
Andrew harus bersyukur, peristiwa durian tidak sampai ketahuan Diana. Karena tepat disaat Aaron hendak bercerita, Conrad datang dengan membawa lukisan keluarga yang baru saja dia buat.
Berkat lukisan tersebut, Diana menjadi terharu dan bangga sehingga dia lupa dengan urusan kue. Semua sibuk mengomentari dan bangga dengan hasil karya Conrad.
Empat bulan berlalu semenjak kehamilan Diana. Wanita itu tidak lagi mual-mual dan meminta hal yang aneh-aneh. Tapi tetap saja, mood nya masih terkadang meledak. Diana yang pengertian, terkadang berubah menjadi sangat pencemburu.
Seperti hari ini.
Andrew baru saja datang dari kantor dengan wajah berseri-seri sambil membawakan sebuket bunga lily kesukaan Diana. Selain itu Andrew juga membawa buket kecil mawar merah muda untuk Francesca.
Francesca yang melihat bunga untuknya merasa sangat gembira. Dia memeluk Andrew dan mencium pipi Ayahnya.
"Daddyyyy thankyouuu so muchhh, i love youuu." Teriak Francesca dengan gembira.
"Sama-sama Frances. Bunga ini untuk anak daddy yang paling cantik." Ujar Andrew sambil menoel pipi montok Francesca.
"Kalau yang besar itu buat mommy ya dad?" Tanya Francesca dengan penasaran.
"Iya." Ujar Andrew dengan senyum lebar
"Frances kalau sudah besar mau dapat bunga sebesar itu."
"Tentu saja Frances pasti akan mendapatkannya."
Frances tersenyum bahagia sambil menciumi bunga mawar merah muda pemberian dari Andrew.
"Kalau bunga untuk Aaron mana, dad?" Tanya Aaron penasaran, karena Andrew hanya membawa dua buket bunga.
"Nah buat Aaron ini ya." Andrew memberikan sebuah mobil Tomica.
"Wah ini luar biasa." Aaron mengambil mobil-mobilan itu dengan wajah penuh kegembiaraan.
"Koleksi Aaron akan semakin bertambah ini. Nanti Aaron besar mau punya banyak mobil. Mobil sungguhan, bukan mainan." Ujar nya dengan serius.
"Aaron lupa ayo, mesti bilang apa kalau menerima pemberian dari orang lain?"
"Hehehe lupa, terimakasih dad, i love you." Jawab Aaron dengan tertawa kecil.
__ADS_1
"I love you too, son." Sahut Andrew sambil mengusap rambut Aaron.
"Mommy dimana?" Tanya Andrew lagi.
"Mommy ada di taman, lagi di rumah kaya bersama dengan bunga-bunganya." Francesca menjawab pertanyaan Andrew.
"Baiklah, daddy mau bertemu dengan mommy dulu ya." Andrew sekali lagi mencium kening kedua putranya dan segera menuju rumah kaca.
Rumah kaca dibuat oleh Andrew untuk Diana. Disana berbagai macam bunga dan bonsai terawat dengan indah berkat tangan dingin dan ketekunan istrinya. Ketika melihat Andrew datang, pelayan yang menemani Diana segera pergi.
Sudah bukan hal yang baru lagi bagi setiap pelayan untuk pergi menjauh, jika Andrew dan Diana sedang berduaan. Karena seringkali kebersamaan mereka berakhir dengan kemesraan.
"Diana ini untuk mu sayang," Andrew memberikan bunga tersebut pada Diana.
"Ini cantik sekali. Ah... bunga lily memang yang terbaik." ujar Diana sambil menghirup aroma wangi dari kelopak besar bunga lily tersebut.
Setelah puas menciumi dan mengagumi, keanggunan bunga Lily, Diana meletakan bunga tersebut di sebuah pot bunga. Kemudian di mendekati Andrew dan duduk di pangkuan Pria itu.
"Katakan bagaimana aku harus berterima kasih?" ujar nya lembut sambil mengalungkan kedua tangangannya ke leher Andrew dengan manja.
"Kau yakin itu?" sahut Diana dengan pandangan mata menggoda.
Diana yang duduk di pangkuan Andrew mulai menggerakan pinggul nya untuk menggoda sang suami. Dan tentu saja gerakan itu berhasil membangunkan naga dalam diri Andrew. Mata Andrew berbinar mendapatkan reaksi luar biasa dari Diana. Dia tentu saja tidak dapat menolah godaan tersebut. Hanya lelaki bodoh yang menolak pelayanan ekstra dari istri yang dia cintai.
"Jika aku bisa mendapatkan bonus, maka Ah....!" Andrew mendesah dengan keras ketika tangan sang istri sudah menjalar kebagian inti dirinya. Mengusap .dengan lembut sementara tatapna matanya tetap sendu dan menggoda.
"Maka apa? lanjutkan kalimatmu..." ujar Diana menantang.
Saat ini di mata Andrew, Diana bagaikan seorang ratu yang mengambil kontrol akan dirinya. Tatapan dan tindakan nya yang mengintimidasi membuat Andrew semakin menyukainya. Tanpa malu-malu dan menunggu lama wanita itu sudah melucuti celana Andrew.
Masih dengan posisi yang sama, Andrew masih terpana dengan semua godaan sensual yang diberikan istrinya. Tangan Diana bergerak dibawah sana, membuat sang Naga menggeliat.
"Ayo katakan apa yang kau inginkan!" pertanyaan yang lebih ke arah perintah.
"Aku mau dirimu." ujar Andrew sambil membenamkan dirinya di dada Diana.
Gaun panjang dan lebar yang di kenakana Diana memberi akses pada dirinya untuk mendapatkan lebih. Model sabrina di bagian bahu, membuat Andrew semakin muda mengeksplore dada istrinya yang bertambah besar seiring dengan kehamilannya.
__ADS_1
Jas yang dipakai Andrew masih menempel di tubuhnya, sedangkan pakaian bagian bawah sudah teroggok di lantai. Nafas Andrew memburu dengan permainan tangan sang istri. Apalagi desahan lembut yang terdengar, ketika dia mengulum buah dada wanita yang semakin menggairahkan itu, membuat hasrat Andrew semakin memuncak.
Tetapi, tiba-tiba gerakan tangan sensual yang mengalirkan getaran kenikmatan itu berhenti. Dan Andrew yang terengah hendak mencapai puncak kepuasan menjadi merasa hampa. Tubuhnya sudah bergetar meminta lebih. Naganya hendak menyembur api, tetapi tiba-tiba, rangsangan itu berhenti.
"A...ada apa sayang, kenapa berhenti?" tanya Andrew dengan nafas yang masih memburu.
Tidak ada jawaban. Diana melepaskan genggaman tangannya dari sumber kenikmatan milik Andrew. Dia menyentuh kerah kemeja Andrew dan tampak serius memperhatiakan jejak yang tertinggal disana.
"Apa ini?" tanya Diana dengan suara bergetar.
"Ini apa sayang, aku tidak dapat melihatnya." ujar Andrew masih dengan mata mengharap.
"Ayolahh jangan hentikan. Kita bermesraan lagi ya.." ujar Andrew penuh harap.
Diana masih diam dan masih duduk di pangkuan Andrew. Sementara Naga yang menempel di perut buncit istrinya, menggelepar meminta perlakuan istimewa lagi.
"Sayang... ada apa dengan dirimu?" tanya Andrew heran ketika mata Diana tiba-tiba berkaca-kaca.
"Jadi begitu, kau bersikap mesra, manja dan membawakan aku sebuket bunga cantik kesukaanku hanya untuk menutupi rasa bersalahmu?" ujar Diana dengan terisak.
"Hei... hei apa maksudmu. Rasa bersalah apa?" Andrew tidak mengerti.
"Lihat saja dirimu. Kenapa ada lipstik di kerah baju mu? Sebegitu inginya kau memamerkan padaku lipstik aroma strawberry ini?" Suara Diana melengking.
"Apa karena aku hamil, aku menjadi buncit, jelek, sehingga kau harus mencari wanita lain di luar sana? Aku hamil ini juga karena mu. Aku gendut jelek begini juga karena menggandung anakmu. Bagaimana kau tega melakukan ini padaku?" ujar Diana dengan menangis.
Diana turun dari pangkuan Andrew, dia mendorong vas bunga yang berisi buket bunga lily dari Andrew, hingga pecah berantakan. Diana kemudian dengan menangis keras dan sesegukan pergi meninggalkan andrew yang terpana melihatnya.
"Tunggu sayang, lipstik apa maksudmu?" Andrew yang hendak berlari menyusul Diana menghentikan langkahhnya. Dia baru sadar, jika dirinya tidak mengenakan celana. Dengan buru-buru Andrew mengenakan celananya.
Andrew kemudian berlari menyusul Diana masuk ke dalam rumah. Dia melihat Diana sudah menutup pintu kamar. Dan kembali dengan lesu Andrew menyandarkan dahinya di pintu kamar.
"Diana sayang.... tolong buka pintunya." ujar nya lemah.
Jangan ditanya bagaimana nasib si naga. Karena begiti mendengar teriakan histeris si empunya pemberi kenikmatan, sang naga langsung mengkerut dan memilih untuk mengguling diri, bersembunyi dengan aman dari amukan sang dewi.
to be continue.....
__ADS_1