
Rutinitas setiap pagi Diana, sebagai seorang istri dan seorang ibu tentu nya sangat berat. Dimulai dengan memberikan ciuman hangat untuk suami, mempersiapkan keperluan suami untuk bekerja, kemudian menuju kamar bayi untuk menimang buah hatinya dan memberikan susu hingga menuju kamar Conrad memastikan bocah sd kelas empat itu sudah benar-benar bangun dan tidak menyusahkan pengasuhnya.
Setelah itu dengan masih menggendong Aaron, Diana akan memeriksa bekal yang telah dipersiapkan oleh koki untuk Conrad. Memastikan Conrad membawa buku pelajaran dan kelengkapannya ke sekolah.
Wanita itu memang dikelilingi oleh pelayan yang lebih dari cukup. Tapi naluri keibuan dan tanggung jawabnya membuat dirinya membiasakan diri mengawasai hingga hal terkecil untuk keluarga kecilnya.
"Conrad pagi ini ke sekolah dengan Papito ya. Daddy berangkatnya agak siang, karena pagi ini daddy ada rapat di sekitar sini." kata Diana sambil mendudukan Aaron di kurso bayi.
"Okey mommy." ujar Conrad dengan patuh.
"Ini rotinya." Diana menyodorkan setangkup roti panggang dengan selai coklat kepada Conrad.
Bocah itu menerima roti tersebut dan memakannya dengan lahap.
"Hari ini siap kan untuk test. Jangan lupa berdoa dulu sebelum menjawab soal-soal." pesan Diana kepada Conrad.
"Tentu saja mommy, Conrad yakin kalau pasti bisa menjawab dengan benar." ujar nya dengan percaya diri.
"Sip. Anak mommy memang pinter." pujian Diana membuat hidung Conrad kembang kempis karena bangga.
Aa...aa...aa...
Aaron yang merasa tidak dihiraukan oleh ibunya mulai menggerak-gerakan tangan dan kakinya berusaha mencari perhatian juga.
"Ei... Aaron juga pintar yaaaa anak mommy. Sudah habis susu satu botol yaaa. Nah, ini bubur tim buat Aaron sudah siap." ujar Diana ketika pengasuh Aaron datang dengan semangkok makanan untuk bayi nya.
Aa...aa...aa...a...
Arron tertawa melihat mangkok ditangan Diana, mulutnya mulai terbuka menanti suapan dari ibunya. Satu suapan dia terima dengan gembira, mengunyahnya dan kemudian membuka mulut lebar-lebar lagi meminta suapan selanjutnya.
"Lucunya Aaronn." seru Conrad yang melihat bagaimana adik nya makan dengan lahap sambil memainkan sendok plastik lainnya.
"Tuh... kakak bilang lucu. Adik siapa dong, kan kakaknya tampan sekali." puji Diana kembali kepada Conrad.
"Pasti tampan dong, Daddy nya kan tampan." Celetuk Andrew yang tiba-tiba saja bergabung dengan mereka.
"Daddy baru bangun yaaaa." ledek Conrad sambil menghabiska suapan terakhirnya.
"Enggak, tadi sudah bangun tapi tidur lagi."
"Sama saja baru bangun."
"Beda dong. Kalau baru bangun kan berarti tidur dari kemarin dan pagi ini baru bangun. Kalau daddy, tidur dari tadi malam, pago bagun kencing terus tidur lagi, sekarang baru bangun." Jelas Andrew panjang lebar dan tentu saja membuat Conrad bingung sementara Diana terbahak.
__ADS_1
"Tau ah, pokoknya daddy bangun kesiangan. Conrad mau berangkat dulu. Muah. Muah. Muah." Conrad mencium pipi Andrew, Diana dan Aaron bergantian.
"Hati-hati ya sayang. Selesai sekolah langsung pulang, okey. Mommy siapkan tea time di halaman belakang." pesan Diana sebelum Conrad pergi.
"Okey mommy." teriak Conrad sambil berlari kecil.
"Anak itu sudah semakin besar." ujar Andrew sambil mengunyah setangkup roti panggang.
"Iya. Kau harus lebih sering meluangkan waktu bersama kita, agar tidak terlewatkan masa pertumbuhan anak-anak." sahut Diana sambil mengusap mulut Aaron dari sisa-sisa makanan yang dia semburkan.
"Tentu saja, aku akan lebih banyak meluangkan waktu untuk anak-anak juga untuk mommy tercinta." ujar Andrew menggoda Diana sambil mengerdipkan satu matanya.
"Genit."
"Biarin."
"Aku akan ke rumah ayahmu nanti sepulang menjemput Conrad."
"Katakan pada tuan besar itu, segera kembali jika dia merasa kesepian di rumah besarnya itu."
"Tentu saja."
"Diana, berbelanja lah juga, sabtu ini Mr. Tom Pitt akan mengadakan pesta perkawinan perak nya sekaligus ulang tahun pertama cucu nya. "
"Aku tahu, tapi mr.Tom adalah salah satu pemegang saham dan partner yang handal, kita seharusnya menghormati dia." pesan Andrew.
"Baiklah sayang. Aku akan mencari gaun untuk mendampingi mu. Anak-anak pasti suka jika ada permainan disana."
"Okey. Aku akan berangkat dulu ya. Jika bisa selesai dengan cepat pertemnuan hari ini, aku akan menyusulmu." Andrew kemudian menghampiri Aaron dan menggendong bayi yang baru berusia satu tahun tersebut.
Dia mencium dan menggoda anakknya membuat bayi itu tertawa dengan ceria. Sesampai nya di depan, Andrew mencium kening dan pipi Aaron kemudian ******* bibir Diana dengan mesra sebelum dia menyerahkan Aaron ke pelukan Diana.
*
*
Sore itu Diana menjemput Conrad dan langsung membawa anak-anaknya ke butik ternama yang biasa dia datangi.
Pemilik butik yang sudah mengenal Diana, menyapanya dengan akrab. Terkadang mereka menertawakan bagaimana jiwa missqueen Diana yang muncul saat Andrew membawanya kemari.
Tetapi bukan Diana namanya kalau tidak tetap memiliki jiwa missqueen, seperti saat ini ketika miss. Cathy panggilan pemilik butik sekaligus perancang busana kalangan atas, yang menunjukan sebuah gaun dengam hiasan mutiara bertebaran seharga $100.000 yang setara kurang lebih satu milyar empat ratus juta rupiah.
"Oh no... no. Big no Cathy." ujar Diana melotot melihat harga sebuah gaun yang tentu bisa untuk membeli sebuah rumah mewah di Indonesia.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Kau akan tampak elegan memakai ini. Jangan katakan jiwa missqueen mu muncul. Kau tahu, suamimu bahkan bisa membeli 1000 gaun ini bila kau mau." ucap Cathy panjang lebar.
Diana menelan ludah mendengar sindiran miss.Cathy.
"Bukan begitu, jika aku memakai gaun gemerlap dan mewah ini, maka aku akan mengalahkan pamor miss. Tania Pitt." ujar Diana beralasan.
"Dan kau tahu bukan, miss Tania tidak akan terima hal seperti itu." sambung Diana sambil berjalan melihat koleksi lainnya.
"Aku mengerti maksudmu. Tapi tidak ada salah nya bukan, kau sekali-sekali memanjakan dirimu, punya suami kaya selangit itu anugerah bagi para wanita." miss.Cathy masih mencoba merayu Diana untuk memilih gaun-gaun termahalnya.
Diana hanya tersenyum kecil. Dia enggan berdebat mengenai masalah ini.
Mungkin uang sebesar itu bukan apa-apa dikalangan billioneir tapi bagi Diana yang tidak pernah melupakan dari mana dia berasal, uang sebanyak itu luarrr biasa buanyakk.
Sedangkan Conrad tampak tidak memperdulikan aktivitas disana. Di sofa bulat Conrad tertidur, tampaknya terlalu lelah atau bosan menunggu begitu juga Aaron di baby stroler.
Pintu butik terbuka, seorang pria tampan masuk dan langsung menghampiri Diana yang memunggunginya. Dipeluknya wanita itu dengan penuh kasih.
"Hei, sayang sudah selesai pertemuanmu?" tanya Diana pada Andrew yang memeluknya.
"Aku percepat karena ingin bersama kalian."
"Wah... ini tuan Andrew sudah datang. Mesra sekali, Cathy jadi iri loh." ucap pemilik butik yang berusia hampir lima puluh tahun tapi terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usia aslinya.
"Hai Cathy, bagaimana kau punya sesuatu yang elegant untuk isteriku?" tanya Andrew langsung.
"Tentu saja. Tapi dia menolaknya." ujar Cathy yang langsung menunjukan gaun dengan hiasan batu permata.
"Kenapa? Kau tidak suka?" toleh Andrew pada Diana.
"Gaun itu indah sekali Andrew, tapi.." Diana menarik nafas, berdebat dengan Andrew mengenai harga sama saja dengan berdebat melawan patung.
"Coba kau kenakan sayang." pinya Andrew.
Dan persis seperti dugaan, ketika Diana mengenakannya, Andrew langsung mengatakan pada Cathy, "kirimkan pakaian ini ke kediamanku. Sekarang tunjukan koleksi pakaian pria dan anak-anak juga."
"Baik tuan Andrew." ujar Cathy dengan senyum lebarnya. Kemudian wanita itu menghampiri Andrew dan berbisik, "Kau harus selalu menemaninya jika kemari."
Andrew hanya tersenyum tipis mendengarkan perkataan Cathy. Sementara Cathy mulai mengeluarkan koleksi lainnya, Diana menghampiri Andrew, "Apa tidak terlalu mahal gaun itu?"
"Tidak ada yang mahal untuk mu sayang. Kelak jika kau bosan kita bisa masukan ke lelang untuk amal." ujar Andrew yang memahami dari apa hati istrinya terbuat.
ππππππππππππππ
__ADS_1
Uang segitu, kalau aku sih buat beli rumah atau deposito. Hahahhaha beda otak.