
Sehari sebelumnya.
Di sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elite, tampak suasana rumah sedikit berbeda dari biasanya. Beberapa pengawal tampak sedang berjaga-jaga, mereka berjalan mengitari rumah bergantian. Pergantian shift bahkan dilakukan secara teratur.
Di dalam rumah di suatu ruangan tampak seorang wanita muda dengan perut nya yang membuncit sedang berdiri merapat di tembok dengan butiran keringat yang menetes deras meskipun air condition menyala dingin.
Dihadapan wanita itu tampak wanita cantik lainnya yang sedang berdiri dengan sikap mengintimidasi mendekatinya sambil membawa garpu dengan lauk berjalan semakin mendekat.
"MAKAN!" seru wanita tersebut sambil melotot kesal kepada wanita hamil yang masih saja membungkan mulutnya.
"Ayo makan! Jangan sampai kamu mengadu tidak aku beri makan!" Serunya lagi dengan kasar. Kali ini dia sudah berdiri merapat pada wanita hamil tersebut. Sementara salah satu tangannya tampak menyentuh dagu wanita hamil tersebut dan tangan lainnya berusaha memasukan garpu berisi dada ayam panggang ke mulut wanita hamil tersebut.
"Mmmmm...." wanita tersebut bersikeras menolak dan menutup mulutnya rapat-rapat seraya memalingkan wajahnya. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia mendorong wanita dihadapannya kera-keras hingga wanita itu tersungkur.
"SI#L#NNNNN!!! Dasar wanita simpanan tidak tahu diuntung!" Wanita cantik itu berdiri dan bergegas menghampiri wanita hamil itu dengan marah kemudian menamparnya keras-keras.
Plak!
Plak!
Wanita hamil tersebut hampir tersungkur untung saja masih ada tempat tidur tempatnya berpegangan. Dia mengusap mulutnyanya dan menyeka darah yang menetes disela-sela bibir.
"Aku tidak akan menyentuh makanan darimu, Rachel!" Serunya lantang dengan amarah yang berkobar.
"Kau ingin mengadu pada Andrew? Kau ingin merajuk padaku?" Balas Rachel dengan lantang pula.
"Biarkan aku pulang, maka akan aku buat Andrew melupakan peristiwa ini." pinta Diana lagi.
"Heh, kau sekarang semakin sombong ya sebagai wanita simpanan. Kau sudah merasa naik status hah?!"
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, Rachel! Biarkan aku pergi dari tempat ini."
"Kalau aku menolak?" ujar Rachel dengan sinis.
"Apa yang kau inginkan dari ku Rachel?" tanya Diana dengan putus asa.
"Kalau aku ingin nyawamu, apakah kau akan berbaik hati memberikannya?" ujar Rachel seraya mengangkat kedua alisnya dengan senyum sinis yang tersungging.
Perkataan Rachel membuat Diana bergidik.
"Jangan berbuat sesuatu yang akan membuat Andrew makin membencimu." ujar Diana seraya berusaha membuat Rachel kembali kepada pikiran jernih.
__ADS_1
"Kalau begitu KEMBALIKAN ANDREW PADAKU!" Seru Rachel lantang sambil menekan ke setiap kata.
Diana duduk di pinggiran kasur sambil memegang perutnya yang kembali menegang. Dia menarik nafas panjang berusaha memberikan ketenangan pada bayi dalam kandungannya.
"Aku tidak bisa mengembalikan apapun padamu. Dia bukan barang Rachel. Berhenti memperlakukan dirinya seperti barang."
"Tapi kau sudah menggodanya!" Seru Rachel lagi dengan lantang. Kemudian suara nya melembut dengan drastis, "oleh karena itu tinggalkan dia dan berhenti menggodanya."
Diana melihat perubahan emosional Rachel yang naik dan turun secara cepat. Berubah dengan tiba-tiba.
"Maafkan aku, dari awal andaikan aku tahu dia sudah memilikimu aku akan menghindar lebih kuat. Tapi sekarang..." suara Diana terhenti setiap kata yang akan dia lontarkan tersekat didalam tenggorokan. Dia menitikan air mata sambil mengusap perut besarnya.
"Maka serahkan anak itu padaku. Aku yang akan merawatnya dan kau..wusss." Rachel melayangkan tangannya keudara.
Diana menatap Rachel dengan air mata yang masih menetes. Menyerahkan anaknya kepada wanita gila ini? Bahkan dia tidak bisa menghargai Conrad bagaimana mungkin dia bisa menyanyangi bayi ini.
"Kau meminta terlalu banyak. Kenapa kau menipu Andrew dengan mengatakan dia mandul?!" ujar Diana dengan berani.
"Dia memang mandul! Mandul!!! Dia tidak bisa memiliki anak denganku dan dia tidak boleh memiliki dari orang lain!" Rachel tiba-tiba menjerit histeris.
"Kau wanita breng#ek! Kau pasti hamil anak pria lain! Kau menipunyaa kan? Andrew bodoh! Hahahhahahah bodohhhh!!! Tabiat Rachel berubah lagi. Dia berbicara sambil tertawa tidak menentu arah kemudian tiba-tiba keluar kamar sambil membanting pintu.
Masih dia ingat dengan jelas ketika Rachel membawanya dari Dylan sore tadi. Mereka tiba di rumah ini ketika menjelang malam. Saat itu dengan kasar kedua pengawal menyeret dirinya dan kemudian mendorong nya masuk kedalam kamar yang tanpa penerangan.
Sambil memegang perutnya untuk menghindari benturan akibat dorongan dari kedua pengawal yang bertubuh besar itu, Diana menitikan air matanya. Dia berusaha bernafas dengan normal. Dia duduk di lantai bersandar di pinggiran kasur. Kemudian bersenandung lembut untuk menenangkan bayi dalam kandungannya.
Anak mommy sayang
Anak mommy sayang
This is mommy baby boy
Anak daddy sayang
Anak daddy sayang
This is daddy baby boy
Cintanya mommy
Sayangnya daddy
__ADS_1
This is our lovely son.
Cintanya daddy
Sayangnya mommy
This our lovely boy.
Setelah dirasakan perut nya tidak lagi menegang. Diana kemudian berdiri perlahan dan meraba mencari dinding untuk menemukan saklar listrik. Perlu waktu sesaat sebelum dia menemukan saklar dan menghidupkan lampu.
Dia menghela nafas. Setidaknya ada kasur dikamar kosong ini. Dia menoleh kepada jendela kecil disana yang tidak akan muat bagi dirinya kabur. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah berdoa berharap mujijat. Berharap Andrew datang menyelamatkannya.
Pintu dibuka tanpa mengetuk terlebih dahulu. Seorang pelayan wanita setengah baya masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dapat dia lihat dua orang pria bertubuh besar berjaga didepan.
Pelayan itu maju perlahan sambil memandangnya dengan sorot mata yang tidak dia mengerti.
Pelayan itu meletakan makanan di nakas kemudian memberi isyarat agar Diana mendekat.
"Nyonya jangan makan ini tapi air mineral aman. Dan ini, tolong sembunyikan dan makan dengan hati-hati." ucap pelayan wanita itu seraya berbisik amat sangat pelan hampir tidak dapat didengar.
"Apa yang kau lakukan! Cepat keluar!" seru pengawal tersebut dengan lantang ketika pelayan itu tak kunjung keluar setelah meletakan makanan.
"Iya. Iya." pelayan itu segera keluar dari kamar dengan tertunduk takut.
Setelah pintu ditutup kembali. Diana melihat apa yang diberikan pelayan itu, ternyata sandwich. Dia memakannya perlahan dan menyimpan setengahnya di pojokan kasur.
Saat ini setelah Rachel keluar dari kamarnya dia merasa sangat penting menghemat sandwich yang diberikan pelayan tadi. Meskipun sangat lapar yang bisa dia lakukan hanya mengisi botol air mineral itu dengan air keran penuh dan menegaknya habis.
Meskipun aroma makanan yang dibawa oleh pelayan itu menggoda selera makan ibu hamil di tri semester terakhir. Diana masih ingat dengan jelas peringatan pelayan itu. Oleh sebabnya dia membawa makanan itu menjauh dari dirinya.
"Maafkan mommy, baby Aaron. Mommy tidak bisa memberimu makanan bergizi saat ini. Bersabar ya sayang. Kita harus kuat, daddy sebentar lagi pasti datang menjemput." ujar nya sambil meneteskan air mata dan mengusap perutnya seraya menyanderkan badannya di kepala tempat tidur dan perlahan dia tertidur.
Tengah malam dia terbangun. Entah bagaimana dan sejak kapan ac di kamar sudah mati. Diana berusaha menghidupkan lagi tapi sia-sia dan ketika dia balikan baterai dalam remote sudah tidak ada.
Diana merasa tersiksa karena gerah. keri gat mengucur deras. Mungkin jika dia tidak dalam keadaan hamil besar, hal tersebut tidak akan menjadi masalah. Tapi dalam kondisi seperti ini suhu badan meningkat.
Diana berusaha membuka jendela kamar, tapi sia-sia. Jendela itu sengaja dibuat untuk tidak bisa dibuka. Dia kemudian mengkibas-kinaskan tangannya sambil menyeka peluh, mencari sesuatu sebagai kipas, tapi nihil. Akhirnya Diana masuk ke kamar mandi. Setidaknya masih ada exhaust fan disana. Dia duduk dilantai dan bersandar di dinding kamar mandi.
"Bukan waktunya bersedih sayang. Kita harus bersyukur masih bisa hidup bukan. Sekarang ayo tidur baby Aaron. Biar Tuhan yang menjaga kita dari segala macam bahaya."
ππππππππππππππππ
__ADS_1