Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
87. Jangan Mendekat!


__ADS_3

Sebuah pesan whatsup masuk di smartphone milik Diana. Dengan segera wanita itu membuka, berharap Lia yang mengirim pesan. Tapi yang tertera adalah nomer tidak dikenal. Dengan mengernyitkan keningnya Diana membuka pesan tersebut.


 


*Lia bersamaku jangan kuatir. Dia akan pulang besuk. JASON*


 


Seketika itu juga Diana mendial nomer tersebut. Berkali-kali dia mencoba tapi tetap saja tidak ada yang mengangkat. Dan ketika terakhir kali dia kembali mencoba, telphone diseberang sana sudah dimatikan. Hal tersebut tentu saja membuatnya cemas.


"Ada apa, siapa yang hendak kau telphone?" tanya Andrew yang melihat sikap gelisah Diana.


"Jason." jawab Diana dengan singkat.


"Kau memiliki nomer ponsel dia?" Andrew menjadi heran karena sebelumnya Diana mengatakan tidak memiliki nomer Jason. Tidak adanya jawaban dari wanita itu membuat Andrew langsung merebut handphone dari tangan Diana dan melihat nomer yang di hubungi belum tersimpan.


"Dia mengirimiku wa, Lia bersama nya." Diana menjelaskan setelah dilihatnya raut wajah Andrew yang tegang.


"Dia sengaja mematikan telphonenya." Andrew juga mencoba menghubungi nomer Jason melalui smartphone nya.


Andrew menoleh kepada Diana dan menarik nafas melihat kegelisahan wanita berbadan dua disampingnya.


"Tenanglah. Dia tidak akan berani berbuat macam-macam pada Lia, jika tidak dia tidak mungkin memberi kabar padamu."


"Kenapa mereka tidak bisa aku hubungi semuanya. Aku kuatir dengan Lia dia baru saja sampai di sini." ujar Diana setelah dia mulai tenang.


"Lia anak yang cerdas dan gesit, kau tidak perlu khawatir."


"Tapi..."


"Tidak ada tapi. Sekarang, ayo temani Conrad makan."


"Aku tidak lapar." tolak Diana dengan lesu.


"Apakah kau lupa, bayi kita juga memerlukan makanan dan ibu yang tidak stress?" dengan ragu Diana akhirnya menuruti perkataan Andrew.


"Makanlah yang banyak, ada nyawa lain di tubuhmu." Diana hanya mengangguk dan memaksakan memakan sesuatu.


***************


"Briant ini nomer telphone Jason. Apakah kau sudah menemukan alamat pria itu?" tanya Andrew setelah selesai makan. Dia menyendiri di area kolam renang sambil sesekali memandang kedalam rumah dimana Diana sedang bermain lego dengan Conrad.


"Aku sudah memeriksa, dia memiliki beberapa rumah, mansion dan juga villa terdaftar di kota M. Saat ini anak buah kita sudah menelusuri setiap alamat." lapor Briant.


"Jason menghubungi Diana dan mengatakan kalau Lia bersama dia dan akan kembali besuk."


"Pria yang merepotkan! Haruskah aku tarik anak buah kita?"

__ADS_1


"Tidak! Perintahkan mereka untuk berjaga disetiap rumah yang terdaftar dan begitu melihat tampang pria itu segera temukan Lia. Pastika Lia aman dan utuh. Aku tidak ingin membuat Diana menjadi khawatir dan stress."


"Tentu saja. Katakan pada kakak ipar, bila semuanya akan diatasi oleh Briant." ucap Briant dengan percaya diri.


"Iya aku tahu.Yang aku masih tidak mengerti apa tujuan pria itu melakukan hal ini." perintah Andrew.


"Kita akan segera mengetahuinya." bahkan Briant pun menjadi kesal, jengkel dan penasaran dengan perbuayan Jason yang kekanak-kanakan menurutnya. Suara seorang wanita terdengar diseberang sana sedang memanggil Briant.


"Kau bersama seseorang Briant?" tanya Andrew penasaran.


"Aku harus pergi Andrew, semua akan aku urus."


Sambungan telphone terputus menyisakan pertanyaan dalam benak Andrew, siapa wanita yang bersama Briant. Briant bukanlah pria brengsek seperti dirinya yang selalu berganti wanita sebelum bertemu dengan tambatan jiwa.


Andrew kembali masuk kedalam rumah dan berkumpul dan bermaindengan keluarga kecil yang dia kasihi.


*****************


Di tempat lain Rachel sedang terdiam di balcony lantai atas rumahnya. Dia memandang langit gelap dengan bintang yang bergemerlap menemani bulan sabit yang bergelanyut di cakrawala.


Wajah cantiknya menyeringai ketika terlintas sebuah ide hebat di benaknya. Sebuah rencana gila telah tersusun di kepala cantiknya. Dengan mengibaskan rambut pirang bergelombangnya, Rachel mengambil smartphone yang tergeletak di meja kecil.


"Sandra!" katanya ketika seseorang diseberang sana menerima panggilan telphonenya.


"Iya nyonya."


"Apakah kau sendirian?"


"Aku akan mengirimimu sesuatu, campurkan kedalam minuman wanita itu."


"Apa yang akan anda lakukan pada dia, nyonya?" tanya Sandra dengan kuatir.


"Apakah anda akan membunuhnya?" sambung Sandra lagi kali ini dengan ketakutan, karena apabila itu terjadi, dia pasti akan terseret dan menjadi tersangka.


"Tentu saja tidak bodoh!" jawab Rachel dengan kasar.


"Aku akan membuat dia merasakan sakit yang aku alami." sambung Rachel lagi sambil terkekeh.


"Anda yakin bukan hal berbahaya nyonya?" Sandra berusaha menyakini tugas yang akan dia lakukan.


"Tidak akan membuat wanita itu mati. Besuk pagi, cari alasan untuk keluar. Kau mengerti?!"


"Iya nyonya." jawab Sandra dengan ragu. Dia harus merencanakan mengganti jadwal liburnya agar bisa keluar rumah.


Rachel menyeringai lebar ketika telphone dimatikan. Dia kembali hanyut dalam rencana yang ada dalam otak cantiknya itu sehingga dia tidak menyadari kehadiran seorang di balcony.


"Rencana gila apa yang kau persiapkan?" Suara bariton yang dia benci membuyarkan lamunannya dan membuat nya sangat terkejut.

__ADS_1


"A...apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dengan gugup. Dari raut wajah Rachel tampak sangat tidak menyukai kehadiran pria tersebut, sorot matanya menyiratkan kebencian sekaligis rasa takut, sedangkan tubuhnya tampak beringsut mundur menjauhi pria tersebut.


"Kenapa, apakah kau merindukan aku?" kata pria setengah baya yang masih sangat gagah itu sambil terkekeh.


"Tidak. Apa maumu, kenapa kau datang kemari?" suara Rachel bergetar. Dia berusaha mengumpulkan keberanian disela-sela rasa takut yang membuatnya gemetar.


"Kau belum menyelesaikan masalahmu dengan Andrew?" suara pria itu masih terdengar datar tanpa memperdulikan perasaan gelisah yang tampak di wajah dan mata wanita cantik dihadapannya.


"Aku akan menyelesaikannya. Segera."


Pria itu memincingkan matanya menatap Rachel seakan tidak percaya dengan perkataan wanita cantik dihadapannya.


"Aku sudah menunggu terlalu lama. Kau tahu kita membutuhkan Andrew."


"Iya aku tahu, beri aku waktu. Sedikit lagi Andrew pasti kembali ketanganku." Rachel mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan lebih tegas.


"Kau tahu aku bukan orang yang sabar." pria itu maju dan mendesak Rachel ke sudut dalam balcony.


"Tidak. Jangan mendekat! Tidak lagi!" Rachel berteriak ketakutan ketika pria itu semakin mendekatinya.


"Kau tahu, kau semakin cantik dengan wajah mu yang seperti ini." Ketakutan yang terpancar dari seluruh anggota tubuh Rachel membuat pria itu menyeringai lebar dan kemudian memegang bahu Rachel.


"Tidak! Lepaskan! Jangan lakukan itu!"


Pria itu membalikan tubuh Rachel, mendekapnya kasar dan memegang leher Rachel hingga menengadah. Nafas Rachel terengah-engah menahan emosinya.


"Kau harus menurut padaku! Atau kau ingin berteriak, mengundang setiap pelayanmu hadir melihatmu seperti ini tanpa wibawa?!"


Rachel terdiam dan hanya dapat menangis dengan mata yang penuh kebencian terhadap pria yang memeluknya semakin erat.


*******************


Aduh Lia belum pulang juga yaaa


Rachelll ada apa sebenarnya dengan dirimu?


Rencana apa yang dipersiapkan Rachel untuk Diana.


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.

__ADS_1


Terimakasih.


Salam sayang 😘


__ADS_2