Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Dia anakku


__ADS_3

"Haruskah aku mengirim pengawal untuk menjaga Conrad?" tanya Andrew pada Diana.


Diana sudah meletakan Aaron dalam box bayi dan mengecup kening putra nya yang masih membiru. Dia mengajak Andrew untuk keluar dari kamar Conrad, kembali ke kamar mereka.


Diana teringat masa-masa dimana Andrew meletakan pengawal untuk menjaganya dari Rachel, dan dia tidak menyukai hal itu. Dimanapun dia berada pergerakannya terasa dibatasi. Semua orang memandang dirinya dengan aneh, mencari tahu siapa dirinya dengan pengawalan seakan seorang politikus atau artis penting.


Dan karena hal itu, setelah kematian Rachel, Diana meminta Andrew untuk melepaskan pengawal dari dirinya dan anak-anak. Dia merasa tidak ada lagi ancaman. Dia ingin anak-anaknya hidup normal.


Setiap hari supir dan pengasuh selalu menemani Conrad. Tetapi kedua orang ini tidak menemukan hal yang mencurigakan. Haruskah dia bertindak sesuai keinginan Andrew dengan mengiirim pengawal untuk Conrad. Apakah anak itu tidak akan merasa tertekan dan terkekang?


"Tidak Andrew. Aku akan mencoba bertindak selayak nya seorang ibu normal." Sahut Diana.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan menjadi mommy detectif."


"Mommy detectif? Apa itu?"


"Aku akan menggunakan instingku sebagai seorang ibu, dan akan mengawasi Conrad secara langsung."


"Kau yakin bisa mengatasinya? Anak itu sedikit kasar kepadamu." Ujar Andrew dengan penuh perhatian.


"Tenanglah.... biar bagaimanapun dia anakku. Dia tidak akan melukaiku." Ujar Diana dengan percaya diri.


"Baiklah. Lakukan yang menurutmu perlu. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa berubah seperti itu." Desah Andrew sambil memeluk Diana.


*


Keesokan harinya.


Conrad seperti biasanya memasuki gedung kursus menggambar. Dia masuk kedalam ruangan itu hanya untuk menembus ke arah sisi lain dan menuju sebuah cafe. Di cafe tersebut seorang wanita sudah menantinya dengan senyum lebar.


"Hai Conrad..." sapa nya dengan senyum ceria.


"Hallo madam Caroline." Sapa Conrad.


"Sudah berapa kali kukatakan, panggil aku mommy Caroline." Ujar wanita yang ternyata Caroline itu dengan mengerutkan keningnya.


"Ah iya. Mom..mommy." ucap Conrad dengan terbata-bata.


"Kenapa susah sekali kau memanggilku mommy, aku ibu kandung mu. Bagaimana bisa kau berbuat seperti itu," ujar Caroline dengan wajah sedih hendak menangis.


"Iyaa.. maaf... itu karena... selama ini panggilan mommy hanya untuk mommy Diana.." ujar Conrad dengan bingung.


"Dia lagi. Dia lagi." Caroline menghela nafas.


Seorang pelayan mengantarkan minuman untuk Conrad. Susu coklat hangat dan sepiring sandwich lengkah dengan kentang goreng. Caroline menyodorkan susu coklat untuk Conrad dan kemudian mengambil sepotong kentang goreng untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Dengan perlahan Conrad menyeruput sisi coklatnya. Aliran hangat dan manisnya susu coklat itu mengalir di lidah dan menghangatkan tubuhnya. Susu coklat itu cukup berhasil membuat Conrad tenang.


"Kau ingat bukan bagaimana aku bercerita padamu. Andrew dan diriku adalah sepasang kekasih semenjak kuliah. Kami akan menikah tetapi Rachel mencoba mencegahnya. Tetapi kami tetap selalu saling mencintai, hingga aku hamil dirimu. Dan ternyata..." Caroline diam sejenak. Mengumpulkan air mata di kelopak matanya hingga menetes satu butir.


"Diana.. wanita itu datang merayu Andrew. Dia... membuat Andrew mencampakanku dan dirimu. Tetapi aku berhasil membuat Andrew menerimamu. Maafkan aku... semua ini aku lakukan agar dirimu memiliki kehidupan yang lebih baik."


Caroline menyeka matanya dengan sapu tangan. Menghirup ingus yang tidak pernah ada.


"Hingga aku terpaksa menikah dengan seorang duda, dan memiliki seorang anak dengan duda itu." Lanjut Caroline.


"Kau memiliki seorang adik dari rahim yang sama, rahimku. Adikmu cantik namanya Francesca. Bukan Aaron, dia tidak lahir dari rahim yang sama. Kau mengerti?" sambung Caroline lagi menegaskan.


"Tetapi kenapa baru sekarang madam..eh.. mommy muncul?" Tanya Conrad.


Dia selalu mendengar cerita Caroline itu berkali-kali. Setiap saat mereka bertemu, Caroline selalu menceritakan hal yang sama. Dia sudah hafal. Tapi pertanyaan itu baru kali ini berani dia ucapkan.


"Setelah suamiku meninggal, Aku berkali-kali mencoba kembali pada ayahmu. Tetapi wanita itu selalu menggunankan akal liciknya untuk menghalangi kami. Dia membuat ayahmu membenci ku. Kau tahu dia wanita berhati licik, yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan harta Andrew. Ingat kekayaan Andrew sesungguhnya hanya milik kita." Caroline mulai menyebarkan bisa nya.


"Dia hanya pura-pura menyayangi dirimu. Tetapi sesungguhnya dia hanya memanfaatkan dirimu untuk mendapatkan hati Andrew. Wanita materialistis. Seharusnya kau bisa merasakan bagaimana dia pilih kasih antara dirimu dan anak kandungnya." Ujar Caroline berapi-api hingga membuat Conrad takut.


Bocah itu tertunduk bingung. Sesungguhnya di dalam hati Conrad dia tidak pernah merada dibedakan. Dia bisa merasakan kasih sayang tukus Diana dan bagaimana Aaron selalu mengidolakan dirinya. Dia rindu masa-masa dimana dirinya selalu dalam pelukan mereka.


Tapi kehadiran Caroline membuat dirinya bingung. Caroline datang dengan menunjukan kebenaran, jika dirinya adalah anak kandung wanita itu. Hal itu membuat Conrad syok. Tapi dia tidak punya tempar untuk mengadu.


Caroline selalu menekankan bagaimana Diana akan memisahkan dirinya dengan ibu kandungnya. Bagaimana Diana akan meracuni Andrew dan bahkan mungkin akan membuang Conrad dari kehidupan Andrew. Semua itu membuat Conrad berubah. Dia tertekan.


Diana mengikuti Conrad hingga masuk kedalam gedung kursus dan ketika dia melihat Conrad masuk kedalam ruang kursus, Diana sedikit tenang. Tetapi sesaat kemudian ada rasa ragu yang membuat dirinya masuk dan mencari Conrad.


Ketika tidak menemukan Conrad di dalam ruang kursus, Diana panik. Dia akhirnya menemukan pintu keluar dari arah lain. Melewati pintu itu Diana menyusuri beberapa kantor dan menemukan sebuah cafe. Disana dia melihat Conrad dengan Caroline.


"Mommy?" Ucap Conrad dengan terkejut. Dia tidak menyangka jika Diana menemukan dirinya dengan Caroline.


"Ayo Conrad kita pulang," ajak Diana dengan lembut.


Conrad menatap Diana tidak percaya, mendengar wanita itu dengan lembut memanggil dirinya anakku.


"Jangan sok pura-pura kau. Dia bukan anakmu!" Bentak Carolone dengan emosi.


"Apapun yang kau katakan, dia adalah anakku." Sahut Diana tenang.


Diana mengambil tangan Conrad dan bermaksud mengajak Conrad pulang. Tapi Caroline menghalangi Diana.


"Dia anakku. Kau yang sudah menghancurkan hubunganku dengan Andrew dan sekarang kau hendak merebut Conrad? Jangan harap kau bisa melakukan hal itu." Desis Caroline.


"Kau ibu Conrad? Bagaimana mungkin?" Ujar Diana tergelak.


Dia merasa hal itu lelucon. Wanita yang sudah meninggalkan Andrew sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana bisa mengakui Conrad anaknya. Tapi, tunggu sepuluh tahun? Saat itu Andrew masih menikah dengan Rachel. Apa yang terjadi?

__ADS_1


"Kau tidak percaya. Lihat ini." Caroline mengeluarkan sebuah amplop dari tas dan memberikan pada Diana.


Dengan heran Diana mengambil amplop itu, membuka nya. Didalam adalah surat hasil test DNA yang menyatakan jika Conrad adalah anak dari Andrew dan Caroline. Tangan Diana bergetar. Dia sangat terkejut dengan lembaran kertas yang berada di tangannya.


"Kebohongan apa ini Caroline?" Ujar Diana dengan mata berkaca-kaca.


Wanita masa lalu, cinta pertama Andrew ini kenapa begitu licik. Setelah gagal merayu Andrew dia memanfaatkan Conrad untuk membela nya. Anak kandung? Benarkah?


"Kau bisa membaca bukan? Kau tahu dengan jelas apa isi surat itu. Sekarang berikan Conrad kepadaku." Caroline menarik tangan Conrad.


"Lepaskan dia. Dia anakku. Surat ini tidak membuktikan apa-apa tanpa status hukum. Dan kau bisa mengatakan hal itu sendiri pada Andrew, bukan menghasut dan meracuni anak-anak. Ini lebih dari yang bisa dia tanggung." ujar Diana panjang lebar sambil berusaha mempertahankan Conrad.


Bocah yang hampir berusia sebelas tahun itu, kebingungan ketika dua orang wanita tiba-tiba memperebutkan dirinya. Satu wanita mengklaim sebagi ibu kandungnya. Sedangkan wanita satunya adalah wanita yang selama ini membesarkan dirinya dengan penuh cinta.


"Apa kau butaaaa?!" Ujar Caroline histeris. Dia menghentakan tangan Conrad sehingga anak itu jatuh terhuyung ke arahnya.


Diana terkejut.


"Conrad... kau tidak apa-apa nak?" Ujar nya panik.


"Jangan pura-pura perhatian kau. Hei dengarrr semua. Dia adalah wanita penggoda yang hendak merampas suami dan anakku." Ujar Caroline kepada pengunjung cafe yang menyaksikan perdebatan diantara mereka.


Saat itu beberapa pria yang melihat bagaimana Conrad terhuyung, segera menghampiri Caroline dan memaksa wanita itu melepaskan pegangan tangannya dari Conrad. Caroline merancau panjang lebar dan semakin membuat Conrad ketakutan. Pria tersebut juga menghampiri Diana yang syok.


"Anda tidak apa-apa nyonya?" Tanyanya.


Diana menatap pria tersebut dan mengenali mereka adalah pengawal Andrew. Tampaknya Andrew diam-diam mengutus pengawalnya untuk mengikuti Diana.


"Bawa kami pulang." Ujar Diana menjawab pertanyaan pengawal itu.


"Baik nyonya."


Pengawal memberi tanda pada rekannya untuk membawa Conrad, yang juga masih kebingungan untuk memilih antara Doana dan Caroline.


"Jangan bawa anakku... Dia anakku... Wanita tidak tahu maluuuu... kembalikan Suami dan anakku!!!" Teriak Caroline histeris.


Pengawal Andrew mengawal Diana dan Conrad pergi tanpa menghiraukan teriakan Caroline.


Conrad yang terguncang menangis terisak dalam pelukan Diana. Dia benar-benar kacau dan bingung.


Setelah mereka pergi. Caroline kembali duduk dengan tenang, menyeruput kopi nya dan menikmati sandwich dengan tenang. Setelah menghabiskan sandwich dia mengeluarkan rokok Virginia slim dan menghisapnya perlahan.


Pengunjung cafe yang melihat dirinya dan hendak mengatakan simpati. Langsung terdiam. Bagi mereka wanita ini bertingkah sangat aneh. Bagaimana mungkin dalam hitungan detik dia bisa berubah seperti itu, seperti tidak ada hal yang mengganggu dirinya.


Caroline kemudian mengeluarkan handphone nya dan mengetik sebuah pesan. Dia menyeringai membaca pesan yang telah dikirimkannya.


Caroline kemudian merapikan dirinya dan meninggalkan uang untuk membayar makanan yang telah dia pesan. Dengan tanpa beban Caroline memasang senyum di wajah dan meninggalkan cafe tersebut.

__ADS_1


...💗💗💗💗💗💗...


__ADS_2