Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
pelabuhan terakhir


__ADS_3

Keesokan hari nya. Francesca terbangun dari tidurnya, dia keluar dari kamar dan berjalan mengelilingi penthouse. Ini pertama kalinya dia tinggal di tempat yang bukan rumah nya.


Francesca memandang ragu sekeliling ruangan dan dia beranjak ke balcony. Udara pagi menerpa wajah nya. Ada kesejukan dan kelegaan dia rasakan. Francesca duduk di kursi sambil memeluk bonekanya dan memandang kosong di depan.


Dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya. Dia tidak mengerti akan pilihan yang harus dia ambil. Saat ini yang ia tahu, dirinya merindukan Lena. Wanita yang selalu tersenyum ceria dikala dia bangun tidur.


"Ah, kau disini rupanya," Conrad yang sudah bangun segera mencari Francesca.


Conrad duduk disisi Francesca. Dia memandang wajah muram adik satu ibu ini. Meskipun baru mengenal nya selama satu hari, tapi berdasarkan kejadian semalam, nasib gadis ini jauh lebih buruk dari pada dirinya.


"Apakah kau baik-baik saja? Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Conrad.


Gadis kecil itu mengangguk.


"Lalu kenapa kau muram?"


Francesca diam. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.


"Kau tahu, aku akan meminta daddy untuk membelikanmu boneka baru, sepatu dan pakaian baru. Kau pasti akan menyukainya." Ujar Conrad dengan penuh semangat.


"Dan aku juga akan meminta daddy untuk membawa mu ke rumah kami di Miami. Kau akan suka bertemu dengan mommy ku, adikku, nanny Maria dan nanny Matilda, butler Jhon, uncle Briant, unty Grisella, Grandpa, ah sayang unty Lia sudah pergi." Conrad berhenti sesaat.


"Tunggu disini, akan aku tunjukan foto mereka." Conrad masuk kedalam dan mengambil ponselnya.


Di dalam kamar dia melihat ayah nya sedang melakukan push-up.


"Daddy, jiia sudah lebih besar nanti, aku akan membentuk badanku seperti mu daddy. Supaya istri ku mencintaiku seperti mommy mencintaimu." Ujar Conrad sambil memandang Andrew.


Andrew menghentikan gerakannya dan tertawa.


"Tentu saja kau harus melatih fisikmu agar sehat dan indah. Tapi ingat, keindahan fisik itu hanya bonus. Temukan wanita yang mencintai dirimu disini." Andrew menunjuk pada jantung putranya.


"Mencintaiku dari hati ya dad?"


Andrew mengangguk.


"Kau masih punya banyak waktu. Saat ini yang terpenting adalah belajar dan bergaulah dengan semua orang. Temukan jati diri mu." Nasihat Andrew.


"Baik dad. Sekarang aku mau menemani Francesca dulu ya dad. Ah, dad... emhhh.. bisakah kita membawa pulang Francesca?" tanya Conrad dengan penuh harap.


"Kita lihat nak, apa yang bisa kita lakukan untuknya. Raja, akan mencari tahu apa yang dapat kita lakukan." Ujar Andrew.


Conrad mengangguk. Dia membawa handphone nya ke depan. Seandainya saja Conrad tidak mematikan fitur pelacak di handphone itu, mungkin bisa lebih cepat Andrew menemukannya.


"Frances, lihat ini adalah mommy dan keluarga yang aku ceritakan padamu. Lihatlah dia selalu penuh dengan senyuman dan sangat suka memeluk."

__ADS_1


Francesca memperhatikab foto tersebut. Matanya berbinar. Wanita cantik yang oenuh senyuman, tampak nyaman berada di pelukan wanita itu. Ingin sekali dirinya disayang dan dimanja seperti itu.


Francesca memandang Conrad dengan senyuman.


"Kau tenanglah, daddy dan mommy adalah orang terbaik. Mereka pasti akan menolongmu." Ujar Conrad dengan penuh keyakinan.


"Hallo anak-anak hebat. Kalian sudah sarapan?" Raja sudah muncul di hadapan mereka.


"Belum uncle. Kami sedang menanti daddy." Sahut Conrad.


"Ah... pasti lapar ya. Daddy menyuruh uncle untuk membawa kalian sarapan pagi di restaurant. Ayoo kita bersiap turun." Ajak Raja.


"Benarkah? Daddy tidak ikut sarapan?" Tanya Conrad dengan heran.


"Daddy sedang menelphone dan tidak boleh di ganggu. Nanti kita akan meminta pelayan kamar membawa makanan untuk daddy, okey? Frances ayo sini gendong om." Raja maju dan langsung mengangkat Francesca dalam gendongannya.


Francesca terkejut dan dia sempat memekik. Dia tidak pernah digendong oleh orang lain selain Lena.


"Tenang saja, om tidak menggigit kok. Hahhahaha. Cuma mencium." Raja mencium pipi kurus gadis kecil itu.


Mereka kemudian turun kebawah, menikmati prasmanan sarapan pagi yang sangat mewah. Frances matanya berbibar melihat begitu banyaknya makanan disana.


Dengan malu-malu dia berbisik pada Conrad, "apakah aku boleh memakan semua makanan ini?"


"Makanlah sebanyak yang kau mampu, asal jangan sampai sakit perut." Sambung Raja dengan tertawa.


Tangan kecil Francesca segera megambil dan menikmati segala varian roti dan daging yang tersedia. Dia makan dengan lahap sosis dan daging yang ada. Makanan enak yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


*


Sementara itu di Penthouse, di kamarnya. Andrew menerima panggilan video call dari Diana.


"Apakah kau sudah menemukan Conrad?" Tanya Diana langsung.


"Iya sudah. Maafkan aku hanya mengirimi mu text semalam."


"Ah, syukurlah. Aku cemas. Bagaiamana keadaannya? Apakah dia trauma?" Tanya Diana dengan cemas.


"Dia sudah lebih baik. Dia sudah merasa tenang. Aku rasa dia sudah tidak ingin mengenal Caroline lagi. Dia ingin pulang. Dia merindukanmu."


"Ah... anakku." Diana menangis terharu.


"Lalu bagaimana dengan gadis kecil yang kau ceritakan itu?" Tanya Diana lagi.


"Aku kasihan dengan nya. Gadis itu baru berusia lima tahun. Tapi badannya lebih kecil dari Aaron yang belum genap empat tahun. Dia tampaknya mengalami banyak tekanan. Aku merasa kasihan dengan anak itu." Cerita Andrew.

__ADS_1


"Bisa kah kau membawa nya pergi?"


"Entahlah, aku memperintahkan Raja untuk menyelidiki anak itu nanti. Dan melihat keadaan Caroline."


"Andrew. Jangan percaya apapun yang keluar dari mulut Caroline. Wanita itu bukan seorang ibu. Wanita itu... dia kejam." Raut wajah Diana menunjukan kebencian yang luar biasa.


"Ada apa, kenapa kau tiba-tiba seperti itu?"


tanya Andrew heran melihat sikap Diana yang tidak seperti biasanya.


"Aku menemukan fakta jika wanita itu menjual Conrad."


"Apa maksudmu dengan menjual? Darimana kau dapatkan ide gila itu?" Andrew merasa heran dan gusar dengan perkataan Diana.


"Aku membaca buku harian Rachel. Di sana tertulis..." Diana menarik nafas sesaat dan membuang ingusnya dengan tisyu.


"Buku harian Rachel? Darimana kau mendapatkannya?" tanya Andrew dengan heran.


"Akan aku ceritakan lain waktu." Diana menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Rachel mengetahui kau kembali berhubungan dengan Caroline. Dan dia meminta nya untuk meninggalkanmu, tetapi wanita itu malah meminta sejumlah uang sebagai kompensasi untuk meninggalkanmu. Dan dia kembali lagi pada Rachel ketika mengetahui jika dirinya hamil." Diana menghela nafas.


"Dia hamil? Conrad?"


"Iya. Dia membawa bayi Conrad kepada Rachel. Dan mereka melakukan kesepakatan. Rachel memberikan satu juta dolar kepada Caroline sebagai ganti wanita itu menjauhi mu dan menyerahkan hak asuh Conrad." Cerita Diana dengan sendu.


"Wanita itu benar-benar keterlaluan. Dia bahkan tega menjual anaknya sendiri. Seharusnya dia datang kepadaku terlebih dahulu." Geram Andrew dengan amarah.


"Lalu apa? Jika dia datang padamu saat itu, mungkin tidak ada aku di hidupmu saat ini. Apa kau menyesalinya?" Diana terisak dengan kesal.


"Tidak. Tidak. Jangan menangis sayang. Jangan salah paham. Kau adalah jodohku. Kau pasti akan datang padaku disaat bagaimana pun." Ujar Andrew dengan cepat.


"Ayolah sayangg kau mengerti maksudku. Kau adalah satu-satunya belahan jiwaku. Dia memang cinta pertamaku, tapi perasaan itu sudah menguap. Hanya kau yang mengisi kekosongan hati ini. Hanya kau yang pelabuhan terindah dan terakhir bagiku." Andrew merajuk.


"Aku mengerti sayang." Diana mengusap layar handphone nya seakan menyentuh wajah Andrew.


"Jangan membuatku panik. Kau tidak ingin kan aku menua tiba-tiba." Andrew menarik nafas lega melihat senyuman di wajah istrinya. Istri yang paling dia cintai. Pilihan terbaik yang pernah dia lakukan.


"Tenang saja, meskipun kau tua dan jelek aku masih tetap disampingmu."


"Ah.. jika saja kau berada disini sekarang aku akan menghabisimu." ujar Andrew dengan gemas.


"Cepat selesaikan urusanmu. Dan bawa kedua anak itu kembali."


"Tentu saja sayang. Aku mencintai mu."

__ADS_1


__ADS_2