
Diana mengurungkan niatannya untuk membahas mengenai foto tersebut. Foto yang merupakan kemesraan Andrew dan Gladys. Dia ingin percaya bahwa foto yang dia terima adalah bagian dari masa lalu.
Jika Diana menanyakan hal ini kepada Andrew saat itu juga, disaat emosinya sedang membara, maka semua penjelasan Andrew tidak mungkin dapat dia terima.
Dia akan menganggap semua penjelasan merupakan alasan.
Dia butuh waktu untuk menenangkan diri dan menghadapi Andrew, terlepas apakah foto itu masa lalu ataupun bukan. Untuk saat ini dia akan membiarkan foto-foto itu hanya tersimpan di dalam galery foto ponselnya.
Tetapi yang membuatnya heran, kenapa orang tersebut harus mengungkitnya. Diana tidak mengerti apa tujuan orang itu mengirimkan melalui Yoora.
Seberapapun dia berusaha melupakan, hal tersebut masih saja mengganjal. Apalagi malam ini, Andrew mengatakan akan pulang terlambat karena jamuan makan malam bersama partner usaha.
Setelah menidurkan Aaron dan memasang baby monitor, Diana merebahkan diri di kamarnya. Andaikan ada Lia, dia memiliki teman untuk curhat.
Diana mencoba menghubungi Lia, tetapo gagal. Begitu pula dengan Jason.
Mungkinkah Lia masih marah kepada dirinya, yang membiarkan Jason membawa dirinya pergi.
Ah... Lia. Apa kabar mu, dik. Semoga kau memaafkan ku dan menyadari perasaanmu yang sesungguhnya.
*
*
Di sebuah VVIP room dalam hotel bintang lima yang terletak di pusat kota. Tampak Andrew dan beberapa rekan kerja yang semuanya adalah pria menikmati jamuan makan malam, merayakan kerjasama diantar perusahaan mereka.
Mereka menikmati makan malam dengan perbincangan ringan, dan memutuskan untuk melanjutkan acara tersebut dengan karaoke yang sudah direncanakan Mike di sebuah ruangan VVIP club malam ternama.
"Maaf, saya tidak bisa ikut lebih lama, silahkan kalian bersenang-senang," tolak Andrew dengan halus ketika rekan kerja dari Eropa memaksanya untuk ikut serta.
"Mana bisa seperti itu. Anda adalah kehormatan di acara ini," ujar seorang rekan dari Check Republic.
"Benar. Kita semua harus kompak menikamti acara seperti kontrak kerjasama yang sudah berhasil disepakati, " timpal seorang pria gagah dari Turkey.
"Biar Mike yang menemani anda semua. Dia hebat dalam bernyanyi. Kalian akan terhibur dengan dirinya," tolak Andrew lagi seraya mendorong Mike yang merupakan salah satu executive di perusahaannya.
__ADS_1
"Tentu saja saya akan menghibur anda semua, Andrew tidak dapat bernyanyi. Dan dia harus pulang, karena istri cantik sudah menunggunya," ujar Mike dengan tertawa kecil.
"Ah.... jangan begitu tuan Andrew, kita semua juga mempunyai istri di rumah, tapi ini kesempatan kita untuk bersenang-senang," sahut seorang pria berambut okal dari Messina-Itally.
"Benar. Lupakan istri dan rumah untuk hari ini, kita akan menjadi bujangan hahhahaha," timpal seorang pria dari Barcelona.
"Mari kita bawa dia," pria dari Check Republic dan Turkey segera mengapit Andrew dan memaksa nya mengikuti merkea menuju Limosine yang telah disediakan di depan.
Andrew dengan terpaksa mengikuti mereka. Di dalam limosine ke lima rekan sekerja nya tampak tertawa dan bersenang-senang, sedangkan dirinya hanya memaksakan senyuman.
Di dalam limosine, Andrew yang gelisah mengirim pesan pada Diana.
"Aku pulang terlambat. Tidurlah terlebih dahulu. Jangan khawatir karena aku membawa greg bersama ku."
Tulis Andrew, kemudia dia juga mengirim pesan kepada supir sekaligus pengawalnya untuk mengikuti limosine yang ia tumpangi.
Dalam club malam, Andrew yang sudah sekian tahun tidak pernah lagi menginjakan kakinya di tempat itu, merasa asing dengan hingar bingar yang ditawarkan. Para gadis muda tampak meliuk menari dan tertawa lebar.
Dulu sekali hampir setiap hari Andrew menghabiskan malam nya di tempat seperti ini, hanya untuk mengisi kekosongan hati nya. Tapi hal itu tidak pernah terjadi semenjak dia menemukan Diana.
Alasan utamanya waktu itu hanya karena dia tidak ingin keberadaan wanitanya terekspos oleh Rachel. Meskipun demikian, Andrew juga tidak ingin Diana berubah menjadi seperti gadis-gadis yang meliuk bagai cacing kepanasan tersebut.
Dan persis seperti dugaan Andrew di lantai tiga club malam tersebut, ruangan yang telah Mike pesan telah hadir model-model dan artis pendatang baru, yang berniat untuk menemani sekaligus merogoh kocek mereka.
Dan pandangan matanya tertumpu pada sosok wanita yang tersenyum lebar dan menghampiri dirinya.
"Lama tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu."
Wanita itu langsung memposisikan dirinya duduk disamping Andrew.
"Kau masih belum berubah Gladys, menjalani hidup mu seperti ini," suara Andrew menyiratkan ketidak sukaannya melihat Gladys di tempat itu.
"Lalu bagaimana denganmu, bukan kah kita sama," ujar Glady sambil mengalungkan lengannya ke leher Andrew.
"Jaga tanganmu!" Dengan kasar Andrew menepis tangan Gladys.
__ADS_1
"Auw! Santai saja tuan besar. Aku hanya ingin melepas rindu pada mu. Cup." tiba-tiba Gladys mengecup sudut bibir Andrew seraya memegang jas nya.
"Apa yang kau lakukan. Menjauhlah dari ku." Wajah Andrew memerah karena marah.
"Wah... kenapa harus kasar. Aku hanya ingin bernostalgia," ucap Gladys seraya menggigit sudut bibir nya seraya menatap Andrew dengan hasrat.
Gladys memang sudah lama ingin kembali kedalam pelukan Andrew. Dia pernah dekat dengan Andrew hanya sebatas satu minggu saja dan hubungan berhenti ketika Gladys bertindak seakan-akan menguasai diri nya. Meskipun saat itu pun Gladys tidak mengetahui keberadaan Rachel.
"Mike, aku akan pergi dulu. Temani mereka sepuasmu." Andrew beranjak meninggalkan mereka semua tanpa menunggu jawaban.
Dengan kesal dia menuju lift yang membawanya ke lantai basement. Greg yang menunggu tepat di depan pintu lift segera membuka pintu untuk tuannya. Dia bisa melihat raut wajah kesal Andrew. Tanpa bertanya Greg mengemudikan mobil menuju ke Manssion.
*
*
Ting. Ting. Ting.
Bunyi pesan chatt masuk ke smartphone Diana. Diana yang tidak bisa tidur karena menunggu Andrew. Segera mengambil smartphone nya dan mengira Andrew mengirim pesan. Tapi ternyata pesan tersebut dari Yoora, kembali ia mengirimkan foto-foto kemesraan Andrew.
"Aku baru menerimanya dari seseorang. Ah Diana, maafkan aku, tapi aku rasa kau harus tahu hal ini," bunyi pesan chatt dari Yoora.
Mata Diana melebar dan tubuhnya seketika menegang. Foto kali ini yang dia terima penuh dengan kemesraan. Bagaimana wanita itu mencium Andrew, merangkul, menyentuh jas dan memandang dengan mesra.
Diana mengenali dasi dan pin yang dikenakan Andrew adalah benda yang di kenakan hari ini. Benda yang dia siapkan pagi ini.
Kepala Diana terasa pening melihat foto-foto itu lagi. Keinginan untuk percaya kepada Andrew terbantahkan dengan foto-foto tersebut.
Bagaima mungkin Andrew melakukan hal itu dengan Gladys.
"Aku melihatnya. Dan ini pasti ada penjelasan. Aku tidak percaya dia menghianatiku dengan Gladys." sent.
Balas Diana pada chatt Yoora.
Diana tidak lagi menangis, meskipun seluruh badannya masih menegang dan jantungnya berdebar kencang. Amarah itu ada. Dan dia masih menimbang dengan pikiran jernihnya, siapa orang yang hendak meretakan kebahagian rumah tangganya yang dia peroleh dengan nyawa nya.
__ADS_1
πππππππππππππππ