
Pagi itu sebelum Diana menemani Conrad kepantai sebuah notifikasi chatt wa yang panjang masuk. Diana membuka ponsel nya ketika mendengar ada tanda pesan masuk. Tertera nama Lia Oktavia, adik semata wayangnya.
*Kakakkkk mau curhat nichhhh.
Aku sudah putus dengan Gege. Sebelll aku sama dia. Bukan cuma sebel tapi benci.
Kakak tahu setelah sekian lama hubungan kita, dia ternyata menghianati aku.
*Dia selingkuh π selama enam bulan.
Dan aku baru mengetahuinya ketika wanita itu datang padaku.
Gila kan? Harusnya aku yang melabrak mereka, eh justru wanita itu yang memintaku pergi.
Aku benci dia, aku benci wanita yang masih mendekati dia meskipun tahu Gege punya pacar. π€¬
*Awalnya aku akan mempertahankan Gege. Tapi, aku pikir buat apa aku mempertahankan penghianat.
Aku benci mereka. Dasar wanita pelakor*.
*Tenang kakak aku sudah tidak menangis lagi.
Pria seperti itu tidak pantas menerima air mataku.
Air mataku terlalu berharga untuk tukang selingkuh.
*Aku kangen sama kakak.
Semoga kita bisa segera bertemu
Oh ya, kapan kakak menikah dengan kak Andrew?
Muahhhh*...
Tangan Diana bergetar. Tangisan kembali mengalir diwajahnya. Dan dia kembali merasa mual.
Aku ini apa. Aku juga terhimpit diantara suami dan istri. Aku juga merebut suami orang.
Bagaimana aku bisa berhadapan denganmu.
Apakah kau juga akan membenciku jika mengetahui statusku?
Diletakan smartphone miliknya di meja taman. Dia tidak membalas pesan dari Lia. Perasaan hati nya sangat buruk saat ini.
Terlintas dalam benaknya untuk meninggalkan Andrew dan mengembalikan keluarga ini kepada Rachel. Mungkin ini yang terbaik bagi semuanya.
Tapi terlintas lagi keraguan dalam dirinya. Cerita daei butler Jhon bagaimana wanita itu memanfaatkan Andrew dan menelantarkan Conrad membuat dirinya galau. Hatinya kembali bimbang. Mempertahankan Cinta atau menyerah? Salahkan aku mencintai dia yang bukan milikku?
Butler Jhon datang dengan seorang tukang taman, membawa berkarung-karung tanah humus, benih bunga juga pot-pot cantik.
"Tuan Andrew memesan ini untuk anda nyonya."
Andrew tahu, ini kesibukan yang dibutuhkan Diana untuk mengalihkan perhatiannya. Terbukti saat itu juga wanita ini langsung tersenyum. Terlalu lembut hatinya, begitu mudah dia mengesampingkan persoalan dengan memfokuskan diri pada hal lain.
***************
"Lepaskan tanganmu dari dia!" itu adalah kalimat pertama yang Andrew katakan ketika masuk ke ruang dimana Diana dirawat. Saat itu ketika pikiran kalut dan persaaan tidak tenang dia melihat seorang pria menggenggam tangan Diana yang masih tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Siapa kau kenapa kau menyentuhnya." nada suara Andrew terdengar sangat marah.
"Dan kau siapa?" balas Jason tak kalah sengitnya.
"Dia adalah isteriku. Dia milikku. Dia wanitaku!" sahut Andrew dengan tegas. Dia menjadi jengkel karena Jason masih saja menggenggam tangan Diana. Saat ini tanpa ragu dia menyebutkan Diana adalah isterinya, karena bagi dirinya meskipin status mereka belum resmi, Diana adalah satu-satunya wanita yang dia cintai, wanita yang menghargai dan membuat dirinya utuh.
"Lepaskan dia!" Ingin sekali rasanya Andrew menarik dan menghantam pria ini jika dia tidak ingat kalau Diana bisa saja terluka.
"Okey." Jason melepaskan tangan Diana.
"Oh ternyata kamu pria yang sama yang telah membuat dia menderita dan dipermalukan. Kau mengakui dia istrimu tapi masih tidak bisa menjaganya sama seperti dulu." kata Jason dengan nada mencemooh.
"Kau! Siapa kau?"
"Aku Jason. Kita pernah bertemu di VVIP club Grand Cayman."
Ingatan Andrew langsung menuju kearah seorang pria yang memeluk Diana ketika wanita itu hendak jatuh saat mabuk. Dimana pria yang sama telah memberikan kartu nama yang sudah ia buang. Tak disangka pria itu muncul kembali dihadapannya. Dan dia tidak menyukai kehadiran pria itu.
"Ah, kau pria yang suka ikut campur." ejek Andrew dalam nada suaranya.
"Benar. Karena wanita ini terlalu berharga untuk kau jadikan simpanan!" ucap Jason dengan sengit.
"Kau! Keluar! Tinggalkan ruangan ini! Jangan campuri urusan kami!" ucap Andrew dengan marah. Dadanya terbakar dengan sindiran yang diberikan Jason.
"Lebih baik dia bersamaku. Aku akan menjadikannya Ratuku bukan wanita simpanan." sindir Jason lagi telak.
Kemarahan Andrew sudah memuncak Wajahnya merah padam dan matanya memancarkan kobaran api, satu tangannya sudah menarik kerah Jason dan tangan satunya sudah mengepal hendak menghajar Jason. Pria itu tidak tinggal diam dia balas mendorong tubuh Andrew dan siap memukulnya saat itu lah dokter Michael segera menghentikan.
"Jangan buat keributan disini. Diana membutuhkan istirahat.Tuan Jason, mari ikuti saya, ada yang harus saya tanyakan pada anda. ." dr. Michael berusaha menengahi perdebatan mereka. Keributan tidak akan pernah selesai bila salah seorang dari mereka tidak mengalah.
Jason menurunkan tangannya yang sudah terayun diudara, dia menarik nafas panjang dan menoleh pada Diana yang sedang terbaring. Dia sadar, perselisihan dengan pria itu tidak akan membantu Diana untuk segera pulih.
"Daddy... aku takut." ucap Conrad sambil berlari dalam pelukan Andrew. Andrew mengangkat Conrad dan membiarkan bocah itu duduk di pangkuannya.
"Tenang, daddy sudah ada disini." ucap Andrew dengan lembut berusaha menenangkan Conrad sambil mengusap kepala bocah itu. Dia menarik nafas panjang berusaha meredakan kemarahannya pada Jason.
Dia mengalihkan pandangannya pada Diana yang masih tidak sadarkan diri. Mengusap tangan yang baru saja disentuh Jason dengan tisyu basah seakan membersihoan setiap noda virus yang ditinggalkan Jason.
"Daddy, mommy Rachel tadi begitu mengerikan."
"Kenapa kau masih memanggilnya mommy?"
"Ah iya benar. Kalau begitu Conrad akan memanggilnya nenek sihir." ucap Conrad dengan berani.
Andrew tertawa dan mengelus kepala bocah itu.
"Daddy apakah mommy Diana akan baik-baik saja?"
Andrew memandang Diana dan mengangguk menjawab pertanyaan Conrad.
"Kenapa dia pingsan lama sekali?" tanya bocah itu tak mengerti.
"Mommy masih capek sayang. Biarkan dia beristirahat terlebih dahulu." Andrew membelai rambut Conrad dengan sayang.
"Daddy apa itu artinya anak pungut?" pertanyaan yang keluar dari mulut kecil ini membuat Andrew tersentak.
"Kenapa kau menanyakan itu?"
__ADS_1
"Nenek Sihir bilang Conrad adalah anak pungut yang tidak tahu terimakasih." ucap Conrad dengan polos.
"Jangan pernah hiraukan semua perkataan nenek sihir itu. Conrad hanya perlu mendengarkan perkataan dari mommy Diana ya." Andrew menegaskan.
Conrad hanya mengangguk-angguk merima penjelesana Andrew.
"Sekarang pulanglah dengan Nanny, beristirahatlah dirumah." perintah Andrew lembut kepada Conrad.
Conrad mengangguk patuh.
"Nanny bawa dia pulang. Jaga baik-baik jangan sampai ada hal yang buruk terjadi. Bawa dua orang pengawal bersamamu dan minta Papito mengantar kalian."
"Baik tuan." Nany menggandeng tangan Conrad dan membawanya pulang.
Sepeninggal Conrad, Briant masuk.
"Aku sudah menghubungi kepala pengacara. Dia mengatakan bahwa pihak Rachel sedang mengulur waktu kembali untuk pertemuan ulang."
"Wanita itu benar-benar ular. Upload video itu ke internet, tapi jangan disebarkan terlebih dahulu. Kirimkan sekali lagi kepada dia, buat itu sebagai ancaman." perintah Andrew.
"Baik. Akan aku lakukan."
"Aku tidak percaya kalau di masih tetap tidak menandatangani surat cerai setelah kau unggah video ke internet. Dia tidak mungkin membiarkan keluarganya dipermalukan."
"Aku mengerti. Mengetahui itu aku menjadi jijik terhadap keluarga Rachel. Jangan-jangan kasus karamnya kapal pesiar sepuluh tahun yang lalu adalah ulah keluarga itu." ucap Briant sambil merenung. Memang tidak biasa Briant akan mengucapkan suatu amsumsi yang belum ada bukti.
"Benar. Aku juga sempat berpikir hal itu. Penyelidikan penyebab utamanya memang masih belum diketahui sampai sekarang." Andrew membenarkan kata-kata Briant.
"Kakak ipar masih saja belum sadar?" tanya Briant sambil menoleh pada Diana yang masih terlelap.
"Iya. Lihat kasihan sekali dia harus menghadapi Rachel sendirian dua kali."
"Kau mencintainya Andrew?" tanya Briant tiba-tiba.
"Bicara apa kamu. Setelah semua yang terjadi kau masih meragukan perasaanku padanya?" Andrew terdengar kesal.
"Seandainya kakak ipar..." belum sempat Briant menyelesaikan perkataannya dua orang perawat masuk.
"Maaf tuan, kami hendak memeriksa nyonya terlebih dahulu." ucap salah seorang perawat senior kepada Andrew yang duduk didekat Diana agar Andrew bergeser.
Andrew mengangguk dan memberi ruang kepada perawat itu. Tampak mereka memeriksa denyut nadi Diana dan juga tensinya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Andrew.
Seorang perawat yang lebih muda dengan bangga berkata, "ibu dan bayinya baik-baik saja."
ππππππππππππππππππππ
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
__ADS_1
Terimakasih. π