
"Kau tidak perlu kembali ke kapal dan bekerja . " Andrew berkata sambil mengusap tangan Diana.
Saat ini mereka sedang berendam didalam bathup, dengan posisi Andrew duduk didepan sementara Diana menggosok punggungnya.
Sejenak Diana terdiam mendengar perkataan andrew, berusaha mencerna yang terbaik menurut perasaannya.
"Kenapa?" tanya Diana perlahan.
"Aku ingin kau selalu dekat denganku." Andrew menyandarkan tubuhnya didada Diana.
"Lalu apa yang akan aku lakukan bila tidak kembali bekerja di kapal ?"
"Kau tinggal di Condominium bersamaku."
"Visaku sebagai turis hanya untuk beberapa bulan."
"Itu hal mudah aku akan mengurusnya."
Sebagai seorang yang berkuasa dan mempunya banyak relasi, memang bukanlah hal yang susah bagi dia .
Diana termenung sesaat mulai berpikir apabila dia tidak bekerja bagaimana mengirim uang untuk adik dan keluarganya. Bagaimana dia mendapatkan uang. Mengandalkan Andrew saja hal yang memalukan apalagi tinggal bersama tanpa ikatan. Memang kehidupan metropolitan tidak menghiraukan status seseorang yang tinggal bersama harus menikah. Tapi setidaknya ada hal yang masih mengganjal dalam hati nya.
"Bolehkah aku tetap bekerja?" tanya Diana perlahan. perkataan nya membuat Andrew terkejut , dia membalikan tubuhnya dan menatap Diana, mencari kesungguhan di kedua bola mata gadis yang sudah mengisi hari - harinya dengan penuh warna.
"Kenapa kau ingin kembali bekerja?" tanya Andrew penasaran.
"Aku masih harus membiayai keluargaku." Diana menjelaskan.
"Aku akan memberimu uang bulanan, hal itu kau tidak perlu mencemaskannya." Andrew kembali menyandarkan dirinya dalam pelukan gadis yang dia cintai.
"Tapi... bisakah aku tetap bekerja , Aku ingin memberi uang untuk keluargaku hasil dari kerja kerasku sendiri." Diana masih mencoba mengelak.
Menerima uang dari Andrew sementara dia tidak melakukan apapun membuat dia merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu memaksa, apakah kau masih ingin bertemu dengan pria itu ?!" Andrew mendengus kesal dan berhenti menggosok tangan dan kaki Diana.
"Pria yang mana ?" tanya Diana heran.
"Pria yang bersama mu di crew mess, Maya?"
"Hahahahhaha Maya? Dia tentu lebih bahagia kalau kau menyukai dia daripada aku." Diana tertawa geli mendengar kelonyolan Andrew.
"Aku tidak percaya. Bisa saja dia pura-pura menjadi gay, agar bisa tinggal dekat denganmu." nada suara Andrew terdengar sangat cemburu.
"Astaganaga! Hahahahhaha. Aku malah lebih kuatir jika Maya berdandan perempuan, kau akan lebih menyukai dia daripada diriku." balas Diana menggoda.
"Gila!" Andrew mengetuk kening Diana.
"Bagaimana aku bisa berpaling bila yang disini lebih luar biasa." Diana mencium leher belakang Andrew perlahan, mencoba menyakinkan.
Mendengar kata-kata dan merasakan sentuhan Diana, Andrew merasa sedikit tenang dan tersenyum lebar.
"Jadi aku masih boleh tetap bekerja kan ?" Diana masih berusaha merayu. Dia masih berharap dapat bekerja kembali, selain menghasilkan uang untuk keluarganya dan berat rasanya jika tiba-tiba tidak bisa bertemu dengan kegokilan dua M. Maya dan Monna.
"Baiklah, dengan satu syarat Kau harus tetap menemuiku seperti biasanya, kau tidak boleh dekat- dekat dan berbicara lebih dari tiga menit dengan pria itu, bukan ... bukan hanya pria itu tapi semua pria. Kau harus sesering mungkin mengirimi aku foto mu dan pesan. Tidak boleh ada seorang pun apalagi pria yang menyentuhmu apalagi tanganmu. Biarkan semua orang tau kau adalah milikku. Kalau kau melanggar perkataanku , maka aku akan membuatmu berhenti bekerja dan tinggal bersamaku! "
Diana terbelalak mendengarkan syarat Andrew. itubukan satu syarat yang didengarnya tapi lebih tepatnya banyak ultimatum. Namun walaupun begitu dia tidak berusaha mengajukan keberatan agar tidak memperpanjang perdebatan.
"Okey, hal yang mudah. Jadi deal ya, aku akan kembali bekerja." Andrew mengangguk dengan berat hati
Apabila hal ini terjadi dengan wanita lain, mereka tentunya akan berserok. Tidak harus bekerja uang sudah mengalir seperti kran air yang tidak akan pernah tersumbat. Besarnya kran air bisa kau atur dengan pelayanan yang kau berikan pada pria mu. Mereka bisa bergaya bak sosialita, bergaul dengan para selebritis ataupun politikus dan hidup bagaikan bangsawan yang bergelimang harta.
Tapi, tidak dengan gadis ini yang telah menyerahkan kesucian padanya, meskipun dengan sedikit dipaksa. Hari-hari bersama dia membuat Andrew mengerti banyak hal baru. Mengenal pribadi dan sosok baru yang membuatnya damai. Cinta yang ditawarkan tanpa ada timbal balik. Perhatiannya tulus. Pribadi yang lembut mengingatkan dia pada kasih ibu nya yang telah lama meninggal sejak dia berumur sepuluh tahun. Semenjak itu Andrew dididik dengan keras sebagai ahli waris oleh Ayahnya. Andrew adalah anak tunggal yang lahir ketika ayahnya berusia Empat puluhan. Sepeninggal ibu Andrew, ayahnya tidak pernah menikah lagi hanya bermain-main saja dengan wanita.
Andrew kembali membalikan tubuhnya dan mencium bibir Diana, ciuman mereka begitu lembut penuh kasih sayang, saling memberi dan menikmati. Sambil tetap berciuman,Andrew mengangkat tubuh Diana dan gadis itu mengalungkan tangannya keleher Andrew. Masih tetap dengan berciuman mereka masuk kedalam bilik mandi dan membasuh sisa sabun dari tubuh mereka setelah merendam dengan busa di bath up.
Andrew mengambil handuk dan mulai mengeringkan tubuh mereka. Belum sempat gadis itu melilitkan handuk di tubuhnya dengan sekali hentak sang pria sudah menggendong dan membawanya keatas tempat tidur yang luas. Dia pandangi gadis yang telah menggugah hatinya kemudian mulai mengecup kening, mata, hidung, pipi dan kemudian ******* bibir yang sudah merekah. Ciuman hangat saling menelusuri dan menghisap.
__ADS_1
Diana mengalungkan tangannya ke tubuh Andrew, membuat tubuh polos mereka saling bersentuhan rapat. Hangat dan kekar nya tubuh pria yang berada diatas tubuhnya membuat tubuhnya bergetar.
Ciuman Andrew mulai mengalir turun bermain di seputar leher gadis itu membuat nya terèngah dan melengkungkan tubuh dan lehernya terkulai kebelakang. Andrew semakin ganas, ketika buah dada Diana menekan tubuhnya. Ciuman di leher yang sudah meninggalkan jejak kemerahan berjalan ke dada dan menerkamnya lembut, ******* dada dan meremasnya bergantian sambil sesekali tangannya mengusap perut sang gadis, tangannya mulai bergerak menjalar ke bawah, membelai paha dan mencium bagian sensitif Diana yang membuat nya melenguh keras terbuai dengan permainan sang lelaki.
Andrew kemudian mengangkat tubuh Diana keatasnya menciumi wajah gadis dihadapannya dan mulai membuka kedua paha Diana kemudian dengan perlahan dia mulai menyatukan kedua mahkota, perlahan semakin dalam membiarkan si gadis memegang kendali hingga gadis itu terkulai lemas didadanya setelah mencapai puncak. Perlahan dibaliknya tubuh mereka, kini Andrew diatas dan mulai menggoyang kembali tubuhnya dengan lembut sambil ******* bibir gadis dibawahnya dan meremas dada yang lembut. Nafas mereka memburu, erangan kenikamtan terdengar dari kedua bibir mereka, hingga kembali keduanya saling mengejang. Desahan kepuasaan keluar dari kedua nafas mereka. Andrew masih terkulai sesaat diatas tubuh Diana dan membiarkan gadis itu terlelap.
Kemudian dia beranjak turun mengambil tisyu dan membersihkan bagian sensitif Diana. Banyak sekali cairan yang keluar dari dirinya mengalir disana.
"Andaikan aku bisa memiliki anak, aku ingin memliliki banyak anak bersamamu." desah Andrew lirih sambil mencium kening Diana.
Setelah membersihkan dirinya, Andrew duduk di kursi menghidupkan handphone yang selama berlibur di Venice dia matikan. Banyak pesan yang masuk disana. Ada ratusan missed called disana. Dia tak menghiraukan semua, tujuannya adalah menghubungi Briant.
"Briant, apakah kau sudah mengurus semua?" tanya Andrew langsung ketika Briant menerima panggilannya.
"Sudah. Aku langsung memerintahkan staff untuk mengepak barang kalian dan membawanya keluar. "
jawab Briant diseberang sana.
"Kau bertemu dengan mereka?" tanya Andrew lagi dengan suara berat dan menekan.
"Tidak. Aku menghindari mereka dengan tidak kembali keatas kapal. " jawab Briant.
"Bagus. Besuk aku akan kembali. Kau coba atur dan urus point-point perceraianku. Aku sudah muak dengan wanita itu." Perintah Andrew.
"Bukan hal yang mudah Andrew, tapi aku akan mencoba nya. Karena banyak hal yang rumit disini mengacu pada keselamatan perusahaan." jawab Briant yang merupakan orang kepercayaan Andrew sekaligus sahabat dekatnya.
"Aku paham. Tapi aku tidak mau kehilangan Diana. " jawab Andrew lirih.
Klik. Telphone dia matikan kembali .
Sambil menikmati cognac Hennesy, Andrew memandang Diana yang tertidur pulas dan larut dalam pikirannya.
ππππππππππππππππππππ
__ADS_1