Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
39. Apa sih maunya dia ?!


__ADS_3

Geram rasanya melihat sikap wanita itu yang bertingkah diluar kendali. Apa maksudnya coba menyiramku dengan setimba air es. Aku berusaha menahan air mataku. Memang dia sudah mempermalukanku dengan keadaan ku yang begini hingga aku basah kuyup dan kedinginan.


Tapi apakah dia tidak berpikir kalau apa yang dia lakukan juga akan membuat dia malu karena bertingkah seperti penguasa lalim dengan pandangan banyak orang. Apa kesalahanku padanya sehingga dia bersikap seperti itu.


Aku bergegas meninggalkan tempatku bekerja dan mengambil handuk yang disodorkan oleh seorang penjaga kolam yang prihatin dengan keadaanku.


Masih dapat aku dengar suara wanita itu berteriak kepadaku , " lain kali bukan air es bit#h , tapi sampah. hahahahhahahha. " Suaranya penuh amarah dan dendam.


Aku benar - benar tidak paham dengan sikapnya. Dendam apa yang dia miliki padaku. Aku tidak merasa memiliki permasalahan apapun dengan siapapun apalagi dengan wanita itu.


Kembali aku membasuh diriku , kali ini dengan air hangat. Samar aku teringat akan wanita itu dia adalah salah satu wanita yang pernah aku temui di Rome Vatikan. Salah satu wanita yang bersama Conrad bocah kecil tampan yang menangis di Vatikan.


Tapi kenapa dia begitu membenciku, padahal aku tidak mengenalnya. Aku pun tidak menyakiti Conrad. Ah, teringat Conrad aku jadi rindu dan bertanya dalam hati bagaimana keadaanya apakah dia baik - baik saja, apakah ibu nya lebih memperhatikan dia ?


Aku mengeringkan rambutku yang basah. Saat ini aku bingung kedua pakaianku basah. Seragam yang harusnya aku kenakan selama bekerja di pool bar.


Akhirnya aku beranjak membawa pakaian basahku ke arah laundry room, membasuh nya kemudian mengeringkannya. Biarlah meskipun memakan waktu yang lebih lama. Aku akan kembali sore nanti keatas pool bar dan semoga wanita itu sudah tidak ada disana, harapku.


 


******************


 


" Puas aku melihat dia seperti itu. " Meredith tertawa kasar dan duduk di bar.


" Kenapa anda berbuat seperti itu nona ?" tanya Maya yang merasa prihatin dengan keadaan sahabatnya.


" kenapa ? hahhaha.... hahahah.... tentu saja karena dia pantas menerimanya. " sahut Meredith kasar.


Maya memandang wanita itu tidak mengerti. Didepan sana tampak petugas kebersihan sibuk membersihkan sisa air yang menggenang di lantai.


" Apakah teman saya pernah melakukan kesalahan pada anda sebelumnya ?" tanya Maya berani.


" Pernah ? ow... bukan saja pernah tapi dia sudah berbuat kesalahan fatal. " Mata Meredith tampak mengobarkan amarah.

__ADS_1


" kesalahan fatal apa nona ?"


" Dia sudah berani - berani mencuri milikku yang paling berharga. "


Maya sontak kaget mendengarnya. Bukan saja Maya tetapi setiap orang yang mendengarnya. Kata - kata mencuri adalah tuduhan kriminal dan harus dibuktikan kebenarannya bukan saja praduga. Dan herannya kenapa wanita ini bukannya melapor kepada atasan ataupun sekurity tapi langsung berbuat kasar sendiri. Lalu apa yang sudah dicuri nya.


" Apa yang telah hilang nona ?"


" milikku yang paling aku sayang. " Jawabnya masih dengan penuh misteri sambil melangkah meninggalkan bar.


Ramona menghampiri Maya, " apa yang dicuri katanya ?"


" tauk ah, orang gila." Sahut Maya sambil mengangkat bahunya dan berjalan meninggalkan Meredith sendiri.


**********


Keesokan hari nya.


Diana tidak melihat keberadaan Meredith di area pool bar tempatnya bekerja. Dia bernafas lega, setidaknya situasi akan aman .


" Siang Mr. Wilmer dan Anthony. Saya juga tidak mengerti kenapa wanita itu begitu kasar kepada saya. " Diana menjawab dengan nada sedih. Pertama kali dihidupnya dia dihina begitu rupa.


" Apa kau pernah bertemu atau melayani dia sebelumnya ?" tanya Anthony.


" Hmm... tidak dikapal. Seingat saya pernah tidak sengaja bertemu dengannya di Vatikan. " jawab Diana .


" Apa kau pernah menyinggung dia disana ?" Wilmer menyambung pertanyaan Anthony.


" saya rasa tidak. " jawab Diana tegas.


" Baiklah kalau begitu. Anthony sebaiknya kau pindahkan Diana dari bar ini. " Saran Wilmer kepada Anthony. Wilmer kemudian pergi meninggalkan mereka. Posisi Diana yang merupakan kekasih Andrew sedikit menguntungkan. Terkadang para atasan tidak begitu perduli apakah bawahannya bersalah atau tidak bersalah, karena bagi mereka tamu adalah raja. Komplain dari tamu akan menjadi masalah panjang.


" Bagaimana kabarmu dengan Mr. Andrew ?" tanya Anthony tiba - tiba setelah kepergian Wilmer.


" Baik - baik saja Anthony. "

__ADS_1


" Kau masih akan bertemu dengannya setiap home port kan ?"


" iya. "


" Oke. Sampaikan salamku padanya. Dan yakinkan kalau aku adalah boss yang baik. " Kalimat terakhir diucaplan Anthony dengan setengah berbisik.


" Tentu saja. " Diana tersenyum mendengar perkataan Anthony. Meskipun dia tau Anthony setengah berjasa untuk kedekatannya dengan Andrew, tapi hal pekerjaan sebenarnya bukan hal yang ingin dia campuri. Apalagi posisi nya masih saja tetap sebagai Bartender.


Memang pernah Andrew berbicara sambil bercanda, " Aku tidak akan merubah posisi mu. Terserah apa kata atasanmu mengenai kenaikan pangkatmu. Tapi aku juga tidak ingin kau bekerja dibagian management, karena kau pasti akan memiliki sedikit waktu denganku."


Dan Diana tidak pernah mempermasalahkan tentang itu.


" Mulai hari, kamu tidak perlu bekerja di bar. Kamu pindah kebagian Florist shop ya . " Florist shop itu merupakan suatu bagian bar yang menjual berbagai macam kebutuhan tamu untuk membeli segala sesuatu yang berbau romantis bagi pasangan mereka. Ada bunga, coklat, permen, boneka, champagne dan beberapa bentuk hadiah imut lainnya.


" Baiklah Anthony. Trimakasih. "


Aku melangkah pergi dan mulai mengganti pakaianku menuju ke Florist shop.


Disana tentu saja aku disibukan dengan tamu - tamu yang datang hendak memberikan kejutan bagi pasangan mereka. Bunga, Coklat, Champagne. Segala sesuatu yang bersifat romantis. Kadang sikap mereka yang begitu memanjakan pasangannya membuat diriku rindu kepada Andrew.


*Hari \- hari terasa begitu panjang ketika hati mulai merindu.


Detik bunyi jam terdengar seperti panggilan kerinduan hati untuk segera bertemu dengan mu.


Keramaian disekitarku tak dapat menepis rasa sepi dihati karena merindu.


Indahnya bulan purnama dan hangatnya cahaya mentari terasa sia - sia tanpa kau disisiku.


Cemburu memandang kebersamaan burung camar yang terbang beriringan .


Oh, kekasihku aku amat merindukan mu*.


Ketika tamu terakhir pergi, Diana amat terkejut melihat sosok wanita cantik dengan mata yang tajam menatapnya sinis. Meredith menemukanku bisik Diana dalam hati.


Wanita itu masuk dan menebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kemudian dia menyerok coklat dan menimbangnya setelah itu tanpa banyak bicara, dia memberikan coklat itu pada Diana dan menyerahkan kartu kreditnya. Diana tersenyum ramah menerima kartu kredit tersebut memprosesnya dan kemudian menengadahkan kepalanya hendak menyerahkan kembali kartu kredit dan lembaran yang harus ditandatangani.

__ADS_1


Tapi wanita itu menghilang, Diana menebar pandangan kesekeliling dan mulai keluar ruangan mencoba mencari keberadaannya, tapi dia tidak ada. Wanita itu yang kemarin tidak dapat mengontrol diri dan bersikap kasar padanya, hari ini tiba - tiba tersenyum penuh misteri dan menghilang.


__ADS_2