Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 220 Mari Rileks Sejenak


__ADS_3

Vita Maharani merasa akhir-akhir ini rumah kediaman Raditya kehilangan sesuatu. Canda tawa antar putra-putri dan juga menantunya semakin jarang terjadi.


Semua seolah-olah sibuk menyibukkan diri agar tak pernah berada pada satu tempat yang sama.


Pagi itu ia dan Gala hanya sarapan berdua. Rama dan Rara istrinya sudah beberapa hari ini menginap di rumah sang besan sedangkan Sovia yang begitu manja karena sedang ngidam lebih memilih sarapan di kamarnya bersama suaminya.


Sarah sibuk dengan tugas-tugas di kampus yang katanya semakin banyak di tengah semester ini.


"Mas, aku merasa Rama sengaja menghindari aku deh." ujar Vita pagi itu. Ia mengisi piring sang suami dengan nasi putih dan juga lauk kesukaan suaminya telur balado.


"Jangan terlalu dipikirkan. Rama hanya butuh sesuatu yang baru setelah banyak hal yang ia hadapi."ujar Gala sembari menatap istrinya lembut. Ia tak mau Vita berpikir yang macam-macam tentang perubahan Rama.


Karena ia sendiri merasakan putranya itu memang sedikit berbeda setelah mengetahui banyak hal tentang rahasia besar dirinya.


"Mas, tapi aku sedih. Aku merasa Rama marah sama kita semua. Entahlah." Vita menyusut air matanya yang tiba-tiba mengalir.


"Kenapa ia harus marah sayang? kita selama ini menyayanginya lebih daripada anak kandung sendiri. Seharusnya ia bersyukur kita tidak membeda-bedakannya dengan Sovia maupun Sarah. Mereka seperti saudara kandung."


"Iyya mas, tapi sudah hampir seminggu mereka tidak pulang. Aku rindu mas."


"Akan kuberi tahu saat bertemu di Perusahaan sebentar. Atau bagaimana kalau kamu ikut saja sayang dan menemui putramu di sana. Lagipula sudah lama lho kamu tidak menemaniku bekerja."


"Ah, iya. Aku ikut saja mas. Di sini sepi." Gala tersenyum. Akhir-akhir ini ia akui jarang ada waktu bersama dengan sang istri karena kesibukan dengan banyaknya proyek di Perusahaan.


Dan juga Ia sungguh tak suka dengan keadaan seperti ini.


Inilah salah satu alasannya mengapa ia melarang semua orang membuka tabir masa lalu Rama. Ia tak ingin ada yang berubah. Karena baginya Rama adalah putra kandungnya sendiri, ia bisa menjadi sosok Tama bagi Rama dan Vita bisa menjadi sosok Gita bagi putranya itu.


Pagi itu setelah sarapan berdua, Vita Maharani sang nyonya besar di keluarga Raditya ikut ke Perusahaan setelah sekian lama nyaman dengan zona aman dan nyaman di Rumahnya.


TGR Global Company


"Mas, aku sapa Rama dulu ya, aku rindu sekali." Gala menyentuh pipi istrinya dan mengecupnya lembut,


"Pergilah. Dan jangan lama-lama. Aku juga ingin berdua denganmu." ujar Gala dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Iyya mas. Bentar aja kok." jawab Vita kemudian mengarahkan langkahnya ke ruangan tempat Rama bekerja. Banyak karyawan yang menyapa dan membungkuk menghormatinya di sepanjang perjalanannya ke ruangan putranya yang berbeda lantai dengan sang Presiden Direktur.


Tok


Tok


Tok


Vita mengetuk pintu kemudian masuk ke ruangan itu dengan senyum merekah senang. Sekretaris pribadi putranya itu mengatakan kalau Rama Putra Tama sang manager ada di dalam sana.


Senyum Vita tiba-tiba berubah menjadi wajah kecewa dan sedih. Putranya sedang sibuk dengan seorang perempuan seksih tanpa memperhatikan kedatangannya padahal ia sudah menyapa dengan hati gembira.


"Rama!" panggilnya dengan suara yang agak keras karena belum ada respon dari putranya yang masih sibuk berbincang dengan tamu yang cukup mengganggu penglihatannya itu. Rama pun menoleh dan melihat siapa yang datang menemuinya.


"Mama? silahkan duduk ma." ujarnya kemudian tangannya terangkat meminta sang perempuan tadi untuk keluar. Ia lalu melepaskan headset di telinganya.


"Siapa itu Ram?" tanya Vita dengan pandangan menyelidik, keinginannya untuk mengutarakan rasa rindu tiba-tiba menghilang karena pemandangan yang tadi.


"Klien Ma." jawab Rama singkat. Ia menatap mamanya dengan mata berbinar bahagia. Segera ia berdiri dari duduknya dan memeluk perempuan pengganti ibu kandungnya itu dengan penuh rasa rindu.


"Rama rindu sama Mama jangan bahas yang tadi ya?" ujar Rama sembari menatap mamanya.


"Mama gak mau kamu menghianati kepercayaan istrimu atau jangan-jangan ini yang membuat kamu lebih betah di Perusahaan daripada di rumah, hah?" Vita terus saja mengoceh dengan wajah kesal. Rama hanya tersenyum penuh arti.


"Ternyata Mama tetap sama, suka marah sama Rama meskipun sudah lama tidak bertemu." ujar Rama berpura-pura kecewa. Vita langsung menatap putranya itu intens.


"Semua mama di dunia ini akan selalu seperti itu Ram. Marah-marah berarti sayangnya terlalu banyak dan melimpah." jawab Vita dengan pandangan mata sendu.


"Ih mana ada yang seperti itu. Mama cuma buat alasan supaya selalu memarahi Rama." ujar Rama membantah.


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Mama pergi." ujar Vita dengan wajah kecewa dan meninggalkan ruang kerja Rama Putra Tama sang manager Divisi Riset dan Pengembangan.


Vita Maharani yang tadinya sangat bersemangat bertemu putranya malah kembali ke ruangan sang Presiden direktur dengan wajah kecewa dan sedih.


"Hei ada apa?" tanya Gala ketika melihat wajah istrinya ditekuk tak bersemangat.

__ADS_1


"Rama mas, ia bukan Rama yang dulu lagi, hiks." Gala segera memeluk istrinya dan membawanya duduk di sofa.


"Ceritakan sayang."


"Ih tidak perlu mas. Pokoknya ia mulai tidak setia sama istrinya. Pasti Rara akan sangat sedih melihatnya seperti itu." jelas Vita sembari menangis tersedu-sedu.


"Ya Allah, bagaimana mungkin?" ujar Gala tak percaya. "Apa karena sedih dengan keadaan hingga Rama jadi berbuat nekat." lanjut Gala dengan pandangan menerawang jauh. Ia meraup wajahnya kasar dan segera berdiri tapi ditahan oleh Vita sang istri.


"Mau kemana mas?"


"Mau nasehatin putramu jangan sampai ia merusak dirinya sendiri."


"Gak usah. Mas disini saja." ujar Vita dengan suara pelan. Ia tak mau pagi-pagi begini malah membuat keributan. Belum tentu Rama kalau dinasehati malah direspon dengan baik seperti ia tadi. Bisa-bisa mood suaminya jadi terganggu.


"Tapi kamu?"


"Sini deh duduk sama aku aja di sini dan kunci pintunya. Kasih tahu sekretarismu mas. Kita tidak boleh diganggu." ujar Vita tersenyum penuh makna. Gala segera melakukan perintah istrinya.


Ia tahu istrinya ini banyak menyimpan kesedihan akhir-akhir ini sejak banyaknya peristiwa besar terjadi di keluarganya.


Tetapi ia perempuan yang pintar menyamarkannya. Setelah ia sendiri menangis maka dengan cepat ia akan merubah suasana hatinya untuk menghibur orang lain.


"Sayang," Panggil Gala mesra. Tangannya mulai bergerak ke wajah Vita yang masih sangat cantik diusianya yang hampir 47 tahun.


Ia sekarang menatap mata istrinya dengan pandangan penuh hasrat. Ia ingin membawa istrinya bertamasya ke negeri antah berantah agar bisa melupakan sejenak hal-hal berat di dalam keluarganya.


Vita mengerti arti tatapan itu. Ia juga sangat menginginkannya. Sungguh ia ingin merilekskan tubuh dan hatinya sekarang juga.


Ia kemudian tersenyum dan membalas sentuhan manis sang suami dengan lantunan-lantunan indah dari bibirnya yang berhasil membakar semakin dahsyat hasrat suaminya itu.


Nada-nada indah yang semakin menguasai ruangan kedap suara itu. Perlahan ia menuntun sang suami agar berpindah posisi ke tempat yang lebih nyaman.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2