
Setelah hampir dua puluh menit di kamar mandi, Caroline keluar dengan memaki.
"Bren#sek kau! Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
Caroline keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Meskipun begitu gaun malamnya yang bertali tipis tidak dapat menyembunyikan jejak merah yang bertaburan di sepanjang leher, dada dan punggung.
Caroline tampak kebingungan mencari sesuatu untuk menutupi bagian tubuh nya yang terbuka dan menampakan semua jejak merah itu. Dia semakin kesal melihat wajah Theodor yang tersenyum kecil.
"Kau tampak cantik sekali jika marah," Theodore masih memandang Caroline dengan duduk santai mengenakan boxer nya.
"Kau menyebalkan!"
"Aku? Bukan itu yang kau katakan semalam."
"Karena aku mengira kau orang lain!"
"Apakah hanya dengan satu dua gelas wine kau sudah mabuk dan menyangkaku orang lain? Bagaimana mungkin pemilik perkebunan tidak mampu menikmati wine." ujar Theodor dengan nada mengejek.
Perkataan Theodor makin membuat dirinya kesal, mana mungkin dia mengatakan jika dia menginginkan Andrew dan bukan Theodor. Dan yang lebih menjengkelkan kenapa bisa dirinya tidak dapat mengendalikan diri semalam?
Semakin berpikir semakin Caroline merasa pusing, bukan saja karena memikirkan hal tersebut, tetapi karena tubuhnya terasa amat sangat lelah. Akhirnya Caroline mengambil sweater pria itu dan menutupi tubuhnya.
Caroline berencana untuk keluar dari Penthouse diam-diam, karena tidak mungkin dia membiarkan Andrew melihat dirinya seperti ini. Sekalin itu apa yang akan dipikirkan pria itu nantinya. Cariline tidak mau usahanya sia-sia.
Dan Theodor bahkan tidak mencegahnya untuk pergi. Pria menyebalkan itu malah kembali ke atas kasur dan melanjutkan tidurnya. Caroline tidak ambil pusing, dia buru-buru keluar dari Penthouse tanpa suara.
Sesampainya di lobby, Caroline segera meminta Vallet untuk mengambillan mobilnya. Dengan kecepatan tinggi dia meninggalkan Hotel tersebut kembali ke kediamannya. Siang nanti dia harus kembali dan membawa Andrew untuk melihat perkebunannya.
*
*
Siang itu, tidak hanya Andrew dan Raja yang datang ke perkebunan Caroline, tetapi Theodore juga ada disana.
Masih dengan sebal, Caroline memandang ke arah Theodore. Dia tidak menyangka pria yang sudah menidurinya semalam, muncul lagintanoa rasa malu dihadapannya.
Caroline berusaha untuk tidak menatap pada Theodore, bukan karena merasa terintimidasi, tetapi karena sebal mengingat gara-gara proa itu dia semalam gagal memadu kasih dengan Andrew.
"Ini adalah tempat menyimpan hasil anggur yang sudah diproses." Caroline memperlihatkan gudang bawah tanahnya yang menyimpan minuman tersebut.
Gudang itu sangat luas dan semua di proses secara traditional. Andrew melewati gudang tersebut tanpa banyak bertanya, dia mengawasi dan mendengarkan celoteh dari Caroline.
Hingga sore hari, Caroline mengundang mereka untuk menikmati senja hingga makan malam di kediamannya, meskipun dengan halus dia mengusir Theodor.
"Andrew, kau tentu sudah lelah. Aku akan memperlihatkan keindahan Tuscany dari beranda rumahku, Andrew," ujar Caroline dengan senyum termanisnya.
Dan dia menoleh pada Theodore.
"Anda tentu sudah puas dan lelah mengikuti kami dari tadi, sekarang anda bisa kembali ke perkebunan anda sendiri," ujar nya pada Theordore dengan dingin dan formal.
"Ah, tidak sopan jika aku meninggalkan investor besar begitu saja di tangan saingan. Aku akan bergabung bersama kalian," sahut Theodore dengan tidak mengindahkan sikap formal Caroline.
"Jangan takut begitu, anda silahkan pulang saja. Tentunya banyak yang harus di persiapkan sebelum besuk Andrew datang ke perkebunan mu," bantah Caroline lagi.
"Lebih baik jika Tuan Theodor menghabiskan waktu bersama kita. Sedangkan anda nona Caroline, bisa ikut bersama kami juga besuk melihat wilayah milik tuan Theodore." Ujar Andrew menangkis perkataan Caroline.
__ADS_1
"Benar sekali tuan Andrew, tentu saya akan menjamu kalian dengan luar biasa besuk, dan nona Caroline anda pasti akan menyukainya," ujar Theodore dengan tersenyum penuh arti.
Caroline hanya mendengus kesal. Karena usahanya untuk hanya berduaan dengan Andrew menjadi semakin sulit. Terlalu banyak halangan yang harus dia singkirkan.
Waktu yang dia miliki tidak banyak. Tiga hari tidak cukup untuk mendekati Andrew.
Perjalanan menuju kediaman Caroline hanya diwarnain percakapan akrab antara Theodore dan Andrew. Sedangkan Caroline harus berjalan berdampingan dengan Raja. Beberapa kali dia memperlambatkan langkah kaki nya untuk dapat berjalan bersama Andrew, tapi Raja selalu mengikutinya. Pria blesteran India yang menjengkelkan bagi Caroline.
Sesampainya di kediaman Caroline mereka menikmati pemandangan perkebunan dari balcony rumah. Jamuan teh dan cmilan sudah disiapkan bagi mereka sambil menikmati sinar matahari sore yang menerpa dedaunan anggur.
"Sayang sekali, istri dan anakku tidak bersama kami melihat pemandangan indah ini," kata Andrew.
"Benar sekali, pemandangan dari balcony ini memang indah. Bisakah saya melihat foto keluarga anda,tuan?" tanya Theodore.
Andrew mengeluarkan ponsel dan menunjukan foto keluarganya pada Theodore.
"Anda memiliki istri yang cantik dan anak-anak yang lucu sekali tuan Andrew," ujar Theodore yang melihat foto tersebut dengan bersungguh-sungguh.
"Anda benar, dia wanita cantik luar dan dalam yang pernah saya temui dalam hidup ini," ucapan Andrew membuat Caroline tersedak.
"Anda baik-baik saja nona Caroline?" tanya Theodore penuh perhatian.
"Saya baik-baik saja," ujar Caroline ketus.
Dia kesal sekali karena Andrew memuji Diana dihadapannya.
"Aku dengar dia hanyalah wanita biasa dari kelas terendah, bagaimana kau yakin dia adalah wanita baik yang tidak mengejar hartaku saja?" kata Caroline dengan menekan suaranya.
Andrew menoleh ke arah Caroline sambil memicingkan matanya. Dia tidak suka dengan nada suara dan kalimat yang di lontarkan Caroline, mengenai Diana.
"Tapi... itu yang aku dengar ketika di Miami." Caroline membela diri.
"Mereka yang mengatakan hal tersebut dan langsung percaya, tentulah kalangan pendengki dan penggosip yang tidak pernah mengecek fakta." Andrew berbicara dengan ketus.
"Aku percaya anda tidak akan salah memilih wanita, tuan." Kata Theodore sambil melirik pada Caroline.
"Aku pernah hampir salah memilih wanita saat muda dulu. Tetapi sekarang mataku sudah terbuka," ujar Andrew seraya tersenyum tipis.
"Masa muda adalah masa dimana kita mencari jati diri, benarkan nona Caroline." Theodore menoleh pada Caroline.
"Tidak juga, bagiku masa muda adalah masa paling indah." Jawab Caroline.
"Nah itu saya setuju. Masa-masa pertama kali mengenal cinta dan dibuat bingung oleh wanita, hahhahaha," Theodore terkekeh disela-sela kalimatnya.
"Apalagi cinta pertama bukan? Cinta yang tidak mudah dilupakan." Caroline melirik pada Andrew seraya menyampaikan kalimat nya.
"Tampaknya cinta pertama anda sangat berkesan nona Caroline? Apakah masih terjalin sampai sekarang? Jarang sekali ada cinta pertama yang abadi," Theodore menatap Caroline dengan menyelidik.
Dia teringat peristiwa semalam, dimana tiba-tiba saja Caroline begitu antusias nya melakukan hubungan suami istri dan nama yang diucapkan wanita itu bukanlah namanya, tetapi pria tampan yang duduk dengan gagah dihadapannya.
"Cinta pertamaku, tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Bahkan aku akan berjuang untuk meraihnya lagi." Jawab Caroline dengan tegas dan percaya diri.
Sementara Theodore hanya mengganggukan kepalanya dan mulai menangkap arah perkataan Caroline.
"Cinta pertama, heh. Cinta yang muncul pada saat kita labil dan bodoh," jawab Andrew dengan sinis.
__ADS_1
"Cinta pertamaku juga hilang karena kebodohan," sahut Theodore.
"Tapi, aku tidak pernah menyesali, karena cinta-cinta lain yang datang padaku ternyata jauh lebih indah," sambung Theodore lagi.
"Tampaknya anda sangat mencintai istri anda tuan Theodore," ujar Andrew.
"Benar sekali, almarhum adalah wanita yang luar biasa. Sayang sekali belum genap lima belas tahun kami menikah, dia harus meninggal." Cerita Theodore dengan sedih.
"Ah, maafkan saya tuan," ujar Andrew simpatik.
"Tidak masalah, hidup harus berlanjut. Kita tidak bisa selamanya berkutat pada masa lalu bukan? Biarkan semuanya menjadi kenangan yang indah."
"Maaf, jadi tuan Theodore sudah duda bukan?" tanya Raja tiba-tiba.
"Itu benar sekali. Sudah lima tahun." Jawab Theodore sambil tersenyum pada Raja.
"Dan anda saat ini masih melajang?" Raja melanjutkan pertanyaannya.
"Benar sekali."
"Kalau begitu kalian berdua cocok, nona Caroline dan tuan Theodore. Sama-sama melajang. Seharusnya kalian berusaha lebij dekat lagi, karena bisa saja pertemuan ini adalah pertanda jodoh kalian." Ucap Raja dengan tersenyum lebar.
Theodore dan Andrew tergelak sementara Caroline melengos.
"Aku suka dengan assistent anda tuan Andrew, sangat cepat tanggap. Aku pasti akan menuruti saranmu, benar bukan nona Caroline?" Theodore berkata-kata sambil mengerdipkan matanya pada Caroline yang berlalu begitu saja.
"Aku akan melihat persiapan makan malam," ujar Caroline ketus.
"Awal yang bagus tuan Theodore, anda bisa melihat sikap nona Caroline yang malu-malu dan anda tau artinya apa?" tanya Raja dengan senyum lebar.
"Katakan..."
"Ke-sem-pa-tan," kata Raja perlahan dengan menekankan kalimatnya.
"Jangan disia-siakan tuan. Dia wanita lajang yang cantik dan tentunya pelayanannya pasti luar biasa bukan?" Raja mengerdipkan matanya pada Theodore yang tertawa lebar.
Sementara dibawah meja, Andrew membuka lebar tangannya yang disambut dengan tepukan dari tangan Raja. Terkadang tidak perlu memakai kekerasan untuk menyingkirkan seorang wanita, cukup mencarikan seseorang yang mau meraih kesempatan itu.
ππππππππ
Memang cerdas kau Raja. π
Haiii semua sobat pembaca, apa kabar kalian semua?
Bantu Vote yukkk kisah HIDUPKU BERSAMA CEO.
Kumpulkan poin kaliam untuk periode 7 Desember 2020 sampai dengan 20 Desember 2020 dan Vote ya untuk Andrew dan Diana.
Pastinya Tiga orang yang memberikan Vote terbanyak akan mendapatkan hadiah langsung dari author.
Terimakasih banyak untuk dukungannya.
Stay Health dan tetap Semangat
πππππ
__ADS_1