Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 206 Merindu Dan Mendamba


__ADS_3

Pagi itu Sarah dijemput oleh Adam untuk ke kampus. Sejak insiden penculikan itu, gadis itu tidak lagi diizinkan oleh kedua orangtuanya untuk keluar sendiri. Adam yang dengan senang hati menawarkan diri untuk selalu berada di samping Sarah kemana pun ia mau.


"Dam, kamu gak bosan nemenin aku terus kayak gini?' tanya Sarah pagi itu. Ia sudah tampil cantik dengan gaya rambut model baru. Ia sekarang memotong di rambutnya pendek. Ia masih trauma ketika rambutnya dijambak-jambak oleh si perempuan gila Sashi Aurora.


"Gak bosanlah. Kamu kan cantik." ujar Adam kemudian membukakan pintu mobil untuk Sarah masuk.


"Jadi kalau aku gak cantik. Kamu ninggalin aku ya." Sarah berujar sembari duduk dan memasang sabuk pengamannya sendiri.


"Gak juga." jawab Adam singkat.


"Kamu kan sepupu aku yang cantik dan juga kadang manja dan menyebalkan. Jadi aku tak punya alasan lain lagi untuk meninggalkanmu." lanjut Adam dengan senyum cerah di wajahnya.


"Oh lengkap ya alasannya." ujar Sarah sembari menatap jalanan di depannya yang lumayan macet pagi itu.


"Gak ada alasan lain gitu?" lanjutnya lagi menanti sebuah jawaban yang ia harapkan.


"Hem, apa ya. Kayaknya gak ada lagi tuh." jawab Adam sembari mencari siaran cuap-cuap penyiar favoritnya itu di radio mobil. Ia berharap dengan mendengarkan suara merdu sang penyiar bisa mengisi kebosanan selama menunggu kemacetan terurai.


Sarah mendengus kesal. Jawaban yang ia harapkan tidak juga bisa ia dengar dari mulut Adam. Akhirnya Ia cepat meraih handphonenya dan mulai membuka aplikasi chat. Daripada bosan sendiri ia lebih baik membalas percakapan di grup kelasnya.


Fira ๐Ÿง•Ada cowok tampan lho di kelas kita.๐Ÿคญ


Gina๐Ÿ‘ฉโ€๐ŸฆณOh iya aku udah lihat.


Fira. ๐Ÿง• Tampan kan? kayak Caesar Hito.


Anda ๐Ÿ‘ธWah aku ketinggalan nih. Pindahan dari kelas mana sih?


Fira. ๐Ÿง•Wah Sarah udah aktif nih.


*Sarah welcome sayang. Kita udah rindu banget nih.๐Ÿ˜


Gina ๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿฆณ Rindu sama putri cantik kita nih. Sarah Miss you.๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Anda ๐Ÿ‘ธAku juga rindu berat๐Ÿ˜˜pengen hanging out lagi.


Nora ๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿ’ผ Adam ikut gak?


Anda ๐Ÿ‘ธ Ikut lah, dia kan bodyguard aku๐Ÿ˜… hahahha


Fira ๐Ÿง• Enak ya punya bodyguard tampan๐Ÿ™„


Gina ๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿฆณ TaPi lebih tampan Hito deh, suer๐Ÿคญ


Anda ๐Ÿ‘ธJadi penasaran๐Ÿค”


Gina ๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿฆณ Ayo cepat ke kampus . Hari ini kan ia masuk ke kelas kita. Ia senior yang ikut ngulang matkul katanya.


Anda๐Ÿ‘ธ Oke, siap udah otw nih. Semoga ia tidak jatuh cinta sama aku ya.๐Ÿคญ๐Ÿ˜…


Gina ๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿฆณ Gak rela, kamu sama Adam aja. Atau kita gantian.๐Ÿ˜† aku sama Adam kamu sama Hito kw.


Anda๐Ÿ‘ธ Ih enak aja. Gak mau aku*.๐Ÿ˜…๐Ÿ˜ณ๐Ÿ™„


"Lagi chating sama siapa sih, seru amat." gerutu Adam dengan wajah kesal. Sarah tidak menjawab ia terlalu sibuk membahas cowok tampan Hito yang lagi viral di kelasnya. Ia semakin ingin cepat sampai di kampus. Ia ingin membuktikan apa betul si Hito KW itu lebih tampan daripada Adam.


"Hehehe." Sarah menutup mulutnya karena merasa lucu sendiri dengan hayalannya.


Adam mendengus kesal karena diabaikan oleh Sarah.


๐Ÿ


"Ma, kapan nih akadnya dilaksanakan?" tanya Andika saat Miska duduk di meja makan pagi itu. Ia sudah berbulan-bulan bertunangan dengan Sovia tapi belum juga ada tindak lanjut atas pertunangannya ini. Miska tersenyum maklum.


"Sabar sayang, keluarga Sovia kan baru saja kena musibah. Gak enak kan maksa-maksa kayak kita gak ada rasa empati gitu deh." jawab Miska sembari menyerahkan piring padanya. Andika pun mengambil piring itu kemudian mengisinya dengan nasi goreng dan omelette buatan mamanya.


"Iya deh Ma. aku sabar." jawab Andika kemudian menyuap nasi goreng itu kedalam mulutnya. Entah kenapa ia jadi sangat rindu pada Sovia pagi itu. Hampir sebulan ini ia sibuk bekerja begitupun dengan Sovia tunangannya.

__ADS_1


Berbagai macam masalah yang menimpa keluarga Raditya menyebabkan gadis itu juga jarang membalas pesannya. Akhirnya hubungan mereka berdua jalan di tempat. Tak ada yang saling menanyakan atau memberi informasi tentang aktivitas mereka sehari-hari.


Andika menarik nafas panjang. Ia juga ingin romantis pada Sovia tapi kadang ia sendiri bingung dengan dirinya sendiri yang tidak bisa seperti pasangan lainnya yang bisa memamerkan keromantisan di depan umum.


Hari ini ia putuskan mengunjungi gadis itu di Resto D'SOV. Ia ingin mengajak tunangannya itu jalan kemana saja asalkan hanya berdua. Quality time.


๐Ÿ


Rama menatap wajah istrinya yang sedang tertidur lelap malam itu. Anak-anak rambut kriwilnya menutupi wajahnya yang cantik. Perlahan ia menyingkirkan helaian rambut itu agar ia bisa menatap wajah istrinya dengan bebas.


"Ra' maafkan keluarga kami sayang," bisik Rama di kuping istrinya dengan suara pelan.


"Ternyata musuh Raditya ikut juga menyeretmu dalam masalah besar." lanjutnya kemudian mengecup lembut kuping istrinya dengan sepenuh hati. Entah kenapa ia paling suka mengecup kuping istrinya itu.


"Ra' aku rindu padamu." bisik Rama lagi karena istrinya tidak bereaksi. Ia sepertinya tidak terganggu dengan kecupan -kecupan yang diberikan suaminya diseluruh permukaan wajahnya. Dengan tangan yang cukup terampil, ia mulai membuka kancing- kancing piyama tidur istrinya. Ia begitu rindu membenamkan wajahnya di daerah yang cukup lembut dan kencang itu.


Berbulan-bulan ini ia menahan diri untuk tidak menyentuh Rara karena kondisi emosi dan kesehatan istrinya yang kurang mendukung ia menyalurkan hasratnya. Matanya berbinar cerah saat melihat kerja kedua tangannya sudah membuahkan hasil.


Pemandangan indah terpampang jelas di hadapannya. Sebuah maha karya ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Ia menelan salivanya kasar. Sebuah getaran dahsyat tak kasat mata sudah mengalir dan menjalar ke seluruh urat syarafnya.


"Ra' bangun sayang." bisik Rama lembut diantara sentuhan bibirnya pada benda kenyal bak roti putih nan empuk itu. Ia tak mau merasakan gairah ini sendirian. Ia ingin istrinya membalas.


"Aaaakh...Humm." lenguh Rara dengan suara pelan. Ia sepertinya sedang menikmati apa yang dilakukan suaminya itu padanya. Ia berada diantara kondisi sadar dan tidak.


"Hhhmmpt." sekali lagi suara itu keluar dari mulutnya saat Rama sudah mulai menyerang daerah-daerah sensitifnya dengan mengunakan bibir dan jari-jarinya.


"Mas," Rara membuka matanya kemudian menatap sayu sesosok tubuh besar yang sedang berada di atasnya. Rama tersenyum lembut dengan pandangan berkabut gairah.


"Bolehkan sayang?" tanyanya dengan suara parau. Istrinya itu hanya membalas dengan mata terpejam menikmati sensasi sentuhan lembut dari bibir dan jari-jari suaminya. Ia tak perlu menjawab Ya. Semua sudah ia serahkan pada Rama Putra Tama sang suami.


Biarlah malam sepi itu menjadi saksi betapa ia juga sangat merindukan dan mendamba suaminya ini setelah masalah-masalah dalam keluarga mereka sudah teratasi.


---Bersambung--

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2