
Makan malam kali ini Diana tidak perlu memasak untuk keluarga kecilnya. Ada seorang cheft handal yang memasak dan menyediakan makanan bak hotel bintang lima. Berbagai menu makanan dengan porsi kecik tersedia dimeja hanya untuk tiga orang yang telah ditata dengan rapi oleh butler Jhon dan beberapa pelayan.
Ketika makanan sudah siap, butler Jhon naik ke langai atas dan mengetuk pintu kamar untuk memanggil kedua tuan rumah.
"Tuan dan Nyonya makanan sudah siap." Panggil butler Jhon di depan pintu kamar.
"Okey." Andrew menjawab dari dalam.
"Andrew, aku akan melihat Conrad dulu ya." Diana beranjak dari sofa hendak keluar kamar. Andrew menarik lengan Diana dengan tiba - tiba hingga tubuhnya jatuh terduduk di pangkuan dan berakhir kedalam pelukan Andrew.
"Andrew..." suara Diana manja protes dengan tingkah pria yang dia sayangi ini. Meskipun bukan pertama kali Andrew bersikap mesra tapi tetap saja tindakan ini membuat Diana berdebar dan pipinya bersemu merah.
"Kau hanya perlu memperhatikan diriku, Conrad ada Nanny yang mengurusnya." Kata Andrew sambil memencet hindung mungil Diana.
"Duhai pria manjaku, sedari tadi aku sudah memperhatikanmu. Apakah masih kurang?" Jawab Diana dengan gemas dan balik menjepit hidung mancung Andrew dengan kedua jarinya.
"Kurang. Akan selalu kurang." Jawab Andrew tersenyum menggoda.
"Idihhh manja." Diana memegang kedua pipi Andrew dengan gemas.
"Kau harus selalu memanjakanku selalu."
"Iya Bayi besarku."
"Peluk aku." kata Andrew dengan manja. Diana merengkuh kepala Andrew dalam pelukannya dan mengusap rambut belakangnya. Dengan posisi Diana diatas pangkuan Andrew, tentu saja kepala Andrew mendarat didadanya ketika memeluk. Seringai di wajah Andrew melebar.
"Empuk sekali pelukanmu." ujar Andrew sambil menggesekan wajahnya di dada Diana.
Diana langsung tersadar dengan perbuatannya. Dia langsung melepaskan pelukan dan mendorong tubuh Andrew.
"Sudah. Sudah." Diana menahan bahu Andrew agar tidak menjatuhkan kepalanya lagi ke dada Diana.
"Kuranggg" kata Andrew merajuk.
"Jangan banyak - banyak nanti bosan." Elak Diana.
"Tidak akan pernah bosan karena kau adalah canduku." Kata - kata Andrew terdengar begitu indah dan memabukan. Beruntung sekali kalimat itu bukanlah rayuan meskipun terdengar memabukan.
"Ah gombal." Jawab Diana dengan semu merah di pipinya. Andrew menyeringai lebar melihat sikap Diana yang pura - pura tidak perduli padahal wajahnya memerah dan degup di jantungnya berdebar kencang sama seperti pertama kalinya Andrew memaksa untuk memiliki dirinya.
Gadis yang sama dengan pribadi yang tetap polos meskipun penampilan luar, cassingnya sudah berubah menjadi lebih elegant dan dewasa.
Hal ini lah yang membuat Andrew semakin tergila - gila dan takut kehilangan.
Ketukan di pintu terdengar kembali.
"Iya iya. Kami akan keluar." Sahut Andrew.
"Ayo, Jangan membuat mereka menunggu kita makan malam." Andrew mengangkat Diana dan membiarkan gadis itu berdiri sambil membenahi gaunnya yang lusuh.
siapa juga yang membuat lama gumamnya lirih.
Mereka turun bersama. Setiap pelayan yang melihat mereka turun dapat melihat bagaimana tuan Andrew begitu memuja nyonya Diana. Butler Jhon telah memberikan peraturan kepada para pelayan untuk memanggil Diana dengan sebutan nyonya. Karena memang dialah wanita utama di rumah ini.
"Unty. Daddy. Ayo kita makan." Conrad tampaknya sedari tadi sudah menunggu mereka di meja makan.
"Conrad sudah lapar ya." Kata Diana dengan setengah menyesal.
"Iya. Kenapa Daddy dan unty lama sekali."
__ADS_1
"Iy Unty Diana kenapa lama sekali." Goda Andrew sambil mengerdipkan mata. Diana hanya mengerlingkan matanya dengan gemas pada Andrew tanpa menjawab pertanyaan Conrad.
Diana mengambi beberapa potong wedges potato juga crispy chicken serta saute vegetable dan meletakan dipiring Conrad.
"Makanlah sayang." Kata Diana dengan lembut sambil memandang penuh sayang kepada bocah kecil dihadapannya.
Conrad mengucapkan terimakasih kemudian melahap makanannya. Sementara Diana masih melayani Andrew dengan meletakan lauk ke piring Andrew.
"Andrew, apakah mereka perlu berada disini ketika kita makan?" tanya Diana. Para pelayan masih berada didekat mereka. Posisi siaga untuk melayani.
"Apakah kau keberatan?" tanya balik andrew.
"Aku hanya merasa risih mereka menonton kita makan." jawab Diana berbisik.
Andrew kemudian memanggil butler Jhon dan mengatakan untuk membawa semua pelayan termasuk dirinya meninggalkan mereka.
"Nah, ini baru terasa seperti keluarga." Ujar Diana sambil menikmati makanannya.
Andrew hanya tersenyum kecil. Suasana makan malam itu tidak ada bedanya dengan kehangatan yang biasa mereka rasakan ketika berada diruang makan kecil condominium. Andrew yang terlahir dengan sendok perak ditangannya, merasa hal sederhana ini adalah sesuatu yang mengisi kekosongannya sedari dulu.
Dahulu ketika Andrew masih kecil, hari - harinya lebih banyak dihabiskan sendiri bersama pengasuh. Ayah Andrew seorang yang mengutamakan bisnis daripada keluarga dan ibu Andrew selalu mendampingi suaminya dalam perjalanan bisnis ataupun dunia sosialita. Mereka memang pada dasarnya adalah pasangan yang saling mencintai dan memiliki jiwa bisnis. Dan tidak satupun dari mereka yang tahu bagaimana mengurus anak.
Dalam sebulan bisa dihitung dengan jari berapa kali dia dapat menikmati makan malam keluarga.
Kepergian ibunya semakin membuat ruang kosong dalam hatinya menjadi lebih besar. Dia dibesarkan dengan melihat ayahnya sebagai seorang playboy, meskipun tidak ada seorang wanita pun yang akhirnya dinikahi menggantikan ibu Andrew yang telah meninggal.
Kehadiran Diana membuat dia merasakan arti keluarga sesungguhnya. Diana membuat dia merasakah bagaimana cara mengasihi dan merawat Conrad. Bagaiman menjadi seorang pria, seorang ayah bahkan merasa sebagai seorang suami.
Deg! Suami! Andrew tersenyum kecut. Hal yang belum bisa dia berikan untuk orang yang dia cintai. Sementara dia membuat wanita dihadapannya tanpa ikatan tali pernikahan.
Maafkan aku! jerit hati Andrew.
"Heiiii kenapa kau makan sambil melamun?" tanya Diana sambil menggoyangkan tangannya dihadapan wajah Andrew.
"Baiklah." Diana tersenyum.
Setelah makan selesai, Diana memberitahu butler Jhon dan pelayan segera datang untuk membersihkan meja makan, sementara keluarga kecil itu dengan ditemani nanny beralih ke ruang keluarga.
Conrad mengeluarkan Puzzle besar dan membawanya keatas karpet.
"Ayo daddy kita bermain bersama." Andrew berjalan menghampiri Conrad dengan puzzle berjumlah 1000 keping dihadapan mereka.
"Aku angkat tangan. Aku bukan orang yang ahli dengan puzzle-puzzle ini." keluh Diana, melihat banyaknya puzzle kecil - kecil dihadapannya.
"Ayo cobalah." kata Andrew.
"Hmm aku akan membantu mengelompokan warna nya saja dulu. Untuk mempermudah kalian memasangkannya." Sahut Diana.
Diana mengamati puzzle Cars Familly dihadapannya dan berusaha mengelompokan kepingan puzzle kecil berdasarkan kelompok warna sesuai contoh.
Bukan hal yang mudah, bayangkan 1000 keping. bila jadi puzzle ini akan berukuran 1 meter.
Sementara Andrew mulai mengambil dan memasang kepinganm-kepingan yang telah dipilah dan merangkainya.
Conrad? apalagi yang dilakukan bocah ini selain sibuk berceloteh sambil mencoba meniru perbuatan Andrew.
"Conrad bosan ah. Conrad mau main hotwheel saja." Bocah itu kemudian masuk keruang bermainnya diikuti oleh Nanny.
Sementara Diana dengan berselonjor tertawa kecil melihat Conrad.
__ADS_1
"Ayo daddy semangat!!!" Ujar Diana memberi semangat sambil tersenyum lebar.
"Ayo bantu aku." Andrew masih berkutat dengan puzzle - puzzle begitu serius.
"Iya aku bantu." Diana mulai mencoba memasangkan bagian puzzle.
Setengah jam kemudian. Tepat jam 21.00.
Butler Jhon datang menghampiri.
"Tuan, nyonya apakah saya perlu menyediakan makanan dan camilan?" tanya butler Jhon dengan hormat. Melihat kehadiran Jhon, Diana tersenyum lebar. Ada sebersit ide nakal di benaknya
"Wine." Jawab Andrew.
"Tidak. Jangan wine. Teh saja butler Jhon dengan tiga gelas dan biscuits." Butler Jhon memandang Andrew sekilas. Ketika dilihatnya tidak ada sanggahan, dia kemudian melangkah menuju dapur.
Setalah butler Jhon pergi, Andrew memandang Diana dengan wajah yang protes.
"Tidak. Kau tidak boleh menegak wine. Kau harus mengurangi minuman itu untuk kesehatanmu." Diana mengerti arti wajah protes dari andrew.
Andrew tidak menjawab dan tidak membantah. Dan melanjutkan diri berkutat dengan puzzle nya sambil melirik kearah bagian yang dikerjakan Diana.
"Apa saja yang kau kerjakan, lihat milikku." Kata Andrew dengan nada mencemooh sambil tersenyum lebar mengejek. Diana baru bisa mengerjakan sebagian yang amat kecil. kalau di sentimeter, Andrew sudah menyelesaikan 20 cm sementara Diana baru mengerjakan 4 cm.
"Huh! Aku sudah berjuang keras ini." Wahah Diana cemberut menahan malu.
"Ha.ha.ha.ha. Baiklah." Andrew tergelak dan mulai berkutay di puzzlenya. Entah sejak kapam dia tiba - tiba begitu menyukai hal kecil seperti ini.
Butler Jhon datang dengan kereta dorong dan mulai menuangkan teh dan meletakan diatas meja.
"Gelas satunya apakah saya perlu membawa ke ruangan Conrad?" tanyanya pada Diana.
"Oh tidak.Itu buatmu." jawab Diana.
"Tapi nyonya." Butler terkejut menxengar perkataan Diana dan memandang ragu.
"Duduklah disitu dan nikmati teh itu." Diana menujukan arah di seberang dirinya.
Butler Jhon semakin ragu.
"Turuti perkataan nyonyamu." Kata Andrew yang merasa kesal konsentrasi nya terpecahkan akibat percakapan mereka. Butler Jhon akhirnya duduk dilantai dan menyesap teh nya
"Nikmat bukan?" tanya Diana.
"Iya nyonya." jawab Butlr Jhon singkat.
"Sekarang bantu dia. Aku sudah pusing." kata Diana menunjuk pada puzzle yang dikerjakan Andrew.
"Hei tidak adil." Andrew protes.
"Aku akan tetap disini. Memberi dukungan, biar butler jhon yang membantumu." Jawab Diana dengan cerdik.
"Jhon, tampaknya kau dikerjain." kata Andrew kepada butler Jhon.
Butler Jhon hanya dapat menyeringai kecil sambil mulai membantu tuannya mengerjakan puzzle.
Setengah jam kemudian.
"Lihat dia begitu mudahnya tertidur." Kata Andrew ketika melihat Diana tertidur dengan membaringkan kepalanya diatas tangan yang bertumpu pada meja.
__ADS_1
"Sebaiknya tuan membawa nyonya keatas. Biar saya yang menyelesaikan ini." Kata Butler jhon menunjuk pada puzzle yang sudah selesao setengah bagian.
"Tidak perlu kau selesaikan. Letakan diatas meja. Biar besuk kita lihat apa yang akan dikerjakan wanitaku ini." Jawab Andrew sambil membelai rambut Diana. Perlaha dia mulai membopong Diana dan membawanya ke kamar atas. Sementara Butler Jhon mulai merapikan Puzzle kemudian mengecek keberadaan Conrad yang gampaknya sudah tertidur diruang bermainnya.