Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 182 Masa Pingitan Sebelum Menikah


__ADS_3

"Kak Ram, jangan pegang-pegang dulu, belum halal!" tegur Sovia yang tiba-tiba muncul di belakang Rama dan Rara saat mereka sudah tiba di toko perhiasan langganan Raditya. Seketika Rara yang sedang dipegang tangannya oleh Rama merasa malu dan melepaskan genggaman tangan calon suaminya itu.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Rama dengan wajah tak bersahabat pada adik perempuannya itu.


"Aku di suruh mama ngikutin kalian," jawab Sovia dengan senyumnya.


"Eh, kenapa? emangnya mama takut kami nyasar?" jawab Rama sedikit tak enak hati karena mamanya terlalu protektif pada dirinya


"Mama khawatir kak Rama tidak membawa sahabat aku cari cincin tapi malah ke tempat lain. xixixi." jawab Sovia dengan tawanya yang menyebalkan. Di belakangnya ada Andika juga ternyata sedang tersenyum samar, merasa senang bisa mengganggu waktu berdua calon pengantin itu.


"Sovi!" teriak Rara dan langsung mencubit pinggang gadis itu.


"Awww." teriak Sovia pura-pura kesakitan.


"Apa aku bilang kak, calon istri kakak ini bar-bar dan suka menjepit kayak kepiting." gerutu Sovia yang membuatnya dapat cubitan lagi dari Rara.


"Bagus dong kalau jago menjepit." jawab Rama dengan senyum anehnya. Kedua makhluk cantik dan polos itu langsung saling berpandangan kemudian mengangkat bahu mereka tidak mengerti.


"Udah, gak usah dipikirin. Otak kalian gak akan sampai." ujar Rama sembari mengibaskan tangannya dan kembali menarik tangan Rara untuk segera memilih cincin yang cocok.


"Dika, aku juga mau cincin." bisik Sovia pada Andika yang sedari tadi hanya bertugas memantau saja bak bodyguard di belakang pasangan itu.


"Pilih aja, kan kita lagi ada di sini " jawab Andika santai.


"Pilihkan yang couple kayak kak Rama ya, plis," ujar Sovia dengan nada manja.


"Ehem." Rama berdehem karena gerah dengan suara adiknya yang begitu manja pada Andika. Sedangkan Rara sendiri lempeng aja tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya. Rasanya ia ingin memberikan sentilan di dahi Sovia itu.

__ADS_1


"Ih kakak, gangguin aja," ujar Sovia mencibir kemudian menarik tangan Andika ke tempat lain. Agar ia bebas bermanja-manja sama Andika dan tidak diganggu oleh kakaknya.


Setelah memilih cincin yang cocok untuk dua pasangan itu, mereka pun pulang ke rumah dan mulai mempersiapkan acara resepsi yang sebentar lagi akan dilaksanakan.


🍁


Dyah memasuki kamar Rara sang calon pengantin dengan hati-hati. Ia mendorong pintu kamar yang tidak terkunci itu setelah mengetuknya terlebih dahulu. Ia mendapati putrinya itu sedang sibuk dengan handphonenya dan sesekali tertawa lucu.


"Calon pengantin tak bisa saling menghubungi dulu ya, biar kalian kalo pas hari H rasanya berbeda dan ada Krenyes-krenyesnya kayak gimana gitu." ujar Dyah pada putrinya itu. Ia curiga Rara dan Rama sering saling menghubungi lewat panggilan video.


"Ya enggak lah Ma, curigaan amat sih." jawab Rara sambil tersenyum lucu. Ia sekarang sedang bermain game lewat handphonenya itu. Mana mau ia menerima panggilan Video dari Rama, yang ada ia selalu menolak panggilan itu. Ia ingin calon suaminya itu penasaran tingkat dewa padanya.


Dyah melangkah mendekat ke arah ranjang tempat Rara sedang di lulur oleh seorang karyawan salon. Ia sengaja mendatangkan karyawan dari salon langganannya karena tidak menginginkan lagi putrinya keluar rumah. Maklum akhir-akhir ini ia sering mendapat telepon dari orang asing yang mengancam akan membatalkan pernikahan putrinya itu. Ia takut putrinya diculik jika keluar rumah.


"Ma, ini kan masih 7 hari acaranya, kenapa aku cepat sekali dilarang keluar rumah sih?" gerutu Rara kemudian menyimpan handphonenya di nakas. Ia segera memperbaiki letak handuknya karena baru saja selesai dilulur.


"Ih mama, hari gini masih percaya yang begituan." ujar Rara berusaha mempengaruhi mamanya, pasalnya ia ingin sekali keluar rumah untuk healing-healing. Rasa bosan sudah mulai ia rasakan karena hampir sebulan ia tidak keluar rumah.


"Nanti setelah kamu menikah, kamu bisa kemanapun sama suamimu. Kan kamu sudah ada yang jaga." jawab Dyah berusaha membuat putrinya mengerti akan apa yang ia lakukan ini.


"Tapi kan beda Ma."


"Hush sudah, kamu kalau dibilangin harus dengar ya, pamali kalau calon pengantin masih sibuk di luar sana." putus Diyah kemudian keluar dari kamar putrinya.


"Udah pernah nikah mba?" tanya Rara pada mba Putri sang karyawan salon yang sudah melakukan treatment padanya.


"Udah mba Rara." jawab Putri sembari membereskan perlengkapannya. Tugasnya hari ini sudah selesai.

__ADS_1


"Dulu waktu sebelum menikah mba Putri dipingit kayak gini juga gak?" tanya Rara lagi penasaran.


"Sebenarnya sih diminta seperti itu oleh para orang tua. Tapi waktu itu saya kan kerja mba Rara, saya yang membiayai adik-adik saya di rumah. Kalau saya dipingit terlalu lama, bisa-bisa keluargaku gak ada yang makan, hehehe." jawab Putri sembari tertawa renyah. Ia sangat paham perasaan yang Rara alami sekarang.


"Bosan mba." ujar Rara sembari mengerucutkan bibirnya kesal.


"Mba Rara harus bersyukur punya orang tua lengkap yang sudah menyiapkan semuanya untuk mba Rara. Yang tidak usah mikir biaya-biaya pasca pernikahan. Lah saya mba. Sampai duduk pengantin pun masih mikirin itu semua."


"Mba Rara cuma di suruh menunggu sebentar saja. Apalagi calon suami, adalah cowok most wanted banget, paling diminati semua perempuan Single di negeri ini." jelas Putri memberi pendapatnya. Rara tersenyum membayangkan kata-kata most wanted itu.


"Ah masak sih mba Putri kalau calon suamiku itu most wanted banget, aku kok belum sadar ya." Rara mulai membayangkan wajah Rama yang memang tampan dan keren.


"Astaga mba Rara. Rama Putra Tama, siapa yang tidak mengenalnya putra dari Gala Putra Raditya yang tak kalah kerennya meskipun sudah sangat matang hehehe."


"Hush mba Putri jangan bayangin calon mertua ku ya, apalagi calon suamiku. Gak boleh mba. Itu limited edition." Rara menggoyang-goyang jadi telunjuknya di depan wajah Putri tanda larangan.


"Iya deh mba Rara, makanya harus bersyukur atas apa yang mba Rara punya. Udah kaya dapat suami kaya pula. Nikmat mana lagi yang mba Rara dustakan."


"Iya betul juga ya mba Putri, tapi aku mau nanya nih. Kenapa ya Rama suka sama aku, secara kan aku ini urakan trus pasti banyak tuh perempuan di luar sana yang lebih menarik dan juga cantik." Rara mengernyit bingung.


"Ya itulah jodoh, tapi mba Rara cantik dan manis kok itu makanya tuan Rama suka sama mba Rara." Percakapan mereka baru selesai karena sopir dari salon sudah menjemput Putri.


"Selamat menikmati masa-masa menjadi perawan." ujar Putri sebelum berpamitan untuk melanjutkan tugasnya di salon.


---Bersambung---


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya terus ya untuk karya ini, dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang banyak supaya othor tetap semangat update nya, okey?

__ADS_1


Nikmat alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2