Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 132 Gerakan Cepat Pandu Gemilang


__ADS_3

Pandu menghentikan mobilnya disebuah restoran setelah perjalanan mereka hampir sampai di rumah Hany. Ia memaksa gadis itu untuk turun dan makan malam bersama.


"Rumahku itu sebentar lagi sampai, nanti aku makan di rumah saja." tolak Hany dan bertahan untuk tidak turun dari mobil.


"Tapi aku maunya makan sama kamu." jawab Pandu sambil menarik tangannya.


"Kenapa sih, suka sekali maksa?" gerutu Hany kesal tetapi akhirnya ia mengikuti Pandu juga melangkah ke dalam. Pandu mencari tempat duduk yang dekat dengan taman agar mereka bisa lebih nyaman dan santai.


"Mau makan apa?" tanya Pandu menatap Hany yang masih kelihatan kesal sambil membuka daftar menu yang ada diatas meja itu. Seorang waiters sudah berdiri di depan mereka siap mencatat pesanan mereka berdua.


"Aku minum aja, juice mangga." jawab Hany setelah Pandu tak mengalihkan pandangannya dari wajahnya.


"Harus pesan makanan!" tegas Pandu. Ia tahu Hany sejak siang sudah berada di Rumah Sakit itu menunggui Vita yang sedang melahirkan. Pastinya gadis itu belum makan karbohidrat sedikitpun.


"Maksa amat sih. Aku tuh biasa gak makan seharian." jawab Hany lagi.


"Pesan seperti pesananku mba, dua porsi ya." Pandu mengalah ia akhirnya memesan makanan favoritnya sebanyak dua porsi. Kalau Hany mau, gadis itu bisa memakannya kalaupun menolak ia sendiri yang akan menghabiskan semuanya, beres kan.


"Maaf ya Han, aku lapar sekali belum makan dari tadi pagi." ujar Pandu sambil memakan dengan lahap makanan yang sudah disajikan waiters tadi.


Hany hanya tersenyum sembari mengaduk-aduk juice mangganya. Lama ia memperhatikan Pandu makan dengan lahap dan nikmat hingga tanpa sadar air liurnya ikut menetes melihat begitu nikmatnya pria itu memakan hidangan yang ada di depannya. Tangannya tanpa sadar menarik piring yang berisi makanan yang sama ketika Pandu juga ingin menambah menghabiskan piring berikutnya. Tangan mereka sampai bersentuhan di piring itu. Dalam hati Pandu tersenyum. Ia berhasil membuat Hany mau makan.


"Eh, maaf." ujar Hany malu. ia menarik kembali tangannya dan berpura-pura mengaduk kembali minumannya.


"Gak papa, ayo coba deh makan. Makanan di sini itu gak ada yang bisa ngalahin. Enak banget." ujar Pandu memprovokasi, ia tahu Hany pasti sangat malu sekarang.


"Biasanya seorang gadis tuh dapat kutukan kalau mampir di sini tapi tidak makan." ujar Pandu lagi sembari menahan senyumnya. Hany langsung menatapnya dalam. Bola mata indahnya membuat dada Pandu berdebar tak karuan.


"Hah, mitos! gak percaya." ujar Hany mengibaskan tangannya di udara sembari mencebikkan bibirnya yang membuat pria itu semakin gemas saja.


"Gak percaya? biasanya kutukannya sih. Gadis itu akan menikah dengan cowok yang paling ia benci saat ini." jawab Pandu santai. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap lekat gadis manis keras kepala dihadapannya.

__ADS_1


Hany langsung teringat Arman, dialah laki-laki yang paling ia benci saat ini. Seketika ia bergidik ngeri. Ia tak akan mau dinikahi oleh cowok brengsek itu.


Ih amit-amit deh


Tangannya langsung meraih piring yang berisi makanan yang cukup menggugah selera itu. Segera ia makan dengan lahap karena sebenarnya ia juga sangat lapar tetapi ia gengsi mengakuinya di depan Pandu.


Pria muda itu tersenyum penuh arti. Ia puas dengan caranya memaksa gadis itu makan.


"Hei, kenapa senyum-senyum?" tanya Hany curiga.


"Emang gak boleh aku senyum. Ini negara bebas non Hany cantik." ujar Pandu semakin melebarkan senyumnya.


"Jangan bilangin aku cantik! gak suka!" ujar Hany dengan nada kesal. Ia dulu menjadi korban pesona Arman karena sering dipuji dengan kata CANTIK. Dan sekarang ia tak mau lagi mendengar ada cowok yang memujinya dengan kata itu.


"Sensi amat sih. Oke deh aku panggil aja kamu Hany Pany, gimana?"


"Apalagi itu Pany?"


"Pandu dan Hany, hahaha." jawab Pandu sambil tertawa renyah.


"Kamu kalau udah kenyang tambah kenceng debatnya." ujar Pandu saat melihat piring Hany sudah kosong dan bersih. Wajah Hany memerah dibuatnya. Ia malu karena tadi menolak makan malah dengan lahap ia habiskan juga makanannya.


"Gak ikhlas nih." ujar Hany menutupi rasa malunya karena ketahuan kelaparan.


"Aku ikhlas Han, apa pun kuberikan asal kamu mau jadi kekasihku."


"Huh gombal! kita kan emang sudah jadi kekasih tapi boong hahaha." Hany berusaha menetralkan debaran jantungnya yang tiba-tiba menggila gara-gara gombalan Pandu.


"Hany!" tiba-tiba suara Arman mengudara di tengah-tengah mereka. Hany dan Pandu mencari sumber suara. Mata mereka berdua melotot melihat penampilan Arman yang sangat kacau. Wajahnya babak belur dan pakaiannya pun cukup menyedihkan.


Pandu segera berdiri. Ia tak mau kejadian mereka bertemu terakhir kali terulang kembali.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu, Man?" tanya Pandu berusaha menghalangi pandangan pria itu ke Hany.


"Saya tidak ada urusan denganmu. Saya hanya ingin bicara sama Hany." jawab Arman berusaha mendorong tubuh Pandu Agar ia bisa melihat Hany lebih dekat.


"Bicaranya di sini saja!" bentak Pandu kesal.


"Hei, kamu tidak usah ikut campur ya. Saya mendengar Hany bilang kamu hanya kekasih bohongannya jadi untuk apa kamu ikut campur urusan kami."


"Hany, aku ingin minta maaf, sayang." ujar Arman yang sudah meringsek ke hadapan Hany dengan sebelumnya mendorong tubuh Pandu ke samping.


"Maafkan aku ya? kita akan kembali seperti dulu." lanjut Arman lagi sambil meraih tangan gadis itu. Ia menggenggamnya erat dan berniat membawanya ke bibirnya tetapi Pandu segera melepaskan tangan mereka berdua. Pria itu langsung menarik tubuh Hany ke pelukannya dan memberikan kecupan singkat dibibir Hany yang terbuka karena kaget dengan apa yang terjadi, Semuanya begitu cepat. Bibirnya dikecup lagi oleh Pandu di depan Arman mantan kekasihnya.


"Hany kekasihku sekarang dan kamu tidak berhak mengganggu hubungan kami. Mengerti?" ujar Pandu tersenyum simpul masih dengan tangan memeluk erat pinggang Hany yang tiba-tiba menjadi lemas karena serangan tiba-tiba oleh Pandu.


"Kalian!" geram Arman emosi. Tangannya mengepal kuat. Ia saja selama pacaran dengan Hany tak pernah mendapatkan izin menyentuh bibir itu dan kini di depan matanya sendiri Hany tidak menolak Pandu sama sekali. Ia pun berlalu dari hadapan mereka dengan mengeluarkan sumpah serapah di mulutnya.


"Pandu, " ujar Hany pelan, ia merasa baru sadar akan apa yang terjadi. Ia segera melepaskan tubuhnya dari rengkuhan pria itu.


"Maaf, Han. Aku tidak bermaksud..." ujar Pandu tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia juga bingung dengan gerakan impulsifnya yang tiba-tiba mencium Hany di depan Arman.


"Antar aku pulang." ujar Hany singkat. Ia tak mau Pandu membahas yang tadi. Ia malu sekaligus berdebar tak karuan. Ia ingin segera pergi dari sana. Bersembunyi di bawah selimut. Mereka pun pulang tanpa ada perdebatan-perdebatan seperti biasa. Semuanya sibuk dengan pikiran dan debaran aneh di dalam hati mereka.


"Makasih, "ucap Hany ketika Pandu membukakan pintu mobil untuknya. Mereka berdua sudah sampai di depan rumah Hany.


"Maaf ya." ujar Pandu lagi merasa tidak enak sama gadis itu. Hany langsung berlari ke dalam rumahnya dan tak mau menoleh lagi. Ia ingin masuk ke kamarnya dan menenangkan debaran di dadanya.


Sedangkan Pandu, ia menyentuh bibirnya sambil tersenyum penuh arti. "manis sekali." bisiknya dalam hati.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2