Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Pesanan Istri


__ADS_3

Akhirnya Andrew tidak tahan untuk menghabiskan cutinya selama satu minggu. Di hari ketiga, dia memutuskan untuk kembali bekerja. Sikap Diana yang berubah-ubah membuatnya pusing. Lebih baik pusing berhadapan dengan karyawan kantor dan permasalahannya, daripada harus berhadapan dengan istrinya.


Setidaknya di kantor dia adalah kepala, dia adalah tuan dan raja yang harus dipatuhi. Mereka tidak ada yang berani membantah dirinya. Kata-katanya adalah hukum. Dan semua orang menyanjungnya.


Tetapi di rumah, dia adalah seorang budak istrinya. Wanita itu adalah Ratu yang berkuasa. Jika sedikit saja dia melakukan kesalahan, maka air mata duka dan erang tangisan akan terdengar. Jika saja dia berdiam dan mengalah, maka sang ratu akan beranggapan jika dirinya tidak menarik lagi di hadapan raja..


Di hadapan anak-anak, Diana tetap normal seperti biasanya, sangat perhatian dan penyayang. Tetapi dihadapan Andrew, Diana akan berubah menjadi posesif dan arogant. Tetapi tak jarang, dia tiba-tiba berubah menjadi binal.


Andrew sampai berpikir, apa jenis kelamin ketiga anak nya. Apakah benar mood seorang ibu hamil di pengaruhi oleh jenis kelamin anak-anaknya? Lalu bagaimana dengan peringai Diana yang terkadang lemah lembut, terkadang sangat lincah dan ceria tapi terkadang juga sangat galak.


Amat sangat berbeda dengan saat Diana hamil Aaron. Meskipun saat itu dia dihadapkan permasalahan dengan Rachel, tapi Diana adalah wanita yang tangguh, tidak pernah rewel dan menjadi seorang pasangan yang sangat pengertian.


Kehamilan triplet ini, penuh dengan ulah. Contohnya tadi siang, ketika Diana pergi ke area karyawan dapur, dia mual mencium aroma mie instan yang dimakan oleh salah seorang pelayan. Dan bukannya dia langsung menegur karyawan tersebut, Diana malah mengadu pada Andrew sambil menangis bombay.


"Aku juga dulu suka makan mie instan. Mie sedap rasa soto kesukaanku, mie sedap goreng dan indomie kari ayam. Tapi semenjak menikah dengan mu, aku tidak pernah menyentuh makanan itu. Dan sekarang pelayan itu memakannya, hikkssss hikssss, bagaimana bisa aku mual mencium aroma nya yang menusuk. Hiksss... bagaimana bisa aku berubah menjadi orang yang angkuh dan menolak mie instan. Hiksssss... apakah aku sudah menjadi orang yang sombong. Huaaaa... Padahal dulu waktu kerja di kapal pesiar aku selalu membawa mie instan dari indonesia. Huaaaa hikssss huaaaa.... sekarang bahkan aku rindu kampung halamanku. Aku rindu Liaaaa... huaaaaaa..... "


Itu hanya rengekan karena mie instan yang harus di dengar Andrew sepanjang siang.


"Apakah kau ingin pergi ke Prancis? Kita bisa melakukan penerbangan ketika kandunganmu berada diusia aman, bagaimana?" Tawar Andrew saat itu.


"Huaaaaa... tapi aku berjanji pada Jason tidak akan mengganggu mereka selama dua tahun. Setidaknya sampai Lia jatuh cinta dengan Jason. Bagaimana jika nanti Lia tiba-tiba ingin kembali kemari? Huaaaaa... aku akan menjadi penghancur pernikahan mereka." Rengek Diana.


"Sudahlah, jangan berpikir terlalu jauh. Tenangkan pikiranmu. Jangan terpusat pada hal yang berat."


"Hikkksss jadi menurutmu aku terlalu berlebihan? Aku menangis seperti ini menurutmu aku cengeng?" Ujar Diana dengan raut wajah memelas.


"Tidak sayang, kau adalah istriku yang luar biasa. Selamanya aku bergantung padamu." Ujar Andrew menenangkan.


"Benarkah?" Mata Diana berbinar.


Andrew mengangguk.


"Kalau begitu push up lah disini dan buat aku bergairah dengan keringatmu." Bisik Diana manja.


"Benarkah? Hahhahha pasti, aku push up sekarang."


Dan Andrew bekerja keras push up dihadapan istrinya. Diana berbaring di tempat tidur sambil memandang Andrew dengan sorotan mata bahagia. Tapi sayang sekali di hitungan ke tiga puluh, Diana sudah terlelap dan Andrew kembali memandangnya dengan kecewa. Sekarang Andrew baru sadar jika keringat di tubuhnya adalah obat tidur bagi Diana.


Di kantor pusat Miami.


Briant menertawakan Andrew yang kembali masuk kerja. Dia tanpa mengetuk pintu, masuk kedalam kantor Andrew.


"Kau bilang mau cuti satu minggu merayakan kehamilan kakak ipar, kenapa sudah masuk sekarang?" Tanya Briant dengan heran sekaligus merasa lucu melihat wajah Andrew.


"Aku lebih pusing di rumah. Mood Diana berubah lebih cepat daripada perubahan siang ke malam." Ujar Andrew.

__ADS_1


"Hahhahhaha," Briant menertawakan wajah masam Andrew yang tampak konyol.


"Apakah Grisella juga begitu?" Tanya Andrew antusias.


"Tidak juga, dia hanya berubah menjadi pemakan segala. Selebihnya dia lebih manja kepadaku." Ujar Briant.


"Hehhh.. Kalau Diana, sedetik gembira, berapa detik lagi merajuk, trus tak lama kemudian menjadi wanita tangguh." Andrew menggaruk-garuk kepalanya.


"Namanya saja hamil triplet, salahkan dirimu sendiri yang terlalu banyak menabur benih. Itu akibat terlalu memaksakan hasratmu. Hahahha... hahhaha." Briant semakin terbahak melihat wajah masam Andrew.


"Sebenarnya masalahmu bukan karena perubahan mood kakak ipar saja bukan? Aku yakin kau belum dapat jatah beberapa hari ini bukan?" Tebak Briant dengan geli.


Briant tahu bagaimana garangnya Andrew dalam urusan bercinta. Briant pernah menjadi saksi di saat Andrew masih liar. Dia bisa menghabiskan lima sampai tujuh ****** sehari nya. Dan saat dia menikah, dia selalu menyanjung betapa originalnya Diana, bisa Erick bayangkan bagaimana penderitaan Diana melayani Andrew.


"Sial! Aku heran kenapa kau selalu benar!" Gerutu Andrew kesal. Membayangkan bagaimana Diana sudah menelantarkannya dan tertidur pulas ketika hasrat sudah memuncak.


"Hahhahah, kalau begitu pilihanmu hanya dua. Puasa atau pakai tangan." Olok Briant sambil mengelak lemparan kertas dari Andrew.


Andrew menghela nafas. Benar apa yang dikatakan oleh Briant. Berkerja akan membantunya melupakan perubahan mood Diana. Mungkin dia perlu membawa pekerjaan pulang kerumah, jika saja dirinya kembali di telantarkan sang istri.


Smartphone Andrew berdering, menyela percakapan diantara Andrew dan Briant. Andrew melihat pada layar di sana tertera nama istriku sayang, dengan berbisik Andrew menggatakan pada Briant jika Diana yang menelphone.


"Hai sayang, kenapa kau menelphoneku?" tanya Andrew.


"Memangnya kenapa jika aku menelphone? Apa kau tidak suka? Apa ada wanita lain disana?" tanya Diana dengan kesal.


"Masa sih?" tanya Diana tak percaya.


"Aku ganti video call ya, biar kamu percaya." ujar Andrew yang tanpa menunggu Jawaban Diana, langsung mengganti ke mode Video call.


"Tuh kan cuma Briant," ujar Andrew sambil memutar layar ke arah Briant.


"Hai kakak ipar, selamat ya atas kehamilan kembar tiga nya." ucap Briant dengan tersenyum lebar.


"Trimkasih Briant. Andrew! aku mau bicara denganmu!"


Andrew memutar layar kearah dirinya.


"Bisa-bisanya kau langsung memutar layar ke Briant. Lihat diriku masih dalam keadaan seperti ini." Diana menunjukan wajahnya yang masih ditempeli masker korea. Dia menjadi kesal karena Andrew main video vall saja tanpa melihat keadaan dirinya.


"Maafkan aku sayang. Tenang Briant adalah keluarga kita, kau tidak perlu malu." ucap Diana menangkan.


"Tidak tahu malu... tidak tahu malu katamu. Coba batangkan dirimu jika terlihat Grisella hanya memakai celana dalam, malu tidak?"


"Lohh eh, apa hubunganya masker dan celana dalam?" tanya Andrew dengan heran.

__ADS_1


Sementara Briant dihadapan Andrew terhawa terbahak-bahak dengan volume suara yang di perkecil, khawatir Diana dengar dan dirinya terkena semprotan.


"Adalah. Harga diri hubungannya." sahut Diana ketus.


"Eh, begitu ya." ujar Andrew dengan bingung.


Dalam hati Andrew bergumam, sabarr.. sabarrr... demi istri cantik dengan kembar tiga.


"Aku mau nitip sesuatu." ujar Diana kemudian.


" Ya sayang, apa yang kau inginkan?" tanya Andrew manis.


"Pulang kerja, pergi ke Asia supemarket."


"Okey."


"Kok okey sih, kan aku belum beri tahu list yang aku minta." gerutu Diana.


"Eh iya, salah lagi ya." jawab Andrew cengengesan.


"Mau cari apa disana sayang ?" tanya Andrew kemudian.


"Aku mau Chrysantheum tea yang packingan dan durian." Diana menyebutkan dua hal yang dia inginkan.


"Durian? Mana boleh kau makan durian sayang? Itu kan berbahaya. Kau mengandung tiga bayi loh bukan satu." Andrew memperingatkan Diana akan bahaya memakan durian ketika dia hamil.


"Siapa bilang aku akan makan durian?" jawab Diana dengan heran.


"Lalu?" Andrew menjadi heran.


"Aku ingin melihatmu memakan durian dihadapanku."


"Hah? Tapi... kau tahu bukan kalau aku tidak suka durian. Mencium aromanya saja aku mau muntah." Tolak Andrew dengan membayangkan durian di hadapannya. Hiii... Andrew merinding.


"Jadi kau tega tidak menuruti keinginanku? Kau tega pada ketiga anakmu?" Kata Diana dengan memelas.


"Bukan... bukaan begitu. Tidak bisahkan diganti dengan hal lain, misalnya makan rambutan atau makan pisang?" tanya Andrew bernegosiasi.


Diana menggeleng dengan manja dan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya tampak sangat imut dan memelas membuat Andrew tidak tega. Bagaimanapun akhirnya dia yang harus mengalah, demi istri dan ketiga anak nya.


"Baiklah. Aku akan membelinya." ujar Andrew pasrah.


"Wahhhh aku tahu kau yang terbaik. Aku cinta padamu. Muahhhh." Diana mengecup layar handphone dan mematikan saluran video call, meninggalkan Andrew yang terduduk lemas.


Briant akhirnya tertawa dengam keras sambil memegang perutnya yang mulai kram. Dan Andrew yang kesal mulai melempari Briant dengan kertas.

__ADS_1


"Duriannn... oh Duriannnn." Ejek Briant dengan terkekeh dan meninggalkan Andrew sendiri.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


__ADS_2