Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 96 Ganjaran Yang Setimpal


__ADS_3

Setelah kondisi Gala dan Vita agak lebih baik untuk kembali ke resort, Deka baru menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tentang obat penggugur kandungan yang diminum oleh Gala yang ternyata salah sasaran karena Vita Maharanilah targetnya sehingga membuat ia tertidur dan sakit perut.


Dengan rahang mengetat marah, Gala memerintahkan orang-orang terbaik di kota itu agar membantu pihak kepolisian untuk menangkap Gisel bagaimanapun caranya. Ia tak akan pulang ke ibu kota sebelum melihat Gisel mendekam di penjara. Selain itu pula ia juga sudah menghubungi pemilik sah resort itu yakni istri sah dari Gilbert pacar gelap Gisel kalau ia akan membeli tempat itu atau tutup sama sekali.


Gala mengusap wajahnya kasar. Ia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya rencana Gisel itu berhasil.


"Oh Ya Allah," sekali lagi ia mensyukuri keberuntungannya kali ini. Ia menatap wajah damai Vita yang sudah terlelap malam itu. Ia menciumi keseluruhan wajah istrinya dengan gemas tidak peduli Vita akan terbangun. Hatinya merasa bahagia karena masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup oksigen bersama istri tercintanya.


Vita menggeliat pelan merasa terganggu akan kecupan-kecupan lembut di wajahnya yang terasa basah.


"Mas," lenguhnya pelan.


"Hem,"


"Ada apa?"


"Trima kasih sayang, kamu mau berjuang untuk aku dan anak kita," bisik Gala parau. Otak dan hatinya menolak membayangkan bagaimana istrinya yang sedang hamil berjuang di bawah laut untuk bertahan sampai pertolongan itu datang. Direngkuhnya tubuh istrinya karena merasa takut kehilangan.


"Mas," bisik Vita mendapati suaminya yang arogan itu begitu rapuh sekarang. Ia seperti anak kecil yang butuh pelukan dan hiburan.


"Lihat , aku baik-baik saja, dedek juga sehat," ujar Vita memberi penghiburan. Ia segera meraup bibir suaminya dalam dan menuntut menyalurkan ketenangan dan menghanyutkan agar suaminya bisa lebih rileks dan tenang tetapi ternyata bukan ketenangan yang didapatkan Gala melainkan ketegangan ribuan volt yang membakarnya dahsyat.


Gala menatap tajam pada othor yang sedang cengar cengir tak jelas. Ia tahu othor gesrek itu akan men skip adegan selanjutnya.

__ADS_1


"Kenapa pak GM?" tanya othor dengan wajah polos.


"Kamu tega ya, ini lagi seru nih jangan di skip dong,"


"Hhhh modus," jawab othor sambil mencibir.


"Tega 🙄😬,"


"Mas, jangan maksa ah, malu..." ujar Vita ikut nimbrung.


"Nah tuh kan..." othor tersenyum mengejek. Gala hanya bisa meraup wajahnya kasar. Ia sedang ingin mengecek kondisi dedek di dalam sana tapi ya ampun dua orang ini bekerjasama mengerjainya.


"Awas ya," ujar Gala kesal sembari mendelik ke arah othor yang sibuk makan kroket dengan cocolan sambel pedis level Platinum.


"Ayok, " ajak abangnya yang datang menjemput karena kebetulan punya urusan pekerjaan di sekitar resort itu. Mereka berencana pulang berdua esok harinya ke ibu kota dan tidak pulang bersama rombongan karyawan TGR global Company.


"Tunggu sebentar bang, aku ada barang yang ketinggalan," jawab Risma kemudian berlari kecil ke arah loby meminta kembali kunci kamar yang sudah ia serahkan, ia baru ingat ada beberapa paket oleh-oleh yang terlupa di dalam kamarnya. Deka yang melihat Risma kembali masuk ke hotel langsung menghampiri pria yang selama ini ia curigai sebagai pacarnya Risma.


"Maaf, bro. aturan acara ini semua karyawan datang bersama dan juga kembali bersama, utuh tanpa kurang suatu apapun." ujar Deka tanpa basa-basi. Ia sudah muak melihat pria ini selalu saja ada di samping Risma. Pria itu tersenyum dan menjawab.


"Kalau begitu saya minta izin atas nama Risma, kalau dia tidak ikut kembali hari ini, kami masih ada tempat yang ingin kami kunjungi, maaf."


"Memang anda siapanya Risma? sampai mau membawa gadis itu pergi lagi padahal seharusnya sudah harus di rumahnya."

__ADS_1


"Aku abangnya, dan dia adikku," jawab pria itu santai. Seketika Deka merasa hatinya senang luar biasa. Ia langsung memperkenalkan dirinya sebagai calon adik ipar yang membuat pria itu malah merasa lucu dengan lelucon Deka pasalnya Cindy tiba-tiba datang menghampiri mereka dan langsung bergelayut manja di tangannya. Risma yang baru tiba saja semakin memasang wajah kesal dan cemburu.


"Mari kami pulang duluan," ujar Ridwan abangnya Risma dan langsung meninggalkan Deka dan Cindy begitu saja.


"Tunggu aku di rumahmu Risma, aku akan langsung datang melamarmu." ujar Deka pelan yang ternyata bisa tertangkap di telinga Cindy. Gadis itu langsung menghentakkan kakinya kesal dan juga segera pergi dari tempat itu dengan wajah marah dan cemburu.


Beberapa jam berikutnya rombongan Bus yang berisi karyawan TGR bertolak ke Bandara. Tinggallah Gala, Deka, dan Vita yang masih bertahan di sana sebagai saksi dan korban yang akan memberatkan hukuman untuk Gisel Singkilaya. Gala menyeringai senang karena baru saja mendapat informasi bahwa Gisel Singkilaya sudah ditemukan di area bandara internasional dalam kondisi siap melarikan diri.


"Kita lihat hukuman apa yang pantas buatmu, ular betina," ujar Gala sembari tersenyum miring. Ia sudah tidak sabar memberikan pelajaran kepada gadis licik seperti Gisel. Bahkan penjara pun belum cukup untuknya.


Deka ikut tersenyum dengan ide Gala, karena Gisel ditemukan bukan oleh pihak kepolisian jadi ia masih bisa bermain-main dulu dengan gadis itu sebelum ia diamankan di kantor polisi. Istri sah Gilbert yang terkenal kejam dengan mulut pedasnya sengaja diundang oleh Gala untuk menjemput Gisel dengan jambakan dan kata-kata mutiara.


Ia sendiri sudah diwanti-wanti oleh Vita untuk tidak mengotori tangannya sendiri. Biarlah si pelakor itu dilabrak langsung oleh istri sah Gilbert terlebih dahulu sebelum polisi mengambil alih kasus ini.


Wajah dan penampilan Gisel hari itu sangat mengenaskan akibat serangan brutal dari istri sahnya Gilbert. Ia bahkan sudah tidak bisa mengenali dirinya sendiri ketika digelandang paksa oleh pihak berwajib atas percobaan pembunuhan kepada sepasang suami istri Gala Putra Raditya dan Vita Maharani.


"Jangan berani-berani mengusik keluargaku lagi!" ujar Gala dengan emosi tingkat dewa. Ia ingin sekali memberikan pelajaran pada gadis itu dengan tangannya sendiri tetapi Vita Maharani segera membujuknya agar tenang, dan mengingatkan kalau ia sebentar lagi akan menjadi papa. Akan tidak baik bagi perkembangan psikis si dedek dalam perutnya kalau papanya melakukan sebuah tindakan kekerasan pada orang lain di saat istri sedang mengandung.


Gala tersenyum lembut pada istrinya, ia bangga karena Vita selalu bisa meredakan amarahnya dan selalu mau memaafkan orang lain.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor jumpa lagi kite pagi ini. Tetap dukung karya receh ini dengan cari klik like, ketik komentar, dan kirim hadiah yang banyak. Vote juga boleh, hehehehe ngarep, 🙄😅

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2