Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
S3. Akan aku cari dirimu sampai dapat


__ADS_3

Conrad melirik ponselnya yang bergetar sedari tadi. Sebuah nomor yang tak dia kenal berulang kali mengirimkan pesan. Conrad merasa enggan untuk membuka pesan tersebut, karena dia tidak ingin konsetrasinya dalam membaca terganggu.


Nomor yang tak dia kenal seringkali menghubumgi dirinya, belum lagi chatt dari para gadis yang mengajaknya berkencan.


Tanpa sengaja Conrad melihat noda lipstik yang masih melekat di kemeja yang dia kenakan. Conrad kemudian memilih meninggalkan buku-buku nya terbuka, dan pergi ke toilet untuk membersihkan noda lipstik di kemeja yang dia kenakan. Urusan bisa panjang, jika mommy dan adik-adik di rumah melihat noda tersebut. Tak bisa dibayangkan sederatan pertanyaan dari Diana apalagi Aaron.


Tapi ternyata sangat sulit untuk menghilangkan noda tersebut. Dan Conrad menyerah. Lebih baik dia mengganti baju nya dengan kaos saja di mobil. Conrad mencoba mengingat gadis yang bertabrakan dengan dirinya. Tapi susah bagi Conrad untuk mengingat raut wajah nya, karena saat itu dia sangat terburu-buru. Yang Conrad ingat hanyalah kacamata hitam yang tampaknya tergores. Entah itu karena dirinya atau memang sudah seperti itu sedari awal.


Disaat Conrad kembali ke dalam perpustakaan. Tampak seorang wanita cantik sudah duduk semeja dengan dirinya. Gadis itu tersenyum melihat kedatangan Conrad dan menunjukan satu botol minuman powerade ( sejenis pocari sweat ) yang dia letakan di meja Conrad.


"Haiii.." bisiknya dengan senyuman ceria.


Conrad hanya tersenyum tipis memandang gadis itu. Wajah yang cantik juga terawat. Sorot mata yang ceria namun sikapnya terkesan manja.


"Masih ingat aku kan? Jasmine." Ujarnya dengan percaya diri.


"Hemm." Conrad hanya bergumam.


Pemuda tampan itu kembali melanjutkan kegiatan membacanya. Dia mulai meletakan headphone di telinga dan kembali berkonsentrasi, mengacuhkan wanita cantik yang masih memandangi dirinya.


Jasmine kemudian dengan malas membuka buku yang ada di hadapannya. Dia bukanlah mahasiswi kedokteran. Jasmine sesungguhnya berasal dari gedung sebelah, falkutas Ekonomi. Jasmine yang sebenarnya mendatangi falkutas kedokteran karena mencari kakaknya, tanpa sengaja bertemu dengan Conrad. Saat itu Jasmine menyadari banyak sekali tatapan wanita oara gadis yang tertuju pada Conrad. Dan sifat penasarannya kulai muncul.


Conrad yang waktu itu sedang kebingungan mencari kartu keanggotaanya, menyita perhatian Jasmine yang centil. Gadis itu dengan sengaja mendapatkan semua data diri Conrad di formulir keanggotaan.


Conrad yang tampan tapi pendiam membuat Jasmine semakin menyukainya.

__ADS_1


Melihat sorot wajah yang bersahabat tetapi sikap yang dingin, membuat Jasmine semakin penasaran. Dia sudah duduk dihadapan Conrad, tetapi pemuda itu bahkan tidak tertarik dengan keberadaannya apalagi kecantikannya.


Apa dia tidak tahu, jika aku adalah wanita tercantik di falkultas ekonomi? Kenapa sikapnya tampak tidak perduli padaku?


Jasmine menopang dagu dengan kedua tangan. Dan matanya tak berhenti memandang Conrad. wajah yang bersih, cerah dan tampan. Tubuh yang gagah. Pakaian dan sepatu berkualitas apalagi jam tangan yang dia kenakan. Jasmine memang benar, dengan sekali kedip, dia bisa menyimpulkan jika Conrad adalah anak orang kaya.


tok. tok. tok. tok. tok


Jasmine mengetuk meja di depan Conrad, mencari perhatian pemuda itu. Tapi Conrad tidak juga menghiraukannya. Karena kesal, Jasmine berdiri kemudian melepaskan headset dari telinga Conrad. Dan itu berhasil, pemuda tampan itu langsung memandang Jasmine dengan kesal, karena sudah mengganggu konsentrasinya. Pandangan mata Conrad tajam terarah pada Jasmine yang dibalas dengan sinar mata manja.


"Apa kamu Gay?" tanya Jasmine langsung.


Conrad menatap heran kearah Jasmine. Apa mau gadis ini dengan bertanya seperti itu. Conrad mengamati jakun Jasmine. Gadis ini wanita tulen bukan trangender. Lalu apa urusannya dia menanyakan apakah Conrad gay atau bukan. Apapun jawaban Conrad, apa hubungan dengan wanita yang sekarang berdiri dihadapannya.


Conrad tidak menjawab. Dia mengambil headset dari tangan Jasmine dan memakainya kembali. Sentuhan kulit tangan mereka hanya sekilas, tapi sanggup membuat Jasmine merasakan kehangatannya. Apalagi sikap Conrad yang acuh padanya. Baru pertama kali ada pemuda yang mengacuhkan dirinya.


"Apa mau mu, nona?" ujarnya tegas.


"Jasmine. Namaku Jasmine. Masa sudah lupa?" sahut Jasmine masih dengan posisi yang sangat dekat dengan Conrad.


"Baiklah Jasmine. Tolong katakan keperluan mu setelah itu jangan ganggu aku." jawab Conrad sambil menggeser duduknya, karena risih dengan wajah Jasmine yang mendekati dirinya.


"Aku kan tadi tanya, kau ini bukan gay kan?" ulang Jasmine lagi.


"Apa urusanmu aku gay atau bukan?" ujar Conrad dalam hati. Tapi Conrad sadar jika dia mengucapkan kalimat itu, gadis dihadapannya ini tidak akan berhenti mengganggu dirinya. Akan lebih banyak lagi percakapan dan perkataan. Apalagi sikap manja dan ceriwis Jasmine. Bahkan adik-adik perempuannya tidak ada yang seperti Jasmine.

__ADS_1


"Iya aku Gay!" sahut Conrad singkat. Tangan Conrad hendak meraih headset miliknya yang di pegang oleh Jasmine, tetapi Jasmine malah menjauhkannya. Tangan Conrad mengambang di udara.


"Masa sih kau Gay?" ujar Jasmine heran, tidak percaya dengan jawaban Conrad.


"Iya aku gay. Kembalikan headset ku." Conrad berdiri hendak meraih headsetnya kembali.


"Kamu pasti bohong kan? Katakan padaku bahwa kau bukan Gay." Suara Jasmine meninggi, membuat semua orang yang ada di perpustakaan menoleh kearah mereka, mereka memandang sepasang manusia yang tampak bersitegang sambil berbisik- bisik.


Conrad tentu saja merasa tidak nyaman dengam kejadian ini, dia segera membenahi buku-buku di meja. Mencabut colokan headset pada ipood, kemudian membiarkan Jasmine memegang headsed tersebut. Conrad berlalu meninggalkan Jasmine yang semakin shock dengan sikap Conrad.


Jasmine memandang headset ditangannya, seraya bergumam.


Awas ya, aku tidak akan melepaskanmu.


Conrad menuruni tangga perpustakaan dengan cepat. Dia ingin segera meninggalkan Jasmine. Ketika menuruni tangga perpustakaan, Conrad berpapasan dengan seorang wanita yang berkacamata. Conrad merasa mengenal wanita tersebut, dia menoleh kebelakang dan hendak memanggil. Tetapi Conrad mengurungkan niatannya, karena Saat yang bersamaan Jasmine sudah keluar dari perpustakaan dan bertieriak memanggil namanya.


"Conrad!!!! Tunggu!"


Sontak saja Conrad mempercepat langkah kakinya. Dia sudah malas berurusan dengan wanita aneh yang mengganggu konsentrasi belajarnya hari ini. Lebih baik Conrad segera pulang kerumah.


Gadis berkacamata itu ketika mendengar Jasmine meneriakan nama Conrad, segera menoleh kebelakang, dan dia kembali hanya melihat punggung pemuda itu, tanpa tau wajah Conrad secara langsung. Apakah pemuda itu adalah orang yang sama, yang menabraknya tadi. Pemuda tampan seperti foto di kartu keanggotaan perpustakaan, yang berada di tangannya saat ini.


Jasmine yang melihat Conrad semakin menjauh, menjadi semakin kesal. Dia menghentakan kaki. Jasmine kemudian mempercepat langkahnya dan tanpa sadar menyenggol gadis berkacamata tadi. Gadis itu tampak sedikit oleng, tapi bisa menguasai diri segera.


"Lihat-lihat dong kalau jalan!" Bentak Jasmine kesal.

__ADS_1


Gadis cantik nan manja itu berlari mengejar Conrad. Namun sayang, dia tidak berhasil menemukan sosok Conrad. Jasmine berdiri tegak di area parkir mengawasi, jika ada sosok Conrad yang akan memasuki mobil. Tapi gadis itu tidak menyadari jika mobil Conrad sudah bergerak melewati dirinya. Conrad mengenakan topi untuk menutupi wajah tampannya.


"Ihhhh. Kau semakin membuatku penasaran. Awas ya kau besuk. Akan aku cari dirimu sampai dapat!"


__ADS_2