
Malam sudah berganti dengan pagi. Bulan sudah beristirahat dan berganti tugas dengan matahari untuk menyinari bumi.
Burung hantu sudah beranjak dan masuk kedalam sarangnya, berganti dengan kicauaan burung lainnya yang bersahutan dengan nyaring.
Satu persatu pelayan sudah mulai beraktifitas, menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing. Tapi sayang nya, tidak ada obrloan dan canda yang mengiringi pekerjaan mereka hari ini. Semua wajah tampak sedih dan tak bergairah. Mereka bekerja dengan wajah lesu.
Semuaa pelayan hampir tidak bisa tidur semalaman, mendengarkan Matilda yang menangis terisak-isak sampai subuh. Semua pelayan terkena imbas dari keisengan Andrew dan ketiga anak nya. Mereka jadi takut untuk bersikap santai. Mereka bekerja dengan was-was dan tegang, khawatir jika berakhir sama seperti Matilda.
Sementara Matilda sudah mengemas pakaiannya kedalam koper. Dia dengan sedih saat mengepak pakaianya satu persatu. Nanny Maria yang sekamar dengan dirinya ikut merasa sedih.
Saat pagi hari ketika nanny Maria sudah bangun, dia membiarkan Matilda tetap tidur. Beliau merasa kasihan karena ketika jam empat pagi dia bangun, Matilda masih juga belum tidur.
Dengan lesu, Maria sarapan di dapur. Semua memandang kue tart dua susun yang besar disana. Kue tart dengan mayoritas hiasan cokelat m&m dan permen jelly. Tampak nyata sekali itu jenis kue tart kegemaran Aaron. Merayakan kepergian Matilda, hiks mengenaskan sekali.
Pukul tujuh pagi, Maria naik ke kamar Francesca dan membangunkan anak itu. Francesca yang masih mengantuk bertanya padanya, "jam berapa ini bibi Maria?"
"Sudah pukul tujuh, nona." Sahut nanny Maria.
"Whatttts. Wah terlambat ini! Bentar Frances mau bangunkan Aaron dan kak Conrad." Francesca berlari dengan cepat menggedor kamar Aaron.
"Bangun Aaronnn sudah waktunya." Teriak Francesca.
"Iya aku tahu. Alon balu habis mandi." Teriak Aaron dari dalam kamar.
"Okeyyy." Francesca kemudian beralih menuju kamar Conrad.
"Kakak, ayo bangun!" Teriaknya.
Andrew yang membuka pintu kamar Conrad membuat Francesca terkejut.
"Daddy tidur disini? Sama kakak?" Tanya nya heran.
"Iya." Jawab Andrew singkat.
"Kakak sudah bangun?"
"Itu masih di kamar mandi."
"Ooo kalau begitu, Frances mau mandi dulu yaaa." Gadis kecil itu kembali ke kamar nya dan segera meminta Maria untuk memandikannya.
"Ada apa kok bersemangat sekali pagi ini?" Tanya Maria tak mengerti. Karena jika akan bepergian, tentu nya dia sudah tahu sehari sebelumnya untuk mempersiapkan kebutuhan anak-anak.
"Ada deh, pokoknya seru." Jawab Francesca penuh rahasia.
"Oooo," sahut nanny Maria kecewa.
"Nanti bibi boleh kok ikutan seru-seruannya." Kata Francesca yang tidak tega melihat pengasuhnya murung.
"Ah, benarkah? Terimakasih Frances." Sahut nanny Maria gembira. Setidaknya dia merasa masih disukai oleh anak-anak dan tidak akan bernasib sama seperti Matilda.
Tak berapa lama kemudian, tampak Andrew, Conrad, Francesca dan Aaron sudah bersiap turun. Andrew bertanya-tanya dalam hatinya dimana Diana berada.
"Mommy mana Aaron?" tanya Andrew penasaran.
"Sudah dibawah, mau lihat bibi Matilda." Jawab Aaron.
"Ah, ayo cepat kita selesaikan semua nya hari ini, supaya mommy tidak lama marah nya sama daddy."
Andrew dengan gesit mengangkat tubuh Aaron dan Francesca kedalam gendongannya. Dia menuruni tangga dengan gesit diikuti oleh Conrad. Sementara nanny Maria yang berada dibelakang, mengikuti dengan penuh tanda tanya.
Mereka mampir ke dapur terlebih dahulu dan meminta cheft paul dan assistentnya membawa kue tart yang sudah siap. Mata Aaron dan Francesca berbinar melihat taburan cokelat m&m di kue tart. Mereka dengan tidak sabar sudah mencomot m&m dan permen jelly.
Di belakang, ternyata Diana sudah bersama para pelayan berkumpul di rumah belakang. Mereka tampak sudah menanti kedatangan Andrew dan ketiga anaknya. Andrew menatap mereka dengan heran.
"Mau apa kalian semua berkumpul disini?" Suara Bariton Andrew penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Mau aku ajak demo, mogok kerja." Sahut Diana jutek.
"Sayanggg... ayolah... kamu salah paham, jangan marahhhh, aku bisa jelaskan nanti." Suara bariton yang tadi berbunyi dengan tegas, berubah menjadi lembut ketika Diana menyahuti nya.
"Aku tidak salah paham. Kau yang salah paham!" Sahut Diana masih dengan nada ketus.
"Oh my God, ujian apa ini." Keluh Andrew dengan lesu.
"Ayo daddyyyy cepetan. Nanti saja pacarannya sama mammy," Conrad dengan tidak sabar menarik tangan Andrew.
Andrew terpaksa mengikuti anak-anak nya masuk kedalam rumah karyawan yang mirip losmen kecil. Kamar-kamar berderetan dengan rapi dan dalam kondisi yang sangat bagus, mengalahkan fasilitas losmen. Kehidupan para karyawan benar-benar terjamin. Bahkan terdapat ac di masing-masing kamar.
Sesungguhnya ini baru kedua kalinya Andrew memasuki area karyawan ini. Pertama kalinya adalah ketika dia membeli mansion ini. Andrew melirik buter Jhon yang memandangnya dengan menahan senyuman. Ada bau-bau mencurigakan yang Andrew rasakan.
Sesampainya di depan kamar Matilda, Aaron mengetuk dengan keras.
"Bibiiiii bangunnnnn, jangan tidul saja. Sudah sianggg."
"Bibiiii ayoooo jangan ngiler," teriak Francesca dengan tak kalah nyaring.
Dengan wajah kuyuh dan mata bengkak, Matilda membuka pintu. Dia terkesiap melihat Andrew dan ketiga anak asuhnya di depan pintu kamar.
"Tuan... maafkan sayaaaa, jangan berhentikan saya. Saya masih mau bekerja disini. Saya tidak akan tidur lagi sewaktu menjaga anak-anak. Saya tidak akan ngoler dan ngupil di sembarang tempat. Saya siap siaga dua puluh empat jam. Tolong tuannnn saya masih mau bekerja disini." Ujar Matilda dengan suara terisak.
"Aku tidak perlu robot untuk menjaga anak-anakku. Aku hanya perlu orang yang berdedikasih dan menyayangi mereka seperti dirimu." Kata Andrew.
Mata Matilda terbelalak mendengar kalimat terakhir Andrew. Dia merasa bingung, apa dirinya tidak salah dengar? Apa benar tuan Andrew memuji dirinya? Matilda menatap ketiga anak asuhnya yang tersenyum lebar dengan bingung.
Aaron mengulurkan tangannya, pindah dari gendongan ayahnya ke gendongan Matilda. Matilda menggendong anak itu dengan penuh kasih sayang. Dia merasa lega Aaron masih mau dia gendong.
"Selamat ulang tahun bibi Matilda. Alon sayang sama bibi. Muah." Aaron mencium pipi Matilda dengan hangat.
Matilda terkejut sekaligus gembira. Dia tidak menyangka tuan muda kecilnya mengucapkan kalimat sakral itu, Aaron
menyayangi bibi.
"Selamat ulang tahun ya bibi," ucap Conrad dan Francesca bersamaan.
"Huaaaa... terimakasih... huaaaa..."
Isak Matilda terharu.
"Maaf ya, kemarin kami sengaja mengerjai bibi." Kata Conrad.
"Hiksss.... jadi saya tidak diberhentikan kan tuan?" Tanya Matilda pada Andrew penuh harap.
"Asal kau menyanyangi anak-anakku dengan tulus." Sahut Andrew.
"Siap tuan. Dengan segenap hati." Ujar Matilda dengan senang.
"Ayo bawa kue nya keluar, berbagilah dengan yang lain." Kata Andrew.
"Foto-foto dulu didepan. Telus Alon mau m&m nya yang banyakkk." Seru Aaron
"Flances jugaaa." Frances tidak mau kalah.
"Dasar anak kecil." Kata Conrad mencemooh.
"Bialinnnn." Sahut Conrad dan Francesca bersaman.
Andrew berjalan keluar kamar pelayan dengan hati yang lega. Sekarang dia bisa menunjukan pada Diana, jika ini semua hanya rencana kecil. Diana pasti akan kaget dan malu juga menyesal sudah marah pada nya semalaman. Andrew terkekeh dalam hati.
Sesampainya di luar mereka dikejutkan dengan keramaian disana. Karyawan sudah berkumpul dan meniupkan terompet, mereka bertepuk tangan dan menyanyikan lagi happy birthday to you dengan apik. Diantara kerumunan pelayan, Andrew melihat Diana yang tertawa sambil bertepuk tangan.
Matilda yang melihatnya sangat terharu, dia menurunkan Aaron dari gendongan. Dia kemudian meniup lilin yang sudah terpasang dengan angka lima puluh tahun. Setelah meniup lilin, tiba-tiba Matilda pingsan.
__ADS_1
Dia jatuh terkulai diatas rerumputan. Semua memekik kaget melihat Matilda pingsan. Aaron pun tak kalah terkejut. Dengan sigap bocah kecil itu menepuk- nepuk pipi Matilda.
"Jangan tidul bibi. Hoiii ulang tahun kok tidul. Ayoo Alon mau makan kue tal. Kalau ndak bangun Alon silam ail loh ya."
Karena tidak ada sahutan dengan kesal, Aaron mengambil sebotol coca cola yang sudah terbuka dan menuangkannya di wajah Matilda. Saat itu juga Matilda bangun dengan gelagapan.
"Cukup tuan muda cukup. Hikkkksss bibi kan mau nya ngerjain balik, tapi malah kena lagi." Keluh Matilda yang disambut dengan tawa semua pelayan.
"Makana jangan main-main sama Alon," ujar Aaron dengan sok nya.
"Alon mau kue tart dengan banyak m&m," pintanya pada Matilda.
"Frances mau yang banyak pelmen Jelly." Tak mau kalah si Francesca dari Aaron.
"Iya sayang, iyaaa."
Sementara itu Andrew mendekati Diana dan meletakan tangannya di pinggang wanita itu. Dia berbisik dengan penuh tanda tanya, "Jadi kau sudah tahu, jika sebenarnya kami hanya bersandiwara pada Matilda?"
"Iya," sahut Diana dengan tertawa geli.
"Jadi semalam, ku sengaja mengerjai diriku?" Tanya Andrew lagi dengan gemas.
"Iyaaa hahahaha satu kosong," sahut Diana dengan tertawa geli.
"Ooo jadi begitu ya." Ujar Andrew dengan murung.
"Ihhh tidak usah murung, biar kau tahu rasanya dikerjain." Diana mengerdipkan matanya pada Andrew.
"Paul sini." Teriak Andrew memanggil cheftnya.
"Iya tuan."
"Siapkan brekafast didepan kamar ku. Letakan di depan kamar dengan satu kali ketukan. Kemudian makan siang jam satu. Jika aku tidak keluar pukul tujuh malam, itu artinya kau harus menyiapkan makan malam juga. Untuk dua orang. Mengerti?" Perintah Andrew.
"Iya tuan." Jawab Paul tanpa banyak tanya.
"Memangnya mau apa kau seharian di dalam kamar?" Tanya Diana dengan heran.
Dia tidak mengerti kenapa masalah sepele, bisa membuat Andrew sampai mengurung diri di dalam kamar. Terlalu kekanak-kanakan pikir Diana.
"MENGHUKUMU!" Bisik Andrew dengan tegas.
"Heh?"
"Butler Jhon jaga anak-anakku. Aku ada lembur hari ini." Teriak Andrew.
Dan dalam sekali gerakan, Andrew sudah menggendong Diana ala pengantin baru.
"Andrew apaan sih, turunkan aku." Berontak Diana.
"Kau harus menerima hukuman untuk penderitaanku semalam." Sahut Andrew penuh makna.
"ANDREW!"
...πππππππ...
Hehehehehe...
Selanjutnya mau cerita apa yaaaa?
Mau ceritanya Aaron lagi
atau....
Cerita hukumannya Andrew ke Diana???
__ADS_1