
Senja harinya ketika Andrew dan Diana kembali dari semi bulan madunya, tamoak di mansion mereka sudah berjajajar beberapa mobil. Tampaknya Briant dan Grisella sudah datang dengan beberapa teman.
Awalnya Diana menduga bahwa barbeque hanya akan menjadi jamuan keluarganya dan Briant saja. Tapi ternyata Grisella juga mengundang beberapa teman lainnya.
Andrew menoleh pada Diana dengan tatapan tanda tanya, sementara Diana hanya mengangkat bahu nya.
"Aku tidak tahu, jika mereka akan mengadakan pesta barbeque disini. Ayo dah masuk, sebagai tuan rumah kita termasuj santai, hanya terima beres," ujar Diana sambil menepuk tangan Andrew.
"Baiklah, jika itu tidak mengganggu mu." Sahut Andrew.
Mereka turun dari mobil dan disambut oleh si kecil Aaron yang berlari ke dalam pelukan Andrew.
"Daddyyyyyy... Aalon 'angennn." Ucap bibir mungil yang masih cadel itu. Tangan-tangan mungil nya meraih leher Andrew dan memeluk dengan erat.
"Daddy juga kangen dengan Aaron. Aaron jadi anak yang baik kan selama daddy kerja."
Bocah itu melepaskan pelukannya dan memandang Andrew. Kemudian dia mengangguk kan kepalanya.
"Iya. Aalon pintal."
"Coba tunjukan sama daddy, Aaron sudah pintar apa."
"Aalon sudah bisa 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10."
Ujar nya dengan bangga.
"Yeaaahhhh Aaron pintar sekali." Andrew menciumi pipi anaknya.
Kemudian dia mengangkat Aaron dan mendudukannya nya di pundak Andrew.
"Ayo daddy ayooo.. jalan... ada banyanyak uncle dan aunty di belakang."
"Brother Conrad ada dimana?"
"Belakang. Masak."
"Eh, masak apa dia?" Tanya Andrew dengan heran.
"A tau." Sahut Aaron dengan mengangkat bahu nya.
"Aaronnn... sudah lupa ada mommy ya?" Ujar Diana sambil cemberut karena sedari tadi bayi nya tidak menoleh padanya.
__ADS_1
"Alo mommy. Alon mau main kuda-kudaan dulu sama daddy." Sahut Aaron dengan cool.
"Ih Aaronn. Sini mommy kiss dulu." Ujar Diana yang gemas.
Mereka berjalan beriringan ke arah taman belakang, sementara seorang pelayan sudah mengambil koper Diana yang hanya berisi pakaian kotor.
"Hallo tuan rumahhh..." salam dari Grisella ketika mereka memasuki taman belakang.
Tampak sekali di taman belakang mereka sedang bersantai dengan segelas wine. Cheft Paul dan assistentnya sedang sibuk memanggang berbagai macam daging.
Conrad mulut nya tampak sedang penuh dengan sosis dan kentang goreng.
"Alow daddy. Alow mommy." Sapa Conrad dengan mulut yang belepotan.
"Alon mau... Alon mau.." teriak Aaron yang melihat piring conrad berisi sosis dan kentang goreng.
"Ayo sini duduk sama brother," panggil Conrad.
Diana mendekati Grisella dan menyapa teman-temannya. Disana sudah ada juga Elina dan Yoora. Mereka bercanda dan berbincang untuk sesaat.
Sementara Andrew menghampiri Briant dan Mike. Diana yang melihat kehadiran Mike, menyadari jika pria yang pernah membuatnya merasa tidak nyaman ternyata teman dari Andrew. Hal itu membuat Diana makin tidak suka dengan Mike.
Sementara Mike ditengah kebimbangan hatinya antara memilih ambisi atau persahabatan, memandang Diana dengan kikuk.
"Diana."
"Mau apa kau Mike?" Ucap Diana dengan nada sedikit ketus.
"Aku hendak minta maaf, jika tindakanku sempat menyinggungmu." Ujar Mike dengan nada bersalah.
"Aku harap kau bersungguh-sungguh dengan perkataanmu." Ujar Diana ketus.
"Iya. Maafkan sikap ku yang berlebihan tempo hari."
"Bukan berlebihan Mike, tepatnya tidak tahu diri. Kau tahu aku adalah istri Andrew. Dengan kehadiranmu di tempat ini saat ini, itu menunjukan jika Briant dan Andrew menganggapmu teman baik. Dan kau harus menghargai itu. Aku tidak akan mempermasalahkan ataupun menceritakan hal itu kepada Andrew, tapi kau harus bisa menjaga sikap." Ujar Diana berapi-api dengan suara pelan.
"Apa yang tidak akan kau ceritakan padaku?"
Diana dan Mike dikejutkan oleh suara Andrew yang tiba-tiba ada disana. Mike terperanjat dengan wajah agak pucat. Tadi ketika dia mengikuti Diana masuk kedalam rumah, tampak Andrew masih asyik bermain dengan kedua anaknya.
Mike mematung dengan kaku. Jantungnya berdebar. Jika saja Andrew mendengar keseluruhan percakapannya dengan Diana, maka tamatlah riwayatnya. Dia belum siap keluar dari perusahaan Andrew. Dia belum siap menjadi pengangguran di usia produktifnya.
__ADS_1
Andrew memandang Diana dan Mike bergantian dengan heran. Dia tidak mengerti kenapa Mike tiba-tiba menjadi tegang. Dan kenapa wajah istrinya menjadi kesal.
"Apa yang terjadi kenapa kalian diam saja, apa Mike melakukan kesalahan padamu sayang?" Tanya Andrew sambil menghampiri Diana dan memeluk pinghang istrinya.
Mike memandang Diana penuh harap. Saat ini hanya Diana lah yang mampu menyelamatkan dirinya. Mike tampak sangat putus asa.
"Tidak ada sayang, Mike hanya ingin mengatakan sendiri kepadamu, jika dia sedang dekat dengan seorang temanku, benar bukan Mike?" Ujar Diana sambil memandang tajam pada Mike.
Diana harus mencari sebuah alasan agar Andrew bisa tenang. Dia tidak ingin masalah ini membuat Andrew sedih dan kehilangan seorang teman baiknya. Salah satu teman yang sudah hampir sepuluh tahun bekerja disisinya.
Mike merasa lega dengan perkataan Diana. Saat itu dia bisa melihat betapa besarnya cinta Diana untuk Andrew. Sebagaimana pun dia mencoba hasilnya akan tetap nihil.
"Benar, aku hanya ingin mengatakan langsung padamu, jika aku... sedang dekat dengan Elina, putri walikota." Ucap Mike dengan gugup.
"Hahhahaha... kenapa kau harus gugup Mike? Bagus lah jika kau mengakui seorang wanita sebagai kekasihmu. Sudah saatnya kau menghentikan masa lajangmu. Lihat diriku dan Briant, kami bahagia. Tidak kah kau ingin bahagia?" Ujar Andrew dengan bersemangat.
"Iya, hehe... hehe..." Mike menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua," Diana menuju kedalam ruang makan dan mengambil beberapa kotak snack dan membawanya ke taman.
Sementara Andrew dan Mike melanjutkan percakapan di taman.
"Briant, teman kita satu ini ternyata dekat dengan putri walikota," ujar Andrew bersemangat.
"Aku sudah tahu, Grisella menceritaknnya padaku tadi." Sahut Briant mengejek.
"Heh! Hanya aku yang ketinggalan. Dasar kau Mike, tidak menganggap kami sahabat, hingga kami harus tahu dari istri." Ujar Andrew menggoda.
"He ...eg...itu.. aku sedikit bingung, karrna... dia putri walikota. Jadi, jika aku melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, maka mereka pasti akan lebih mengganggu kalian dengan meminta dukungan." Kata Mike dengan serba salah.
Andrew dan Briant saling berpandangan.
"Tidak masalah mengenai hal itu. Toh setiap bulan kita punya budget untuk donasi politik. Asal kau pastikan calon mertua mu bekerja dengan baik," goda Briant.
Mike mengangguk-anggukan kepalanya. Dia merasa lega, saat ini hatinya merasa tenang. dan dia berusaha menyakini dirinya sendiri jika persahabatan lebih penting daripada ambisi nya.
Mereka memutuskan untuk duduk melingkar dan asyik berbincang- bincang satu sama lain. Sementara Aaron dan Conrad sudah masuk ke ruang bermain. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita dan menyapa mereka,
"Yuhuuuuu.... haloowwww.... maaf aku terlambat. Kalian pasti sudah menanti ku."
Semua pasang mata memandang pada wanita tersebut. Masing-masing mata menyorotkan sinar yang berbeda-beda. Sementara wanita itu berjalan menghampiri mereka dengan percaya dirinya.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟
Hayooo... siapa yang datanggg yooo