Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 121 Bekal Sebelum Bertemu Kolega


__ADS_3

"Assalamualaikum ma, pa," Rama mencium punggung tangan Gala dan Vita saat akan berangkat ke sekolah pagi itu.


"Hati-hati ya sayang." ujar Vita sambil melambaikan tangan ke arah Rama yang sudah menaiki mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi keluarga Raditya.


"Mama, Sovi juga mau sekolah sepelti kakak Yama." lapor Sovia sembari menarik ujung daster Vita Maharani, mamanya.


"Nanti sayang kalau Sovi udah besar dan sudah setinggi ini." jawab Vita sambil menaruh tangannya di pinggang sebagai batas tinggi Sovia jika mau masuk sekolah.


"Tapi Sovi udah becal ma lihat ini." Sovia berputar-putar dihadapan mama dan papanya menunjukkan kalau ia sudah besar. Gala langsung mengangkat tubuh putrinya itu ke udara dan menciumi nya bertubi-tubi dibagian pipinya sampai anak itu tertawa kegelian.


"Tunggu sampai dedek kecil di perut mama keluar. Pasti Sovi udah bisa masuk sekolah." ujar Gala kepada Sovia.


"Mama ayok culuh dedek cepat kelual ma, jangan lama-lama." Sovia berujar dengan menunjuk perut mamanya yang kian hari semakin membesar saja.


"Nanti kalau waktunya keluar pasti keluar deh si dedek." Vita mencium pipi Sovia dan Gala bergantian.


"Mas, belum berangkat?" tanya Vita kepada Gala yang masih sibuk menimang Sovia dalam gendongannya.


"Bentar sayang, tunggu Deka dulu." jawabnya sembari mengarahkan pandangannya ke dalam rumah menanti kedatangan Deka yang baru kali ini telat dan membuat sang General Manager menunggu. Sepuluh menit kemudian Deka baru muncul didampingi Risma yang siap ikut ke Perusahaan.


"Tumben telat, ngapain aja?"


"Itu, hem lagi ngecek kesiapan dedek sebelum ikut kerja sama miminya." jawab Deka dengan senyum diwajahnya.


"Wwww," ia langsung mendapat cubitan dipinggangnya oleh Risma.


"Apa? pantas lama...Hem." ujar Gala mencibir, ia juga tadi sebenarnya minta izin untuk ngecek dedeknya Sovia tapi keburu sang kakak mau dimandiin dan didandanin ala Barbie akhirnya tidak jadi deh. Ia merasa cemburu karena Deka mulai meniru istilahnya yang sudah ia daftar hak patennya.


"Mas, " Vita mulai menegur suaminya lewat pandangan matanya.


"Mama, Sovi juga mau liat dedek kayak om Deka." ujar Sovia dengan wajah yang sangat lucu.


"Gak bisa sayang, cuma papa yang bisa, sekarang ayo main sana sama bik Susan." Gala menurunkan tubuh Sovia ke lantai kemudian ia merapikan pakaiannya.

__ADS_1


"Kenapa pa?" tanya Sovia lagi.


"Sovia nanti liat dedek kalo sudah lahir ya sayang," Vita membelai rambut panjang Sovia dengan lembut. Ia mendelik ke arah 2 calon papa di depannya. yang suka membicarakan hal-hal berbau dewasa di depan anak dibawah umur.


"Sekarang dedek masih sangat kecil belum bisa diliatin sama kakak Sovi, ngerti sayang?" Vita membawa tangan kecil Sovia ke arah perutnya dan memberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh anak kecil seperti dirinya.


"Iya mama, dedek cepat besal ya cupaya kita bica main." bisik Sovia diperut mamanya dengan suara yang lucu, seolah-olah ia sedang bertemu langsung dengan seorang bayi kecil dan mungil.


"Nah, sekarang, Kakak Sovi bisa main sama bik Susan."


"Okey ma," ujar Sovia kemudian berlari ke arah baby sitternya yang sudah lama menunggunya.


"Okey sayang, kami berangkat ya." ujar Gala yang kemudian melangkah ke arah mobil yang siap membawa mereka bertiga ke Perusahaan. Risma masih tetap masuk bekerja seperti biasa sedangkan Vita memilih tinggal di rumah bersama Sovia.


Saat Vita melangkah masuk ke rumah, tiba-tiba ia dikagetkan oleh sebuah pelukan mesra dari belakang.


"Mas, " ujar Vita saat tahu yang memeluknya adalah suaminya sendiri dilihat dari aroma parfum yang sudah sangat ia kenali.


"Kenapa mas, kok balik lagi?" tanya Vita penasaran. Padahal baru saja ia melihat suaminya itu sudah berangkat.


"Bekal kayak gimana sih mas, yang ringan apa yang berat?"


"Emang boleh kalau aku minta yang berat?" tanya Gala lagi masih dengan suara beratnya.


"Hem, nanti mas terlambat lho."


"Gak papa yang penting kenyang sayang."


"Eh, mas, Deka sama Risma mana? nanti mereka nungguin lho."


"Mereka sudah berangkat duluan. Aku maunya kamu ikut aku ke Perusahaan atau kasih aku bekal dulu."


"Hemm," Vita pura-pura berpikir.

__ADS_1


"Kasih bekal aja deh, soalnya aku belum siap-siap nih trus aku ada janji sama Sovia untuk menemaninya main mas."


"Kita ke kamar dulu ya. Disini banyak kamera sayang." Vita mengangguk setuju. Ia tahu hari ini pasti akan ada meeting dengan banyak kolega perempuan, makanya Gala suaminya selalu minta bekal sampai kenyang supaya tak ada waktu untuk melirik perempuan seksih macam manapun di luar sana.


🍁🍁🍁🍁🍁


Gala Putra Raditya tiba di sebuah hotel berbintang lima yang sudah dibooking khusus untuk meeting dengan para investor dari banyak negara. Mereka tertarik menanamkan sahamnya di perusahaan TGR karena mereka melihat prospek yang sangat menguntungkan bagi mereka nantinya. Profil General Managernya memiliki daya jual yang tinggi. Seorang pria muda dan tampan, disiplin dan bertanggung jawab.


"Good morning, Sir!" sapanya kepada seorang pria asing berambut putih yang mempunyai wajah aristokrat.


"Good morning Mr.Raditya." jawab Mr. Smith dengan ramah. Gala mengedarkan pandangannya ke segala arah dan hampir semua peserta meeting kali ini adalah perempuan muda.


"Perkenalkan ini sekretaris saya, Deka Roland." Gala menunjuk Deka yang sedang berdiri disampingnya dengan wajah datar. Ia yang akan lebih banyak waktu untuk menghandle kerja sama kita kedepannya.


"Silahkan duduk semuanya." ujar Gala mempersilahkan semua orang untuk duduk, kemudian ia memulai melakukan demonstrasi tentang Perusahaan yang dipimpinnya, apa saja usaha yang sedang dijalankannya serta keuntungan bagi para investor ketika mereka menanamkan sahamnya di Perusahaan tersebut.


Seperti biasa ia selalu bisa membuat orang-orang terpukau akan segala hal yang disampaikannya. Ada yang mulai ingin segera menandatangani kontrak kerjasama itu karena sudah percaya akan kemampuan Gala Putra Raditya mengembangkan bisnis itu.Tetapi bagi investor yang kebanyakan gadis-gadis muda nan sukses diperusahaan mereka sendiri belum menginginkan kerjasama cepat terjadi karena mereka masih ingin berlama-lama menikmati pesona sang General Manager. Ada yang berpura-pura menanyakan keluarga dan statusnya.


"Saya mohon maaf, urusan keluarga saya bukanlah termasuk dalam demonstrasi saya hari ini."


"Ah, kamu sih. Ya jelas dia nolak lah." ujar Margaretha kepada teman yang berani meminta Gala menceritakan data diri dan keluarganya.


"Habisnya, aku gemes tau. Hot banget dan bikin hati ini klepek-klepek hanya melihat ia berdemo. Apalagi kalau ia lagi berdemo yang lain, Hhhh yakin deh aku akan menyerahkan semua sahamku padanya. Ujar gadis yang bernama Brenda itu. Gadis seksih dengan pakaian yang sangat kurang bahan dibagian bawahnya.


"Kamu tahu, saya akan mati penasaran jika tidak berhasil mendapatkan hatinya." ujar Brenda yang membuat semua kolega yang duduk disekitarnya merinding ngeri.


"Kita lihat saja nanti." lanjutnya sembari menggigit ujung pensilnya dengan senyum samar.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess. Like dan komentarmya dong agar othor rajin update.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2