
"WOW! Hadiahnya banyak sekali mommy. " Aaron dengan bersemangat membuka setiap hadiah. Sementara Kedua orang tua dan kakaknya hanya tersenyum melihat kearah Aaron.
Bocah itu menyobek setiap kertas kado di sana dan mengeluarkan isinya dengan bersemangat. Dengan bantuan kedua pengasuh, mereka menjajar semua kado yang dia dapatkan.
Setelah puas membuka semua hadiah, Aaron memandang kepada semua hadiah yang berjajar dan memperhatikan satu persatu. Semuan yang ada disana sudah dia miliki. Mungkin ada beberapa benda yang hanya berbeda warna atau ukuran saja.
"Mom, dad. Semua sama dengan milik Aaron. Tidak ada model yang baru." keluh Aaron kecewa.
"Tentu saja semua sudah kau miliki. Setiap ada mode terbaru, Aaronn selalu menjadi yang pertama dan membelinya." ujar Andrew.
Memang untuk hal ini, Andrew lah yang terlalu memanjakan ketika anaknya. Setiap awal bulan, ketika model mainan terbaru muncul, Andrew selalu membiarkan mereka membelinya, Meskipun Diana seringkali melarang. Mainan Aaron dan Francesca sudah memenuhi satu ruangan, bahkan bisa dibuatkan toko mainan sendiri.
"Ya sudah, taruh gudang saja. Aaron sduah tau semua." ujar bocah itu sambil mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangan di dada.
"Bagaimana kalau kita bagikan ke panti asuhan?" Diana menawarkan ide baru.
"Apa itu panti asuhan?" tanya Aaron.
Dan pandangan mata ketiga anak itu beralih kearah Diana..
Diana menarik nafas panjang. Tampaknya kali ini dia harus memberikan pelajaran hidup untuk ketiga anaknya
*
Keesokan harinya
"Mommy, jadi ini yang namanya panti asuhan?" tanya Aaron sambil memegang tangan Diana dengan erat.
Di depan matanya tampak anak-anak dari bayi hingga seusia nya berkumpul dan mentap ke arah mereka. Panti asuhan ini cukup besar dan menampung banyak sekali anak-anak yatim piati dan terlantar.
"Iya sayang. Inilah panti asuhan."
"Mereka semua tidak punya daddy dan mommy?" tanya Conrad sambil mengedarkan pandangannya ke semua anak yang berkumpul.
"Benar."
__ADS_1
"Kasihan sekali. Dimana daddy dan mommy mereka?" tanya Francesca heran.
Gadis kecil ini, perlahan sudah lupa asal usul dirinya. Sesungguhnya Francesca pun sama seperti sebagian dari mereka yang tidak lagi mempunyai orang tua. Hanya saja, Francesca lebih beruntung karena bertemu dengan Andrew dan Diana.
"Banyak alasan Frances. Sebagian besar dari anak-anak itu berada di sini karena orang tua mereka meninggal." Diana menjelaskan dengan singkat.
"Meninggal?" gumam mereka bersamaan dengan sedih.
Dan disanalah Aaron melanjutkan pesta ulang tahunnya. Berbagi dengan anak yatim piatu.
Dengan wajah ceria dia membagikan hadiah kepada mereka satu persatu.
Ketiga bersaudara itu tampak sangat senang, melihat bagaimana bersorak girangnya anak-anak panti asuhan tersebut memdapatkan mainan baru. Mereka tampak tertib dan berbagi mainan.
Yang tak kalah membuat terharu ketika anak-anak itu dengan lahapnya memakan hidangan yang di persiapkan oleh Cheft Paul. Mendapatkan ayam goreng saja, tampak seperti makanan yang luar biasa.
"Mommy, mereka tidak pernah makan ayam goreng?" tanya Aaron sambil menatap anak-anak yang berebutan mengambil ayam goreng tepung tersebut.
"Benar tuan muda. Dana yang kami miliki cukup terbatas. Dan jika beruntung, mereka akan mendapatkan menu ayam goreng sebulan sekali. " ujar seorang ibu pengurus panti asuhan
Conrad, Francesca dan Aaron memandang dengan tak percaya pada perkataan ibu pengurus panti asuhan.
"Ada. Tapi, itu juga kami harus mengirit, untuk kebutuhan makan dan pendidikan. Belum lagi jika ada yang sakit." ujarnya menjelaskan.
"Mommy... tidak bisakah kita kemari sebulan sekali?" tanya Conrad yang sudah tersentuh hatinya.
"Tentu saja bisa." jawan Diana sambil membelai rambut Conrad.
"Mommy, tidak bisakah kita membantu dana kepada mereka?" tanya Conrad lagi.
"Untuk hal itu, mommy akan bicarakan dengan daddy ya." sahut Diana.
Setahu dirinya, Andrew selalu memberikan donasi. Donasi khusus untuk pembiayaan operasi warga tidak mampu, bencana alam, panti jompo dan juga seringkaling membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.
"Mommy, Aaron sayang sama mommy. Aaron tidak mau kehilangan mommy seperti mereka." ujar nya sambil melirik kepada anak-anak yang berebutan makanan.
__ADS_1
"Frances juga sayang mommy." Frances memeluk Diana.
"Conrad jugaa bersyukur memiliki mommy dan daddy."
Ternyata sangatlah berguna membawa anak-anak itu berkunjung ke panti asuhan. Mereka bisa lebih menghargai apa yang mereka miliki. Mereka bisa melihat bahwa kehidupan mereka sangatlah baik dibandingkan dengan sebagian orang lainnya.
Keakraban diantara keluarga kecil itu, tampak begitu indah di mata anak-anak kecil yang ada disana. Mata-mata hampa yang haus kasih sayang, tampak sangat merindukan belaian kasih sayang orang tua.
Tangisan seorang bocah kecil membuyarkan pelukan ketiga bocah pada Diana. Mata mereka memandang pada balita, berkulit putih dan bermata sipit. Tampaknya bocah itu ingin dilpeluk juga.
Dengan kedua lututnya dia merangkak mendekati Diana. Bocah wanita yang belum genap berusia satu tahun itu berusaha menggapai pangkuan Diana.
Diana dengan perut besarnya, tidak mudah untuk begitu saja berdiri dan menggendong bocah itu.
"Maaf nyonya jika Velina menggangu anda." ujar ibu pengaurus panti asuhan sambil mengangkat bayi itu kepangkuannya.
"Tidak apa-apa. Letakan dia dipangkuanku."
Diana menerima bayi itu dan memangkunya. Bayi cantik itu memeluk Diana dengan erat, sambil terus bergumam," Mama.... Mama..."
Diana bahkan menitikan air mata memandang kearah bayi di pangkuannya.
"Dimana orang tuanya?" tanya Diana.
"Ibunya baru saja meninggal sebulan yang lalu. Dia adalah imigran gelap. Saya menemukannya terlantar di depan panti asuhan beberapa bulan yang lalu dengan luka sayatan di perutnya. Kami tidak dapat menyelamatkan sang ibu. Namun, beruntung sekali dia sempat memberikan seorang bayi kepada saya. Sebelum meninggal dia menyebutkan nama anak ini, Velina." cerita pengurus panti dengan terharu.
"Apakah kau sudah menyelidiki keluarga lain dari bayi ini?" tanya Diana.
"Kami sudah melapor kepada kepolisian setempat. Tetapi karena wanita itu adalah seorang imigran gelap. Maka sangat sulit untuk kami temukan keluarga aslinya. Dan jika selama satu tahuntidak ada yang mencarinya, maka kami akan membuka kesempatan bagi siapapun yang mau mengadopsi bayi ini."
"Lihatlah nyonya, tanda hitam di punggung bayi ini. Hanya tanda unik ini yang akan membawa dia bertemu dengan keluarganya."
Diana dengan sendu mencium bayi yang saat ini tertidur dalam pelukannya. Seandainya tidak ada tiga bayi dalam kandungan yang membutuhkan perhatiaan extra pula, dia akan dengan senang hati membawa pulang Velina.
"Madam, tolonh jaga dan rawat Velina untukku. Aku akan mengirim biaya extra khusus untuk anak ini. Dan aku akan berusaha untuk sering berkunjung. Tapi, mungkin akan sedikit sulit dengab kehamilanku ini." ujar Diana dengan haru.
__ADS_1
"Tentu saja nyonya. Terimakasih untuk kebaikan anda pada kami."
...*********...