Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
77. Kau milikku


__ADS_3

Diana saat ini sedang sendiri di kamar rumah sakit. Awalnya Andrew hendak tetap tinggal tetapi karena ada masalah mendesak dan rapat pemegang saham, akhirnya dengan terpaksa dia pergi.


Seorang pengawal mengetuk pintu dan mengatakan bahwa seorang pria bernama Jason Madison hendak menemuinya.


"Biarkan dia masuk." perintah Diana kepada pengawal tersebut. Dia merasa harus mengucapkan terimaksih pada pria itu.


"Hallo sweety bagaimana keadaanmu?" Jason datang dengan membawa rangkaian bunga yang indah juga beberapa buah-buahan dan meletakannya di nakas.


"Terimakasih aku sudah jauh membaik. Terimakasih juga sudah membawaku kemari dan membantu ketika terjadi keributan kemarin." Ucap Diana dengan bersungguh-sungguh.


"Ah sudahlah itu hal yang selayaknya dilakukan oleh seorang gentelment." ucap Jason dengan nada bercanda.


"Hahaha benar. Maafkan aku bila kau terlibat dengan perdebatan disana."


"No problem. Aku tidak perduli dengan ulah wartawan gosip selama mereka memberitakannya dengan wajar." kata Jason dengan santai.


Diana mengangguk kagum dengan pria dihadapannya yang masih muda tapi terlihat matang.


"Kapan kau akan keluar dari tempat ini?"


"Mungkin besuk."


"Kemana kau akan pergi, ketempat pria itu kah?" tanya Jason dengan nada tidak suka.


Diana mengernyitkan keningnya


"Kau sudah bertemu dengan Andrew?"


"Iya."


"Oh begitu."


"Jadi kau akan kembali bersama dia?" tanya Jason lagi.


"Tentu saja Jason." jawab Diana dengan tersenyum.


"Kenapa kau harus mengikuti dia, laki-laki bren#sek yang sudah membuatmu dihina dunia." ucap Jason dengan nada jengkel.


"Tidak Jason, dia pria baik. Ada suatu keadaan yang membawaku diantara mereka."


"Keadaan apa? Dia menipumu bukan?" ucap Jason dengan sinis.


"Kau belum mengenalnya kenapa berbicara seperti itu?" tanya Diana heran.


"Aku yakin itu. Seandainya kita bertemu lebih awal, aku yakin kau tidak akan menerima perlakuan seperti ini." ucap Jason dengan nada lembut.


"Mungkin itulah yang dinamakan takdir." sahut Diana dengan tersenyum kecil.


"Hahahaha kita pernah bertemu sebelumnya. Berarti itu adalah takdir dan saat ini kita dipertemukan juga berarti karena takdir?" ucap Jason dengan santai.


"Lalu bisakah aku mengatakan kalau kau adalah takdirku?" tanya Jason kembali dengan nada tegas dan pandangan mata yang tajam.


"Kau ditakdirkan menjadi temanku." jawab Diana dengan cepat.

__ADS_1


"Tapi aku menginginkan lebih." sanggah Jason.


"Aku sedang hamil Jason." sahut Diana dengan tegas.


Jason tersentak kaget, ini adalah hal yang diluar


perhitungannya. Tidak akan mudah lagi bagi dia untuk menarik tangan wanita dihadapannya.


"Aku tidak perduli. Anak itu bisa menjadi anakku."


Perkataan Jason membuat Diana mengernyitkan keningnya.


"Kau sedang tidak dalam kondisi sehat aku rasa."


"Tentu saja aku sehat."


"Pikiranmu melantur."


"Tidak. Aku serius tinggalkan pria itu, biarkan


dia kembali pada istrinya. Dan aku akan menjadi ayah anakmu." Jason tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Tuan Jason yang terhormat, kita baru saja bertemu kemarin."


"Kita sudah bertemu tiga tahun yang lalu."


"Aku tidak ingat itu."


"Seharusnya aku tidak membiarkan pria itu membawamu pergi."


"Tapi aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku, sweety." Meskipun saat itu hanya beberapa menit dia menyentuh Diana, tapi wajah wanitabyang merona kemerahan dan masih berusaha mempertahankan harga diri memberi kesan yang mendalam dihatinya. Wanita lain akan mencari kesempatan untuk tidak lepas dari pelukannya.


"Sudahlah, aku lelah. Kau tentu sibuk pergilah." Diana berusaha mengakhiri perdebatan yang tidak akan ada hentinya ini.


"Aku sudah membatalkan semua pertemuanku. Hari ini aku akan menemanimu." Jason bersikeras untuk tetap tinggal.


"Pergilah Jason." usir Diana dengan perlahan


"Tidak aku akan tetap disini." Jason berjalan menuju kulkas dan mengambil satu kaleng minum dingin kemudian membuka dan menegaknya.


"Aku mau tidur."


"Tidurlah aku akan menjagamu." setelah menghabiskan minumannya dia berjalan menuju sofa dan duduk dengan santainya.


"Hehhh terserah padamu." Diana membiarkan pria itu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Dia lebih memilih diam dan tidur daripada harus meladeni Jason yang begitu keras kepala. Tidak butuh waktu yang lama bagi ibu hamil untuk tertidur pulas.


"Lihat apa yang dilakukan pria itu, meninggalkanmu disini sendirian. " ucap Jason perlahan setelah Diana tertidur.


****************


Seorang pelayan di kediaman Andrew tampak memilih tempat tersembunyi di area taman duduk berjongkok dan diam-diam mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


"Apa!" jawab suara diseberang sana.

__ADS_1


"Nyonya ada kabar penting." sahutnya setengah berbisik. Pandangannya masih liar kesekeliling taman, kuatir apabila ada yang tiba-tiba mendekat dan mendengar perkataannya.


"Kabar apa selain wanita sia#an itu diam di rumah sakit. Apa dia terkena kanker, leukimia atau Hiv. Atau dia sudah mati terkena serangan jantung?" suara wanita diseberang sana terdengar kesal.


"Tidak nyonya sesuatu yang lebih dashyat." ucap pelayan itu dengan serius.


"Kenapa kau berbelit-belit, langsung saja. Membuang waktuku."


"Maaf nyonya, saya juga belum pasti, karena wanita itu belum kembali. Tetapi para pelayan sudah bergosip kalau wanita itu hamil."


"Apa katamu. Mana mungkin!" suara melengking terdengar diseberang sana, hingga pelayan tersebut harus menjauhkan ponselnya karena suara itu menusuk pendengaran. Setelah sekian detik dia melanjutkan perkataannya.


"Benar nyonya, itu yang digosipkan. Butler Jhon tampak sibuk mulai mempersiapkan kamar bayi." pelayan tersebut mengaskan berita yang dibawanya.


"Tidak mungkin! Hal itu tidak boleh terjadi!" ucap wanita diseberang sana dengan geram.


"Apa kau tidak memberi obat yang aku berikan untuk Andrew?" sambung wanita itu lagi yang tak lain adalah Rachel dengan nasa suara yang menekan marah.


"Tidak bisa nyonya, saya baru menyadarinya kalau wanita itu sudah mengganti semua vitamin tuan Andrew. Dia tidak lagi mengkonsumsi jenis yang sama seperti yang nyonya berikan pada saya. Dan tuan Andrew tidak pernah meminum vitamin di ruang makan ataupun ruang kerja selain dikamar"


"Kenapa kau tidak memberitahuku segera, bodohhhhhh!!!!" pekik Rachel dengan marah.


"Kalau kau memberitahuku lebih awal, aku bisa membuat kemasan dan isi yang mirip dengan yang diberikan wanita itu."


"Maaf nyonya, vitamin dan obat tuan Andrew diletakan di kamar utama mereka. Dan sangat susah masuk kedalam kamar itu. Hari ini saya baru mengetahui jenis vitamin karena butler Jhon membuang botol kosongnya dan saya juga baru tahu kalau mereka tidak memesan vitamin di apotek biasanya." kata pelayan tersebut memberikan alasan.


"Dasar kau bodoh!" umpat Rachel dengan geram.


"Cepat foto botol vitamin itu berikan padaku." Rachel mematikan sambungan telphone mereka. Sementara pelayan tersebut segera menfoto botol vitamin dan mengirimkannya pada Rachel.


"Apa yang kau lakukan disana?" tegur seorang pelayan lain dengan tiba-tiba.


Pelayan tersebut terkejut dan segera menyembunyikan ponselnya juga botol kosong.


"Tidak ada. Aku hanya beristirahat sebentar. " ucapnya sambil berlalu begitu saja.


"Aneh istirahat kenapa disini. Kan panas. Tidak ada yang melarang istirahat bila semua sudah selesai. " gumam pelayan lain yang merasa heran dengan tingkah temannya.


Sementara dikediaman Rachel, ia baru saja menerima foto yang dikirimkan pelayan tersebut.


"Tidak akan aku biarkan kau begitu saja merebut Andrew dari ku, wanita licik. Tak akan aku biarkan kalian semudah itu bahagia, setelah semua pengorbanan yang aku berikan padamu, Andrew! Kau milikku! Milikku." ucap Rachel dengan berapi-api.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo pembaca...


Terimakasih yan sudah setia membaca dan menyimbangkan jempol kalian.


Jangan bosan memberi kritikan atau pun saran.


Biar author makin semangat.


Setiap coment author baca ya meskipun tidak semua nya di balas.

__ADS_1


Terimakasih.


Stay healthy dan safety


__ADS_2