
Mobil yang dikendarai Jason tiba di ugd sebuah rumah sakit mewah terdekat.
Hanya dengan berhenti di lobby dan membuka pintu, perawat sudah datang dengan cekatan bersama dengan kursi roda dan membimbing Dylan ke dalam ruang ugd. Mereka tampak sangat ahli dan profesional.
Pemeriksaan berlanjut dan seperti seorang asisten, Jason yang mengurus berkas-berkas pendaftaran Dylan juga membayar uang muka. Setelah selesai Jason menghampiri Lia yang menunggu hasil pemeriksaan Jason diruang tunggu.
"Aku sudah selesai mengerus pendaftaran Dylan." ucap Jason dengan bangga sambil menghempaskan tubuhnya duduk disisi Lia.
"Ooo." ucap Lia singkat tanpa menoleh dan masih memperhatikan perawat yang mengobati Dylan. tampak banyak sekali memar disekujur tubuhnya hingga mereka memutuskan untuk merontgen.
Heh?! Kucing liar ini cuma bilang ooo? Dia bahkan tidak mengucapkan terimakasih.
"Kau tidak berterimakasih padaku?" sindir Jason.
Lia diam beberapa saat kemudian menoleh dan memandang wajah Jason dengan heran.
"Kenapa aku yang harus berterimakasih? Pria itu yang harusnya berterimakasih." Lia menunjuk pada ruangan dimana luka-luka Dylan sedang dibersihkan.
"Tapi bukannya kau yang memintaku untuk membawa kalian kemari."
"Kau juga mengantar karena pamrih." sahut Lia tidak mau kalah. Dia benar-benar tidak ingin berterimakasih pada Jason karena masih kesal dengan sikap Jason yang mengerem mendadak.
"Pamrih maksudmu?"
"Kan kamu ingin tahu kenapa pria ini dipukuli. Jadi, kamu melakukannya karena menginginkan informasi itu kan?" ucap Lia dengan sindirian.
Jason terdiam. Sial hanya urusan terimakasih saja bisa panjang dan membuatku kesal.
"Dasar kau kucing liar." dengusnya kesal.
"Lalat buah!" balas Lia tak mau kalah
"Kucing liar!" balas Jason
"Pria mesum!"
Jengkel dengan olokan Lia tang terakhir, Jason dengan gemas segera duduk merapat ke Lia dan melingkarkan tangannya di leher gadis itu
"Hei, apa-apaan ini. Pria Mesum!" suara Lia setengah meninggi sambil berusaha melepaskan tangan Jason dari lehernya. Bukannya lepas Jason malah mengaitkan tangan satunya juga sehingga mengunci bagain bahu keatas Lia.
"Kau bilang aku pria mesum, jadi aku tidak akan tanggung-tanggung lagi." bisik Jason mengancam di telinga Lia.
"Ihhh... apaan sih. Lepaskan gak?" tanya Lia dengan nada mengancam.
"Tidak sebelum kau menarik kata-katamu!" ucap Jason santai.
"Lepasin tidak?" Lia bertanya lagi dengan nada mengancam kali ini.
"Minta maaf dulu." ucap Jason dengan santai
"Yakin tidak mau ngelepasin?" Lia bertanya dengan nada sedikit tinggi
"Memohonlah." ucap Jason dengan terkekeh penuh percaya diri.
"Kau yang akan memohon padaku." ucap Lia dengan seringai licik di wajah yang sayangnya tidak terlihat oleh Jason.
Dengan sekali gerakan dari Lia saja mampu membuat Jason memekik tertahan. Teriakan Jason membuat para perawat menoleh, awalnya mereka tertegun sebelum akhirnya menahan senyum sambil bergosip
__ADS_1
"Kucing liar, lepaskan!" bentak Jason sambil meringis.
Lia ternyata menggigit pergelangan Jason cukup keras tanpa mau melepaskan. Dengan kekuatan Jason dia bisa saja menghentakan gadis itu sehingga dia terlempar. Tapi tetap saja Jason memilih untuk mengancamnya.
"Aku cium kau jika tidak melepaskannya!"
Ancaman berhasil, seketika Lia melepaskan gigitannya sambi menyeringai. Tampak sedikit darah Jason tertinggal di bibirnya.
"Dasar kau kucing Liar. Belajar tatakrama pada kakakmu!" ucap Jason dengan kesal karena jejak gigi Lia yang menancap dalam di tangannya.
Dengan kesal Jason meminta seorang perawat untuk mengobatinya.
"Dia yang bayar!" ucap Jason ketus.
"Utang dulu!" sahut Lia cuek.
Jason menyeringai. Dia melihat Lia yang hanya mengenakan kaos crop kebesaran dan celana pendek serta slipper rumah.
Rencana jahat sudah hinggap di otaknya.
"Kekasih anda tuan, dia lucu sekali." tanya seorang perawat wanita setengah baya.
"Mana mau aku dengan kucing liar seperti dia." ucap Jason dengan sinis.
"Kau pikir aku berselera denganmu, pria mesum." Lia melengos dan mendekati ruang dimana Dylan dirawat.
Lia melihat perawat sudah mengobati Dylan dan memberikan infus. Ketika perawat itu keluar, Lia masuk kedalam. Jason memerintahkan perawat untuk bergeser, sehingga dia dapat mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kak Dylan, bagaimana keadaanmu?" tanya Lia prihatin.
Lia mengangguk.
"Kenapa kau berbuat seperti itu kepada kakakku?"
Dylan tersenyum tipis sambil menahan sakit.
"Bayi yang dia kandung adalah anakku." Dylan masih bersikeras mengatakan hal tersebut.
"Berhentilah berbohong." ucap Lia dengan kesal.
"Aku tidak berbohong."
Lia menghela nafas sebelum akhirnya mengatakan.
"Kau menghina kakakku dengan mengatakan hal tersebut. Kau menjatuhkan martabat kakakku!" bentak Lia dengan kesal.
"Meskipun tindakan kakakku salah, tapi dia tidak sengaja melakukannya dari awal dan dia tidak pernah menjadi wanita penghianat!" sambung Lia panjang lebar hendak membuka pikiran Dylan.
"Aku mencintai dan menghormati kakakmu."
"Kalau kau mencintai kakakku, kau tidak akan mengatakan kebohongan. Kau akan berjuang melindungi dirinya."
"Aku memang melindunginya." sahut Dylan lirih
"Melindunginya? Dengan kebohongan?"
"Diana lebih aman bersamaku daripada dengan tuan Andrew." ucapnya tegas.
__ADS_1
"Kenapa kau bersikeras memaksakan hal itu. Kakakku mencintai brother Andrew."
"Tapi cinta nya itu salah!"
"Jadi cara mu mencintai kakakku benar?" tanya Lia dengan suara yang sedikit meninggi.
"Aku harus melakukannya. Jika tidak hidup kakakmu akan semakin berbahaya." desah Dylan lirih
"Maksudmu?" Lia mengernyitkan keningnya heranm
"Bujuk kakakmu untuk pergi denganku. Kita akan meninggalkan negara ini jauh dari Andrew dan Rachel. Aku akan menjaga dia seumur hidupku." Dylan memandang Lia dengan mata memohon.
"Kau mengenal Rachel?" tanya Lia dengan heran.
Dylan terdiam. Mulutnya tertutup rapat.
"Kau pernah bertemu Rachel? Apa dia mengancam kakakku?" desak Lia.
"Katakan. Jangan diam saja. Meskipun kau membawa kakakku pergi, kau pikir masalah akan selesai? Kau pikir brother Andrew akan melepaskan kalian begitu saja?"
"Asalkan Andrew percaya bayi itu anakku."
"Kau bodoh! Itu berarti kakakku menghianati brother Andrew, kau pikir kau bisa menyelamatkan dia?"
"Ayo jangan jadi pria bodoh kak Dylan. Katakan apa Rachel mengancam akan membunuh kakak ku?" tanya Lia dengan jengkel.
Setelah sekian lama Dylan mengangguk.
Lia menghela nafa. Kemudian berdiri.
"Kau sudah disini. Jaga dirimu baik-baik dan jangan pernah menemui kakakku lagi! Menghilanglah dari kehidupannya." Lia pergi meninggalkan Dylan yang terpaku sendiri. Dylan hanya bisa diam dengan segala pertanyaan yang berganyut dihatinya, salahkan apa yang dia lakukan untuk melindungi Diana, bagaimana bisa Lia mengatakan kalau aku sudah menghina Diana.
Setelah keluar dia mendapati lengan Jason sudah terbalut rapi.
"Ayo Jason kita pulang." ajak Lia dan berjalan mendahului Jason menuju mobil pria itu. Jason memencet remote mobil untuk membuka kunci.
Lia masuk duduk didepan disamping Jason. Gadis itu tetap diam saja hanyut dalam pikirannya. Dan tidak memperhatikan Jason yang sedang mengendarai mobil.
Mobil Jason melaju menembus jalanan. Pria itu bahkan tahu diri dengan tidak banyak bertanya terlebih lagi mengganggu Lia. Dia membiarkan gadis itu hanyut dengan pikirannya.
πππππππππππππππππππ
Hallo pembacaaaa....
Author sedih nich... viewersnya banyakkk sampai ribuan, tapi sayang kenapa yang like cuma puluhan yaaa.
Pleaseee, baca novel ini gratis lohhh... hehhehe... sumbangi like kalian saja yaaaa.
Yang lupa like scroll ke atas ya dan like tiap episode, pleaseeπππ
Biar makin semangat.
Buat yang nge Vote makasih banyakkkkkk yaaa.
Sebagai ucapan terimakasih, Tiga orang dengan vote terbanyak akan mendapatkan souvenir cantik yaaaa.
Trimakasi
__ADS_1