
Diana menghela nafas panjang, akhirnya dia sudah kembali ke mansion pukul dua belas malam. Sesungguhnya acara belum selesai, tetapi tepat pukul sebelas malam, Diana berhasil menggiring Andrew untuk pulang.
Conrad dan Aaron sudah pulang terlebih dahulu bersama dengan nanny mereka. Acara untuk anak memang lebih singkat. Hanya sebatas waktu pukul setengah sembilan malam.
Setelah melihat ke kamar anak-anak dan memberi kecupan, mereka segera kembali ke kamar dan mulai mengganti pakaian.
Diana naik ke atas kasur terlebih dahulu dan menutup tubuhnya dengan selimut seraya tidur dengan posisi membelakangi Andrew. Andrew yang baru saja selesai membersihkan dirinya segera menyusul Diana dan memberikan pelukan hangat kepadanya.
Diana membuka matanya ketika dia mendengar desahan nafas teratur pertanda Andrew telah tertidur. Pikirannya melayang pada peristiwa di acara tersebut.
FLASH BACK
Gladys. Akhirnya dia bertemu dengan foto model itu lagi. Dan dia dengan percaya dirinya menghampiri Diana seraya tersenyum sinis.
"Ah, kau bartender itu bukan? Berhasil naik pangkat juga dikau." ucap Gladys begitu sampai di meja tempat Diana dan kelompoknya berdiri.
"Ah, nona Gladys tidak menyangka bertemu anda lagi." sahut Diana dengan tenang.
"Dunia ini kecil bukan, setelah sekian tahun akhirnya kau muncul juga di daratan. Tampaknya kau berhasil menjadi seorang putri hei, upik abu," Gladys mencibir kearah Diana.
"Apa kalian tidak tahu, dia ini dulu hanya seorang bartender yang menggoda boss supaya bisa menjadi seorang sosialita," sambung Gladys sambil terkekeh kepada ke tiga wanita lainya disamping Diana.
"Setidaknya dia berhasil memikat boss tersebut dan mendapatkan status yang jelas," sanggah Grisella yang tidak terima dengan hinaan Gladys.
"Heh, iy setelah membunuh istri pertama nya."
"Hati-hati dengan perkataanmu, Gladys." ujar Diana dengan geram.
"Apa aku salah? Kau dikawini setelah istri pertama nya meninggal bukan?" ejek Gladys.
"Mungkin kau bisa mengajari aku bagaimana membuat istri pertama cepat meninggal." sambung Gladys dengan terkekeh sinis.
"Tolong jaga perkataan anda nona Gladys. Asal kau tahu setidaknya statusku sudah jelas dengan satu pria yang mencintaiku. Dan aku tidak pernah merencanakan kematian siapapun," sahut Diana sinis kepada Gladys.
Tangan Diana mencengkeram gelas yang dipegangnya. Dia menarik nafas oanjang berusaha mengendalikan emosi. Sementara Gladys menepuk punggung tangannya dengan lembut.
"Hahaha karena hanya ada satu pria bodoh yang mau menerimamu." Gladys terkekeh dengan angkuh.
"Lihat aku. Hilang satu tumbuh seribu," ucap nya seraya membusungkan dadanya yang tanpa memakai bra. Gaun Gladys terbuka disisi bagian tengah depan membentuk huruf V yang panjang, hampir menunjukan pusarnya.
"Anda memang wanita hebat Gladys. Bagi ku, cukup satu pria yang mencintai ku dan selalu disamping mu hingga tua." ucap Diana dengan santai.
Sebesar mungkin Diana berusaha menahan diri dan bersabar dihadapan Gladys dengan segala hinaannya. Ini penampilan perdananya di depan umum sebagi istri sah Andrew dan dia tidak akan mempermalukan Andrew hanya karena seorang Gladys.
__ADS_1
"Heh, dasar kau wanita rendahan, kau tidak pantas untuk Andrew. Andrew membutuhkan wanita yang berkelas untuk mendampingi dirinya." ujar Gladys dengan angkuh.
"Seperti anda?" tanya YooRa
"Itu kau pintar," sahut Gladys dengan bangga.
"Tapi bukannya anda hanyalah seorang model yang bekerja dengan memamerkan tubuh," sahut Elina dengan lembut tapi sinis.
Gladys menoleh kearah Elina dan menatapnya sinis.
"Aku model berkelas. Hanya brand ternama yang memakai diriku. Victoria Secreet. Kalian pasti memakai pakaian dalam itu bukan?"
"Aku pakai Gucci." ujar Elina.
"Ah, aku pakai milik Prada," sahut YooRa.
Galdys geram.
"Terserah kalian. Setidaknya aku tidak munafik dengan siapa diriku. Semua pria bangga memiliki diriku. Dan kau Diana hanya memiliki seorang Andrew saja jangan besar kepala. Mantan buruh seperti mu tidak akan bertahan lama disisi Andrew, lihat bagaimana dia menyembunyikanmu selama bertahun-tahun. Itu tandanya dia malu akan dirimu." Gladys mengucapkan kata-katanya dengan penuh emosi.
"Nona Gladys, sebaiknya anda mengurangi mengkonsumsi alkohol, supaya cara berpikir anda lebih terbuka lagi dan jeli." ucap Diana dengan tenang.
Sebenarnya banyak yang hendak dia ucapkan tapi dia tahan dalam hatinya. Tidak akan oantas adu mulut di tempat seperti ini. Lagi pula Gladys tidak berarti apa-apa didalam kehidupannya.
Galdys menoleh dengan marah hendak melihat siapa orang yang mengusiknya.
"Caroline." desahnya dengan terkejut.
"Gladys jangan buat keributan, tenangkan dirimu disana ya, malu dengan mrs. Tania Pitt." ujar wanita cantik berambut pirang dengan bola mata yang besar indah.
"Benar katamu, tidak sepantasnya aku terpancing emosi berhadapan dengan wanita penggoda ini." ujar Gladys perlahan dengan sinis.
Kemudian dengan anggunnya Gladys meninggalkan Diana dan teman-temannya menujuk ke kelompok wanita yang berpenampilan serupa dengan dirinya. Sesampai nya disana tentu saja Gladys mulai berbicata sambil tertawa sambil sesekali menunjuk kearah Diana.
"Hallo, namaku Caroline. Kau bisa memanggilku Carol." wanita cantik itu memperkenalkan dirinya.
"Kalian pasti pertama kali bertemu dengan diriku. Ya, semenjak suamiku meninggal aku hampir tidak pernah tampil di public. Aku terlalu sibuk mengurusi perusahaan suamiku." Caroline menjelaskan tanpa diminta.
"Ah, kami turut berduka Carol. Maaf, jika kami baru mengenalmu juga." sambung Grisella. Karena sesungghnya dia juga tidak terlalu mengenal Caroline.
"It's okay, tentu saja kalian belum mengenal diriku. Karena selama bertahun-tahun aku tinggal di Itally." Caroline tersenyum ramah kepada mereka.
"Hingga setahun yang lalu ketika suamiku meningal, aku kembali lagi ke sini. Ah... betapa aku merindukan kota ini." ucap Caroline dengan melayangkan pandanganya lurus ke arah belakang punggung Diana.
__ADS_1
"Maafkan kami. Apakah kau baik-baik saja setelah suamimu meninggal?" tanya YooRa dengan perhatian.
"Ah tentu saja, masa berkabungku sudah selesai." ujar Caroline dengan tenang sambil menegak gelas champangne nya.
"Kalian harus menjaga suami kalian dengan baik-baik, berhati-hatilah dengam wanita seperti itu." ujar Caroline seraya melayangkan pandangan matanya kearah kelompok Gladys.
"Tentu saja. Mereka hanya tahu bagaimana menjajakan tubuh." tambah Elina dengan kesal.
"Ah, tampaknya acara akan segera dimulai." ujar Grisella yang melihat dimana pintu ball room telah terbuka.
"Bagaiman kalu kita bertukar nomor dan saling berhubungan. Lain waktu kita harus berkumpul dan mengobrol kembali," ajak Caroline seraya mengeluarkan ponselnya.
Akhirnya kelima wanita itu saling bertukar nomer handphone dan berjanji untk bertemu kembali.
"Diana, kau tampak diam saja. Apa ada masalah?"
"Ah tidak Carol. Aku baik- baik saja. Dan, oh ya maaf ... aku belum mengucapkan terimakasih padamu telah menyingkirkan Gladys dari hadapan kami." ujar Diana dengan rendah hati.
"Hahaha... sudahlah sesama teman kita harus saling mendukung. Aku masuk dulu ya. Bye.. sampai ketemu ladies." Caroline meninggalkan mereka dan masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan.
"Kalian sudah siap?" tanya Briant seraya memeluk pinggang Grisella.
Bertepatan dengan Caroline yang meninggalkan mereka, Andrew dan Briant juga suami YooRa datang menghampiri mereka. Sedangkan Elina yang datang sendiri tanpa pasangan mengikuti langkah merkea di sisi YooRa sahabatnya.
*
Diana membalikan tubuhnya dan menyejajarkan wajahnya dengan Andrew. Dipandanginya wajah pria yang tertidur pulas dihadapannya. Pria tampan, CEO perusahan besar yang berhasil menjeratnya masuk ke dunia gemerlap ini.
Diana mengingat setiap kalimat hinaan dari Grisella yang sesaat begitu mengena di hati nya.
Tapi dia berusaha menangkis semua pikiran buruk yang diantarkan malaikat penghasut itu.
Aku akan menjadi wanita yang pantas untukmu, sayang. Aku akan terap menjadi pribadi yang lebih baik untuk bersanding di sisi mu. Aku tidak akan membiarkan orang menghinamu hanya karena status masa laluku.
Desah Diana dalam hati sambil tetap melekatkan pandangan matanya ke arah wajah tampan Andrew yang tertidur pulas.
Diana sudah menghabiskan banyak waktu dalam kesehariannya di rumah hanya untuk belajar bahasa asing juga membaca atuapu menonton semua berita tentang perekonomian.
Dia bertekad tidak akan membiarkan orang menghina dirinya dan mempermalukan Andrew. Masuk dalam jajaran kehidupan Sosialita tidak lah mudah. Kehidupan itu penuh dengan trik dan manipulasi.
Dan dia hanya berharap ke tiga wanita yang dia kenal tidak akan berubah menjadi srigala berbulu domba.
πππππππππππππ
__ADS_1