
Akhirnya dicapai kata kesepakatan, jika kondisi kejiwaan Caroline tidak stabil dan juga dikarenakan adanya penyakit kanker otak yang di deritanya, maka dinas sosial akan mengambil alih Francesca.
Dengan argumentasi ikatan antara Conrad dan Francesca, dinas sosial setuju untuk memberikan hak asuh kepada Andrew. Mereka menerbitkan surat sementara agar Andrew bisa membawa Francesca. Sementara proses kelengkapan lainnya akan mereka kirimkan segera.
Andrew bernafas lega. Setidaknya masalah ini bisa segera selesai. Apalagi adanya dokumen sah yang ditandatangani Caroline. Sebagai penguat, Andrew meminta kepada psikiater dan kepala rumah sakit untuk menandatangani sebagai saksi.
Surat perjanjian itu berisikan penyerahan hak asuh Francesca dan larangan bagi Caroline untuk mendekati Andrew sekeluarga. Sementara dari pihak Andrew akan membiayai seluruh biaya perawatan Caroline.
Andrew juga menyumbang dalam jumlah yang besar untuk rumah sakit tersebut. Direktur rumah sakit tentu saja senang mendengarnya.
Pengurusan passport untuk Francesca pihak dinas sosial bersedia membantu mengurusnya.
Jujur saja, Andrew meskipun merasa kasihan pada Francesca dia belum bisa mencintai anak itu. Apalagi di adalah anak dari orang yang sudah mengkhianati dan hendak menghancurkan rumah tangganya.
Mengingat hal itu, Andrew menjadi heran seberapa besar dan dalamnya kasih sayang Diana. Dia bahkan mau mengesampingkan ketidaksukaannya pada Caroline dan membuka tangan juga hatinya lebar-lebar pada gadis kecil itu.
*
Keesokan hari nya. Andrew membawa Francesca kembali ke kediaman nya.
Dia mengajak gadis itu untuk menemui Lena. Lena sangat terharu melihat anak yang diasuhnya semenjak bayi tampak terawat.
Dengan mengenakan pakaian bak putri berwarna merah muda, juga mahkota kecil dikepalanya Francesca yang memeluk boneka teddy bear barunya, berlari ke pelukan Lena. Gadis kecil itu memeluk Lena kuat-kuat.
"Frances sayang, bibi merindukanmu. Frances sayang..."
Mereka berpelukan beberapa saat saling meluapkan kerinduan. Frances tampak sangat menyayangi pengasuhnya. Semua bisa melihat perbedaan sikap gadis itu kepada Lena dan kepada Caroline.
Setelah puas berpelukan, Frances turun dari pelukan Lena. Frances kemudian menggajak Conrad untuk melihat perkebunan anggur disebelah rumahnya.
Andrew duduk berhadapan dengan Lena.
"Caroline masih berada di rumah sakit dan sekarang dia dalam keadaan koma." Ujar Andrew memberi kabar.
Lena diam dan memperhatikan perkataan Andrew, yang perlahan menjelaskan situasi keadaan kemarin di rumah sakit
"Aku sudah mendapatkan hak asuh Francesca. Sekarang aku disini untuk meminta ijin kepadamu, karena bagaimanapun juga, Francesca telah kau asuh sekian lama." Andrew memandang wanita setengah baya yang duduk dihadapannya.
"Terimakasih tuan, kau sudah datang dan menolong anak itu. Francesca adalah kekuatan bagi saya untuk bertahan di rumah ini. Tolong kasihani dan sayangi anak itu. Tolong didik dia dengan penuh kasih sayang." Ujar Lena dengan bersungguh-sungguh. Air mata berlinangan di pipi nya.
__ADS_1
Lena kemudian beranjak dari duduk dan bersujud dihadapan Andrew. Andrew terkejut dibuatnya.
"Tuan, saya mohon, jangan pandang kesalahan dan kejahatan nyonya Caroline dalam diri Francesca. Jangan hukum anak itu untuk kejahatan ibunya. Tolong cintai dia. Jangan menganak tirikan dirinya, meskipun dia bukan darah daging anda.
Aku mohon tuan, jaga dan rawat Frances dengan penuh kasih sayang."
Lena berbicara dengan bersujud dihadapan Andrew.
"Bangunlah."
"Tidak, sebelum anda berjanji."
"Aku berjanji akan menjaga dan merawat Frances seperti anakku." Ujar Andrew.
Lena akhirnya berdiri dan kembali duduk di kursi.
"Terimakasih tuan atas kebaikan anda. Terimakasih." Ujar Lena bersungguh-sungguh.
Andrew memandang Lena. Wanita ini tampaknya sangat cerdas. Dia bisa berbahasa asing dengan baik. Bagaimana mungkin dia menjadi seperti ini.
"Bagaimana jika kau ikut dengan kami?"
"Saya akan tinggal disini tuan. Saya akan menjaga dan merawat rumah dan perkebunan ini untuk Frances. Jika suatu saat dia sudah dewasa, biarkan dia kembali untuk melihat peninggalan ayahnya." Lena membuat keputusan.
"Kau bisa ikut bersama kami. Mengenai perkebunan anggur ini kau tidak perlu khawatir dan rumah ini kau bisa menunjuk seseorang untuk tinggal dan merawatnya.
Lena menimbang sesaat. Kemudian dia beranjak dari tempat duduk nya dan masuk kesebuah ruangan. Lena kemudian kembali dengan membawa sebuah dokumen.
"Tuan, tolong jaga baik-baik dokumen ini. Disini adalah sertifikat kepemilikan dan surat wasiat tuan Manuel untuk Francesca. Berikan padanya ketika dewasa." Lena memberikan amplop tebal berwarna coklat kepada Andrew.
Andrew menerimanya dan memeriksa untuk beberapa saat. Kemudian dia kembali memandang Lena.
"Lalu apa keputusanmu?"
"Saya akan tetap tinggal beberapa waktu tuan disini." Ujar Lena bersikeras.
"Baiklah. Aku akan meninggalkan sebuah tiket dengan tanggal kosong untukmu. Kapanpun kau akan menemui Frances dan memutuskan tinggal bersama nya, kau bisa menghubungi assistentku, Raja."
Lena mengangguk menerima keputusan Andrew.
__ADS_1
Andrew kemudian memerintahkan Raja untuk tinggal beberapa hari lagi di Tuscany. Andrew meminta Raja untuk mengurus pertemuan dengan Theodore membicarakan mengenai perkebunan.
Agar Theodore mau membantu mengawasi perkebunan milik Francesca mengatur hasil kebun dan pembayaran pekerja. Keuntungan hasil perkebunan akan dimasukan dalam rekening atas nama Francesca.
Raja juga akan membantu membuat passport dan visa untuk Lena. Kapanpun wanita itu bersedia, dia bisa datang ke Miami menemui Francesca.
Sore harinya, Andrew mengajak Conrad dan Francesca kembali ke Penthouse, sekaligus berpamitan pada Lena. Besuk mereka akan kembali ke Miami.
"Frances, berpamitan ya dengan bibi Lena. Besuk kita akan berangkat ke Miami." Ujar Andrew sambil berjongkok dihadapan gadis kecil itu.
Francesca menatap Andrew dengan ragu.
"Bibi Lena tidak ikut?"
Andrew menggeleng.
Air mata turun di matanya yang bulat. Dia berbalik dan beralih memeluk Lena.
"Frances tidak mau pergi tanpa bibi... huaaaa..... Frances mau sama bibi.. huaa.. " gadis kecil itu menangis terisak dengan memeluk Lena kuat-kuat.
Lena terharu. Dia menangis dan memeluk Francesca.
"Bibi berjanji akan menyusulmu sayang. Kau pergilah dengan kakak mu." Ujar Lena menanangkan.
"Tapi aku mau sama bibi, huaaa.... Frances mau sama bibi. Frances tidak mau meninggalkan bibi." Isak nya.
"Frances, dengarkan bibi sayang. Frances bilang, ingin punya mommy seperti punya kakak Conrad kan? Ikutlah dengan kakakmu, kau akan memiliki ibu dan ayah yang menyangimu. Bibi tinggal disini hanya sementara. Bibi berjanji akan menyusulmu."
Ujar Lena dengan perlahan kepada Francesca.
"Kalau begitu, Frances pergi dengan bibi saja ya nanti, Frances sayang sama bibi Lena."
"Anak baik. Bibi juga sayang denganmu. Sekarang jadilah anak yang patuh ya. Pergilah dengan kakak Conrad dan daddy Andrew. Bibi menyayangi mu."
Lena mengangkat tubuh kecil Francesca dan memberikannya pada Andrew. Gadis kecil itu menangis, berteriak dan meronta dari pelukan Andrew. Andrew membawa gadis itu pergi, sementara tangan Frances terus menggapai ke arah Lena.
...💗💗💗💗💗...
CEO MANA KESUKAAN KALIAN.
__ADS_1