Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 183 Kupinang Kau Dengan Bismillah


__ADS_3

"Gimana perasaannya kak?" tanya Sovia saat melihat Rama tampil sangat tampan hari ini. Beberapa menit lagi pria keren ini akan menukar masa lajangnya dengan sebuah kalimat sakral bermakna luar biasa. Kalimat sederhana tetapi mampu mengguncang Arsy karena begitu indah dan sarat kebaikan di dalamnya.


"Rasanya luar biasa. Aku sampai keringatan begini." ujar Rama sembari sesekali melap bulir keringat yang muncul di dahinya.


"Ucapkan Bismillah kak, jangan tegang gitu dong." ujar Sovia memberi semangat. Rama menarik nafas panjang kemudian menatap dirinya di dalam kaca besar di dalam ruangan itu. Mencoba melafalkan lagi kalimat akad nan suci untuk seorang perempuan yang akan ia ambil menjadi istrinya. Istri penghibur matanya dan penenang hatinya Az-Zahra Aisyah.


"Sah!" para saksi pernikahan menyeru kata singkat itu pertanda Rama Putra Tama sudah resmi menjadi suami dari seorang perempuan bernama Az-Zahra Aisyah binti Ilhamsyah dengan mahar 2 milyar Rupiah serta seperangkat berkas klaim asuransi hati ciptaan Rama sendiri garansi seumur hidup.


Tarikan nafas lega begitu kental terasa di seluruh ruangan itu. Semua orang mengucapkan syukur atas ibadah sakral ini. Tak terkecuali Vita dan Gala dan mama dan papa pun saling berpelukan karena bahagia.


"Mas, aku bersyukur kita sudah sampai di titik ini untuk putra mas Tama dan kak Gita." ujar Vita sembari menyusut air matanya. Ia seakan merasakan papa dan mama kandung Rama ada di sini menyaksikan putra semata wayangnya menyempurnakan ibadahnya kepada Tuhan melalui pernikahan.


Gala meremas tangan istrinya lembut. "Mereka pasti bahagia di atas sana, sayang. Mereka melahirkan anak yang berbakti pada keluarga dan bisa membawa nama baik keluarga." Vita semakin tak bisa menahan kesedihan dan kebahagiaannya yang hadir secara bersamaan.


Setelah doa dan khutbah nikah yang dibacakan oleh penghulu. Rama baru mendapatkan izin bertemu dengan istrinya yang sengaja di tempatkan di sebuah tempat khusus di dalam masjid itu. Ya, mereka melakukan Akad nikah di sebuah masjid berkubah emas berjumlah 99. Masjid Asmaul Husnah.


Tak mau berkedip sebentar saja, Rama menatap istrinya yang begitu cantik dengan kebaya putih hasil rancangan seorang desainer ternama di negeri ini.


Perlahan ia dituntun untuk menghampiri istrinya untuk melakukan nikah batin. Agar hati dan batin mereka selalu terpaut dalam bingkai Rahmat dari sang penguasa hati pemilik kasih serta sayang.


Rama mencium kening istrinya lembut dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, mengantarkan begitu banyak cinta yang ia miliki untuk perempuan istimewa ini. Kemudian Rara mencium punggung tangan suaminya sembari berdoa semoga ia bisa menerima cinta dan kasih sayang dari suaminya dengan memberinya balasan rasa yang sama.


Setelah itu mereka melakukan ritual sungkeman kepada para orang tua yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan mereka berdua. Dimulai dari Nyonya Mawar Raditya dan juga Nyonya Wardah. Mereka berdua memohon doa restu agar mereka bisa mengarungi bahtera keluarga dengan baik penuh cinta dan kasih. Kemudian mereka sungkem kepada Gala Putra Raditya dan juga Vita Maharani dan terakhir kepada Dyah dan Ilhamsyah.

__ADS_1


Setelah itu mereka menuju Hotel milik TGR untuk melaksanakan resepsi pernikahan dengan mengundang semua keluarga, kolega dan karyawan TGR untuk menerima doa restu.


"Selamat ya Ram," ujar Pandu dan Hany yang datang bersamaan dan menyalami kedua mempelai.


"Makasih Om Tante." balas Rama dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


"Jaga Rara ya," ujar Pandu lagi.


"Siap Om. Pasti itu." jawab Rama masih dengan senyumnya. Kegembiraan tergambar jelas di wajahnya karena sudah berhasil menikahi gadis impiannya selama ini.


Berikutnya ada Reno dan istrinya, Ninick dan suaminya. Kapsari Prayanti dan suaminya, Robby Todler. Dan disusul oleh para generasi Raditya. semuanya memberi doa restu, mengharapkan pasangan pengantin baru itu memperoleh keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah.


Pesta yang begitu mewah dan meriah baru berakhir setelah waktu menunjukkan pukul 5 sore. Keramaian dan kemeriahan pesta menyisakan lelah yang teramat sangat. Rara sampai memijit kakinya karena sudah tak sanggup berdiri dan menyalami ribuan tamu.


"Tak apa masih kuat kok." jawab Rara tanpa mau melihat suaminya yang memandangnya dengan pandangan berbeda.


"Kalau bicara itu lihat lawan bicara dong." ujar Rama bermaksud menggoda. Tapi Rara tetap bertahan tak mau memandangnya. Ia hanya memandang lurus ke depan menyaksikan para tamu menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh jasa Catering milik Restoran D'Sov.


"Ra' lihat kesini." tegur Rama yang merasa dicuekin.


"Malu, jangan godain terus." jawab Rara dengan wajah memerah karena malu.


"Masih ada tamu juga." lanjutnya dengan membalikkan badannya membelakangi suaminya.

__ADS_1


"Awas kamu ya. Berani nyuekin aku." ancam Rama gemas. Ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali bersabar. Tak mungkin ia memaksa istrinya menghadapnya do depan umum seperti ini.


"Ram, ada tamu tuh." tegur Vita karena melihat kedua pengantin ini sibuk mengobrol.


"Iya Ma." jawab Rama kemudian mengajak Rara untuk berdiri menyambut tamu. Tampak sekali kalau Rara sudah sangat lelah. Ia sampai terkantuk-kantuk di kursi pelaminan.


"Ma, izin aku bawa Rara ke kamar ya. Udah capek banget itu." bisik Rama pada mamanya untuk meminta izin membawa istrinya untuk beristirahat. Setelah mendapatkan izin. Ia pun mengajak Rara untuk meninggalkan tempat resepsi dan menuju kamar presidential suite di lantai paling atas hotel itu. Kamar yang khusus disiapkan untuk pengantin baru itu selama resepsi.


Rama ingin sekali menggendong Rara yang sudah hampir jatuh itu tetapi sang istri menolak. Katanya ia malu dilihat orang. Sampai akhirnya ia menabrak dinding-dinding lorong menuju kamar mereka barulah Rama memaksa untuk menggendong tubuh Rara dengan memanggulnya bagai karung goni. Ia sudah tidak sabar melihat istrinya yang begitu keras kepala.


Sesampainya di kamar.


Rama langsung meletakkan tubuh Rara di atas hamparan bunga kelopak mawar merah yang menghiasi ranjang pengantin mereka. Karena lelah yang teramat sangat Rara langsung tertidur dengan pulas masih dengan kebaya pengantinnya. Rama maklum, tamu yang begitu banyak sudah pasti menyisakan kelelahan yang teramat sangat bagi semua orang, termasuk dirinya sendiri dan istrinya itu yang sedang menjadi raja dan ratu sehari pada acara bersejarah itu.


Perlahan ia membuka setelan kostum pengantinnya sendiri dan menggantinya dengan pakaian kasual santai setelah membersihkan diri tentunya. Ia menatap istrinya yang tertidur dengan nyenyaknya bersama kelopak-kelopak mawar itu tanpa sempat membersihkannya terlebih dahulu. Dalam hati Rama berharap tidak ada ulat atau binatang yang berbahaya pada kembang yang identik dengan durinya itu. Ia menghampiri ranjang tempat istrinya terlelap dan mulai membuka sepatu yang sedang dipakai istrinya tidur. Mengelus lembut kaki putih istrinya yang memerah karena terlalu lama berdiri.


"Istirahatlah." ujarnya kemudian menyimpan sepatu itu di sebuah rak dibawah nakas samping ranjang.


---Bersambung--


Mana nih ucapan doa restunya untuk kedua mempelai. Ingat like dan komentar ya gaess.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2