Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
S3. Cicak


__ADS_3

"Mom, Anna tadi di sekolah berkelahi." Lapor Archie pada Diana.


Diana menoleh pada Anna. Gadis kecil itu tampak melotot pada Archie, karena melapor pada Diana. Archie hanya berlalu sambil mengangkat bahu nya. Anna memang seorang yang lebih keras kepala dibanding kedua saudara kembarnya.


"Benar Anna, tadi kamu berkelahi?" Tanya Diana sambil memegang kedua tangan Anna.


Anna hanya diam dan menunduk.


"Ceritakan pada mommy, benar kamu berkelahi? Dan apa alasannya?"


Diana memandang anaknya yang masih tertunduk. Anna masih diam, tapi Diana tahu jika Anna tampak tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan.


Diana kemudian mengangkat dagu anaknya perlahan dan membelai rambut Anna.


"Ceritakan pada mommy, apa yang terjadi?"


Suara Diana melembut.


"Mereka bilang, Adelaide itu malas tidak pernah masuk sekolah. Cantik-cantik tapi malas." Ujar Anna dengan kesal.


Diana terenyuh dengan cerita Anna. Beruntung Adelaide tidak ada disana, sehingga dia tidak perlu menjadi sedih dengan apa yang Anna ceritakan.


"Lalu mereka bilang, daddy sengaja membayar uang extra kepada sekolah, agar Adel selalu menjadi juara kelas. Anna marah sama Monika dan gengnya. Anna langsung tarik kerah baju dan mengancam, jika menghina Adel lagi, akan Anna bogem mulutnya sampai nyonyor." Ujar Anna dengan berapi-api.


"Tidak perlu sampai bertengkar sayang. Jelaskan saja pada mereka jika Adel itu sakit dan tidak bisa sekolah. Tapi di rumah, Adel telap belajar kok." Diana menasehati putrinya dengan perlahan sambil merapikan rambut Anna dan menyelipkan kebelakang telinga gadis kecil itu.


"Mereka harusnya sudah tahu. Kan dari dulu juga Adel jarang ke sekolah." Sahut Anna kesal.


"Anna terimakasih ya sudah membela Adelaide, tapi Anna tidak perlu membalas mereka dengan kekerasan. Itu tidak baik nak." Ujar Diana dengan lembut.


"Besuk kakak akan ke sekolah Anna. Tunggu kakak disana."


Aaron yang sedari tadi diam, tiba-tiba turut bicara sambil mengunyah sepotong roti sosis. Dengan gaya khasnya Aaron berjalan mendekati mereka dan duduk disisi Diana. Anna yang awalnya berdiri di hadapan Diana, beralih ke sisi Aaron dan menggit roti yang di pegang kakak nya.


"Mau ngapain kakak ke sekolahku." Tanya Anna dengan mulut penuh.


"Biar Manik tahu siapa kakakmu." Ujar Aaron.

__ADS_1


"Monika bukan Manik." Tegas Anna.


"Ya dah Monik atau Manik sama saja. Mereka kan pengacau." Sahut Aaron acuh.


"Memangnya mau kakak apain si Monika?" Tanya Anna dengan bersemangat.


Anna mulai mengepalkan tangan kanannya dan bergaya memukul telapak tangan kirinya. Dia bertingkah, seakan-akan menghajar Monika. Memang setiap sore, seorang pengawal Andrew bertugas untuk memberikan pelatihan bela diri kepada anak-anaknya. Anna paling suka sekali belajar bela diri. Hanya Francesca yang seringkali menghindar dengan alasan berlatih biola.


"Gak ada, biar mereka tahu siapa kakak mu." Ujar Aaron dengan bangga sambil menepuk dada nya.


"Terus kalau tahu kenapa?" Anna mengernyitkan keningnya.


"Bilang saja mau pamer diri." Teriak Archie dari kejauhan.


Diana menahan senyum sementara Anna masih heran.


Francesca lewat dengan menggesek biolanya.


Ngekkk! Ngokkk!


"Nah itu, Frances sudah berpengalaman." Ujar Aaron tersenyum dengan angkuh.


"Oooo begitu ya. Memang kakak Aaron yang paling bisa Anna andalkan." Ujar Anna dengan kagum.


"Aaronn." Aaron menepuk dadanya dengan bangga.


"Tidak boleh sombong ya Aaron. Itu anugerah jika kau memiliki wajah tampan. Tapi lebih hebat lagi jika hati dan pikiranmu tak kalah dengan wajah." Ujar Diana sambil menepuk bahu Aaron.


"Tenang saja mommy. Aaron kan anak mommy yang tampan, pintar dan baik hati." Ujar Aaron membanggakan dirinya.


Ngekkk!!! Ngokkkk!!! Francesca menggesekan biolanya di akhir pidato Aaron.


"Tangkap ini."


Archie melemparkan sesuatu pada Aaron diakhir perkataan Aaron. Tanpa prasangka, remaja itu menagkap nya. Saat dia merasakan sesuatu yang dingin dan menggeliat di telapak tangan, Aaron melihat apa yang dia tangkap.


"HOAAAAA.. Archieeee!!!" Aaron berteriak dan terkejut. Dia melemparkan cicak yang dilempar Archie. Binatang melata tak bersalah itu langsung berlari ketakutan.

__ADS_1


"Orang takut sama cicak saja sombong." Celetuk Archie sinis.


"Archie, jangan iseng begitu." Ujar Diana. Meskipun yang lainnya tertawa, Diana berusaha menahan tawa, ketika melihat Aaron sangat kesal. Remaja itu langsung berlalu setelah melotot kesal pada adiknya.


"Kalian semua sudah datang?" Adel masuk keruang tengah. Dia baru saja selesai belajar dengan seorang guru. Selain belajar dirumah, Adel juga menghabiskan waktu untuk belajar melukis. Dia menyukai melukis, saat pertama kali melihat Conrad membuat lukisan wajahnya.


"Hooh." sahut Anna sambil menghampiri Adel.


"Anna mau lihat apa yang Adel gambar hari ini." Anna menghampiri Adeleide dan mengambil buku gambar besar ditangan Adel.


"Wowwwww." Anna berteriak kagum sambil memamerkan hasil karya Adel.


Adel menggambar bunga anggrek dengan sangat indah dan detail. Perpaduan warna yang bagus juga latar belakang yang dia perhatikan. Anna dengan bangga berjalan dan menunjukan lukisan itu kepada semua orang disana.


"Andai saja Anna bisa menggambar seindah ini. Adel sudah cantik, pandai, jago menggambar." ujar Anna dengan penuh kekaguman.


"Anna juga cantik, lincah dan jago berolah raga. Adel juga pingin bisa seperti Anna. Banyak teman dan selalu menjadi ketua kelas." sahut Adel dengan sendu.


"Yeaaahhhhh Anna hebat kan karena punya Adel yang mendukung selalu. Kalau bukan karena Adel yang banyak membantu Anna mengerjakan pr, bisa pusing Anna." celetuk Anna menghibur.


"Loh, Anna. Jadi selama ini Adel yang menyelesaikan pr Anna?" tanya Diana.


"Ehh.. a..." Anna gugup.


"Huaahahhahaha akhirnyaaa ketahuan, Wekkkk." Archie menjulurkan lidahnya dan tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Anna yang ditekuk.


"Archie! Berhenti menggoda saudaramu. Masuk ke kamar dan tidur siang sekarang!" tegas Diana pada Archie.


"Ya mommy." Archie dengan cemberut masuk ke kamarnya.


"Adel, itu tidak benar jika kau mengerjakan pr Anna. Adel bisa mengajarkan pada Anna, tetapi itu tanggung jawab Anna. Jika tidak kalian bisa mengerjakan tugas yang sama di buku yang berbeda. Ingat Anna, jangan minta Adel mengerjakan tugasmu."


"Ya mommy." ujar mereka serempak.


Hari ini kembali Adelaide tidak ikut bersekolah. Dia tinggal di rumah ditemani Diana. Semenjak kelahiran Adelaide, Diana sudah semakin menjauh dari kehidupan sosial. Waktu dan tenaganya lebih dicurahkan untuk Adelaide.


Nanny Maria, sekarang bertugas khusus mendampingi Adelaide. Sedangkan Matilda menyiapkan keperluan Archie dan Anna. Meskipun kedua anak itu sangat pandai dan mandiri. Matilda sudah menikah dengan Cheft Paul, namun mereka tetap tinggal di mansion dan bekerja seperti biasa. Usia Matilda yang sudah diatas empat puluh lima tahun, ketika menikah dengan chfet Paul menjadikan mereka memilih untuk tidak memiliki anak.

__ADS_1


__ADS_2