Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 162 Penerus Bucin Sedang Galau


__ADS_3

Dyah dan Rara saling berpelukan dengan hati yang sangat sedih. Setelah mengunjungi kantor Polisi mereka mereka baru mendapatkan informasi kalau Ilhamsyah telah menggelapkan dana perusahaan sebanyak milyaran rupiah. Dan tentu saja akibat perbuatannya itu perusahaan mengalami kerugian yang tidak sedikit.


Diyah tak menyangka kalau suaminya akan melakukan hal yang sangat tercela seperti itu. Ia belum berhenti menangis di depan Rara dan seorang pengacara yang ditunjuk untuk mendampingi suaminya nanti dalam proses hukum yang akan dijalani oleh pria yang telah menikahinya selama 23 tahun itu.


"Aku tak percaya mas Ilham berani melakukan itu semua." ujarnya sembari menyusut air mata yang masih terus keluar sedari tadi.


"Ia orang jujur dan lagipula ia tidak pernah memberi kami uang yang sangat banyak seperti tuduhan dari kantor polisi itu."


"Yang sabar ya Bu, saya akan menanyakan hal ini kembali kepada bapak. Yah kami berharap pak Ilhamsyah bisa mengatakan yang sejujurnya apa yang sebenarnya telah terjadi."


"Tapi tuntutan dari pemegang saham itu tidak main-main pak. Mereka baru melepaskan mas Ilham jika bersedia mengembalikan dana yang hilang itu pada hari ini juga. Padahal kan mas Ilham belum atau tidak mengakuinya. Bahkan BAPnya belum keluar kan, manalagi kita sama sekali tidak diizinkan bertemu. Ini sama saja dengan pemerasan dalam jalur hukum." ujar Dyah lagi semakin histeris.


"Ma yang sabar ma, " ujar Rara sembari mengelus tangan mamanya.


"Mereka tidak membeberkan bukti kejahatan tapi kenapa mas Ilham langsung ditangkap seperti itu." ujar Dyah semakin heran dengan keadaan yang terjadi.


Rara juga ikut bingung dibuatnya. Sayangnya ia tak mengerti hukum jadi ia hanya bisa memberikan penghiburan seadanya kepada mamanya. Mereka orang kecil dan juga tidak punya koneksi orang-orang penting jadi hanya bisa pasrah atas apa yang terjadi.


"Ma, tadi polisi itu bilang apa?" tanya Rara setelah mamanya sudah lebih tenang.


"Yah, dia minta kita harus membayar ganti rugi sebanyak kerugian yang diakibatkan oleh papamu."


"Berapa ma?" tanya Rara takut-takut. Takut mendengar nominal rupiah yang tak dijangkau oleh otaknya. Dyah menatap putrinya itu dengan wajah sedihnya.


"Dua milyar sayang."


Duarrr


Rara langsung membeku. "Itu banyak sekali ma. darimana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu?"


"Apa mama punya tabungan atau harta yang bisa kita jual secepatnya?" tanya Rara dengan wajah merinding. Otaknya yang kecil itu dengan cepat menghitung harga rumah mereka sekarang ini dan juga mobil papanya.

__ADS_1


"Mama tidak punya harta lain selain rumah ini sayang." jawab Dyah dengan bahu menurun semakin sedih.


"Mungkin rumah ini bisa kita jual seharga 2 M. Itupun tidak bisa langsung laku. Tapi sisanya kita bisa dapat dimana?" trus juga nanti kita tinggal di mana?" Dyah kembali menangis hingga membuat putrinya semakin kalut. Rara berusaha memutar otaknya tetapi tetap saja buntu. Apalagi setelah peristiwa ini pastinya papanya akan dipecat di perusahaan itu termasuk dirinya sendiri yang baru jadi karyawan sekitar tiga bulan ini. bingung dengan keadaan yang menimpa keluarganya ini.


🍁


Gala Putra Raditya yang memimpin rapat hari ini di depan para manager setiap divisi merasa heran dengan tingkah Rama yang aneh dan tak biasanya. Ia sampai memberi kode kepada Deka Roland sebagai GM untuk memberikan teguran halus pada Rama Putra Tama yang juga sedang mengikuti rapat.


"Ram, ssst!" Deka terus menegur Rama yang sibuk dengan gadget dan headphonenya. Sepertinya ia sedang berada di dunia tak kasat mata yaitu dunia maya.


"Ram!" seru Deka agak keras sembari menyentuh lengan manager muda itu yang kebetulan adalah keponakannya sendiri. Rama mendongak dan menatap semua orang yang sedang menatapnya juga.


"Ada apa?" tanyanya kepada semua orang. Sikap cerdas dan profesionalismenya seakan menguap entah kemana.


Gala tidak ingin mempermalukan putranya di depan umum untuk itu ia segera menutup rapat itu dan segera keluar dari ruangan. Peserta yang lain pun akhirnya mengikuti pak Presdir keluar dan hanya menyisakan Rama dan Deka berdua di sana.


"Kamu ada masalah Ram?" tanya Deka dengan suara pelan.


"Lagi jatuh cinta ya?" tanya Deka dengan senyum samar.


"Tidak Om, siapa bilang?" jawab Rama berusaha membuang pandangannya ke arah lain.


"Dulu waktu Om jatuh cinta sama Tante Risma, rasanya gimana ya..." Deka berpura-pura sedang berpikir kemudian tersenyum sendiri.


"Ada rasa senang dan kesal bersamaan. Dan kadang gak konsen mengerjakan sesuatu. Yang ada tuh cuma Tante Risma yang selalu di mata dan di hati." ujar Deka sambil mengenang kembali masa-masa ketika mulai jatuh cinta sama istrinya, ibu dari putra semata wayangnya, Adam Roland.


Rama hanya diam. Ia sekarang sedang kesal setengah mati pada Rara si gadis kriwil yang telah mencuri hati dan uangnya.


Sebelum mengikuti rapat penting ini ia menghubungi pihak bank atas koneksi khusus dari Papanya. Ia ingin memblokir rekening atas nama Az-Zahra Aisyah tetapi ternyata ia kalah cepat oleh gadis kriwil itu karena sudah berhasil mencairkan dana 2 M yang ia transfer semalam beberapa jam yang lalu.


"Ram!" sekali lagi Deka memanggil Rama karena kembali diam dan melamun.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Deka berusaha berbicara dari hati kehati siapa tahu ia bisa membantu permasalahan keponakannya ini.


"Tidak ada masalah om. Maaf sudah membuat rapat tadi terganggu." jawab Rama kemudian beranjak dari ruangan itu dan meninggalkan Deka dengan ekspresi tak terbaca.


"Gadis kriwil, Hem." gumam Deka sembari membereskan barang-barangnya dan keluar juga dari ruangan itu menuju ruangannya sendiri. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya tentang hubungan Rama dan gadis yang sedari tadi dipandang oleh Rama dari layar handphonenya.


Dengan langkah cepat ia malah menuju ruangan presiden direktur. Ia membatalkan rencananya memikirkan masalah ini sendiri.


"Pak Presdir." ujar Deka saat sampai di ruangan Gala Putra Raditya.


"Hem, ada apa? apa pembahasan kita tadi belum clear?" jawab Gala langsung pada intinya. Melihat wajah Deka seperti itu ia bisa menyimpulkan kalau rencana proyek di kantor cabang pasti bermasalah.


"Ini tentang Rama. Bukan masalah proyek itu." jawab Deka lalu duduk di depan sang presiden direktur.


"Karena dia melamun saat rapat?" tanya Gala lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop di depannya.


"Termasuk itu. Dia jatuh cinta." ujar Deka dengan suara antusias. Gala langsung menatapnya jengah.


"Baguslah, artinya dia normal. Ia mungkin mengikuti jejakku." jawab Gala santai.


"Jejak yang mana?"


"Jejak Bucin akut, hahahhaha." Deka memutar bola matanya malas melihat tingkah Presiden Direktur itu tertawa terbahak-bahak.


---Bersambung--


Dukungan kalian aku tunggu ya gaess...


Like , Komen , dan kirim hadiahnya yang banyak hahahhaha


Nikmati alurnya Dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2