Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 227 Berburu Donat Kampar


__ADS_3

"Mas, aku pengen makan donat Kampar." ujar Rara malam itu. Seharian mual dan pusing membuatnya tak ada nafsu makan. Dan sekarang di malam yang dingin setelah Makassar diguyur hujan lebat sore tadi, ia jadi ingin makan donat yang sempat viral di kota kelahiran sang mama mertua.


"Apa tokonya masih buka sayang? ini udah jam berapa lho." ujar Rama sembari memperhatikan jam tangannya.


"Pukul 10 malam. Disini tuh gak kayak di Ibu kota, yang tokonya banyak yang buka 24 jam nonstop." lanjut Rama sembari menatap istrinya lembut.


"Aku bikinin kamu sup jagung manis ya? Heru baru petik tadi di kebun." tawar Rama karena lagi tak ingin keluar rumah malam ini. Udara dingin di luar sana begitu terasa menusuk pori-pori kulitnya. Beberapa hari ini ia juga kurang enak badan.


"Kita coba aja mas, pengen coba yang rasa greentea itu lho. Pasti enak tuh di makan bersama susu rasa vanilla. Mas gak takut baby-nya ileran hehehe." jawab Rara dengan nada merajuk. Ia benar-benar merasa baikan sekarang dan juga sangat lapar.


"Iya deh, Pakai jaket mu." ujar Rama sembari menyentuh kepala istrinya. Ia akhirnya mengalah dan bersiap mengantar sang istri ke Pappa yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah mereka sekarang. Sebuah alamat yang ia temukan di Google sebagai tempat di mana toko Donat Kampar itu berada.


Cahaya kelap-kelip lampu jalanan di malam hari itu begitu indah memanjakan mata.


"Wah ternyata asyik ya mas, jalan malam-malam begini. Cantik dan indah." ujar Rara dengan pandangan terpesona.


Selama ia berada di kota ini. Ia hanya keluar bersama Rama saat pagi sampai sore hari.


Mereka berdua banyak menghabiskan waktu berdua di rumah aja setiap malam tiba. Kalaupun mereka membutuhkan sesuatu pada malam hari maka ada Heru yang selalu siap sedia membantu dan melayani mereka.


Tapi kali ini Rama tak ingin merepotkan Heru. Pria muda itu sudah terlalu sering ia mintai bantuan dan pertolongan. Ia ingin memanjakan sang istri yang sedang ngidam ini dengan tenaganya sendiri.


"Mas, gimana dengan gadis yang dibawa oleh Heru itu? jadi keterima?" tanya Rara masih dengan pandangan keluar jendela mobil.


"Iya, orangnya cerdas dan good looking. Kurasa ia lebih cocok jadi manager marketing daripada tour guide." jawab Rama tanpa mengalihkan pandangannya ke depan jalanan yang cukup ramai di malam hari itu.


"Good looking, cantik dong." ujar Rara tersenyum dikulum, sang suamj balas tersenyum. Ia tahu Rara pasti sengaja memancingnya.


Rama Putra Tama sudah menjadikan pantangan dalam dirinya untuk menyebut kata CANTIK pada perempuan lain selain istrinya agar Rara tidak cemburu.


Makanya kalau ia ingin mendeskripsikan cantik pada perempuan lain ia lebih memilih kata good looking.


"Kalau memang gadis itu cocok jadi manager ya pakai aja mas. Tapi merangkap jadi tour guide gitu." Rara menatap suaminya intens kemudian melanjutkan,


"Siapa sih namanya? jadi pengen ketemu deh, pengen ngobrol yang banyak."

__ADS_1


"Namanya Reisya Rachman, bergelar BE dari Moskow. Katanya ia juga mengajar seni di sekolah internasional di jalan Sudirman itu."


"Trus kalau udah ada pekerjaan bagus begitu ngapain ngelamar di tempat kita, mas?" tanya Rara ingin tahu. Rama tidak menjawab. Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di Toko Donat Kampar yang mereka tuju.


"Nah, sampai. Dan sepertinya masih terbuka Ra'" ujar Rama dengan senyum di wajahnya. Rama turun dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Aku pesan yang greentea aja sama susu ibu hamil rasa vanilla." waiters yang mencatat pesanannya langsung melongo bingung.


"Mohon maaf Bu. Di sini kami tidak menyediakan susu untuk ibu hamil. Yang ada kopi, teh, sarabba' dan juga minuman dingin lainnya." jelas sang waiters tersenyum maklum. Matanya dengan terpesona memandang wajah Rama yang sangat tampan malam itu.


"Waduh maaf maaf. Istri saya lupa kalau lagi di luar rumah." ujar Rama cepat dengan menahan malu atas tingkah Rara yang keceplosan. Ia menatap wajah sang istri dengan pandangan penuh cinta.


"Jangan menatapku seperti itu mas," ujar Rara menutup wajahnya dengan daftar menu pada toko yang juga merangkap sebagai Cafe itu. Sang waiters langsung merasa tidak nyaman dan juga tak enak hati karena sempat menginginkan konsumen tampan itu di dalam hatinya. Ia segera berlalu dari tempat itu dengan wajah malu.


"Kamu menggemaskan sayang, pengen gigit bersamaan donatnya, hemm" ujar Rama dengan tatapan matanya yang tiba-tiba berubah.


"Ih mas, suka gombal. Malu tauk."


"Gak apa-apa kita kan suami istri. Kita bikin yang lain cemburu."


"Ra' donatnya dibawa pulang aja ya. Kita makan di Rumah aja supaya lebih romantis." Rara mengangguk setuju, ia tahu kalau suaminya sedang menginginkannya sekarang.


"Dibungkus aja ya mbak." ujar Rama dengan tak sabar pada waiters yang sedang menata beberapa donat pesanan Rara di atas meja.


"Iya pak, ditunggu ya." ujar waiters itu dengan sabar.


"Mas, aku mau makan jagung pulut yang kita lewati tadi di jalanan." tiba-tiba Rara jadi sangat ingin makan yang lain selain donat. Itu karena ia sempat melihat jejeran kios jagung pulut rebus di pinggir jalan yang mereka lewati tadi sebelum sampai di toko Donat ini. Baunya yang harum membuatnya ngiler.


"Donatnya bagaimana?" tanya Rama bingung. Rara belum makan sang donat sekarang malah mau jagung pulut, padahal tadi di rumah ditawari tapi tidak mau. Rama menarik nafas panjang, berusaha bersabar dengan kemauan sang istri.


"Iya, sebentar kita singgah di situ. Tempat itu memang terkenal di Kota ini. Namanya jagung rebus Panaikang." ujar Rama menjelaskan dengan sabar. Ia bisa memaklumi keinginan yang berubah-ubah dari sang istri. Teman-temannya yang lebih duluan mempunyai bayi seringkali bercerita bagaimana kondisi istri-istri mereka saat sedang hamil dan mengidam. Terkadang meminta yang macam-macam dan tidak masuk akal.


Bagi Rama selama itu baik untuk kesehatan bayi dan ibunya ia akan memenuhi semua permintaan sang istri.


Rama menatap istrinya tak berkedip karena telah menghabiskan sepuluh buah jagung rebus yang ada di depannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah enak sekali mas. Manis kayak aku." ujar Rara sembari tersenyum.


"Mana ada yang seperti itu. Kemanisanmu itu tak ada duanya. Kalo cuma jagung sih jauhhhh." ujar Rama memuji sang istri setinggi langit.


"Uuuhhh, kamu kok tambah keren sih mas kalau gombal." Rama langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu bukan gombal Ra' tapi kenyataan. Kamu itu bukan cuma manis tapi sangat legit plus lezat."


"Hem, gombal lagi kan?"


"Waduhh, aku jujur sayang."


"Iya percaya, kamu jujur kalau ngomong dan biasanya minta imbalan."


"Kamu kok tahu sih?"


"Gak ada yang gratiskan, hmm." cibir Rara dengan wajah lucu.


"Ayok ah pulang atau aku tidak akan malu menciummu di tempat ini."


"Hi sereeem wkwkwk." ujar Rara pura-pura bergidik.


"Pokoknya malam ini aku juga mau donat." ujar Rama saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Ih, mas. Silahkan, aku sudah tidak minat, udah kenyang makan jagung pulut manis, pantas kota ini terkenal dengan julukan kota jagung."


"Eh, aku mau makan donat kamu, tidak ada tawar menawar." tegas Rama dengan wajah serius.


"Hem, donat Kampar atau donat itu???" tanya Rara dengan senyum samar. Ia sengaja menggoda suaminya yang sudah lama tidak menyentuhnya gara-gara kesehatannya yang menurun akibat mual dan pusing.


Rama tidak menjawab. Ia hanya melajukan mobilnya dengan cepat agar bisa segera sampai di rumah dan mengeksekusi donat sang istri.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2