Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Happy Valentine


__ADS_3

Mansion Andrew di penuhi dengan keceriaan malam itu. Setiap mata berbinar dan setiap wajah tersenyum. Setiap bibir bernyanyi dan setiap tangan bergerak. Mereka semua bernyanyi dengan gembira seusai alunan musik yang dimainkan oleh para pelayan.


Makan malam bersama itu penuh dengan keceriaan. Andrew dan Diana tertawa bahagia melihat setiap pertunjukan yang disajikan oleh para pelayan juga pengawal. Yang paling luar biasa adalah nyanyian butlet Jhon.


Suara beratnya bisa meleking tinggi. Membuat kagum setiap orang. Benar-benar keren kepala pelayan itu menyanyikan lagu- lagu single pilihan dari Josh Gorban, You Raise Me Up.


"Mommy, keren banget suara butler Jhon. Harusnya dia jadi penyanyi saja." ujar Aaron yang kagum.


"Wah bakat tersembunyi." Francesca segera meraih biolanya dan mengiringi nyayian Bulet Jhon. Perpaduan suara mereka tampak begitu apik. Alunan biola Francesca yang dilatari permainan keybord Conrad, membuat suasana menjadi semakin meriah.


"Mereka luar biasa." ujar Diana.


Setelah penampilan bersama Conrad, Francesca dan butler Jhon. Kali ini giliran Cheft Paul yang tidak mau kalah. Ketika pria gemuk itu naik ke atas panggung. Seluruh pelayan dan pengawal bersorak. Apalagi Matilda. Dia semakin terpukau. Dia tidak menyangka jika Cheft Paul akan bernyanyi disana. Siulan dari para pengawal membuat Cheft Paul makin bersemangat, sementara Matilda berdebar.


"Lagu ini aku khusus kan untuk Matilda ku yang imut, Cintaku tersayang. Dengarkan kerinduan dan kata hatiku."


Sebuah lagu yang berjudul,


I WANNA GROW OLD WITH YOU , dia nyanyikan dengan penuh perasaan. Cheft Pauk memetik gitar nya dengan melodi indah. Mata Matilda berkaca-kaca mendengar nyanyian Cheft Paul.


...I wanna grow old with you...


...Aku ingin tua bersamamu...


...I wanna die lying in your arms...


...Aku ingin mati dalam dekapmu...


...I wanna grow old with you...


...Aku ingin tua bersamamu...


...I wanna be looking in your eyes...


"Matilda, I Love you my wife. Ini untukmu." Cheft Paul memberikan sekotak coklat dan setangkai mawar merah untuk Matilda. Matilda sangat senang sekali dan memeluk suaminya dan memberikan kecupan di bibir yang panjang.


Sorak-sorai dari semua orang tidak membuat mereka malu. Malah membuat keduanya semakin senang dan percaya diri. Cheft Paul memeluk Matikda dengan bahagia. Teringat bagaimana tuan Andrew dan nyonya Diana mengizinkan mereka menikah.


"Sudah. Sudah. Sekarang moment kami." ujar Aaron menepuk bahu cheft Paul.


Condrad, Francesca, Aaron, Archie, Adelaide juga Anna maju ke atas panggung.


Diana terkejut melihat kearah panggung. Dia bertepuk tangan dengan gembira.


"Andrew lihat anak-anak kita." ujar Diana dengan mata berbinar.


Conrad dengan Guitar , Francesca dengan biola, Adelaide dengan keybord. Aaron, Anna dan Archir tampak memegang mix. Dia tahu jika anak-anaknya memang memiliki kelas khusus bernyanyi dan musik. Bahkan mereka terkadang melakukan performance, di jalanan seputar pertokoan mewah yang dihadidi banyak wisatawan. Tetapi pertunjukan mereka saat ini benar-benar sebuah kejutan. Berkali-kali Diana meminta, tetapi anak-anaknya menolak. Dan ini kejutan untuk Diana.


"Mom, Dad, Grandpa and everybody. This song for you." ucap Aaron.


Never Enough


(Ost. The Greatest Showman)


 


I'm trying to hold my breath


Berusaha kutahan nafasku


Let it stay this way


Biar semua ini tetap begini


Can't let this moment end


Tak bisa kubiarkan momen ini berakhir


You set off a dream with me


Kau tlah memulai mimpi bersamaku


Getting louder now


Kini mimpi itu kian keras


Can you hear it echoing?


Bisakah kau dengar ia menggema?


Take my hand


Raih tanganku


Will you share this with me?


Maukah kau berbagi denganku?


'Cause darling without you


Karena kasih tanpamu


All the shine of a thousand spotlights


Semua sinar ribuan lampu sorot


All the stars we steal from the nightsky


Semua bintang yang kita curi dari langit malam


Will never be enough

__ADS_1


Takkan pernah cukup


Never be enough


Tak pernah cukup


Towers of gold are still too little


Menara-menara emas masih terlalu sedikit


These hands could hold the world but it'll


Tangan-tangan ini bisa merengkuh dunia tapi itu 


Never be enough


Tak pernah cukup


Never be enough


Tak pernah cukup


For me


untukku


Never, never


Tak pernah


Never, never


Suara Aaron, Archie dan Anna berpadu sangat selaras. Semua menikmati persembahan ke enam anak itu dengan terpukau dan sangat takjub. Karena jarang sekali bagi pelayan dan pengawal bisa mendengarkan keenam anak bernyanyi dengan suasana romantis seperti ini.


"Aku heran. Dari mana mereka memiliki bakat musik dan menyanyi seperti itu." ujar Diana dengan kekaguman.


"Kau tidak tahu?" tanya Arthur dengan heran.


"Apakah daddy juga suka menyanyi dan bermain musik seperti mereka?" tanya Diana.


Arthur yang sudah berusia hampir delapan puluh tahun, menggeleng.


"Mommy nya Andrew yang menyukai musik dan pandai menyanyi." ujar Arthur.


"Aaa... pantas saja."


"Andrew juga pandai. Apa kau tidak tahu?" tanya Arthur heran.


"Iya dad, dia lebih sering bersenandung daripada bernyanyi." ujar Diana.


"Eh, kemana Andrew?" Diana heran ketika menoleh kesana kemari, karena suaminya tiba-tiba tidak ada disampingnya.


"Lihat kepanggung." ujar Arthur.


"Kejutan untuk istri tercintaku." seru Andrew sambil mengirimkan ciuman jarak jauh.


My VALENTINE ~~ Martina McBride


If there were no words, no way to speak


Andai tak ada kata-kata, tak ada cara untuk berbicara


I would still hear you


Aku tetap masih bisa mendengarmu


If there were no tears, no way to feel inside


Andai tak ada air mata, tak ada cara untuk merasa 


I'd still feel for you


Aku tetap masih bisa merasakan kesedihanmu


And even if the sun refused to shine


Dan meski mentari tak mau bersinar


Even if romance ran out of rhyme


Meski romansa kehabisan rima


You would still have my heart until the end of time


Kau masih tetap memiliki hatiku hingga akhir waktu


You're all I need, my love, my valentine


Kaulah yang kubutuhkan, cintaku, tanda kasihku


All of my life


Seumur hidupku


I have been waiting for all you give to me


Telah kunantikan semua yang kau berikan padaku


You've opened my eyes, and shown me how to love unselfishly


Telah kau buka mataku, dan tlah kau tunjukkan cara mencintai tanpa memikirkan diri sendiri

__ADS_1


I've dreamed of this a thousand times before


Telah kuimpikan hal ini ribuan kali


In my dreams I couldn't love you more


Di mimpiku aku tak dapat lebih mencintaimu


I will give you my heart until the end of time


Kan kuberikan hatiku padamu hingga akhir waktu


You're all I need my love my valentine


Kaulah yang kubutuhkan, cintaku, tandak kasihku


(La la la la la la la)


And even if the sun refused to shine


Dan meski mentari tak mau bersinar


Even if romance ran out of rhyme


Meski romansa kehabisan rima


You would still have my heart until the end of time


Kau masih tetap memiliki hatiku hingga akhir waktu


Cause all I need is you my valentine


Karna yang kubutuhkan adalah dirimu kekasihku


Oh, you're all I need my love my valentine


Oh, kaulah yang kubutuhkan cintaku kekasihku


Andrew menghampiri Diana yang berdiri dengan menutup mulutnya sambil menitikan air mata, Tak kuasa menahan kebahagiaan, mendapatkan begitu banyak cinta malam ini.


"Terimakasih telah mendampingiku dan melimpahkan cinta dalam keluarga ini." Andrew menghampiri Diana dan mengecup kening wanita nya dengan mesra.


Semua tangan bertepuk tangan dengan riuh. Baru pertama kali mereka mendengarkan tuan Andrew benyanyi. Dan ternyata selama hampir dua minggu, atas paksaan Aaron, Andrew kembali berlatih bernyanyi. Dan karena ide Aaron pula, ke enam bersaudara itu bersama-sama menyanyikan lagu yang di sukai Diana.


Setelah selesai bernyanyi Andrew membawa Diana masuk kedalam kamar. Sementara acara masih terus berlangsung. Semua pekerja berpesta. Alunan musik teralun melalui Ipod yang disambungkan melalui speaker, dan mereka berdansa.


"Grandpa, ayo berdansa dengan Anna." ujar Anna sambil memeluk Arthur.


"Tentu saja cucuku." Artur menggandeng tangan Anna dengan lembut. Mereka berdansa dan menari dengan senyum ceria yang mengembang. Setelah satu lagu selesai, Arthur kembali duduk. sedangkan Anna menari dengan Butler Jhon.


"Hei bocah! Kenapa kau disini! Mana kekasihmu?" tanya Arthur pada Conrad.


"Belum grandpa." sahut Conrad dengan tersenyum.


"Apa saja yang kau lakukan di masa muda mu. Jangan kelamaan. Nanti keburu expired." ujar Arthur.


"Yeah Grandpa. Masih banyak waktu lah." ujar Conrad tergelak.


Sementara itu, Matilda yang masih memegang setangkai mawar merah dari Cheft Paul dan berganyut manja pada suaminya, digoda oleh teman-teman pelayan.


"Matilda, Coba buka dong hadiah dari cheft Paul."


Matilde dengan malu-malu membuka hadiah tersebut. Sebuah box coklat berbentuk dengan pita warna merah. Setelah kotak di buka, ternyata di dalam ada sebuah kartu ucapan.


"Ayoko dibacaaa, kami mau mendengar apa yang ditulis oleh si Paul." teriak pelayan lainnya.


Cheft Paul tersipu. Matilda perlahan membuka kartu ucapan tersebut.


"Ehem... ehemm... " Matilda berdehem sebelum membaca kartu tersebut dengan keras.


Hatiku selalu berdebar melihat caramu menatapku.


Hatiku selalu berbunga-bunga melihat caramu tersenyum padaku.


Setiap malam ketika aku hendak tidur, hanya wajahmu yang terbanyang dan selalu hadir dalam mimpiku.


Setiap bangun dari tidur, wajahmu lah yang membuatku bersemangat.


Ooh pujaan hatiku, Maukah kau menjadi kekasihku.


Karena aku akan selalu menunggu cintamu, selamanya. Melisa.


Matilda tersenyum bahagia membaca kata-kata tersebut. Dan semua yang mendengar awalnya bersorak, tetapi seketika terdiam. Hanya satu detik Matilda tersenyum, Sebelum akhirnya dia membaca lagi dan melotot kearah Cheft Paul dan pelayan bernama Melisa.


Cheft Paul dan Melisa juga terkejut. Cheft Paul menggoyangkan kedua tangannya, ingin menjelaskan jika bukan seperti itu kejadiannya. Sedangkan Melisa menjadi bingung. Pelayan lain menatap merka berdua dengan heran dan curiga.


"Aku tidak menyangka. Begini caramu hendak menyatakan perselingkuhanmu dengan Melisa. Aku benci kalian. Aku benci." Matilda menangis dan berlari masuk kedalam mansion.


"Matilda tunggu! Ini salah paham!" teriak cheft Paul.


"Ada apa ini?" tanya Aaron menghadang langkah Cheft Paul.


"Tuab mudaaaa, Aaa... apa yang kau lakukan pada cintaku?" rengek cheft Paul kesal.


"Apa yang aku lakukan memangnya?" tanya Aaron heran.


"Coba baca, ini apa?" cheft Paul memberikan kartu ucapan kepada Aaron. Cheft Paul Walnya mengira jika kartu ucapan itu, Sengaja Aaron buatkan untuk dirinya.


"Ooohhh... ini.. Maaf, Aku lupa mengeluarkan dari kotak cokelat." ujar Aaron sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aaargghhh tuan muda. Sekarabg cintaku marah. Matildaaa cintakuuu jangan marahhhh."

__ADS_1


...❤❤❤❤❤❤❤...



__ADS_2