Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 48 Jejak Harimau Lapar


__ADS_3

Seorang gadis menangis sesenggukan di ujung ranjang besar itu. Ia hanya membungkus tubuhnya dengan sehelai selimut tebal sampai di atas da*danya. Bahunya yang putih tetapi tak mulus lagi terekspos sempurna. Begitu banyak jejak merah keunguan dari harimau lapar sekaligus vampir penghisap darah di sana. Suaranya begitu memilukan. Hingga membuat Reno Sebastian menggeliat dan terbangun dari tidur lelapnya.


Perlahan ia bangun sembari mengucek matanya yang masih lengket.


Gadis itu menatapnya dengan mata penuh airmata. Wajahnya bagai kertas kusut tak berbentuk.


"Miska?" ujar Reno tercekat. Ia memindai keadaan tubuh Miska dan dirinya sendiri yang nyaris sama. Sama-sama tak memakai pakaian kecuali selembar selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


Miska semakin mengencangkan tangisnya sampai bahunya kian bergetar. Reno menyeret tubuhnya ke arah Miska tanpa melepaskan selimut dari tangannya.


Reno menjambak rambutnya kasar. memorinya serasa berputar mengingatkannya akan kegiatan panas yang ia lakukan semalam. Yang ia ingat ia harus menuntaskan gairah yang sangat menyiksanya. Ia tidak ingat wajah gadis yang membantunya melakukan pelepasan.


"Ren, kamu tega sekali" ratap Miska pelan. isakannya sudah mulai melemah. punggung tangganya ia gunakan untuk menghapus air matanya yang keluar tiada henti. Hatinya perih. Ia memang sangat mencintai Reno tetapi bukan seperti ini yang ia mau.


"Maafkan aku Mis, ini sungguh diluar kesadaranku" ujar Reno dengan penuh penyesalan. Ia ingin sekali menenangkan Miska yang menangis tiada henti tetapi ia tidak tahu caranya. Cuma kata maaf yang ia lantunkan berulang-ulang.


Ia kembali mengarahkan netranya ke arah Miska hingga berhenti di bagian atas tubuh Miska yang tampak aneh karena perbuatannya. Perlahan ia meraba kulit putih yang tak mulus itu.


"Apa yang aku lakukan sampai bisa seperti ini?" ia membayangkan bagaimana beringasnya ia menyiksa Miska tanpa perasaan hingga kulitnya saja bisa berubah warna seperti itu.


"Maaf, Maafkan aku Mis, entah siapa yang memberikan obat ini padaku hingga kamu jadi korban" Ujar Reno lagi tanpa melepaskan pandangannya ke arah Miska yang masih terisak.


"Sakit Ren" bisik Miska lirih. Reno tahu Miska pasti sakit hati padanya. Ia juga sangat membenci dirinya kini. Ia pria kotor yang merusak anak gadis orang lain. Bayangan Vita Maharani yang ingin ia persunting hilang sudah. Ia sungguh tak pantas lagi untuk gadis suci macam dia.


"Aku antar pulang ya" Reno membujuk sembari memberikan pakaian Miska yang sudah tak berbentuk. Miska hanya diam tak bergerak. Ia memandang Reno sembari meringis.


"Ada apa Mis?" Reno bingung akan ekspresi Miska.


"Sakit, aku tak bisa bergerak" jawab Miska lirih. ia mengarahkan bola matanya ke arah bawah. di bagian intimnya. Sedari tadi ia menangis bukan karena sakit hati saja tetapi sakit di sekujur tubuhnya terutama di bagian intinya.


"Aku harus bagaimana?"pikir Reno bingung. Ia kan bukan dokter. Reno semakin panik melihat tangan Miska gemetaran sampai selimut yang sedari tadi dipegangnya luruh ke bawah dan malah berhasil membuat hasrat Reno bangkit lagi.


"Ren, ini sakit dan pahaku gemetaran" Miska mendesis lirih.


Ya Ampun Reno? berapa kali kamu menyerangnya sampai seperti ini.


"Kamu berdarah Miska!" ujar Reno panik. Ia segera memakai pakaiannya dan mencoba menghubungi dokter tetapi sampai beberapa panggilan ternyata belum tersambung.wajah dan bibir Miska sudah memucat dan menit berikutnya badannya luruh ke kasur dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Reno semakin panik luar biasa Ia ingin menggendongnya keluar dari kamar terkutuk ini tetapi bagaimana caranya kalau pakaian Miska saja sudah hancur tak berbentuk.


"Mama..." Reno ingat Mamanya yang baik hati itu. Ia siap dipukuli mamanya daripada di gebukin orang tua Miska. Dengan cepat ia menghubungi Ninick


"Ma..." ujarnya setelah panggilan tersambung.


"Kenapa Ren?" jawab Mamanya heran dengan suara Reno putranya yang bergetar.


"Cepat datang ke hotel X ma, Ia mengalami pendarahan" suara Reno sudah menghilang karena panik. Diseberang sana Ninick bertambah bingung, siapa yang pendarahan? pikirnya dalam hati. Tetapi ia segera meraih tas tangannya kemudian mengambil mobil dan menuju hotel yang dimaksud Reno.


Memasuki kamar 515 dengan perasaan tak menentu. Ninick terlonjak kaget melihat siapa yang sedang berbaring di atas ranjang dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


"Ren, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi, hah?" tanya Ninick dengan suara menggelar marah.


"Nanti saja ma, tolong Miska dulu" jawab Reno sembari menyeret mamanya mendekati ranjang. Ia tahu mamanya pernah kuliah kedokteran walaupun tak lulus karena keburu menikah dengan papanya. Ninick meraih tangan kanan Miska dan meraba nadinya.


"Ren, apa gadis ini yang menggodamu?" Ninick sudah mulai mengerti apa yang terjadi melihat kondisi tubuh Miska yang penuh dengan hasil cumbuan putranya.


"Tidak ma. Miska tidak bersalah. Reno yang tak sengaja minum obat perangsang dan memperkosa Miska ma" jawab Reno dengan suara bergetar sembari menutup wajahnya.


Plak


"Ambilkan air hangat!" Reno segera berdiri menuju toilet untuk mengambil air hangat dari kran. Ia menggunakan wadah teko yang biasa tersedia di atas nakas. Reno memperhatikan mamanya merawat Miska sampai ia sadar kembali.


"Cari pakaian ganti untuknya!" perintah Ninick kepada Reno.


"Ukurannya, ma?" tanya Reno polos.


"Astaga Reno dasar bodoh. Kamu bahkan sudah melihat dan meraba semuanya masak kamu tidak bisa tahu ukurannya!" teriak Ninick jengkel setengah mati.


"Iya ma, Reno akan membayangkannya saja" jawab Reno sambil berlalu alhasil sebuah bantal mendarat di kepalanya telak. Sebuah senyum samar terbit dari bibir Miska yang masih pucat.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kapsari Prayanti hanya bisa mondar mandir tak jelas di dalam kamar putrinya. Sejak semalam hatinya gelisah. Biasanya Miska menghubunginya walaupun lewat WhatsApp atau SMS. Tetapi sampai tengah malam pesan yang ditunggu tidak muncul. Ia mencari tahu lewat suaminya tetapi jawabnya hanya menyuruhnya tenang karena Miska akan baik-baik saja.


Kembali ia melihat jam dinding karakter kesukaan putrinya. Ia menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Ini sudah jam sepuluh pagi, tapi kenapa Miska belum pulang?" tanyanya pada diri sendiri.


"Handphonenya pun tidak aktif sejak semalam" ujarnya lagi membatin setelah menghubungi terus nomor putrinya.


"Semoga kamu baik-baik saja nak"


🍁🍁🍁🍁🍁


Bugh


Bugh


Plak


Robby Todler memberi bogeman mentah ketiga orang berbadan tambun di depannya.


"Bre*ngsek kalian!"


"Tidak becus!"ia mengeluarkan semua sumpah serapah dan semua tenaganya untuk menghajar orang-orangnya yang hanya bisa berdiri mematung sembari tertunduk.


"Keluar kalian!" teriaknya marah mengusir orang-orang itu dengan nafas memburu karena emosi.


"Aku harus mencari cara lain" Desis Robby Todler sembari menghisap cerutunya dalam-dalam.


"Gadis ini..."Ia menatap sebuah gambar yang dikirimkan anak buahnya tadi. "Pasti dia yang membuat Gala mati-matian menolak Miska"geramnya kesal.


"Siapa kamu gadis kecil? Aku sepertinya pernah melihatmu di suatu tempat" ujarnya lagi memutar ingatannya.


"Ah, Tama. Kamu mempunyai hubungan khusus dengan Tama" tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak karena senang. Ia seperti mendapat ide cemerlang untuk rencana barunya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sampe sini dulu ya...entar disambung lagi...jangan lupa like, komen, and kasih hadiah dong...


Nikmati alurnya...


Happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2