Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
31. Roma


__ADS_3

Perjalanan ke Eropa dengan kekasih hati, hayooo siapa gak bahagia coba. Berjalan dengan menggunakan pakaian serba mahal ditengah - tengah kalangan atas. Menikmati pelayanan kelas satu baik di atas Cruise ataupun ketika berjalan menikmati area wisata.


Diana begitu ceria dengan senyum lebarnya berfoto kesana kemari. Berpose, tersenyum dan menyapa penduduk lokal. Ketika Andrew sedang sibuk rapat dengan sabar Diana menunggu di kamar atau deck kapal sambil berbincang akarab baik dengan tamu maupun crew. Semua crew menghormati dia dengan indetitas baru yang dia sandang sebagai wanita Andrew. Beberapa kenalan lama yang dia jumpai pun, menyapa akrab sok kenal sok dekat. Sebagian tulus sebagian mencari celah agar mendapatkan promosi.


Meskipun berkali-kali dia tegaskan kalau dirinya tidak dapat campur tangan bukan saja tidak dapat tapi tidak ingin.


Tak jarang Diana turun sendiri menikmati keindahan kota. Seperti saat ini ketika Cruise bersandar di Roma. Andrew harus mengikuti rapat pertemuan dengan rekan kerja di Eropa


"Aku keluar sendiri yaaaaa pleaseee." Diana merajuk.


"Kau yakin? Kau bisa ikut aku di hotel tempat aku rapat dan menikmati fasilitas disana, spa atau apapun." Andrew memberikan pilihan lain.


"Tidak ah, baru saja kemarin aku menikmati spa di cruise."


"Kau hendak kemana?" tanya Andrew lembut sambil mengenakan kemeja nya. Diana berjalan ke arah Andrew dan mulai membantu memasangkan dasi berwarna biru laut, " Vatikan. Boleh yaaa aku inginnn sekali mengunjungi tempat itu." Diana merapatkan kedua tangannya di dada , memohon.


"Bawa salah seorang anak buahku menemani mu. "


"Hmmm... bisakah aku pergi sendiri. "


"Bagaimanaa kalau kau tersesat? Ini wilayah baru bagimu. "


"Kan banyak penunjuk jalan." Diana enggan berjalan dikawal dengan anak buah Andrew. Dia merasa tidak bebas karena mereka hanya akan mengikutinya saja tanpa berbicara apapun.


"Tidak jika kau sendirian. " Andrew melarang.


"Hmmm bagaimana kalau aku pergi dengaan staff yaa ada Yanti. "


"Siapa Yanti?"


"Dia barista disini. Kau pernah bertemu dengannya. Dia akan ke Vatikan hari ini dengan suaminya. "


"Kau yakin ?"


Diana menganggukan kepala nya mantap.


"Baiklah." Andrew mengangguk memberikan ijin.


"Asyikkkk terimakasihhh sayang." Cup kecupan terimakasih mendarat di bibir Andrew.


"Bawa kartu ini. "Andrew memberikan kartu berwarna hitam yang biasa digunakan hanya oleh kalangan bilioner yang


dengan biaya administrasi tahunan nya saja bisa beli mobil.


"Tidak ." Diana menolak.


"Kenapa ?" Andrew merasa heran baru pertama kali ada wanita yang menolak mendapatkan kartu mewah itu. Meskipun kartu hitam miliknya itu pertama kali dia tawarkan kepada wanita. sebelumnya wanita lain hanya membawa kartu berwarna silver.


"Takut hilang." Jawaban singkat.


"Dijaga biar tidak hilang."


"Enggak mau. Nanti kalau jatuh atau di copet gimana, trus nanti sama yang copet dipakai yang tidak-tidak. Aduhh bagaimana aku menggantinya." Diana menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Ganti dengan hidupmu. " Andrew berbicara sekenanya sambil mengenakan kaos kaki.


"Hidupku." hiii... Diana merinding membayangkan kepalanya yang ditutup kain dan algojo menghunus golok tajam.


"Apa yang kau pikirkan." Andrew menyentil perlahan kening Diana. Diana mengusap keningnya yang tidak sakit sambil meringis manja.


"Bayar dengan tinggal di sisiku seumur hidupmu. " Andrew menarik Diana kepangkuannya dan mulai ******* bibir gadis itu.Ciuman berlangsung sesaat hingga Diana menghentikan ciuman dengan mendorong Andrew. Bahaya kalau dibiarkan lebih lama.


"Sudah. Nanti terlambat rapatnya."


Dengan enggan Andrew melepaskan pelukannya kemudian dia beranjak dan membuka dompetnya. Mengeluarkan beberapa uang cash dan meletakan diatas tas Diana.


"Gunakan ini untuk membeli yang kau inginkan. Aku tidak mempunyai banyak uang cash. "


"Baiklah terimakasih sayang. "


Diana menutup pintu kamar dan menghitung cash yang diberikan Andew. Wah...10.000 euro ini bisa beli mobil satu .


*****************


Perjalanan ke Vatikan bersama Yanti dan suaminya menyenangkan bagi Diana. Meskipun ingin sekali dia lewati bersama Andrew.


Tapi setidak nya keceriaan yang dia rasakan saat ini lebih dari cukup.


Memasuki Gereja Vatikan harus melalui antrian panjang dan melewati metal detektor seperti memasuki bandara. Setiap wanita yang mengenakan pakaian diatas lutut harus membeli kain sarung untuk menutupinya. Makanan dan minjman ditinggalkan diluar. Dan entah bagaimana mereka bisa lalai dan membiarkan coklat didalam tas Diana begitu saja.


Diana memasuki Gereja Vatikan yang dibuka pada beberapa hari untuk wisatawan dan ditutup pada hari-hari tertentu untuk kegiatan ibadah maupun pemeliharaan. Beruntung sekali saat ini Gereja


Vatikan dibuka.


Hingga perhatiannya terhenti pada anak kecil laki - laki berusia sekitar Lima tahun yang merengek menangis dan merajuk kearah seorang wanita yang tak menghiraukannya dan malah berlutut dibawah patung bunda Maria. Sedangkan wanita lainnya berdiri tegak memandang tajam pada Diana tanpa menghiraukan rengekan anak itu. Merasa kesal tidak dihiraukan anak itu berlari pergi dan tanpa disadari menabrak Diana.


Diana menangkap anak itu dan berlutut mengusap air matanya.


"Kenapa kau menangis?"


Anak itu tidak menghiraukan malah menangis semakin keras.


"Cup.. cup sayang.. anak ganteng tidak boleh menangis. " Diana berusaha menghentikan tangisan anak itu. Sedikit heran bagi dia bagaimana mungkin kedua wanita itu tidak menghiraukan anak laki-laki yang sedang menangis ini.


"Ini unty ada coklat, mau?" diana mengeluarkan sebungkus toblerone dari tas nya dan memberikan pada anak kecil yang segera mengusap air matanya dan menerima toblerone dari tangan Diana.


"Thankyou unty." bocah itu mulai menghentikan tangisannya dan berusaha membuka bungkus toblerone.


"Sini unty bukakan. Namamu siapa?" Diana membuka toblerone dan memberikan pada anak itu yang segera menerima dan memakannya.


"Conrad. "


"Nama yang bagus." Diana melihat kearah wanita yang sebelumnya bersama dengan Conrad. Masih dengan heran memandang mereka. Satu wanita masih berlutut sedangkan wanita lainnya tetap berdiri dan memandang dingin kearah mereka tidak menghiraukan Conrad yang bersamanya.


"Mereka keluargamu ?" tanya Diana sambil menunjuk ke arah kedua wanita dari asal Conrad berlari.


"Iya . Itu mommy yang lagi berdoa dan unty Meredith disampingnya." Conrad menunjuk kearah mereka. Diana mengangukan kepala kepada Meredith tapi tidak dihiraukan .

__ADS_1


"Conrad, unty antar ke mommy ya. " Diana berdiri hendak menggandeng Conrad kembali ke ibu nya.


"Gak mau. Conrad tunggu mommy selesai berdoa disini saja bersama unty. " Conrad kemudian duduk di sudut ruangan sambil asik menikmati coklatnya.


"Baiklah. " Diana duduk disebelah Conrad.


"Conrad tidak berdoa bersama monmy ? " tanya Diana.


"Enggak ah. Mommy berdoa nya tidak sungguh-sungguh. "


"Maksud conrad ?"


" Iya mommy berlutut disana tapi tidak berdoa, malah bicara dengan unty Mer."


"Oohhh." Diana hanya mengangguk - angguk kan kepalanya mendengar cerita Conrad.


"Mungkin mommy beneran berdoa sayang. "


"Enggak . Katanya mommy mau menghancurkan selingkuhan daddy. Selingkuhan itu apa ya unty?" Conrad bertanya polos. Diana sedikit terkejut, bagaimana mungkin seorang dewasa berbicara seperti itu dihadapan seorang anak kecil.


"Hemm unty juga kurang paham. Sudah Conrad tak usah memikirkan itu yaa itu urusan dewasa."


"Unty aku haus. "


" unty tidak membawa minuman sayang. Tadi ketika masuk tidak diijinkan membawa air. " Diana sedikit bingung, dia hendak membawa Conrad untuk membeli minuman tetapi itu harus keluar dari gedung.


"Anak siapa itu Diana ?" tanya Yanti yang mendekat.


" itu.. " Diana menunjuk pada dua wanita yang sekarang sudah berdiri dan mulai menghampiri mereka.


"Kok bisa disini?" tanya Yanti berbisik.


"Nanti saja ceritanya." balas Diana berbisik.


"Mommy." Conrad melambaikan tangannya kearah kedua wanita yang sedang menghampiri mereka.


"Mommy aku dapat cokelat dari unty... eh, siapa nama unty?" conrad menoleh pada Diana, dia lupa menanyakan nama Diana padahal cokelat yang diberikan Diana sudah hampir habis.


"Unty Diana." jawab Diana sambil membelai rambut Conrad.


"Iya Unty Diana memberikanku cokelat ini. " Conrad menunjukan cokelat yang tinggal sepotong ditangannya.


Diana tersenyum dan mengambil tisyu basah dari tas kemudian melap mulut Conrad yang belepotan.


"Trimakasih sudah menjaga anak saya. Kenalkan saya Rachel dan ini sepupu saya Meredith. "


Mereka saling berjabat tangan, Diana tersenyum hangat sedangkan kedua wanita tersebut memandangnya tajam tanpa senyuman.


########


Mulai tegangg yaaaa... Meredith dan Rachel sudah mulai muncul. Ada kisah apa yaaaa ...


Hai.. guysss... dukung dan vote ceritaku yaaaa... bantu like dan sharenya yaaa...

__ADS_1


Juga kritik dan sarannya.


Trimakasih


__ADS_2