
Flash back
Sebulan yang lalu di mansion Arthur Knight ayah kandung Andrew.
Pria setengah baya itu sedang duduk diam di ruang kerja nya sambil memandang keluar dari jendela yang menunjukan taman indah. Sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah membuka jendela ruang kerja dan membiarkan udara masuk. Ya semenjak kematian istrinya, ibu dari Andrew dua puluh enam tahun yang lalu.
Saat ini karena ucapan seorang wanita yang masih sangat muda, mulai menggelitik pintu hatinya. Kata-kata itu selalu tergiang di telinganya, "Tidakkah anda ingin hidup damai bersama dengan cucu anda?"
Cucu... sesuatu yang amat dia rindukan dan impikan.
Arthur membuka laci di lemari dan mengeluarkan sebuah album kecil dibukanya album itu lembar demi lembar. Disana tampak foto-foto kebahagiaannya, disaat Andrew kecil dan istrinya masih hidup.
Ada foto Andrew bayi yang telanjang dan foto sambil tengkurap, ada foto Andrew sedang tertidur dalam pelukannya, ada foto Andrew ketika pertama kali berjalan, pertama kali mengayuh sepeda. Semua begitu lucu. Tawa dan ceria seiring dengan kebersamaan keluarga mereka.
Tetapi semakin jauh dia membuka lembaran foto itu, dia melihat semakin jarang mereka berfoto bersama dan ketika bocah itu berusia remaja, tawa dan senyuman itu menghilang. Dia tidak dapat menemukan satupun foto masa remaja, masa kuliah dan saat menerima penghargaan apapun yang menunjukan senyuman ceria masa kecilnya.
Tidak ada satupun di album itu, kecuali....
Ya kecuali foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya yang mengikuti Andrew dan Diana. Ada senyuman disana, barisan gigi putih yang dipamerkan karena tawa lepasnya. Pelukan bahagia dan mata penuh cinta.
Arthur mengusap foto itu. Dia ingin kembali pada masa dimana Andrew selalu tersenyum, memeluk dirinya dan memanggil daddy. Tapi semua itu seakan terlambat. Rambutnya sudah memutih, kulit sudah mengeriput.
Semenjak kematian istrinya, Arthur sudah menggembleng Andrew menjadi seorang pengusaha. Dia tidak memperdulikan saat itu Andrew baru berumur sepuluh tahun. Dia membiarkan hari-hari Andrew dipenuhi dengan sekolah dan rapat bisnis. Bahkan saat Andrew baru berumur tujuh belas tahun dia sudah membawa Andrew pada pesta malam bisnis dan membiarkan anak itu melihat dirinya mengencani wanita.
Sekarang dia menyesal, karena ambisinya Andrew harus berkorban lebih jauh dengan menikahi anak dari keluarga Willingthon. Bukan hal yang rahasia jika keluarga itu kejam. Arthur kira dengan pernikahan bisnis dengan Rachel yang cantik juga cerdas akan mengamankan posisi Andrew.
Sayang sekali, semua itu salah. Andrew tidak pernah bahagia dan mereka selalu menggerogoti posisi Andrew.
"Tuan, ada seseorang mencari anda." ucap seorang kepala pelayan.
"Siapa?" kening Arthur berkerut. Tidak biasanya dia memiliki tamu tanpa janji temu terlebih dahulu.
"Itu.. itu.. eh.. tuan muda dan seorang wanita." ucap kepala pelayan tersebut.
Arthur tersentak. Sudah sekian lamanya Andrew tidak pernah lagi menginjakan kaki di rumah ini. Sekarang dia disini. Bukan saja Arthur yang terkejut. Semua pelayan lama terkejut juga bahagia mengetahui kehadiran Andrew.
Terakhir Andrew meninggalkan rumah ini ketika berdebat dengan Arthur karena dia harus menikahi Rachel. Setelah itu pernah sekali Andrew datang hanya karena menjenguk Arthur yang sedang sakit. Bahkan saat itu tidak ada sepatah katapun yang terucap.
Arthur melangkah dengan gagah menemui Andrew dan Diana. Dia bisa melihat senyuman hangat terukir di wajah Diana sementara Andrew tampak tegang.
"Selamat siang tuan besar." sapa Diana.
Arthur hanya menganggukan kepala sekilas pada Diana.
"Apa yang membuatmu kemari?" Pertanyaan tuan besar langsung terarah kepada Andrew.
"Kalau bukan karena dia, aku tidak akan menginjakan kakiku lagi dirumah ini." sahut Andrew dengan dingin.
Diana menoleh pada Andrew dan menepuk tangan Andrew perlahan.
"Andrew sayang, ingat perjanjian kita semalam." ujar Diana sambil tersenyum kecil. Andrew mendengus kesal. Kalau saja bukan keegoisan dirinya semalam, dia tidak mungkin berada disini.
Flash back on
Berhari-hari lamanya mereka memperdebatkan tentang nama yang akan diberikan pada bayi dalam kandungan Diana.
__ADS_1
Entah kenapa Diana begitu keras kepala menolak semua nama yang diberikan oleh Andrew.
"Pokonya aku tidak mau anakku memakai nama dengan huruf depan A. Kenapa harus A, kan ada huruf-huruf lainnya. Namaku juga berawalan D dan itu juga indah." ujar Diana bersikeras.
"Tapi anak pertama kita ini laki-laki dan Dia harus berada dibarisan paling depan. Huruf A itu pemimpin."
"Ah, itu kan teory. Briant bukan huruf A juga selalu memimpin, Jason huruf J juga pengusaha." bantah Diana dengan telak.
"Tapi Briant kan hanya menjalankan tugas yang aku perintahkan."
"Jason tidak itu. Obama juga huruf depannya bukan A, Jokowi huruf depannya J. Queen Elissabeth juga bukan A, tapi mereka semua pemimpin." ucap Diana dengan tetap menentang Andrew.
Andrew saat itu benar-benar tidak mengerti dan terkuras emosinya melihat sikap Diana yang tiba-tiba saja gigih mentangnya, padahal selama ini Diana selalu bersikap pengertian dan cenderung mengiyakan keinginannya.
"Pokoknya aku suka huruf depan A." ucap Andrew dengan jengkel.
"Nama apa yang kau inginkan untuk bayi kita?" tanya Diana dengan heran.
"Aaron. Aku suka nama itu. Terdengar macho." ucap Andrew sambil tersenyum penuh harap.
Ah... Diana menghela nafas pura-pura tidak perduli.
"Ayolah sayang... please nama Aaron ya." rayu Andrew.
"Entahlah.."
"Please..." Andrew benar-benar berharap Diana akan mengabulkan permohonannya. Tapi wanita itu tampak sangat gigih menolak dan tidak perduli dengan permohonannya hingga akhirnya setelah sekian lama.
"Baiklah Aaron tidak buruk juga. Aku setuju Aaron asalkan kau memenuhi permintaanku."
"Kau yakin, apapun?" tanya Diana sekali lagi
Andrew mengangguk.
"Aku ingin ke rumah tuan besar dan kau berbaikan dengan ayahmu."
Flash back off
Dan disinilah dirinya saat ini, bersitatap dengan canggung.
"Tuan besar bagaimana kabarmu?" tanya Diana dengan lembut.
"Seperti yang kau lihat, aku masih hidup." jawabnya dengan cuek.
"Itu anugerah paling indah tuan, hidup!" ucap Diana dengan lembut sambil menekankan kata hidup. Kalimat itu mampu membuat Arthur menoleh padanya.
"Apa maksudmu kau mengharapkan aku mati?"
"Oh, bukan begitu tentunya tuan. Saya saja bersyukur masih diberi kesempatan hidup dan berada disini." ucap Diana sambil tersenyum lebar.
"Tuh kan, sudah aku bilang, percuma berada disini. Dia tidak akan ramah pada kita." ucap Andrew dengan kesal melihat sikap ayahnya yang dia anggap sinis kepada Diana.
"Jadi kenapa kau ada disini jika tidak suka melihatku!" balas Arthur dengan kesal.
"Hei...Hei.. tuan-tuan yang terhormart disini ada seorang ladies, bersikaplah jantan." Diana berbicara dengan tegas kepada mereka berdua. Sontak ayah dan anak diam dibuatnya. Diana tersenyum kecil melihat sikap mereka.
__ADS_1
"Tuan besar bisakah saya berbicara dengan anda saja?"
Arthur diam tapi matanya melirik Andrew.
"Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua." ucap Andrew yang kesal merasa diusir.
"Tidak Andrew. Kau tetap disini. Lihat mereka tampaknya rindu padamu." ucap Diana sambil menunjuk pada kepala pelayan dan beberapa pelayan lain yang sedang mengintip disela-sela pintu.
Semua pelayan tersebut adalah pelayan lama yang dulunya pun selalu menemani Andrew disaat suka dan duka. Mereka merindukan Andrew setelah tidak bertemu hampir sepuluh tahun lamanya.
Diana berdiri dari duduknya dan menghampiri Arthur. Dia menanti Arthur berdiri dan mengikutinya menuju ke ruang kerja Arthur diiringi oleh pandangan mata Andrew.
Setelah kepergian mereka, kepala pelayan memberanikan diri untuk menghampiri Andrew.
"Tuan muda bagaimana kabar anda?"
Andrew menoleh kepada asal suara, "Ah butler Markus, duduklah. Aku baik-baik saja kau lihat diriku sekarang."
"Benar, tuan muda tampak bahagia." Butler Markus kemudian duduk di hadapan Andrew. Dia bisa melihat perubahan Andrew dulu sebelum menikah, setelah menikah dan saat ini ketika bersama wanita itu.
"Iya, aku bahagia saat ini sekaligus khawatir."
"Apa yang menjadi beban pikiranmu, tuan muda?"
"Proses perceraianku tampaknya menyakiti kekasihku."
"Nyonya Rachel dan keluarganya bukanlah hal yang mudah tuan."
"Kau benar." Andrew menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Matanya menatap langit-langit rumah.
"Anda harus bertahan tuan demi kebahagiaan orang-orang yang anda cintai." Nasihat butler Markus.
"Tuan, bagaimana kabar Jhon dan Nanny Maria."
"Ah iya, seharusnya aku membawa mereka kemari. Sudah lama kalian tidak pernah bertemu bukan?" Andrew menatap butler Markus dengan pandangan bersalah.
"Mungkin, lain kali ketika tuan besar berkunjung, saya akan meminta ijin untuk ikut."
"Bagaimana keadaan pria tua itu?" pertanyaan Andrew mengacu pada ayahnya.
"Tuan besar banyak merenung akhir-akhir ini. Dia tampak merindukan anda. Apalagi setelah pulang bertemu dengan kekasih anda, tuan besar sering mengurung diri di ruang kerja untuk membuka album lama."
"Ah, benarkah pria tua itu tidak bersikeras lagi? Dia juga salah satu orang yang menentang perceraianku." dengus Andrew dengan kesal.
"Karena saat itu tuan besar mengkhawatirkan anda. Nyonya Rachel dan ayahnya pernah kemari untuk mengancam tuan besar jika sampai kalian bercerai, mereka akan menyakiti anda."
"Mereka keluarga gila! Aku sudah muak dengan tekanan mereka."
"Awalnya tuan besar terpengaruh. Tapi akhir-akhir ini dia tampaknya tidak perduli. Dia ingin percaya pada anda."
"Heh! Tidak aku sangka dia bisa berubah."
Andrew berdiri dan memandang foto dinding dimana disana terlihat kedua orang tua dan dirinya yang masih kecil tersenyum bahagia.
Andrew berjalan semakin kedalam diikuti oleh butler Jhon. Dan saat itu dia mendengar teriakan Diana dari arah dalam ruang kerja ayahnya. Sontak dia segera berlari dengan penuh kekhawatiran dan membuka pintu ruang kerja dengan kasar.
__ADS_1