
Benar bukan, jiwa miskin ku berontak di tempat ini. Aku merasa canggung masuk ke dalam kawasan pertokoan mewah tempat selebritis papan atas berbelanja juga kalang sosialita. Semua pengunjung tampak mewah. Dari kepala sampai tumit kaki tampak berkelas.
Bukan pertama kali aku mengunjungi area Mall mewah ini. Sebelumnya aku kemari bersama Andrew.
Tapi kali ini berjalan sendiri aku merasa kikuk.
Bahkan para pelayan toko seperti tidak memandang sebelah mata padaku.
Tentu saja pelayanan jadi berubah ketika aku mengeluarkan kartu hitam dan meletakan di meja cashier. Aku berubah menjadi Ratu.
Ketika aku memutuskan kembali mengunjungi toko yang sama sewaktu bersama Andrew. Mereka mengingatku dan menyambutku dengan ramah. Hah! Tentu saja bukan karena aku, melainkan karena Andrew dan kartu hitamnya.
Aku memilih beberapa pakaian yang bisa aku kenakan sehari - hari, gaun tidur, pakaian dalam, sandal dan sepatu. Dan itu pun aku memilih yang termurah di butiq ini .
Mataku terbelalak dan jiwa miskin ku berteriak.
Gilaaaaa... belanja segini saja sudah hampir setara dengan satu mobil.
Aku memegang tas belanjaku dengan perasaan tidak tega. Hik... uang sebegini banyaknya hanya dipakai untuk baju dan sepatu. Sedangkan adikku dirumah masih memakai sepeda motor butut dan numpang di rumah tante. Sekarang aku tidak punya pekerjaan. Masih belum terpikir bagaimana membiayai kuliah adikku.
Di dalam mobil aku mengeluarkan handphone, mencoba menghubungi Maya. Aku belum memberitahunya kalau aku tidak kembali bekerja.
"Dinnnn dimana kamu sekarang? Sudah balik ke kapal? ini kita mau berangkat loh? Kok kamu tidak ada dicabin?" tanya Maya beruntun ketika menerima telphone dariku.
" Aku tidak balik ke kapal May. " sahutku
"Loh kenapa?" tanya Maya dengan heran.
"Gara-gara insident di kapal kemarin, Andrew melarangku kembali."
"Loh dia tahu ?" Maya kaget.
"Iya . Aku bertanya padanya siapa Meredith. " aku menghela nafas kemudian melanjutkan kalimatku,
"
"Kemudian dia menjadi marah dan menghubungi Anthony. Mungkin salahku karena terlalu penasaran."
"Ooo. Anthony pasti cerita semuanya kan ?" tebak Maya.
"He eh ."
"Tidak masalah kalau kamu penasaran. Aku juga pasti seperti itu. " Maya menghiburku . Kemudian dia bertanya kembali, "Trus kamu sekarang tinggal di tempat dia?"
"Iya di Condominium." jawabku
"Aku bakal kangen loh Di."
"Aku malah sudah kangen sama kamu." jawabku sambil tersenyum kecil.
"Hahahah... Aku mak memang ngangeni. "
"Ge er kamu cek."
"Trus kamu bakal gimana , kerja di darat ?"
"Gak tau cek. Andrew menyuruhku tinggal di rumah saja. "
"Enak dong... jadi princess dah kamu sekarang."
"Ngawur. Aku saja masih belum habis syok nya cek."
"Syok bagaimana ?
"Aku keluar dari kapal tanpa membawa apapun. Dan kemudian sekarang terpaksa aku berbelanja baju lagi. "
"Belanja di bayside? Bagus-bagus loh disana. Lagi musim discount. " Maya tampak bersemangat.
__ADS_1
"Bukan cek. Tapi di Mall lain. Mahal-mahal disana."
"Mahal seberapa. "
"Kamu pasti tidak percaya berapa banyak yang aku habiskan hari ini hanya membeli beberapa potong pakaian dan sepasang sepatu. "
"Oh ya berapa ?"
"Jangan kaget ya. "
"Hampir setara satu mobil karimun cek." kataku berbisik.
"Whattt. Gilaaaa. Bahan apa yang dipakai, kulit kuda apa?" Maya berteriak kaget.
"hush !"
"Kamu beruntung Din."
"Benarkah?"
"Ya setidaknya saat ini kamu bisa merasakan kehidupan bangsawan." Aku terdiam mendengarkan perkataan Maya.
"Ingat jangan sombong dan takabur, meskipun kehidupan luar biasa mewah mengelilingi mu. Jangan lupa jati dirimu. Jangan berubah. " Maya menasehatiku.
"Iya cek. "
"Ingat Diana. Penampilanmu boleh berubah. Tapi pribadi mu tidak boleh berubah."
Nasihat seperti ini yang aku butuhkan. Dukungan teman yang luarbiasa seperti ini yang aku rindukan.
"Trimakasih ya . Aku tahu kau selalu mendukungku."
Aku benar - benar bersyukur dengan sahabat yang satu ini.
"Tentu saja. " Maya mengucapkannya dengan mantap.
"Datang kunjungi aku ya minggu depan. " pintaku.
"Tentu saja yakin. " jawabku dengan mantap
"Okeyy. " Suara Maya terdengar riang.
"Oh ya cek, Monna kapan kembali ?"
"Dua minggu lagi cek. Masih asyik liburan dia. Sekarang lagi berlibur di Australia mau cari gebetan katanya. " Maya terbahak - bahak bercerita tentang Monna dengan target barunya.
"Ow... hahhahaha... haahahah... " aku pun ikut tertawa.
Sementar Papito tersenyum melihatku berbicara dan tertawa. Dan tanpa sadar mobil kami sudah memasuki area Condominium.
"Din, udahan dulu ya. Sudah waktunya boat drill. "
Maya berpamitan.
"Iya Cek terimakasih. Sampai ketemu minggu depan ya. "
Kami saling mengucapkan kalimat perpisahaan.
"Papito apakah kamu akan tetap di dekat sini ?"
tanyaku sebelum keluar dari mobil.
"Iya nona sampai tuan Andrew tiba. " jawab Papito ramah.
"Hmm... iya iya. "
"Bila nona memerlukan sesuatu tinggal menghubungi saya. "
__ADS_1
"Trimakasih Papito."
"Sama - sama Nona. "
Aku melangkahkan kakiku menuju kedalam Condominium. Dan berpapasan dengan seorang wanita cantik berambut hitam yang menyapaku ramah.
"Hai kamu penghuni baru ?"
"Iyaa."
"Perkenalkan namaku Eva. " Wanita cantik berkulit putih dengan mata nya yang biru dan berambut hitam memperkenalkan dirinya.
"Aku Diana."
"Kamu tinggal di lantai berapa ?"
"Lantai tujuh belas. "
"Lantai tujuh belas ?" Wajah wanita itu berubah lebih penasaran.
"Apakah kamu tau laki - laki tampan yang berambut coklat tua dan bermata Hazel ?" tanyanya dengan penuh semangat. Aku terdiam sejenak. Di lantai Tujuh belas terdapat dua ruang yang berbeda . Tujuh belas kosong satu adalah tempat yang aku tinggali sementara ruang di depannya aku tidak pernah bertemu dengan mereka.
"Hmm. Mungkin ." Jawabku ragu.
"Aku ingin berkenalan dengan dia. Kamu tinggal dengan siapa di lantai tujuh belas. " tanyanya penasaran.
"Kekasihku. " jawabku.
"Apakah dia bermata Hazel juga ?"
Aku mengangguk.
"Berambut coklat dan tinggi ?"
Kembali aku mengangukkan kepalaku.
"Mungkinkah dia pria yang aku maksud ? " Suara Eva terdengar lirih hampir tak terdengar.
Pintu Lift berbunyi kembali.
"Eva aku kembali dulu ya. " Aku bergegas meninggalkan Eva tanpa menunggu jawabannya. Dan seorang wanita lain yang berambut pirang dan teramat sangat anggun juga tampak jauh lebih berkelas dari Eva masuk kedalam lift bersamaku.
Aku memencet lantai tujuh belas dan tampaknya wanita itu berada di tujuan yang sama denganku.
"Nyonya Anda tinggal di lantai tujuh belas juga?" tanyaku kepadanya.
Dia menatapku dan tersenyum ramah.
"Benar. "
"Aha. Kita bertentangga. Perkenalkan nama saya Diana." Aku mengulurkan tanganku.
"Grisella. "
"Senang berkenalan dengan anda Nyonya Grisella."
aku bersungguh - sungguh setidaknya aku mengenal tetanggaku.
"Panggil aku Ella." Aku mengangguk mengiyakan.
Grisella menatapku sesaat.
"Kau tampaknya gadis baik - baik. Jauhi wanita seperti Eva. " Katanya kepadaku.
"Ya ?" Aku heran kenapa dia berkata seperti itu.
"Dia tidak akan menjadi teman yang baik bagimu. "
__ADS_1
Aku hanya mengangguk-angguk mengiyakan perkataannya. Memang aku merasa kurang nyaman berbicara dengan Eva. Tapi awalnya aku mengira kalau itu disebabkan karena aku belum terbiasa.
Lambat laun aku tahu wanita seperti apa dia dan bagaimana dia mengincar Andrewku.