
Siang itu, Aaron, Francesca, Archie,Anna dan Adelaide sedang berjalan-jalan di sebuah mall, tentu saja ditemani Diana, pengasuh dan dua orang pengawal. Rombongan besar. Adelaide merasa senang sekali karena mendapatkan kesempatan untuk menghirup udara segar di luar rumah.
Mereka semua memasuki arena permainan. Dan battle dance pun di mulai.
"Ayoooo kita akan mulai pertandingan battle dance. Frances kau melawan Aku. Archie kau melawan Anna." ujar Aaron.
"Siapa takut!" sahut Anna sambil menggelung rambutnya.
"Aku gak mau!" sahut Archie.
"Kenapa? Takut kalah sama aku?!" sindir Anna.
"Malas saja. Main kaya itu didepan umum." sahut Archie sambil melipat tangan di dadanya.
"Ayo dong Archie. Kalau kamu main dan menang dari aku, nanti aku bawain deh tas sekolahmu." Anna memelas pada Archie.
"Biar Adel saja kalau begitu. Adel yang menggantikan Archie battle dance ya. Boleh kan mom?" ujar Adel penuh harap.
"Gak usah. Archie saja. Bisa besar kepala nanti kalau Anna menang."
Adel mengerdipkan mata pada Anna, mereka berhasil membuat Archie bertanding.
Suasana menjadi seru dengan pertandingan antara Aaron dan Francesca. Peluh sudah mengalir dari dahi dan ketiak mereka. Frances sudah mengebas-ngebaskan kaos yang dia kenakan. Dua lagu mereka sudah seri. Tinggal lagu terakhir, sengaja Aaron pilih yang supercepat. Aaron menyeringai lebar, karena dia sudah beberapa kali berlatih dengan lagu tersebut. Tentu saja pada akhirnya Aaron yang menang, sementara Francesca sempat tergelincir jatuh.
"Yah! Kalah lagi sama Aaron." ujar Frances gemas.
"Sekarang Anna dan Archie." panggil Aaron. Remaja tampan itu tampak semakin memukau disaat dia mengusap peluh yang membasahi rambut.
"Ayo Archie!" teriak Anna.
"Jangan lupa kau harus membawakan tas sekolahku!" Archie mengingatkan.
"Kalau kau bisa menang!" ujar Anna mencibir.
Archie menunjuk matanya kengan jari telunjuk dan tengah kemudian mengarahkan ke Anna, yang berarti aku mengawasi mu. Anna membisikan kata, "siapa takut!" pada Archie.
Dan battle pun dimulai. Semua terkejut melihat performa Archie. Siapa yang sangka, bocah kecil pendiam yang tidak suka berolahraga itu, bisa begitu lincah menggerakan kakinya mengikuti nada. Maju, mundur, kanan dan kiri bagaikan ahli dancer.
Semua bertepuk tangan menyemangati mereka. Hanya dalam dua lagu, Anna kalah dengan perforna Archie.
"Ayo Archie lawan aku," ajak Aaron yang penasaran dengan kehebatan Archie.
"Ogah ah, nanti kalau kalah Nangis lagi!" sahut Archie yang masih mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Kalau begitu siapa lagi yang mau main?" Aaron menoleh dan menatap Kedua pengawal. Satu gerakan telunjuk tangan kanannya, memanggil mereka. Kedua pengawal itu yang dijulukin upin dan ipin karena kepala mereka yang plontos maju.
"Ya tuan Aaron." Jawab Upin.
"Kamu melawan Ipin, batlle dance sekarang!" perintah Aaron.
"Heh? saya?" si Upin membelalakan matanya tak percaya. Mereka ragu dan menggaruk kepala pelontosnya. Bagaimana mungkin body maronir harus berdansa alai-alai seprti itu. Bisa turun pamor kegagahan mereka.
"Sama mommy boleh kok. Iya kan Mom?" Aaron dan keempat saudaranya menatap ke arah Diana.
Diana mengangguk kepada Upin dan Ipin. Dengan terpaksa kedua pengawal itu maju ke mesin battle dances. Lagu awal adalah lagu pemanasan dengan intro yang pelan. Setelah mereka bisa menguasai aturan permainan, gerakan mereka semakin lincah seiring dengan musik. Sontak saja image gagah dan menyeramkan mereka luntur seketika. Penonton banyak yang berkumpul, bertepuk tangan dan menyemangati. Hal ini membuat Upin dan Ipin menjadi pusat perhatian. Pertandingan selalu seri.
__ADS_1
Pertandingan Upin dan Ipin berlangsung lebih dari tiga puluh menit. Adel, Archie, Anna dan kedua kakaknya, masih menonton sambil duduk dan makan. Beruntung sekali di depan area permainan ada sebuat restaurant. Sehingga mereka bisa menonton pertandingan sambil mengisi perut.
"Mommy, Ayo tanding sama Anna. Anna masih mau bermain. " Rajuk Anna pada ibu nya.
"Gak ah, mommy gak bisa. Mommy sudah tua." ujar Diana menolak. Usia nya sudah kepala empat. Malu rasanya jika harus bermain seperti itu didepan anak-anaknya.
"Yeaaa, siapa bilang mommy sudah tua. Jalan sama kak Conrad saja, dikira pacarnya. Ayolahhh mommy." Anna masih tak menyerah untuk merajuk Diana.
"Iyaaa Adel juga lihat mommy, masih keran melakukan yoga, pilates dan zumba. Kerennnn habissss." ujar Adel mengacungkan kedua jempolnya.
"Itu kan dirumah. Kalau disini enggak ah."
"Mommy, pleaseeee..." kelima anak memandang Diana penuh harap sambil mengatupkan kedua telapak tangan di dada.
Ibu mana yang tidak tersentuh melihat wajah indah dan polos di hadapannya memandang dengan mata penuh harap. Bagaimana bisa dia menghancurkan harapan mereka. Diana yang lembut hatinya, akhirnya menyerah kalah dengan bujukan malaikat-malaikat kecilnya.
"Baiklah. Satu kali saja ya."
"Horeeee!!!!. Mommy ku memang paling keren." Malaikat-malaikat kecil itu pun bersorak girang.
Diana melepaskan sepatu hak tinggi yang dia kenakan. Beruntung sekali hari ini dia hanya mengenakan celana jeans ketat dan bluse biasa. Bayangkan jika memakai gaun, akan sangat ribet sekali kan.
"Mommy! Mommy! Mommy! Mommy! Mommy!" koor semangat dari para malaikat kecil membuat Diana malu.
"Sudah jangan teriak-teriak begitu. Mommy malu."
Diana, mulai bertanding lagu dengan irama lembut melawan Anna. Gerakan awal Diana yang canggung, tidak membuatnya berhenti. Semakin lama dia semakin menguasai permainan. Diana bergerak seakan-akan anak sekolah menengah atas. Dan dia tidak sadar, jika Anna sudah menggesek permainan hingga medley beberapa lagu sekaligus.
Aaron mengeluarkan handphone nya dan membuat Video call kepada Andrew.
"Dalam perjalan pulang, kenapa Aaron, kalian masih di mall Riverview, Daddy sekarang hampir masuk ke area parkir." tanya Andrew yang mendengar suara bising di belakang Aaron.
"Dad, apa kau yakin telah menikahi wanita kalem?" tanya Aaron menggoda.
"Maksudmu?" Andrew heran dengan perkataan Aaron.
"Coba lihat!" Aaron memutar balik view cameranya. Andrew langsung terpukau melihat gerakan lincah istrinya. Dia langsung meminta supir untuk menghentikan mobil di area parkir. Dengan cepat Andrew berjalan menuju ke arah mereka.
"Di lantai berapa kalian sekarang?"
"Ground Floor dad. " sahut Aaron.
"Jangan biarkan mommy berhenti." pesan Andrew pada Aaron.
Tanpa menggunakan lift, Andrew bergegas turun ke lantai bawah. Aaron bahkan tidak menyangka jika ayahnya bisa secepat itu tiba di area permainan yang sudah mulai ramai penonton. Jika saja, dia adalah Andrew yang muda dulu. Saat Diana menjadi pusat perhatian, dia akan menarik gadis itu dan membawanya pergi. Tapi saat ini dengan di kelilingi malaikat-malaikat kecilnya. Andrew justru merasa bangga dengan kecantikan dan kelincahan Diana.
"Anna, hayo sudah stop. Mommy sudah capek." ujar Diana yang tak mengira jika battle dance akan bisa berlangsung selama ini.
"Tanggung mom." ujar Anna yang masih bersemangat.
"Ayooo lanjutkan jangan berhenti." suara Andrew yang menyemangati istrinya, membuat Diana menghentikan gerakannya.
"Loh, jangan berhenti. Anna, biar daddy yang melawan mommy sekarang."
Anna segera turun dari arena perminan diganriian Andrew. Aaron dengan bersemangat merekam persaingan antara Andrew dan Diana. Dia tidak menyangka Andrew akan mau bermain seperti itu.
__ADS_1
"Jangan mengelak. Jangan berhenti. Atau aku akan mencium mu disini!" bisik Andrew tegas.
Tentu saja Diana memilih melawan suaminya di battle dance daripada harus berciuman di depan umum. Mereka berdua menari sesuai irama musik yang sudah dibuat lembut oleh Anna. Tetapi Andrew yang melihat keringat menetes di kening Diana, membuat dirinya terkenang ketika mereka masih muda. Apalagi disaat Diana masih malu-malu.
Andrew keluar dari area permainan dengan menggandeng Diana. Musik lembut yang masih mengalun, dia gunakan untuk membawa Diana berdansa dalam pelukannya. Mereka menari, meliuk, berputar dengan lembut. Semua mata terpukau melihat pasangan suami istri yang memukau tersebut. Dia akhir musik Andrew berbisik pada Diana, "Malam ini kita menginap di Condominium."
Dan ketika lagu benar-benar sudah berakhir. Andrew mendaratkan kecupan panjang di bibir Diana. Semuan yang menonton bertepuk tangan, kecuali ke lima malaikat kecil yang langsung berteriak," yeakkklk dadddyyyy."
Diana melepaskan ciuman pannjang dari Andrew dan menepuk dada suaminya. Dia menjadi malu ketika semua orang masih bertepuk tangan pada mereka.
"Malu-maluin." bisik Diana kesal.
"Sudah gemas." sahut Andrew.
"Dadddyyyyy, Mommyyyy kueren habisss." teriak Francesca dengan girang.
"Adel suka melihat mom dan dad, tamoak sangat mudah dan bersemangat." ujarnya dengan lembut.
"Ih anak momny, sini mommy cium kalian. Gemes." Diana mencium kening satu persatu anaknya. Hingga giliran Archie, anak itu mengelak dengam gaya cool nya.
"Ogah ah mom. Archie sudah gede."
"Yeaahhh aku aja masih suka di cium mommy," sahut Aaron.
"Biarin. Aku kan lebih dewasa pikirannya daripada kakak." ujar Archie ketus.
Aaron langsung menoleh pada Francesca memberikan kode. Dan Francesca yang sudah sepaham dengan Aaron mengerti maksud kode tersebut. Mereka kemudian bersama sama menangkap Archie dan mengangkat anak itu ke pangkuan Diana.
"Lepaskan-lepaskan. Kalian curang!!!" teriaknya histeris.
Diana yang sudah mendapatoan archie di pangkuannya, segera memeluk bocah berusia sepuluh tahun itu dengan erat. Kemudian dia mendaratkan banyak ciuman di kening, kedua pipi, hidung dan dagu Archie. Archir tidak dapat mengelak lagi, dan hanya bsia pasrah.
"Sekarang giliran daddy." ujar Andrew yang berlutut di depan Diana, siap menciumi Archie.
"Oh tidak! Tidak!" Archie berontak.
Setelah Andrew selesai, Aaron, Francesca, Anna dan Adelaide bergiliran mendartkan kecupan di wajah Archie. Anak kecil itu menjadi lemas dengan wajah memelas. Dia merasa jijik sekali dan kesal.
"Yeakkkkk!!!! Kalian semua menjijikan!" Archie segera menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya di westafel.
"Kalian pulang dulu ya, daddy dan mommy ada urusan penting. Besui sore kita baru kembali ke mansion." ujar Andrew pada anak-anaknya.
"Siap dad. Tenang saja ada Aaron yang menjaga mereka." ujar Aaron dengan bangga.
"Iya dad, ada kak Aaron dan Conrad kok." ujar Anna dengan senang. Dia sekarang sudah bisa membayangkan akan bermain video game sampai tengah hari. Toh, besuk juga hari libur.
"Okey. Ayo daddy antar kalian ke mobil." uajr Andrew bersemangat.
"Kau yakin, kita tidak pulang saja?" bisik Diana.
"Aku yakin ingin mengeksplore tubuhmu dengan ouas disetiap bagian condominium," bisik Andrew lembut yang membuat wajah Diana memerah.
"Ih, sudah tua." sahut Diana manja.
"Belum juga jadi kakek." bisik Andrew.
__ADS_1