
Hari ini Vita Maharani mengikuti pemotretan untuk beberapa produk kecantikan. Tadinya ia sangat enggan akan hal-hal yang berbau seperti ini tetapi rasanya bosan juga duduk diam di rumah tanpa mengerjakan apapun.
"Kak Vita, pemotretan untuk sesi berikutnya kita undur ya sayang" ujar salah seorang asisten fotografer yang bertubuh tambun tapi gemulai. Kalau tidak salah namanya Sisil.
"Kenapa?" Tanya Vita heran. Sesuai kontrak yang disepakatinya kemarin ia hanya melakukan pemotretan 1 hari saja dan itupun tidak sampai sore begini.
"Bos lagi ada keperluan penting dan sangat mendadak, jadi kak Vita disuruh nunggu dulu, gak keberatan kan sayang?" Sisil menatapnya menunggu persetujuannya. Akhirnya Vita mengangguk walaupun ia sebenarnya sangat keberatan. Terlalu lama meninggalkan Rama di rumah membuatnya sedikit cemas.
Berkali-kali ia mendesah panjang. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Ia menajamkan pendengarannya ketika mendengar Sisil berbicara lewat telepon dengan bosnya.
"Iya bos. Oh lagi di bandara?"
"Jadi?"
"Okey, siap bos!"
"Maaf ya Sisil aku gak bisa nunggu terlalu lama, ini sudah sangat sore. Sampaikan permintaan maaf ku untuk bosmu" Vita memutuskan untuk pulang. Hampir seharian ini ia berada di luar rumah dan itu untuk pertama kalinya ia keluar tanpa Rama putranya.
"Duh Eike jadi tidak hati nih kak Vita..."
"Iya tidak apa-apa kok. Lain kali atur waktu yang tepat ya, aku tidak biasa menghabiskan waktu dengan menunggu seperti ini" ujar Vita tegas. Ia segera pulang setelah menghubungi tranportasi onlen untuk mengantarnya pulang.
Matahari sudah nampak kekuningan di ufuk barat ketika Vita tiba di rumah. Ia langsung masuk ke rumah tanpa memperhatikan kalau ada seorang tamu yang sedang duduk bersama Ibu RT di ruang tamu minimalisnya.
"Vit, ada tamu dari jauh nih" tegur Bu RT kepadanya yang masuk tanpa salam saking lelahnya. Ia menghentikan langkahnya dan langsung menolehkan pandangannya ke sumber suara. Biji matanya seolah ingin melompat dari tempatnya saat melihat seorang tamu yang dimaksud Bu RT sedang tersenyum miring padanya.
"Pak GM?"
"Vit..." mereka berdua bersamaan saling menyapa kemudian saling tersenyum canggung. Ibu RT menyadari ada pandangan tak biasa pada dua muda mudi ini. Ia berpura-pura punya kesibukan lain sehingga ia bisa cepat pergi dari tempat itu agar kedua orang ini bisa melepas rindu dengan bebas.
"Vit..."
"Pak GM" sekali lagi mereka bersamaan berucap. kembali keduanya menampakkan senyum samar. Tetapi tiba-tiba Vita ingat kalau beberapa hari lalu pak GM ini sudah menikahi Miska Todler yang sudah ia nodai sebelumnya. Seketika sudut hatinya langsung terasa nyeri.
"Bapak ngapain ke sini?" tanya Vita ketus. Senyum samar tadi berubah menjadi senyum mencibir. Gala tidak ingin menjawab melainkan ia langsung bergerak menghampirinya. Ia terlalu rindu pada gadis keras kepala ini.
Gala meraih tubuh Vita yang sudah lama ia rindukan. Dipeluknya tubuh itu dengan erat sembari berbisik "Aku datang menjemputmu" Vita berusaha memberontak tapi tak bisa.
"Lepaskan pak, atau saya berteriak!" ujar Vita akhirnya ketika ia sudah tak punya daya untuk melepaskan diri.
"Okey, okey..." ujar Gala sembari melepaskan rengkuhannya. Ia mundur selangkah menjauhi tubuh gadis itu yang bagaikan magnet baginya.
"Aku yang mau bertanya kenapa kamu pergi begitu saja" ujar Gala dengan tatapan tajam. Ia melipat tangannya di dada. Ada rasa kecewa dihatinya akan penyambutan gadis itu.
"Aku memintamu menunggu Vit, tetapi kenapa kamu meninggalkanku" ujar Gala dengan ekspresi tak terbaca.
__ADS_1
"Ya, karena saya mau aja, emangnya kenapa?" tantang Vita masih dengan wajah kesal. bayangan jemari Miska dipasangi cincin oleh tangan Gala menari-nari di pelupuk matanya. Ia rasanya ingin meremas wajah pria tampan di depannya ini.
"Astaga" Gala meraup wajahnya kasar.
"Kamu seperti anak kecil Vit" ujar Gala sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Ia seperti sedang ditarik ulur perasaannya. Terkadang gadis ini menyambutnya tetapi dilain waktu gadis ini juga menolaknya mati-matian.
"Iyya saya memang masih kecil pak hingga tidak bisa mengerti perbuatan bejat bapak kepada Miska" ujar Vita dengan suara agak meninggi. Ia juga sudah ingin mengeluarkan rasa sedih dan kesalnya.
Gala tidak mengerti apa yang Vita bicarakan tetapi ia ingin memperjelas semuanya segera dan tidak di rumah ini yang kemungkinan akan terdengar sampai ke telinga tetangga. Gala langsung menarik tangan Vita menuju mobil yang terparkir sejak tadi. Ia menautkan jarinya pada jari gadis itu dengan keras agar Vita tidak mungkin kabur ataupun menolak.
"Bawa kami ke hotel!" perintah Gala pada seseorang di depan sana yang tak lain adalah fotografer yang bekerjasama dengan Vita tadi siang.
Eh
"Baik Bos" jawab sang fotografer mantap.
Tidak ada yang memulai pembicaraan selama di dalam mobil baik itu Gala maupun Vita.
"Kenapa kita ke sini Pak?" tanya Vita ketika mereka berdua sudah berada di dalam kamar hotel milik TGR berdua.
"Aku sengaja membawamu ke sini supaya Rama tidak melihat perdebatan papa dan mamanya"
"Papa?" Vita menautkan alisnya bingung. Gala tersenyum smirk " Iyya, aku papanya Rama menggantikan bang Tama" jawab Gala dengan penuh percaya diri.
"Atau ada yang ingin kamu ceritakan?" Gala menatapnya dengan pandangan penuh makna. Ia ingin membuat Vita santai dan mau berbagi masalah dengannya.
"Malam itu di kamar mas Tama aku baru tahu kalau dia mempunyai hubungan dengan keluarga Raditya" Akhirnya Vita memulai berbicara setelah lama terdiam.
"Bertahun-tahun kami tinggal bersama tetapi saya tidak pernah mendengar tentang keluarga atau latar belakangnya"
"Kami hidup bahagia meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana, mas Tama orang baik bahkan sangat baik" pandangan Vita menerawang jauh. Ia mengingat semua kebaikan mas Tama.
"Rama memang adalah putranya mas Tama" ujar Vita akhirnya setelah lama terdiam. "Ia ditinggalkan oleh kedua orangtuanya saat masih berusia 6 bulan, masih sangat muda" Ujar Vita dengan suara tercekat. Hatinya bagai diremas-remas karena rasa sedih itu datang lagi menyapanya. Air matanya luluh lagi dan lagi.
"Papa dan mamanya Rama pergi tanpa kami melihat jasadnya. Pihak berwajib saja yang melaporkan kalau mobil mereka jatuh ke sungai...Hiks" Vita sudah tidak menahan kesedihannya lagi. Ia menangis sesenggukan. Gala meraihnya dalam pelukan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Vita pada saat itu.
"Rama putraku Pak, hiks" Vita masih sesenggukan. Gala mengangguk dan mengelus punggung gadis itu yang bergetar karena menangis. Ia ingin memberikan kekuatan pada Vita.
"Tapi kenapa kamu tidak menceritakannya pada kami Hem?" bisik Gala lembut. Vita tidak menjawab ia masih sesenggukan.
"Kenapa kamu malah pergi?" Gala melepaskan pelukannya dan menatap mata Vita yang masih tergenang air mata.
"Kamu tidak mau membagi Rama pada keluarganya juga" Vita menggeleng. Air mata itu masih mengalir bahkan semakin deras. Ia takut akan ancaman Robby Todler padanya. Takut membayangkan bagaimana kedua orang tua Rama dihabisi oleh pria tua itu.
Gala menghapus air bening itu dengan ibu jarinya. Ia seperti mengetahui ketakutan gadis itu.
__ADS_1
"Pelaku pembunuhan bang Tama dan istrinya sudah ditangkap dan sudah mendekam di Penjara" Vita membuka mulutnya karena tidak percaya. Gala menaruh jarinya kembali di mulut yang terbuka itu.
"Jangan menggodaku, hmm" ujar Gala tersenyum aneh. Vita langsung menepis jari itu. Suasana hatinya tiba-tiba berubah.
"Dan Miska? kenapa bapak meninggalkannya di sana dan malah ke sini mencariku" ujar Vita kesal.
"Bapak kan sudah resmi jadi suaminya Miska kenapa malah kemari lagi mengganggu kehidupan kami" Gala tidak bisa lagi menahan tawanya. Rupanya kekasih hatinya ini sedang cemburu.
"Aku suka lihat kamu cemburu"
"Siapa yang cemburu" elak Vita dengan bibir manyun.
"Miska itu dinikahi oleh Reno Sebastian bukan aku" Vita kembali membuka mulutnya tidak percaya. Gala segera menyambarnya dengan bibirnya. Ia sudah lama menahan tetapi gadis ini betul-betul tidak mengerti perasaannya. Ia mencecap benda kenyal itu dengan penuh perasaan. menghisap dalam-dalam lalu melepaskannya.
"Paman Robby Todler yang..." Gala memotong perkataan Vita dengan membungkam kembali bibir itu agar berhenti bicara.
"Jangan menyebut nama bajingan itu pakai bibir ini, mengerti?" bisiknya lagi diantara cumbuannya yang kian memanas.
"Sebut namaku saja , Vit Hhh" Gala semakin tak terkendali. "Menikahlah denganku Vit" bisiknya lagi dengan suara parau. Lagi-lagi ia memohon dengan memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Vita seolah berada di dunia lain.
Drrrt
Drrrt
Vita segera melepaskan diri dan menerima panggilan itu.
"Vit, kamu dimana?"
"Rama rewel dan mencarimu" terdengar suara Bu RT dari ujung sana yang langsung membuatnya kembali ke dunia nyata.
"Iya, Bu...maaf, saya segera pulang" jawab Vita kemudian melangkah ke arah pintu. Meninggalkan Gala yang masih sangat menginginkannya. Dahaganya belum terpuaskan.
"Vit, plis..." ujar Gala memohon dengan meraih tangannya.
"Lamar saya dengan benar pak!" ujar Vita tanpa mau menoleh lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai, readers tersayangnya othor...
Yuks kita siap-siap mengantar babang Gala untuk melamar sang pujaan hati...
Jangan lupa like, Komen, hadiah, Votenya yang masih ada hehehe.
Happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1