kamu sakit?" tanya Miska pada putranya yang sedang berdiri di depan jendela sedang menatap keluar ke arah jalan raya.
"Aku sakit hati Ma, " jawab Andika to the point. Miska langsung menghampirinya dan menarik bahunya agar bisa berhadapan langsung dengan putranya itu.
"Sama siapa? kok jadi lebay gini sih anak mama."
"Sovi, ia selalu bikin aku cemburu." ujar Andika kesal.
"Astagfirullah. Kamu kok seperti anak gadis sih, kamu tuh cowok kalau cemburu bilang langsung pada orangnya. Kamu itu calon suami, calon imam, jangan lebai dong. Kasihan nanti Sovi kalau cemburu dikit-dikit ngambekan."
"Aku mau nikahin dia aja Ma, kalau cuma pacaran gak bisa ngapa-ngapain."
"Astaga Dika, jadi itu yang kamu pikirkan sayang. Kamu ya suka mikir yang Piktor-piktor ya sekarang sama Sovi?" tebak mamanya tersenyum.
"Habisnya, banyak godaan Ma. Dia juga gak mau diapa-apain kan stress aku Ma apalagi banyak cowok tuh yang selalu deketin dia."
Plak
Miska langsung memukul bahu Dika keras.
"Lihat Rama nikah kamu langsung kebelet juga, iyya?"
"Iyya Ma."
Plak
Sekali lagi Miska memukul bahu Andika keras.
__ADS_1
"Kamu harus banyak olahraga supaya gak mulu mikirin yang kotor -kotor."
"Eh, tidak kotor lho Ma, itu Sovia."
Plak
"Sovia yang kamu bayangan dengan pikiran kotormu itu."
"Kok mama mukul Andika terus sih."
"Habisnya sampai sekarang gak dewasa-dewasa juga. Ngambek dipelihara. Sana hubungi Sovi trus minta maaf, tadi tuh dia hubungi mama tanya keadaanmu." ujar Miska kemudian keluar dari kamar putranya sembari tersenyum penuh arti.
"Kenapa ma, kakak sakit ya?" tanya Antika saat Miska kembali duduk di posisinya tadi.
"Sakit kangen sama Sovi." jawab Miska singkat kemudian melanjutkan sarapannya yang tertunda tadi.
"Ih lebay, masak kangen aja sampai gak bisa makan." ujar Andira mencibir.
"Hush, orang jatuh cinta emang begitu, Dira." timpal Antika menahan tawanya.
"Belum sih."
"Ayo cepat habiskan sarapan kalian." tegur Reno pada kedua putrinya yang malah sibuk berbincang dan tidak makan.
"Iyya, Pa. Hem, kamu sih." bisik Antika kepada Andira.
Miska hanya tersenyum melihat kedua putrinya itu yang tak terasa sudah menginjak dewasa. Umur mereka hanya bertaut satu tahun lebih. Sehingga kadang mereka dikira kembar. Kembali ia mengingat Andika tadi yang katanya minta nikah. Ia menatap wajah suamiku serius.
"Kenapa Mis, ada hal yang penting?" tanya Reno penasaran.
"Iyya kak, bentar kita bicaranya di kamar aja." ujar Miska sembari melanjutkan suapan nasi gorengnya. Reno mengangguk setuju.
🍁
"Kak Sovi, jalan yuk!" ajak Sarah pada kakak perempuannya yang sibuk dengan gadgetnya. gadis yang lebih tua daripada Sarah itu tidak merespon, ia hanya sibuk menggulir layar naik dan turun menunggu sesuatu yang tak pasti. Menunggu Andika menghubunginya.
"Kak Sovi, tuh Adam ada diluar, dia ngajakin kita nonton, ayok ah, suntuk di rumah." ujar Sarah lagi dengan senyum semangat di wajahnya. Mereka semua pada suntuk padahal cuma libur dan cuti beberapa hari karena persiapan pernikahannya Rama. Tetapi setelah pesta usai mereka jadi pusing sendiri karena masih punya cuti tetapi tidak bisa ngapa-ngapain.
__ADS_1
Gala dan Vita sebagai orang tua sibuk mengurung diri di dalam kamar. Deka dan Risma juga seperti itu. Pengantin baru pun masih belum kembali dari Hotel tempat resepsi. Nah sekarang Adam dan Sarah ingin menghibur diri dengan keluar rumah dan mencari film yang bisa dinonton di bioskop.
Sovia langsung menaruh handphonenya yang ternyata tidak juga berbunyi.
"Okey, tunggu aku ya. Aku mandi dulu." ujar Sovia kemungkinan melangkah ke kamar mandi. Ya, ia memutuskan untuk menghibur diri sendiri daripada mikirin Andika yang kadang suka aneh dan tidak bisa ditebak jalan pikirannya.
Setelah menunggu beberapa saat. Mereka bertiga pun berangkat dengan Adam sebagai penunjuk jalannya.
🍁
Setelah unboxing yang penuh drama dari dua pengantin baru itu, mereka sempat tertidur karena kelelahan. Dan sekarang mereka terbangun dengan perut keroncongan. Maklum ini sudah hampir jam 1 siang.
"Ram, lapar banget nih." ujar Rara sembari meraba perutnya yang krukkk krukkk sedari tadi. Rama membuka matanya dan wajah istrinya yang pertama ia lihat.
"Mandi dulu ya, baru aku pesan makanan." ujar Rama kemudian bangun dari ranjang. Rara sampai tak berkedip memandang tubuh suaminya yang atletis itu. Ia kemudian memukul kepalanya ringan karena membayangkan ulang apa yang tubuh itu lakukan padanya tadi subuh yang berakhir ia meminta lagi dan lagi tak tahu malu.
Tak lama kemudian, Rama keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk putih di tubuhnya. Rambutnya masih sedikit basah hingga menetes ke dada bidangnya yang cukup menggoda. Belum lagi roti sobeknya membuat Rara tak sadar membuka mulutnya karena terpesona.
"Nah, giliran kamu, aku akan pesankan makanan. Mau makan apa nyonya?" tanya Rama sembari meraih gagang telepon di samping ranjang. Ia tak sadar diperhatikan oleh sang istri sampai ngences begitu.
Rama menatap istrinya yang sedang menatapnya tak berkedip, sedari tadi ia bicara tetapi istrinya malah diam melongo seperti itu.
"Lap ilermu sayang." ujar Rama sembari menyentuh bibir istrinya yang terbuka karena menatapnya. Dengan cepat Rara menutup mulutnya dan wajahnya dengan tangannya. Ia malu karena kedapatan memandang tubuh suaminya itu dengan pandangan memuja.
"Suka ya lihat aku kayak gini?" ujar Rama menggoda istrinya. Ia malah kembali duduk di ranjang dan merapatkan tubuhnya pada istrinya yang sedang memegang ujung selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Tanpa sadar Rara mengangguk dengan wajah yang lucu. Rama menjadi gemas dibuatnya. Ia meraih tangan istrinya hingga selimut itu terlepas dan menampilkan sesuatu yang indah di sana. kulit putih yang sudah berubah warna karena perbuatannya. Bahkan kedua roti empuk miliknya pun berubah warna disekitar titik kecil yang ada di tengahnya.
Tangan Rara ia arahkan ke roti sobeknya agar istrinya bebas membelainya. Sedangkan tangannya sendiri ia arahkan ke dua roti empuk yang begitu menggoda imannya. Rasa laparnya berubah menjadi dahaga sekarang. Ia menatap wajah istrinya lembut meminta izin. Rara hanya mengangguk karena pikirannya juga menginginkan yang sama. Ia menginginkan lebih dari sebuah remasan.
Dan...
---Bersambung--
Mana nih dukungannya yang super kuenceng. Like dan komentarnya dong...
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1