
Sementara itu ketika perdebatan terjadi di ruangan Andrew. Diana dan Conrad menuju hotel Four Seasons. Sepanjang perjalanan dia tidak terlalu menanggapi celoteh Conrad yang tiada hentinya. Anak itu tiba - tiba berubah riang kembali. Ingin rasanya bertanya apa yang dibisikan Andrew kepada Conrad, tapi apakah pantas melibatkan seorang anak kecil di tengah kegalauan hatinya.
"Conrad apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Diana pada bocah kecil di sampingnya.
"Tapi Conrad mau makan chicken nuggetnya disana. Enak sekali unty."
"Baiklah." Diana mengalah.
Mobil memasuki parkiran hotel dan seorang pelayan membukakan pintu dengan senyuman dan rasa hormat. Mereka berjalan memasuki hotel dan langsung menuju ke arah restaurant fine dinning yang biasa mereka kunjungi.
Tanpa menunggu kedatangan Andrew atau Mike, Diana memesan makanan untuk Conrad dan Chicken Ceasar Salad untuk dirinya. Hari sudah sore tapi ini adalah makan siang mereka.
"Hi Diana?" Sebuah suara menyapa. Diana mengangkat kepalanya dan terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"Dylan?" Panggilnya tak percaya melihat keberadaan pria yang tiba - tiba dihadapannya.
"Benar. Kau masih mengingatku."
"Tentu saja."
"Anak ini?"
"Oh perkenalkan dia Conrad. Conrad ini uncle Dylan." Diana memperkenalkan mereka tanpa menyebutkan siapa Conrad.
"Hi uncle."
"Hallo Conrad. Senang bertemu denganmu."
Mereka saling menyapa tanpa jabatan tangan. sementara Conrad masih sibuk mengunyah nugget dan waffel.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Dylan.
"Eh..." Sejenak Diana tampak ragu.
"Aku akan pergi setelah dia datang."
Diana hanya diam saja. Dalam hati dia sedikit was - was.
"Tenang saja aku tidak lagi bekerja di Kapal Pesiar dia tidak dapat mengancamku."
"Oh ya. Kamu bekerja dimana sekarang?" Tanya Diana sambil bernafas lega.
"Aku bergabung dengan sebuah perusahaan Website." Jelas Dylan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dylan kembali.
"Aku baik - baik saja." Jawab Diana.
Dylan sesaat terdiam menatal wanita dihadapannya yang tampak berbeda. Diana yang dia kenal dahulu adalah gadis yang ceria dengan mata yang selalu menyinarkan kebahagiaan. Tetapi sosok dihadapannya berbeda. Senyum nya tetap manis, Wajahnya semakin cantik, penampilannya semakin anggun dan tampak dewasa, tetapi pancaran matanya tidak lagi seperti dulu. Tampak ada beban dan duka disana
"Kau yakin?" Diana mengangguk.
"Kau tahu bukan kau selalu dapat terbuka kepadaku. Kau bisa selalu menganggapku sebagai sahabatmu."Kata Dylan dengan lembut kepada Diana. Tapi bagaimana mungkin dia dapat dengan mudah mencurahkan kegalauan hatinya ketika Dylan sudah pernah menyatakan diri tentang perasaannya, hal itu tentu saja menjadi canggung pikir Diana.
"Tentu saja." Jawaban singkat keluar dari mulut Diana. Tampaknya Dylan tidak percaya dengan ucapan Diana, dia mengambil handphone Diana dan mengetik no telphone nya kemudian menggunakan handphone Diana untuk menephone nomor nya sendiri.
"Aku sudah menyimpan nomor mu. Mungkin ini bukan kesempatan baik bagi kita berbicara lebih lanjut. Ingatlah setiap saat bila kau memerlukan teman aku akan selalu ada untukmu." Dari tempatnya duduk Dylan dapat melihat sosok Andrew yang datang kearah mereka. Dan dia merasa ini bukan saat yang tepat bagi mereka untuk berbicara lebih lanjut.
"Jaga dirimu baik - baik." Dylan berdiri dan pergi dari meja Diana. Dia berjalan kearah pintu keluar, dirinya berpapasan dengan Andrew yang menatapnya tajam. Mereka berpapasan tanpa mengucapkan satu patah kata.
"Sepertinya aku pernah melihat pria itu." Ucap Andrew begitu tiba di tempat mereka.
"Iya salah satu kenalanku di kapal." Diana terkejut dengan kehadiran Andrew dan dia merasa lebih lega ketika Andrew tampaknya tidak begitu ingat dengan Dylan.
"Kau sudah menghabiskan makananmu?" tanya Andrew pada Conrad.
"Iya daddy, bisakah aku bermain?" tanya Conrad.
"Tentu saja."
__ADS_1
"Thankyou daddy. Bye Unty." Conrad segera menuju area playground ditemani dengan salah satu waitrees yang sudah biasa melayani mereka.
"Sudah selesai urusanmu?" tanya Diana.
"Iya."
"Aku menolak Mike mengantarku ketempat ini." Diana memberi penjelasan.
"Aku tahu Mike sudah menghubungiku."
"Andrew, sebelum kami pergi, aku sempat melihat seorang wanita datang kekantor menemuimu. Siapa dia?" Tanya Diana dengan hati - hati.
"Rekan bisnis." Jawab Andrew singkat.
"Kau yakin?"
"Kau tidak percaya?"
"Entahlah, aku merasa pernah melihatnya disuatu tempat." Diana mengernyitkan keningnya berusaha mengingat sosol wanita yang dia lihat sepintas lalu ketika dia memasuki pintu lift.
"Lupakan. Mungkin salah satu orang yang pernah kau jumpai di kapal pesiar." Jawab Andrew.
"Tuan apa anda hendak memesan sesuatu?" tanya seorang pelayan pria.
"Avovado soup dan seabas." Jawab Andrew santai tanpa melihat menu yang dibawa oleh pelayan tersebut.
"Apakah anda mau segelas white wine?" tanya pelayan tadi. Andrew mengangguk.
"Wine seperti biasa. Robert Mondavi Chardonay." Andrew menyebutkan salah satu jenis merk white wine.
"Baik tuan." Pelayan itu meninggalkan mereka.
"Besuk aku akan mengajak kalian ke suatu tempat."
"Kemana?" tanya Diana penasaran.
"Aku sudah menyiapkan rumah yang lebih nyaman untuk kita dan lebih dekat dengan sekolah Conrad." Jawab Andrew.
Bahkan meskipun ini adalah kabar bagus semestinya, dia tidak tahu harus bahagia atau tidak.
Rumah baru berarti lingkungan baru, sedangkan dia merasa nyaman dapat tinggal didekat Grisella.
"Kenapa kau diam sayang?" tanya Andrew sambil menggenggam tangannya.
"Tidak apa - apa. Aku hanya berpikir apakah rumah yang kau maksud adalah kediaman Conrad sebelum bersama kita?"
"Bukan." Jawab Andrew singkat.
Handphone Diana berdering. Lia adiknya sedang menelphone.
"Aku jawab dulu ya ini adikku." Diana beranjak dari hadapan Andrew.
"Kakak.. aku kangen. Kapan kamu pulang?" tanya Lia manja.
"Entahlah, kontrak kerja kakak diperpanjang. Mungkin tahun ini kakak tidak pulang."
"Yahhhh.... Lia kangen."
"Iya kalau kangen kita kan bisa video call an."
"Gak puas kakak."
" he eh."
"Kakak gaji kakak naik banyak ya. Kakak naik pangkat ya?" Tanya Lia penasaran.
"Ya begitulah. Kenapa?"
"Aku kaget saja kakak. Lebih dari setengah tahun ini kakak mengirim uang tiap bulannya hampir 450 juta."
__ADS_1
"Kau menggunakannya dengan baik bukan?"
"Iya aku membeli asuransi untuk kakak, diriku, bibi dan anaknya. Kemudian aku juga menggunakannya untuk membeli rumah. Selebihnya aku depositokan dan bunganya aku gunankan untuk biaya hidup."
"Anak pintar. Fokus kuliah dan gunakan uang yang aku kirim untuk membuka usaha." Nasihat Diana.
"Iya kakak sayang. Kau jagalah diri jangan bekerja terlalu keras. Kakak juga harus bahagia."
"Iya sayang. Salam ya buat semuanya." Setelah saling mengucapkan salam perpisahaan sambungan terputus. Diana berbalik hendak kembali kemejanya saat dia melihat tampak sosok wanita lain sedang didekat Andrew dan tampak berusaha menggodanya.
Berapa banyak wanita yang harus aku hadapi lagi Andrew.
Diana melangkah kembali kemejanya.
"Bisakah anda menyingkir. Ini tempatku." Diana berbicara pada wanita dihadapannya sambil menatap tajam tanpa senyuman.
"Ow... Jadi karena wanita ini kau meninggalkanku?" Suara wanita cantik didepannya tampak mengejek.
Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Diana.
"Hai.. aku Nicole Filton. Pewaris kerajaan hotel Filton." Wanita itu tersenyum genit memperkenalkan diri.
"Aku sudah tau tentang anda." Jawab Diana datar dan menjabat sepintas tangan sydney.
"Bisakah anda minggir Ms. Nicole?"
"Ow tentu saja. Kau jauh dari dugaanku." Sydney menggeser kakinya.
"Hmm..." Diana hanya bergumam tidak menghiraukan perkataan Nicole yang tentu saja pada akhirnya hendak menghina diri nya.
"Dia tampak innocent tapi ternyata singa betina." Entah itu merupakan pujian atau suatu sindirian.
"Kau sudah cukup berbicara. Pergilah!" Andrew mengusir Nicole.
"Berani sekali kau bertindak kasar padaku Andrew. Didunia ini bukan kau saja yang memeiliki kekuasaan! Kau pikir kau bisa selamanya melindungi dia?" Suara Nicole pelan tapi penuh dengan emosi.
"Pergi dari sini. Kau mengganggu hariku."
"Ha.ha.ha.ha.ha. Aku belum melakukan apa - apa. Bahkan belum membalas dendam atas perlakuanmu dulu." Nicole masih menyimpan dendam dalam hatinya ketika Andrew meninggalkan dirinya yang telanjang dan penuh gairah sendirian.
"Kau pantas menerimanya!" Andrew mendengus kesal.
"Hi wanita! Apakah kau tahu siapa pria yang kau kencani? Dia sudah memiliki..."
" Tutup mulutmu!" Andrew memotong perkataan Nicole Filton dan membentaknya kasar.
"Pelayan seret dia keluar!" Para pelayan yang menyaksikan hal itu merasa bingung dan gemetar karena melihat pertengkaran dua orang yang cukup berkuasa dan sama - sama member diamond VVIP.
"Ha. ha.ha.ha.ha. Mereka tidak akan berani. Hai wanita kau tahu siapa Rachel, dia adalah.... "
Belum sempat Nicole menyelesaikan kalimatnya, Andrew sudah menyeretnya kasar keluar dari restaurant.
Beberapa orang penting yang berada disana saling bergosip melihat kearah mereka. Beberapa orang
berusaha mengambil adegan itu melalui handphone mereka. Tapi para pelayan tampaknya lebih sigap. Dengan segera mereka meminta dan memastikan mereka untuk menghapus semua foto dan rekaman dengan ancaman bahwa kedua orang tersebut maupun pihak Hotel bisa menuntuk mereka. Tidak boleh ada scandal yang terungkap dan keluar dari Hotel Berbintang ini.
Diana memandang cara Andrew memperlakukan Nicole dengan kasar. Dia sudah sering medengar sepak terjang wanita itu tapi beru sekali ini menyaksikannya langsung.
Tapi dari cara wanita itu berbicara, sepertinya dia mengenal banyak tentang kehidupan Andrew.
Rachel Siapakah wanita itu ?
__ADS_1