Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 108 Kasih Sayang Keluarga


__ADS_3

Oweee oweeee


Lengkingan suara tangisan Sovia di tengah malam sepi dimana papa dan mamanya sedang melakukan ritual saling memberi dan menerima untuk pertama kalinya setelah libur yang cukup panjang bagi keduanya sedikit terganggu.


"Mas," bisik Vita ditengah perjalanan indahnya menuju nirwana. Ia ingin suaminya itu berhenti sejenak. Tetapi sepertinya Gala tidak peduli. Ia terlalu lapar untuk berhenti di tengah jalan. Ia belum puas merengguk manisnya suguhan dari istrinya yang begitu lezat.


Oweeeee Oweeee


Tangisan Sovia masih terdengar walaupun sudah mulai melemah dan akhirnya diam. Kamar Sovia sengaja dirancang berada di ruangan sebelah kamar mereka berdua. Ada satu pintu penghubung agar mereka bisa langsung memantau kegiatan Sovia di kamarnya sendiri. Belum lagi kamera yang disiapkan di kamar itu yang terhubung dengan sebuah layar di depan tempat tidur utama.


Hingga membuat Gala merasa tidak perlu was-was dan menghentikan kegiatan menyenangkan yang sudah lama ia impikan ini. Seorang Baby sitter pun ia tugaskan menemani Sovia sejak masa nifas istrinya sudah selesai. Betul-betul persiapan yang cukup matang dari seorang Gala Putra Raditya yang punya tingkat keomesan akut.


"Gimana sayang, Sovia itu ngerti banget kalo papanya itu juga mau dimanja kayak gini," ujar Gala sembari tersenyum samar. Ia bangga akan persiapan matangnya malam ini.


"Aku udah lama cemburu lho." ujar Gala setelah menyelesaikan misinya malam ini. Ia tersenyum puas karena apa yang ia inginkan telah terlaksana dengan sangat baik. Bahkan lebih nikmat dari yang ia bayangkan.


"Astaga mas, kok bisa sih cemburu sama anak sendiri." ujar Vita dengan senyum malu. Ia tak menyangka suaminya sudah merencanakan dengan baik kegiatan menyenangkan ini. Sampai-sampai durasi waktu yang lama yang mereka gunakan tidak membuat Sovia menggangu mereka.


Cup


Gala mendaratkan sapuan lembut di permukaan bibir istrinya kemudian melanjutkan,


"Yang ini dan yang ini semuanya sudah diambil alih sama Sovia,' ujarnya sambil menunjuk benda-benda Favoritnya. Tak lupa tangannya berhenti di sana cukup lama untuk mengecek ukuran benda itu yang semakin hari semakin menggoda saja.


"Aku jadi merasa dinomor duakan," lanjutnya lagi dengan wajah dibuat kecewa. Vita langsung terkekeh tak percaya akan ucapan suami tampannya itu.


"Ya ampun mas, kamu lucu tau gak, masak sih ada papa cemburu sama anak sendiri."


Gala semakin memasang wajah pura-pura sedih. Vita tidak berhenti tertawa. Hingga tawa renyahnya di malam sepi itu berubah menjadi suara-suara lucnut dan aneh. Malam penuh gairah itu berlanjut sampai mereka berdua kelelahan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Tak terasa usia Rama Putra Tama sudah menginjak lima tahun. Masa-masa bahagia berkumpul dengan keluarga besarnya adalah merupakan hal yang sangat bagus untuk perkembangan mentalnya. Tak ada seorangpun dari anggota keluarga yang pernah menyinggung hubungan yang sebenarnya dengan orang tuanya sekarang. Vita Maharani adalah ibu kandungnya begitupun Gala Putra Raditya adalah papa gandungnya.


Cinta dan kasih sayang dari Vita Maharani dan Gala Putra Raditya tidak pernah surut meskipun mereka mempunyai anak selain dirinya yaitu si cantik Sovia.


"Mama, " ujar Rama yang baru saja tiba dari sekolah PAUDnya.

__ADS_1


"Wah anak gantengnya mama udah pulang, kok gak ngucapin salam sih," ujar Vita dengan senyum mengembang.


"Assalamualaikum mama sayang," ujar Rama mengikuti perintah mamanya.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." jawab Vita lengkap.


"Adek Sovi udah bangun belum ma?" tanya Rama sembari bergelayut manja di lengan kanan mama Vita.


"Udah dong, bahkan udah mandi dan sangat cantik." jawab Vita dengan kalimat panjang.


"Mama, Rama mau rayain ulang tahun sama adek Sovi," ujar Rama mengikuti langkah mamanya menuju kamarnya. Ia harus berganti baju dulu sebelum bermain bersama Sovia.


"Boleh kok, dedek Sovi pasti seneng banget tuh,"


"Dan sekarang kakak harus ganti baju dulu baru bisa main sama dedek."


"Siap ma,"


Setelah berganti pakaian. Rama menuju lantai 2 rumah mewah itu. Ia ingin menemui adek Sovia yang lucu dan imut itu. Kamar Sovia memang berada di lantai 2 bersebelahan dengan kamar mama dan papanya.


Ia pernah bertanya kepada eyang putrinya kenapa kamarnya ada dibawah dan sangat berjauhan dengan kamar kedua orangtuanya.


"Karena Rama sudah besar dan sudah bisa berjauhan sama mama papa." jawab Vita dengan senyum teduhnya.


"Oh gitu yah,ma?" ujar Rama seolah berpikir keras.


"Ayok, dedek cantik udah nungguin di dalam." ajak Vita sembari menuntun tangan kecil Rama ke dalam ruangan bermain di mana Sovia sedang menyusun beberapa puzzle untuk membentuk sebuah bangunan istana.


"Dek Sovi," panggil Rama dengan suara nyaring hingga membuat gadis kecil itu menoleh.


"Kakak, " Sovia membalas panggilan Rama sambil berdiri dan menghampiri Rama. Ia memang sangat mengidolakan kakaknya itu. Karena sifat Rama yang selalu sayang padanya dan tak pernah membuatnya menangis.


"Kakak bantuin ya, bikin istananya." Sovia mengangguk antusias. Sedari tadi ia bermain sendiri saja. Bik Susan hanya menemaninya hanya sebentar karena ada urusan penting yang ditugaskan oleh mama Vita.


"Okey sayang, mama tinggal ya. mama mau bikin puding untuk kalian berdua."


"Asyikkk," teriak Sovia gembira. Ia paling suka puding coklat buatan mamanya.

__ADS_1


"Kakak, jaga dedek ya sayang jangan kasih mainan yang berbahaya,"


"Iya mama sayang," jawab Rama dengan senyum khasnya. Senyum yang sangat mirip dengan mas Tama.


"Dan untuk adek, jangan suka rewel ya," Sovia mengangguk lucu. Vita Maharani berlalu meninggalkan putra dan putrinya bermain. Ia bahagia sekali karena mereka berdua saling menyayangi. Hubungan darah diantara mereka adalah salah satu perekat yang cukup kuat.


Biarlah waktu yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Rama yang akhir-akhir ini selalu menggangu pikiran Vita Maharani.


Ia selalu ingin jadi mama terbaik untuk Rama, meskipun putranya itu tidak lahir dari kandungannya sendiri.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai, readers tersayangnya othor, Tetap dukung karya receh ini ya gaess.


Like, favorit, komentar, dan hadiah yang banyak aku tunggu.


Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍


Sambil menunggu update berikutnya yuks kepoin karya teman othor, dijamin bikin panas dingin dan ketagihan heheheh


Judul : Petaka Karena Perjodohan


Oleh: Penulis Ratcheh


Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.


Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.


Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."


Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.


Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?


Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau


Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?

__ADS_1



__ADS_2