
Sandra bergegas menuju ke mini market terdekat tempat dia biasa bertemu dengan Rachel. Bukan hal yang mudah baginya untuk bisa meminta ijin keluar disaat bukan jadwal dia off. Tetapi beruntung butler Jhon sedang bermurah hati dan memberinya ijin.
Rachel sudah menunggu disalah satu sudut makanan cepat saji sambil memandang kesal kepada Sandra.
"Kenapa lama sekali! Aku bisa membunuh semua orang disini karena bosan menunggumu!"
"Maaf nyonya, tidak mudah bagi saya untuk meminta izin keluar." Sandra segera duduk dihadapan Rachel setelah menyakini tidak ada yang melihat dirinya diasana bersama Rachel.
"Teteskan cairan ini diminuman wanita itu." Rachel memberikan sebotol kecil obat cair kepada Sandra.
"Apa ini nona? Racun?" kening Sandra berkerut menerima botol berisi cairan bening itu.
"Racun terlalu mudah untuk menghancurkan wanita itu. Aku ingin dia merasakan sakit dan dibuang oleh Andrew." mata Rachel memancarkan kebencian.
"Lalu apa ini nyonya?" tanya Sandra yang penasaran.
"Kau akan melihat reaksinya." Rachel tersenyum misterius.
"Tapi tidak akan ada kematian bukan?" Sandra masih ragu dengan perkataan Rachel.
"Kematian tergantung seberapa banyak kau meneteskannya. Hahhahahaha. Jangan kuatir cukup dua tetes saja disetiap minuman dan semuanya aman."
"Baiklah nyonya. Tapi jangan lupa." Sandra menjentikan ibu jar dan jari telunjuknya.
"Sudah aku transfer sepuluh ribu dolar ke rekeningmu. Jika berhasil akan aku transfer sisanya. Dan bila kau membuatku senang akan aku beri bonus dua kali lipat." Rachel menatap Sandra intens.
Mata sandra berbinar mendengar nomimal uang yang di ucapkan Rachel, setidaknya uang itu cukup untuk membiayai sekolah anaknya selama beberapa saat.
"Baiklah nyonya saya akan buat anda mendengarkan kabar gembira." Sandra pergi dengan wajah ceria dan memandang botol kecil tersebut sebelum menyimpannya didalam tas. Hanya dua tetes disetiap minuman akan mengantarkannya pada uang puluhan ribuan dolar.
****************
"Liaa, kau baik-baik saja? Anak nakal! Kau membuat kakak cemas tidak bisa tidur." Diana langsung menghambur memeluk Lia ketika dilihatnya gadis itu muncul di halaman belakang.
"Aku baik-baik saja kakak. Salahkan lalat buah itu, dia sudah menyesatkanku." lapor Lia dengan manja kepada Diana.
"Apa kabar Diana?" Jason muncul dari balik punggung Lia dan tersenyum manis kepada Diana.
"Hai Jason. Terimakasih sudah mengantar Lia pulang. Kau seharusnya membawa dia langsung kemari." Diana melepaskan pelukannya dari Lia dan membiarkan gadis itu bergelanyut manja disampingnya.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada adikmu agar tidak mudah percaya kepada orang." ucap Jason dengan tenang.
"Yeeee... memangnya aku masih harus kuliah lagi?" Lia menjulurkan lidahnya ke Jason dengan kesal.
"Jangan sembarangan masuk ke mobil orang yang baru kau kenal." balas Jason.
"Okey. Okey. Aku salah."
__ADS_1
"Tumben mengaku salah."
"Kak, kita harus berhati-hati dengan orang ini kakak, dia bisa jadi berbahaya, dia suka berhalusinasi dan turu kaya kebo."
"Hey, jangan sembarangan bicara kamu kucing liar!"
"Sudah, kalian seperti anak kecil saja. Lihat Conrad sampai bingung melihat tingkah kalian. Ayo duduk dulu Jason." Diana tersenyum lebar melihat perdebatan diantara mereka.
Briant datang ke taman belakang hendak memberi laporan kepada Diana kalau dia belum bisa menemukan Lia. Tetapi alangkah terkejutnya Briant ketika melihat Lia sudah disana.
"Lia? Kemana saja kau, membuat kami cemas." Briant sudah berdiri dibelakang Lia.
Lia membalikan tubuhnya dan segera berdiri begitu melihat Briant.
"Kak Briant kamu mencemaskan aku?" tanya Lia dengan mata berbinar.
"Tentu saja. Aku bahkan sudah mengerahkan anak buah untuk mencarimu."
"Terimakasih sudah mencemaskanku kakak." Lia memeluk Briant dan menenggelamkan wajahnya didada Briant. Aroma parfum yang menyatu dengan tubuh Briant membuatnya terlena.
"Kucing liar tau juga berterimakasih." sindir Jason yang merasa jengah melihat Lia mengucapkan terimakasih pada Briant dimana menurutnya Briat tidak berbuat apa-apa.
"Tentu saja. Dia bahkan sudah bersusah payah mencariku seharian." Lia mencibirkan bibirnya ke arah Jason.
"Tapi aku yang memberimu makan, membelikanmu pakaian dan mengantarmu pulang." Jason tidak terima karena sedari tadi Lia bahkan tidak mengucapkan terimakasih kepadanya.
"Itu kan salahmu sendiri, aku juga tidak minta dibelikan semua itu." sahut Lia dengan kesal.
"Kau baik-baik saja kan semalaman. Pria itu tidak kurangajar kan padamu?" tanya Briant dengan serius sambil membelai rambut Lia.
"Tidak kakak. Dia tidak akan berani melakukannya." ucap Lia dengan penuh percaya diri.
"Kau pikir aku takut mencelakaimu?" sahut Jason dengan jengkel
"Semestinya aku tinggalkan kau dihutan." sambung Jason dengan kesal.
"Kau mau kakakku cemas dan marah padamu tidak menganggapmu seumur hidup?" Lia memincingkan matanya kearah Jason.
"Kan... dia tidak berani. Dia takut dibenci kak Diana." ucapan Lia yang mengolok-ngolok Jason kali ini membuat Diana kesal.
"Sudah Lia jangan berdebat lagi." Diana menarik tangan Lia untuk melepaskan Briant dan duduk disampingnya. Kemudian Diana menatap Briant kembali, "Briant kau bisa menarik anak buahmu. Lia sudah ada disini. Terimakasih banyak." ucap Diana dengan bersungguh-sungguh.
"Tentu saja kakak ipar. Baiklah aku akan menyusul Andrew ke kantor pusat. Banyak agenda penting hari ini."
"Terimakasih Briant."
Briant meninggalkan mereka, sebelum keluar dari rumah dia memperintahkan beberapa pengawal untuk mengawasi mereka di kebun belakang.
__ADS_1
Tidak semua pengawal berpakaian formal, diantara mereka ada yang bekerja sebagai tukang kebun ataupun pelayan wanita.
Sebagian besar pelayan yang ada disana sudah dibekali kemampuan untuk bela diri juga menggunakan senjata. Hal itu sengaja di perintahkan Andrew karena dia tidak ingin membuat Diana merasa seperti tahanan dengan dikelilingi pengawal yang berwajah serius.
"Lalat buah, kau tidak bekerja?" tanya Lia dengan heran.
"Aku bisa bekerja kapanpun tanpa ikatan waktu." ucapnya santai.
"Kerja apa itu, bilang saja pengangguran." cibir Lia.
Jason hanya terkekeh dengan perkataan Lia, dia memilih untuk tidak memperdulikannya dan sibuk memperhatikan Diana yang sedang asyik menemani Conrad bermain.
Seorang pelayan masuk. Dia adalah Sandra. Sandra datang dengan membawa satu teko besar air perasan jeruk Mandarin dengan beberapa gelas kecil juga satu gelas air lemon madu hangat yang biasa diminum Diana.
"Nyonya, minuman anda sudah siap."
"Terimakasih Sandra." ucap Diana dengan ramah.
"Saya permisi nyonya." Sandra berniat mengundurkan diri.
"Tunggu Sandra, bagaimana keadaan anak dan ibu mu?" tanya Diana dengan tiba-tiba yang membuat Sandra terkejut.
"Kenapa nyonya menanyakan?" Sandra merasa heran karena tiba-tiba nyonya muda yang dia benci ini memperhatikannya.
"Aku hanya mendengar kalau kau memiliki ibu yang sudah tua dan merawat anakmu. Apakah mereka baik-baik saja?" Diana bertanya bukan tanpa alasan. Setelah beberapa kali dia merasa sikap Sandra yang aneh dan tampak tidak menyukainya, Diana meminta butler Jhon untuk mencari tahu tentang Sandra.
"Me...reka baik-baik saja." jawab Sandra dengan gugup.
"Kau tidak perlu gugup. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mengatakan padaku. Aku akan membantumu semampuku." ucap Diana dengan lembut. Prinsip Diana adalah lebih baik memiliki banyak teman ketimbang memiliki musuh.
"Te..terima..kasih nyonya." Sandra menjadi sangat gugup. Dia tiba-tiba merasa bersalah karena kebencian telah membutakan mata hatinya hingga mematuhi Rachel untuk meneteskan minuman untuk Diana.
"Saya akan mengganti minuman anda dengan yang lebih hangat, nyonya." Sandra membalikan badannya hendak mengganti minuman Diana tapi terlambat, gelas itu sudah kosong. Dia terkejut dan gemetaran. Dengan langkah cepat Sandra meninggalkan taman belakang dan bersembunyi di pohon besar sambil memperhatikan apa yang akan terjadi. Siapa yang sudah meminum air lemon madu milik nyonya muda?
Sandra frustasi, tiba-tiba saja dia merasa ketakutan, dadanya berdegup kencang dan tubuhnya gemetaran. Nafasnya tidak beraturan apalagi ketika dia mendengar teriakan di taman itu. Sandra jatuh terduduk dengan lemas. Dia tidak menyangka efek dari tetesan obat itu begitu cepat.
ππππππππππππππππππ
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
__ADS_1
Terimakasih.
Salam sayang π