Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
69. Hukuman pertama : Tempe penyet


__ADS_3

"Daddy..." Condrad masuk ke dalam ruang kerja Andrew bersama dengan butler Jhon sementara nanny menunggu di luar ruangan.


"Hai sayang, kemarilah." Andrew membuka tangannya lebar-lebar dan membiarkan Conrad melompat kedalam pelukan. Ayah dan anak itu saling berpelukan erat untuk sesaat.


"Daddy, kenapa kau dan unty tidak muncul untuk makan malam dan sarapan tadi pagi?" tanya Conrad dengan polos.


"Maaf tapi unty Diana sedang sakit." jawab Andrew dengan sedih.


"Benarkah? Conrad ingin melihatnya, bolehkan daddy?" sesaat Andrew bingung, dia tidak tahu bagaimana harus bertindak. Mengijinkan Conrad melihat Diana berarti membiarkan bocah kecil ini mengetahui perselisihan diantara mereka. Dan mungkin akan lebih menyakiti Diana. Sedangkan bila melarang Conrad, bocah ini akan semakin bertanya-tanya.


"Kenapa daddy, apakah penyakit unty parah?" tanya nya lagi.


"Tuan, biarkan Conrad menemui nyonya. Saya rasa itu adalah pilihan yang tepat." Butler Jhon membuka suara.


"Baiklah." Andrew akhirnya menyetujui.


"Terimakasih daddy." Conrad mengecup kening ayah angkatnya dengan penuh kasih sayang. Kemudian dia beranjak turun dari gendongan Andrew.


"Satu lagi daddy."


"Apa itu?"


"Boleh kan sekarang Conrad panggil Unty dengan sebutan mommy?" tanya Conrad dengan penuh harap. Andrew kembali tersentak, anak polos ini pun dapat membedakan orang yang begitu mengasihi dirinya dan orang yang hanya memanfaatkannya.


"Tentu saja bila dia mengijinkan." Jawaban Andrew membuat bocah itu melonjak kegirangan. Kemudian dia segera berlari kecil keluar dari ruangan Andrew menuju kamar utama.


Tanpa mengetuk pintu dia masuk ke dalam kamar, dilihatnya Diana yang sedang berbaring, " mommyy..." Conrad masuk sambil berlari menuju ke tempat tidur dan loncat kedalam pelukan Diana tidak menghiraukan pandangan terkejut dari Diana maupun pelayan yang ada didalam kamar itu.


Dengan isyarat tangannya, butler Jhon memerintahkan pelayan tersebut keluar. Pelayan itu meski ingin sekali mengetahui apa yang terjadi, tapi dengan berat hati dia melangkah keluar.


Diana membelai rambut Conrad, merasa bersalah karena telah tidak memperhatikan bocah itu selama beberapa saat.


"Mommy, sakit apa? Kenapa wajah mommy pucat dan mata mommy bengkak?" tanya bocah itu dengan polos.


"Mommy?" sedikit sakit di dada Diana mendengar Conrad memanggilnya mommy. Saat ini dia merasa kalau Conrad amat merindukan Rachel sebagai seorang ibu, hingga bocah kecil ini menjadikan dirinya sebagai pengganti.


"Conrad rindu ya dengan mommy Rachel?" tanya Diana dengan mata berkaca-kaca dan suara yang tersendat.


Conrad tampak kaget mendengar Diana menyebutkan nama Rachel. Nama itu merupakan rahasia dan tabu bagi dirinya dan Andrew.


"Mommy kenapa bisa tahu nama mommy Rachel?" tanya Conrad tanpa menyembunyikan kekagetannya.


"Iya unty Diana bertemu dengan mommy Rachel. Conrad pasti rindu ya dengan mommy Rachel?" tanya Diana sambil menahan isak tangisnya.


"Tidak. Conrad ridak rindu dengan mommy Rachel. Conrad tidak mau mommy Rachel. Mommy Rachel jahat dengan Conrad. Jahat juga dengan Daddy. Conrad maunya cuma mommy Diana. Ini mommy Conrad." Ucap bocah itu dengan lantang sambil memeluk Diana dengan erat.

__ADS_1


Perkataan bocah itu terdengar amat sangat polos dan menyentuh hati Diana. Sedikit menggugah relung hati nya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Selama tiga tahun bersama Andrew dan dua setengah tahun terakhir Conrad selalu bersama dirinya bagaikan keluarga kecil, tak pernah sekalipun bocah ini menyebutkan nama Rachel. Hati dan pikiran Diana menanyakan hal yang sama.


Conrad terus mengoceh, menceritakan bagaimana perlakuan Rachel kepadanya. Dan dengan cerdiknya butler Jhon juga memberikan nakas berisi makanan kepada Diana dan menggoda Conrad untuk menyuapi mommy nya.


"Jangan pernah meninggalkan Conrad ya mommy. Conrad sayang dengan Mommy Diana." bocah itu memeluk Diana hingga tertidur. Diana membetulkan posisi tidur Conrad kemudian dia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia menghubungi ponsel rumah butler Jhon, "butler Jhon kemarilah ada yang ingin aku bicarakan."


***************


Butler Jhon duduk di kursi di dalam kamar. Diana sengaja memilih kamar utama untuk berbincang dengan pelayan senior tersebut. Selain karena dia malas keluar dengan kondisi wajah yang sembab juga karena tidak ingin bertemu Andrew.


Mereka berdua duduk dalam diam untuk beberapa saat. Pelayan tua tersebut menanti Diana untuk mulai berbicara.


Hingga akhirnya siang hari itu pembicaraan dimulai dengan sebuah perintah, "ceritakan padaku mengenai Andrew dan Rachel."


Butler Jhon tersenyum tipis, dadanya terasa lega ketika mendengar permintaan Diana. Akhirnya nyonya muda ini mau membuka hati untuk mendengarkan kisah dibalik pernikahan Andrew dan Rachel.


"Jangan suruh aku bertanya pada Andrew karena aku masih belum bisa menerima penjelasan dari dia, aku belum bisa memaafkan dia." turur Diana lirih karena butler Jhon masih saja diam.


"Baiklah nyonya." Butler Jhon buka suara.


"Saya melayani keluarga Knight sejak tuan Andrew berusia sembilan tahun. Ketika tuan Andrew berusia sepuluh tahun, nyonya Sandra Knight; ibunya meninggal dunia karena kanker. Setelah itu Andrew hidup bagaikan anak sebatang kara. Ayahnya sibuk dengan dunia bisnis dan bermain wanita. Tepat ketika usia tuan Andrew dua puluh enam tahun bisnis yang mereka jalani hampir mengalami kebangkrutan karena ada kapal pesiar yang tenggelam dan koropsi besar-besaran oleh staf kapal." Butler Jhon berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Kemudian dia melanjutkan lagi.


"Cinta pertama tuan Andrew meninggalkannya saat keluarga wanita itu mengetahui bisnis keluarga Knight sedang kolaps. Akhirnya ayah tuan Andrew melakukan perjanjian dengan ayah nyonya Rachel. Saat itu nyonya Rachel sedang mengandung dengan pria yang tidak bertanggung jawab. Perjanjian mereka memaksa tuan Andrew menikahi nyonya Rachel. Tuan Andrew terpaksa menyetujui atas paksaan ayahnya demi menyelamatkan perusahaan tapi dengan syarat tanpa publikasi. Itulah awal kesengsaraan tuan muda." Butler jhon berhenti sesaat dan memperhatikan raut wajah Diana yang diam saja.


"Pernikahan mereka bagaikan neraka. Nyonya Rachel adalah sosok yang angkuh, manja dan keras. Dia tidak pernah memperlakukan tuan muda dengan baik. Dia mementingkan dirinya sendiri dan hanya takut dengan ayahnga. Suatu ketika nyonya Rachel mengalami keguguran. Keluarganya menyalahkan tuan muda sebagai penyebab keguguran." Butler Jhon berhenti dan menarik nafas.


"Dia dan keluarganya seringkali sengaja memanfaatkann tuan muda dengan melemparkannya pada wanita-wanita konglomerat agar mudah bekerjasama untuk kemajuan bisnis keluarga nyonya Rachel." Nanny menambahkan.


"Bagaimana kau mengetahui itu?" Diana bertanya karena penasaran.


"Para pengawal seringkali melihat itu." sahut butler Jhon.


"Wanita itu tidak pernah mencintai Conrad. Dia hanya memanfaatkan bayi kecil itu untuk memikat hati tuan. Tuan muda hidup tanpa arah, hingga bertemu dengan anda nyonya. Nanny adalah saksi dari hal itu." butler Jhon menghela nafas panjang.


"Nyonya, maafkan tuan muda. Pernikahan yang tuan jalani hanyalah karena keterpaksaan. Tuan muda sangat mencintai anda. Dia sangat terluka ketika melihat anda menolaknya." raut wajah butler Jhon tampak berharap.


"Tuan berubah semenjak bertemu dengan nyonya. Dia tidak pernah lagi menghabiskan waktu dengan dunia malam. Keluarga ini ada karena kasih sayang anda nyonya." Butler Jhon menambahkan.


"Aku tidak pernah mengenal ayah Andrew." Diana berbicara dengan suara lirih seakan kepada dirinya sendiri.


"Hubungan tuan muda dan ayahnya memang tidak terlalu baik semenjak pernikahan terpaksa itu." Jelas butler Jhon.


Suasana senyap untuk beberapa waktu. Conrad yang tertidur sudah bangun dan keluar kamar untuk menikmati camilan sore bersama nanny.


"Butler Jhon, siapkan makan malam." Kalimat Diana terakhir sebelum butler Jhon meninggalkan kamar utama dengan senyum gembira dan dia segera menuju ruang kantor Andrew untuk menceritakan semua.

__ADS_1


****************


Makan malam


Makan malam telah tertata rapi di meja sesuai menu yang di inginkan oleh nyonya rumah. Meskipun menu kali ini berbeda dengan biasanya, para pelayan yang heran tidak berani protes. Mereka menyediakan makanan sesuai perintah butler Jhon.


Ketika tuan rumah sudah di dalam ruang makan para pelayan meninggalkan ruangan kecuali butler Jhon.


Pandangan mata Andrew tidak pernah lepas dari Diana, meskipun wanita itu menghindari sentuhan dan mengacuhkan perkataannya. Diana mendiamkan Andrew dan dia hanya berbicara pada Conrad.


Setelah selesai memotong-motong lauk khusus untuk Conrad. Diana mulai menuangkan nasi dan lauk pauk ke piring Andrew juga piringnya. Andrew tersenyum bahagia karena setidaknya wanita ini masih memperhatikan dirinya.


Melihat Diana mulai menikmati makanannya, Andrew mulai menyuapkan sendok ke mulutnya dengan masih memandang wanita dihadapannya dan, "Uhuk! Puff." Andrew terbatuk sambil menyemburkan makanan di mulutnya kemudian buru-buru menegak air putih satu gelas habis.


Wajahnya merah padam begitu juga bibirnya, sedangkan lidah nya mendesis.


"Butler, makanan apa yang kau sediakan ini!" tanya Andrew dengan gusar.


Butler Jhon dengan serba salah berkata, "tempe penyet extra pedas." Melihat Andrew melotot buru-buru dia menambahkan, "menu khusus permintaan dari nyonya Diana."


Andrew diam tidak berani marah. Dia meletakan sendok di piring.


Diana menoleh kepadanya dan berbicara dengan ketus, "habiskan makananmu kecuali kau mau tidur di kamar tamu!"


Dengan terpaksa Andrew menyuapkan makanan itu, satu sendok makanan satu gelas air demi dapat tidur disamping wanita yang dia cintai.


"Jangan terlalu sering minum air. Habiskan lima sendok baru kau boleh minum air." kata Diana dengan ketus.


"I..iya." meskipun dengan terpaksa karena lidah dan perut yang sudah terbakar begitu juga keringat sebesar butiran jagung yang sudah menetes deras, Andrew menghabiskan sepiring penuh tempe penyet exrea pedasnya.


Ini baru hukuman awal untukmu. Kata Diana dalam hati.


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Sabar ya Andrewww, lama-lama doyan loh sama tempe penyet


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.

__ADS_1


Terimakasih.


Salam sayang 😘


__ADS_2