
Caroline mengerjapkan mata terbangun dari tidur nyenyaknya semalam. Hari ini masih terlalu pagi, dia melirik jam di atas meja, baru pukul lima pagi. Setengah menggeliat dari dalam selimut dia tersadar sesuatu.
Badannya terasa sakit dan remuk, seakan melakukan yoga tanpa batas waktu. Sesaat setelah meraba pangkal pahanya yang sakit, Caroline tersadar akan sesuatu. Dia tidak mengenakan sehelai benangpun di bawa selimut.
Caroline mengangkat selimutnya, dan melihat benar dirinya sedang telanjang. Saat itu lah Caroline menoleh dan disampingnya tampak sosok seseorang yang tidur membelakanginya.
Wanita itu tersenyum. Dia teringat semalam setelah makan malam, dia menghabiskan waktu di penthouse, tempat Andrew menginap. Dan Caroline juga mengingat kalau dirinya sudah menuangkan obat perangsang ke dalam minuma Andrew.
Hahahaha, Caroline tergelak di dalam hatinya. Rencananya berhasil. Dia terpaksa melakukan hal ini, karena sikap dingin Andrew. Sedangkan Caroline tidak ibgin membuang kesempatan untuk kwmbali pada Andrew.
Sosok punggung dari tubuh di sampingnya tampak begitu gagah, meskipun hemm... tubung itu sedikit lebih gelap. Caroline berpikir mungkin itu adalah pencahayaan di malam hari.
Dia kemudian memeluk pria itu dari belakang, dan membelaikan tangannya ke arah dada dan perut pria itu. Liat. Membuat wajah Caroline memerah. Dan belainan tangan Caroline membuat pria itu tergugah.
"Hemm..." gumam pria itu dengan suara serak.
"Kau sudah terbangun sayang, apakah kau menginginkan lagi?"
Sosok tubuh itu memutar badannya sejajar dengan tubuh Caroline. Dia memandang wajah cantik Caroline dengan mesra, kemudian mengangkat dagu Caroline dan ******* bubir indahnya.
Caroline yang terpana menatap sosok dihadapannya, tidak bisa menghindar dari ciuman rakus pria itu. Otaknya masih mengolah data akan sosok yang ditampilkan melalui penglihatan.
Butuh hampir satu menit bagi Caroline untuk tersadar dan mendorong pria yang sudah memeluknya erat. Melepaskan pagutan pria itu dan mengerjap tidak percaya akan apa yang ada dihadapannya.
"SIAPA KAU?!" teriak Caroline dengan frustasi.
Pria itu bukan Andrew. Bukan sosok yang dia inginkan dan bukan juga sosok yang dia rencanakan. Bagaimana mungkin dia berada disini telanjang dengan pria yang tidak dia kenal?
Tapi tunggu! Pria itu, dia ingat. Pria itu adalah pria yang sama yang dia temui ketika makan malam bersama Andrew. Tapi bagaimana mungkin? Apa yang membuat dirinya sekamar dengan pria itu.
"Apakah kau sudah lupa dengan ku, cantik. Semalam kita bertemu dan kau... ah, aku tidak menyangka kau bisa seagresif itu. Dan, jujur aku menikamti permainan luar biasa mu semalam," sahut pria itu semalam sambil turun dari tempat tidur dan mengambil dua botol air putih. Dia berikan sebotol untuk Caroline.
"Minumlah untuk menenangkan dirimu dan menyegarkan pikiran."
Caroline menerima botol air putih tersebut, membuka tutup dan menegak isinya hingga habis. Dia terdiam dan mencoba mengingat kejadian semalam. Suasana hening sesaat hingga Caroline akhirnya membanting botol kosong tersebut dan melangkah menuju kamar mandi.
"Aku benci kau Andrew!!!!" pekik nya marah di dalam kamar mandi.
FLASH BACK
Dengan wajah cemberut Caroline kembali duduk di sofa ruang tamu. Dia benar jengkel dengan penolakan kasar Andrew dan benar-benar tidak menyangka jika Andrew bisa berubah seperti itu. Mungkinkah waktu bisa mengubah cinta pertama yang begitu kuat.
Caroline bahkan tidak menghiraukan Raja, yang duduk di sofa berseberangan dengan dirinya. Caroline tidak perduli, baginya Raja tidak selevel dan tidak seharusnya duduk di hadapannya. Tetapi hanya karena dia adalah assistent yang di bawa oleh Andrew, Caroline bertahan.
__ADS_1
Malam ini dia berniat akan menggoda Andrew kembali. Saat ini mereka berada jauh dari Miami, jauh dari keluarga Andrew, tidak ada lagi halangan atau mata-mayta, kecuali Raja yang harus dia bungkam.
Perlu waktu sepuluh menit kemudian, Andrew keluar dari kamar tidurnya. Meskipun hanya mengenakan hem berwarna navy tanpa setelan jas, pria itu selalu tampak memukau, membuat Caroline menahan nafas untuk sesaat.
Setelah kematian suaminya yang dua puluh tahun lebih tua, Caroline tentu saja merasa kesepian. Caroline yang masih berusia tiga puluh lima tahun, memiliki tubuh dan kulit bagaikan berusia awal tiga puluh tahun. Tentunya perawatan yang dia jalani bulanlah hal yang murah.
"Kita turun sekarang," ujar Andrew singkat, bahkan tanpa menunggu Caroline berdiri.
"Tidak sopan," desis Caroline.
Di restaurant mereka menuju ke meja yang telah di pesan dan tampaklah disana seorang pria sudah menanti. Dia adalah Theodor, seorang pemilil perkebunan dan pengusaha lokal juga.
Andrew tidak datang ke Tuscany hanya semata-mata karena penawaran dari Caroline. Ada seseorang lainnya yang sudah menghubungi dirinya terlebih dahulu dengan penawaran yang sama.
Dan Caroline baru menyadari nya sekarang. Dia benar-benar harus bertempur dan berjuang melawan orang tersebut, untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan Andrew. Ternyata memory sepuluh tahun yang lalu, tidak bisa dia jadikan jaminan.
Setelah menikamati makan malam dengan percakapan seputar perkebunan, Caroline benar-benar merasa putus asa. Perkebunan Theodor lebih luas dan lebih menjanjikan.
Malam itu setelah menyelesaikan makan malam, Caroline memaksa untuk ikut masuk ke dalam Penthouse dengan alasan scraft yang dia kenakan tertinggal. Dan entah bagaimana hingga Theodor pun ikut bersama mereka.
Saat ini mereka semuaa sedang berada di balcony Penthouse sambil menikmati udara hangat serta deburan ombak. Percakapan ringan terjadi diantara Andrew dan Theodore ketika Caroline melangkah masuk untuk mengambil sebotol red wine (anggur merah).
Caroline tidak menyia-nyiakan kesempatan. Meskipun Theodor berada ditempat itu, dia harus dapat merayu Andrew. Dan tanpa sepengetahuan kedua pria tersebut, Caroline sudah menuangkan obat kedalam minuman Andrew.
Caroline mengambil nampan dan membawa tiga gelas yang sudah dia isi dengan wine kemudian meletakan ketiga gelas tersebut dihadapan mereka masing-masing. Meskipun terasa aneh, karena saat ini gelas yang di pegang oleh kedua pria tersebut masih berisi setengah red wine.
"Ah, aku membuka sebotol lainnya. Kali ini adalah wine terbaik dari perkebunanku," kata Caroline.
Andrew dan Theodor hanya mengangguk.
"Mari bersulang, untuk pertemuan malam hari ini, semoga kedepannya kita semua bisa bekerja sama," ajak Caroline seraya mengangkat gelas wine miliknya.
Kedua pria itu pun mengangkat gelas wine yang baru saja di bawa oleh Caroline. Sebelum gelas semoay berdenting, terdengar teriakan.
"Tunggu!" Raja datang dengan segelas botol lainnya.
"Ada apa?" tanya Caroline yang tidak sabar.
"Nyonya ada ponsel anda berbunyi terus menerus, mungkin ada yang mendesak," kata Raja.
"Biarkan saja," kata Caroline.
" Sebaiknya anda angkat terlebih dahulu, suaranya akan mengganggu rencana kalian bersulang." Raja bersikeras.
__ADS_1
"Kami akan menunggu nona, wine ini juga akan menunggu," ucap Theodor dengan ramah.
"Baiklah," Caroline meletakan gelas wine dan menuju ke dalam.
Sementara Caroline menuju kedalam, Raja mendekati meja tersebut dan meletakan botol yang sudah di buka Caroline.
"Kenapa kau tidak menuangkan segelas untuk mu juga?" tanya Andrew pada Raja.
"Tentu saja bila anda berkata demikian tuan."
Raja mengambil gelas baru, menuangkan habis isi botol tersebut dan memberikan gelas baru nya kepada Andrew.
Caroline kembali masuk dengan sedikit kesal.
"Bagaimana nona, sudah selesai?" tanya Theodor dengan ramah.
"Hanya orang iseng. Mari kita bersulang."
Mereka menegak bersulang dan menegak anggur itu perlahan sambil melanjutkan percakapaan. Percakapan lebih banyak di domonasi oleh Theodor yang banyak bertanya pada Caroline.
Sementara Caroline sedikit-sedikit melirik ke arah gelas Andrew. Dan Caroline segera menghabiskan minumannya ketika dia melihat gelas Andrew kosong. Dan dia menanti reaksi dari Andrew.
Disaat penantian itu lah, Caroline merasakan degup jantungnya menjadi kencang. Nafasnya memburu. Dia sudah tidak sabar menanti Andrew berbuat sesuatu. Tapi, bukannya bertindak, pria itu malah pergi.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanya Theodor yang melihat Caroline gelisah dan wajahnya memerah.
"Anda sakit?" Tangan besar dan hangat Theodor yang menyentuh keningnya membuat Caroline makin panas dingin.
Carolone berdiri dari duduknya hendak mencari Andrew, tapi langkah nya menjadi terhuyung karena rasa pusing.
"Nona, mari saya antar pulang," Theodore merangkul bahu Caroline yang hendak terjatuh.
Dan sentuhan itu menerabas masuk kedalam batas kesadaran caroline. Dia, langsung mencium Theodore. Ciuman panas berlangsung cukup lama di balcony, hingga Raja datang dan berbisik pada Theodore.
"Tuan, masih ada satu kamar kosong disini. Silahkan ikuti saya."
Kedua pasangan membara itu mengikuti labgkah Raja dan masuk ke dalam kamar dengan tidak sabar.
Sementara Raja di luar tersenyum penuh kemenangan seraya berkata, "sudah kuduga."
Raja yang melihat tindakan aneh dari Caroline ketika masuk kedalam mini bar, mengawasi. Dan dia melihat, wanita itu memasukan sesuatu kembali kedalam tas nya.
Saat itu lah Raja mengetahui adanya hal yang aneh. Dan dia menggunakan handphone ne untuk menghubungi ponsel Caroline. Nomor Caroline dia dapatkan dari berkas kerja sama.
__ADS_1
Dan setlah berhasil membuat Caroline masuk, dia menukar gelas tersebut. Gelas baru untuk Andrew, gelas Andrew untuk Caroline, dan Raja mengambil gelas milik Caroline.
Dan hasilnya sesuai dugaan, dia bisa menyelamatkan tuannya dari serangan rubah betina. Tentunya Lia akan berterimakasih dan salut jika mengetahui keberhasilannya. Lia sahabatny yang baik.