Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Bisa berbisa


__ADS_3

"Kau baik-baik saja kan sayang?" tanya Diana di dalam mobil kepada Conrad, yang tampaknya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Kenapa mommy memisahkan ibuku dengan daddy?" tanya Conrad lirih.


Diana terkejut dengan perkataan anak itu.


"A..apa?" Tanya Diana dengan heran.


Bagaimana mungkin anak ini bisa mengatakan hal tersebut. Apakah dia sudah lupa dengan yang terjadi? Jika dahulu mereka sama-sama pelarian dari kekejaman Rachel.


"Madam Caroline bilang, jika mommy Diana adalah penghalang orang tuaku bersatu." Kata Conrad lirih.


"A..apa?"


"Dia bilang dia ibu kandungku."


"Eh..." Diana tidak tahu harus berkata apa.


Dia diam sejenak. Tidak bisa melawan kegundahan dengan emosi. Harus tenang apalagi berhadapan dengan anak kecil yang labil dan bingung dengan apa yang terjadi.


"Mommy tidak tahu apa yang dikatakan oleh Caroline kepadamu. Bagaiman dia menanamkan ide-ide gila di kepalamu. Apakah dia ibu kandungmu atau bukan, mommy juga tidak tahu."


Diana berhenti, menghela nafas sejenak. Mengontrol emosi dirinya juga cukup penting. Dia pun terguncang melihat bocah yang dia sayangi membenci dirinya.


"Tapi satu yang Conrad harus tahu... bagi mommy, kau tetap adalah anak pertamaku. Aku menyayangi dirimu sama seperti Aaron. Mommy selalu ada bersamamu." Ujar Diana bersungguh-sungguh.


Mobil sudah memasuki halaman mansion.


Conrad keluar dari mobil tanpa berkata apapun. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuh diatas kasurnya.


Mata Conrad menatap langit-langit kamar. Kepalanya terasa pusing. Dia mencintai Diana dan karena itulah hatinya terasa sakit, ketika kenyataan mengingatkan dirinya, jika dia hanyalah seorang anak angkat. Dia bukan anak dari wanita yang di sayanginya.


Kenyataan yang membuat dirinya sakit dan terpukul, ketika Caroline datang dan mengatakan bagaimana Diana memanfaatkan dirinya untuk mendekati Andrew dan memisahkan orang tua nya.


Anak kecil ini harus menanggung beban yang berat. Tubuhnya semakin kurus dan jiwa nya semakin labil. Keceriaan telaj direngut dari dirinya.


Handphone milik Conrad berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Dengan enggan Conrad membaca pesan itu. Dari Caroline.


Ingat! Kau adalah anak kandungku.


Adik kandung mu adalah Francesca.


Kalian lahir dari satu rahim. Rahimku!


Dan kau jadilah anak yang berbakti.


Persatukan keluargamu.


Jangan menjadi anak durhaka terhadap ibu kandungmu.


Anak durhaka seumur hidupnya akan hidup terkutuk!


Apa kau ingin menjadi anak yang kualat?!


Conrad melemparkan handphone itu ke lantai. Dia menekuk kedua lutut dan memeluknya dengan erat. Conrad menjerit histeris dan dia menangis pilu.


Conrad menjerit pilu. Bahu nya terguncang. Dia meremas rambutnya dan tersedu dalam kesendirian. Dia tidak mau menjadi anak durhaka yang terkutuk. Jadi apa yang harus dia lakukan? Mematuhi ibu kandung atau kembali kepelukan wanita yang membesarkannya dengan tulus?


Dia hanyalah seorang bocah kecil. Pikulan itu terlalu berat di tanggungnya. Dii saat bocah seumurannya asyik bermain dengan video game atau baseball. Sekarang dia cenderung menyendiri menanggung beban yang terlalu berat.


Diana menggedor kamar Conrad, memohon agar anak itu membuka pintu kamarnya.


Jeritan Conrad menyayat hatinya. Dia dapat merasakan sakit hati yang mengguncang Conrad. Bocah itu terluka begitu juga dirinya.

__ADS_1


"Dia tidak pernah seperti ini, bahkan ketika dengan nyonya Rachel sekalipun." Ujar Nanny Maria pengasuh Conrad.


Aaron yang mendengar keributan dan mendengar Conrad menjerit, berlari menghampiri kamar kakaknya. Bocah yang baru datang dari sekolah playgroupnya, langsungg ikut menangis melihat ibunya duduk terisak didepan pintu kamar Conrad.


"Huaaa.... kakakkk... huaaa mommy... kenapa menangis... huaaaaa...." bocah kecil itu ikut menangis.


Diana memeluk Aaron dalam pelukan. Dia memenangkan dirinya dalam pelukan tangan-tangan kecil Aaron. Diana sadar dia harus kuat, masih ada balita kecil yang juga memerlukan dirinya.


Diana mengetuk pintu kamar Conrad.


"Tenangkan dirimu nak. Berdoa itu yang paling penting. Mommy dan Aaron selalu menyayangimu." Ujar Diana di balik pintu.


Kemudian dia berpesan pada nanny untuk menjaga pintu Conrad dan mendengarkan apabila ada hal yang penting.


Diana lalu membawa Aaron pergi dan membiarkan anaknya beristirahat. Kemudian Diana menghubungi Andrew.


*


"Tidak mungkin!" Ujar Andrew tidak percaya.


Andrew masih memegang smartphone nya sambil menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Dia baru saja mendapatkan kabar dari Diana, perihal apa yang terjadi pada Conrad dan juga Caroline.


Andrew menerawang jauh menjelajahi ingatannya akan Caroline. Tapi tidak pernah sekalipun wanita itu datang padanya dan berbicara mengenai kehamilan.


Andrew meremas smartphone ditangannya dan raut wajahnya sudah memerah dan tegang. Conrad anaknya? Anak yang dia adopsi sedari bayi adalah anaknya? Kebohongan apa lagi ini. Kenyataan apa yang di tutupi dari nya.


"Panggil Briant kemari." Perintah Andrew pada sekretarisnya.


Briant datang.


"Ada apa. kenapa kau begitu tegang?" Tanya Briant dengan heran.


"Apa yang kau tahu tentang Conrad?" tanya Andrew langsung.


"Bukan itu! Kau yang membantu pengadobsian Conrad. Apa kau tahu siapa orang tua kandungnya?"


Briant heran. Selama bertahun-tahun, Andrew tidak pernah terlalu perduli akan hal itu. Sekarang dia kenapa harus bersikap aneh. Kenapa setelah lebih dari sepuluh tahun dia menanyakan hal itu.


"Rachel yang menemukan anak itu. Dia mengatakan jika Bayi itu adalah, anak salah satu mantan pegawai kapal pesiar yang menjadi imigran." Jawab Bryant.


"Apakah kau menyelidiki pegawai yang mana?" Tanya Andrew menyelidik.


"Entahlah. Aku rasa sewaktu itu memang ada yang dilaporkan kabur dari salah satu kapal."


Andrew diam. Dia berpikir keras.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menyelidikinya? Anak itu sudah sah menjadi anak mu. Apa yang kau resahkan?" Tanya Briant dengan heran.


Andrew termangu.


"Caroline mengatakan jika Conrad adalah anak kami."


Briant terkejut. Andrew akhirnya menceritakan apa yang terjadi.


"Wanita itu tidak dapat kau percaya Andrew. Kau tahu aku tidak menyukai dirinya dari dulu. Kita harus menyelidiki kebenarannya." Ujar Briant.


Brak! Pintu dibuka dengan kasar.


"Andrew..." suara wanita masuk dengan paksa dan bersimbah air mata.


"Caroline. Apa yang kau lakukan disini. Keluar kau!" Bentak Briant dengan tegas.


Dia tidak suka melihat kehadiran Caroline. Bagi Briant, Caroline adalah parasit yang selalu mengganggu Andrew. Parasit ini harus dibasmi dan dibuang jauh. Jika perlu di tenggelam kan ke laut.

__ADS_1


"Andreww aku harus berbicara denganmu." Ujar Caroline dengan berderai air mata.


Briant hendak menyeret Caroline. Tapi, tangan Andrew memberi tanda untuk tidak melakukan hal itu.


"Katakan apa yang hendak kau sampaikan." Ujar Andrew dingin.


Caroline menoleh ke arah Briant, seakan bertanya kenapa pria ini masih berdiri disana dan tidak meninggalkan mereka berdua saja.


"Dia akan tetap disini. Apapun yang akan kau katakan, dia bisa mendengarnya." Ujar Andrew dingin.


Caroline ragu. Masuk dalam satu sarang harimau saja dia butuh tekad yang kuat, apalagi saat ini dalam sarang itu ada dua harimau. Dan sayang nya kedua harimau itu tidak tertarik dengan dirinya.


"Aku harus mengatakan rahasia ini." Caroline menghapus air matanya dan duduk di sofa. Jauh dari meja tempat Andrew berada.


"Kau ingat ketika sebelas tahun yang lalu, kita bertemu lagi? Setelah perceraianku dengan pria yang dijodohkan oleh orang tua ku?" Caroline menatap Andrew dengan sendu.


"Kita bertemu lagi dan cinta itu masih ada bukan. Kita memadu kasih dan berjanji untuk bersatu kembali. Kau ingatkan sayang janjimu untuk selalu menjagaku?" Ujar Caroline lagi dengam mengiba.


"Iya. Sebelum kau berkhianat untuk yang kedua kalinya." Sahut Andrew dingin.


"Tidakkk... tidak... aku tidak menghianati mu. Aku tetap mencintaimu, hingga saat ini pula, aku tidak pernah melupakanmu." Ujar Caroline disela-sela tangisnya.


Caroline menyeka air matanya dengan sapu tangan. Tapi semakin deras pula air mata itu.


"Rachel tahu hubungan kita dan dia memaksaku untuk meninggalkanmu. Aku..


Saat itu mengatakan padanya jika aku hamil anakmu, agar dia mengerti dan membiarkan kita bahagia. Tapi.... kau tahu, apa yang dikatakannya? Dia mengancam akan membunuh dirimu dan anak kita jika aku kembali padamu. Hiksss hiksss...."


Caroline tersedu.


"Bagaimana mungkin aku hidup jika kau dan anak ku meninggal? Kalian sumber hidup dan kebahagiaanku. Aku harus berkorban untuk itu. Dia berjanji akan menjagamu dan anakku jika... aku menyerahkan anakku padanya."


Caroline berhenti sejenak dan tersisak.


"Dan pilihanku tepat. Anak itu bahagian bersamamu. Dia Conrad. Dia anak kita." Ujar Caroline lagi.


Andrew dan Briant diam. Butuh waktu bagi mereka untuk mencerna kalimat Caroline.


"Kenapa baru sekarang kau katakan pada ku? Dan kenapa kau harus datang pada Conrad terlebih dahulu sebelum kau katakan kebenaran ini padaku? Kau tahu apa yang terjadi padanya? Dia berubah. Dia terguncang!" Ujar Andrew dengan amarahnya.


"Maafkan aku. Aku tidak menginginkan apapun selain pengakuan dari Conrad. Aku takut kau tidak percaya padaku dan menghalangi diriku bertemu dengan Conrad. Itu sebabnya Dia harus tahu." Sahut Carolone beralasan.


"Ini sehelai rambutku. Kau bisa melakukan test dna untuk itu." Caroline mencabut sehelai rambutnya dan meletakan diatas meja.


"Pergilah Caroline." Usir Andrew.


"Kau harus percaya padaku andrew. Aku tidak pernah menghianatimu. Aku sudah berkorban banyak untuk hal ini." Ujar Caroline lagi.


"Aku sudah mendengar semua alasanmu. Sekarang saat nya aku berpikir. Kau pergilah."


"Andrew... aku tidak menginginkan apa-apa. Hanya pengakuan jika aku adalah ibu Conrad. Aku merindukan anak itu.. kau harus mengerti." Caroline masih bertahan dan tidak mau keluar.


Andrew memberi tanda pada Briant. Briant segera memegang lengan Caroline dan memaksa wanita itu untuk keluar.


"Andrewwww... kau harus tahu. Conrad harus tahuuu... aku menyayangi kaliannn... aku ibu nyaaa. Jangan pisahkan kamiii... " teriak Caroline histeris.


Setelah keluar dari ruangan Andrew. Di depan pintu lift, Caroline menghentakan pegangan Briant dan melirik pria itu penuh kebencian. Lift terbuka dan Caroline masuk.


Setelah tertutup rapat. Caroline menyeka wajahnnya dengan tisyu. Sambil tertawa terbahak-bahak. Dia melihat pada sapu tangan yang dibawahnya.


"Hahhahahahah sapu tangan dengan sedikit aroma balsam ini, benar-benar ampuh... Hahhahahahhaha..."


...😥😥😥😥😥😥...

__ADS_1


__ADS_2