Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Foto


__ADS_3

Ting. Sebuah pesan chatt masuk ke ponsel Diana. Diana tidak menghiraukan, dia lebih memilih bermain dengan Aaron.


Ting. Ting. Beberapa pesan masuk lagi.


Dia merasa heran sepagi ini siapa sih yang ribut mengirim pesan.


Suara latunan musik tanda panggilan masuk, membuat Diana akhirnya mengalihkan perhatian kepada ponsel nya.


Dengan masih menggendong Aaron, dia menerima panggilan tersebut.


"Good morning Yoora, ada apa pagi-pagi sudah menelpone?" salam Diana kepada Yoora.


"Hai Diana, kau pasti belum membuka chatt ku bukan?"


"Belum. Kau yang mengirimi aku pesan sedari tadi." tanya Diana.


"Oh Diana... semalaman aku tidak bisa tidur menerima foto itu. Oh Diana... kau harus kuat dan tegas." ucap Yoora dengan nada kasihan.


"Apa maksudmu Yoora?" tanya Diana heran.


"Kau akan mengerti ketika melihat foto itu. Hubungi aku ya bila kau memerlukan teman bicara," ujar Yoora sebelum menutup sambungan telphone.


Dengan heran, Diana memilih icon chatt dan membuka pesan dari Yoora. Matanya terbelalak melihat foto-foto yang dikirim. Dadanya berdegup kencang dan tangan nya bergetar.


"Nanny tolong bawa Aaron bersama mu." Diana menyerahkan Aaron kedalam pelukan nanny.


Sesaat balita itu merengek karena masih ingin berada dalam pelukan ibu nya, tetapi melihat raut wajah Diana yang tegang, pengasuh itu segera membawa Aaron dan mengajak balita itu bermain agar perhatiannya teralih dari Diana.


Diana memperhatikan kembali foto yang dia terima, memperbesar dan berusaha memperhatikan expressi orang yang ada di foto tersebut. Matanya berkaca-kaca. Dia berusaha menahan tangis dan berpikir jernih.


Ketegangan yang meliputi dirinya membuat dia tidak menyadari ketika seseorang datang menghampiri.


"Ah, Andrew!" Seru Diana dengan terkejut ketika merasakan adanya sentuhan tangan seseorang memeluk dirinya dari belakang.


"Pagi sayang, apa yang kau lihat?" tanya Andrew dengan mesra sambil mengecup pipi Diana.

__ADS_1


Diana buru-buru mematikan ponsel nya dan menyimpan dalam saku celana.


"Bukan apa-apa. Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Diana yang melihat Andrew keluar dari kamar tanpa mengenakan pakaian kerja.


"Aku berangkat agak siang. Tidak ada hal penting pagi ini," jelas Andrew sambil melepaskan pelukannya dan menuju ke sudut ruangan kemudian menuang segelas air minum dan menghabiskannya dalam sekejap.


"Dan mungkin... aku akan pulang larut malam hari ini." ujar Andrew yang kemudian langsung duduk sambil membaca pesan di ponselnya.


Diana masih berdiri membelakangi Andrew. Dia mengusap air matanya yang tergenang di pelupuk mata dan hampir menetes. Wanita itu menarik nafas, menghias wajahnya dengan menarik bibir mengukir senyuman sebelum berbalik dan menghampiri Andrew.


"Mau makan pagi sekarang?" tanya Diana sambil berdiri di belakang Andrew dan memijit lembut bahu Andrew.


"Tentu saja. Aku ingin makan di taman, pagi ini cerah dan tidak terlalu terik " sahut Andrew tanpa mengalihkan perhatiannya dari aktivitas membaca pesan di ponsel.


"Baiklah." Diana berjalan meninggal kan Andrew dan kemudian menyandarkan punggung nya di balik dinding.


"Tidak. Ini pasti ada kesalahan. Sebelum menanyakan pada Andrew tentang foto ini, aku harus memastikan kebenarannya."


Diana kemudian menenangkan diri dan berjalan menuju ke arah dapur meminta mereka menyiapkan makan pagi di taman.


Ketika Diana kembali di tempat Andrew sebelumnya berada dia tidak menemukan pria itu. Dia mencari kesekeliling ruangan dan mendapati seorang pelayan mengatakan bila Andrew berada di taman dengan Aaron.


Tidak ada tanggal dimana foto tersebut di ambil, membuat Diana ragu untuk menilai apakah ini foto lama atau foto baru. Yang menyakitkan adalah posisi pria dan wanita tampak begitu akrab, senang dan mesra.


Mereka duduk bersebelahan di sebuah sofa tampaknya di suatu club malam. Tangan si wanita tampak menyentuh paha dalam dari pria tersebut di foto pertama. Sedangkan satu tangan lelaki itu memegang minuman dan tangan satunya melingkar di pinggang ramping wanita cantik itu.


Di slide kedua, tampak bagaimana mereka saling bertatapan mesra. Si wanita tampak tersenyum manja sedangkan pria itu meskipun tidak tersenyum, tetapi wajah mereka tampak begitu dekat.


Slide ke tiga, tangan wanita tersebut sudah merangkup wajah lelaki itu dan bibir merahnya terbuka menantang sang pria untuk memagutnya. Mata si wanita tampak redup memandang pria itu dengan keinginan.


Slide ke empat, tampak pria itu mendaratkan ciuman mesra di leher si wanita. Wajah si tampak begitu menikmati. Sedangkan gelas brandy yang sebelumnya di tangan pria itu sudah tidak ada lagi ditangannya, hingga kedua tangan pria bebas memeluk wanita cantik tersebut.


Slide ke lima adalah yang paling menyesakan, dimana tangan pria itu tampak meraba paha si wanita masuk kedalam belahan gaun yang sangat tinggi. Sedangkan kedua tangan si wanita tampak berganyut mesra melingkar di leher sang pria.


Diana memandang foto-foto itu dengan dada yang berdegup kencang. Dia belum dapat mengatur perasaannya. Air mata yang dia tahan semenjak tadi sudah menetes. Dia mengusap matanya berulang kali mencegah tangisan tapi tak kunjung dapat menghentikannya.

__ADS_1


Akhirny Diana memutuskan untuk masuk ke toilet tamu.


Di daalam toilet tersebut berulang kali Diana membasuh wajahnya. Dan marik nafas panjang.


Tenangkan dirimu. Tenangkan dirimu. Apa yang kau lihat belum tentu seperti yang kau pikirkan. Kau harus bisa berpikir tenang dan mencari tahu kebenaran.


Diana menhidupkan ponselnya dan mencari nomor Yoora kemudiab menghubungi wanita itu.


"Oh Diana, apakah kau sudah melihat foto tersebut?" tanya Yoora diseberang sana dengan suara prihatin.


"Apa maksudmu mengirim foto itu kepada ku?" tanya Diana dengan nada tidak suka.


"Jangan marah padaku Diana. Aku memikirkan ya semalaman dan aku tidak bisa tidur dibuatnya," ujar Yoora. Diseberang sana dia tampak menghentikan kuku di jarinya dengan tenang.


"Aku rasa kau harus tahu hal itu, karena itu aku memutuskan untuk mengirim foto itu kepadamu," sambung Yoora lagi.


Diana menghela nafas, mungkin Yoora memang tidak bermaksud buruk.


"Darimana kau mendapatkan foto-foto itu?" tanya Diana setelah kembali menghela nafas panjang.


"Dari seorang teman."


"Siapa dia?"


"Ayolah Diana, kau tidak perlu mempertanyakan siapa yang mengirim foto itu kepadaku. Bukankah yang lebih penting adalah isi foto tersebut?"


"Aku perlu tahu, siapa yang mengirim foto itu kepadamu dan mengapa dia tidak langsung mengirimnya kepadaku. Jika dia ingin bergosip, maka dia seharusnya langsung kepadaku." ujar Diana dengan sedikit emosi.


"Dia merasa tidak enak mengirim nya langsung kepadamu. Dia melakukan ini karena merasa kasihan kepadamu. Dan aku sudah berjanji kepadanya untuk menyimpan rahasia ini, sayangnya aku tidak dapat menutupi hal ini dari mu, karena kau harus tahu." ucap YooRa panjang lebar.


"Kita sesama wanita Asia, minoritas di kalangan ini. Kita harus bersatu dan saling membantu. Kau mengerti bukan maksudku?" ujar YooRa lagi dengan bersungguh-sungguh.


"Aku perlu berpikir tenang Yoora," klik Diana mematikan sambungan telphone nya.


Dia menatap wajahnya di kaca dan merapikan rambut serta mengusap kering wajahnya yang basah. Kemudiian kembali memaksakan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Diana keluar dari toilet menuju ke taman belakang, dia memeluk Andrew dan mencium pipi pria itu mesra dari belakang, sebelum akhirnya bergabung duduk dihadapan Andrew yang sedang memangku Aaron.


"Heii... lihat Mommy sudah datang."


__ADS_2